Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 89


__ADS_3

Gemercik air memang sangat menyegarkan. Aliran air sungai yang jernih seperti kaca ini membuat Sean tertarik untuk membasuh wajahnya.


Sean melihat bayangan dirinya yang ada di air jernih ini. Di lihatnya hingga detail wajahnya itu. Memang benar wajahnya tak berubah, tapi dia semakin agak dewasa setelah melalui beberapa rintangan yang berbahaya.


Sean sudah pandai dalam menyikapi sesuatu dengan bijak.


Di belakang punggung Sean, Jessica tengah membantu Amuria yang sedang terkapar lemah di pinggir anak sungai itu. Di temani Driyad, Jessica agak telaten merawat makhluk yang terlihat ganas ini. Kalau di pikir, sebenarnya sangat tidak cocok gadis itu bekerja sebagai tenaga para medis.


"Aku tidak tahu harus di apakan tanaman ini? Dia saja tidak memberitahu ku apa yang harus aku lakukan selanjutnya." Jessica agak mengeluh, makhluk di depannya terpejam tak membuka mata.


Dia tidak mati, hanya, seperti... Sedang pingsan atau tak sadarkan diri. Jessica bingung, harus seperti apa dia mengobatinya. "Sean! Bisakah kau membantu ku?" teriak Jessica dari jarak beberapa meter.


Sean menoleh. "Apa yang bisa ku bantu?"


"Aku tak yakin, tapi kau harus mencoba lebih dahulu."


Sean mendekati Jessica, di lihatnya ada sebuah lesung batu di tangan Jessica. Tanaman obat herbal, penumbuk tradisional, mungkin Sean akan menyebutnya pengaduk modern. Ya, walau tidak canggih, tapi cukup terkesan. Sampai saat ini batu masih di gunakan sebagai media kehidupan. Walau trendnya sudah pudar di zaman peradaban yang lebih maju.


"Apa yang kau tumbuk itu?" tanya Sean. Warnanya hitam legam, sudah lunak seperti bubur sayur. Di lihatnya tanaman itu, aromanya, seperti...... Aroma parfume, sangat wangi, juga enak di hirup.


"Ini.... Aku tidak tahu?" Jessica menggaruk tengkuk belakang kepalanya. Jika Jessica bisa berkata sok tahu, mungkin dia akan menjawab: "Ini daun maple," tapi tidak berani dia katakan. "Aku belum pernah melihat tanaman hitam seperti murbey ini. Sebelumnya, hanya sekilas, lalu aku bingung, tanaman apa ini. Harumnya, menyamai wewangian terbaik di dunia."


Sean mengambil sejumput tanaman yang sudah di tumbuk halus itu, kemudian menghirup aromanya. "Aku seperti mengenal bau ini."


"Itu daun Lagundi hitam, obat yang bisa menawar racun panah Dewi Handita," Driyad menyahut. Dua anak itu berdiskusi tanpa dirinya, bagaimana bisa?


"Oh, ya. Aku ingat," kata Sean. Dia ingat saat Driyad terluka, anak itu membawakan tanaman Lagundi hitam. "Aku tahu caranya. Yudhar waktu itu pernah mengobati Driyad menggunakan daun ini."


"Tepat sekali," timpal Driyad. "Anak itu meninggalkan kesan yang baik." Driyad mendekati keduanya, sekedar melihat. Dia tidak punya jari seperti mereka berdua, apa yang harus dia bantu? Dia bingung ingin melakukan apa kecuali..... Mengacau. Memberantakkan sesuatu, hanya itu keahliannya.


"Bagaimana cara mencabut potongan anak panah ini, Sean?" Jessica mengingatkan. Patahan anak busur itu sangat dalam, sulit menariknya keluar.


Sean berpikir, mungkin jalan satu-satunya adalah. "Metode operasi?" ucapnya sekilas.


"Hah? Kau yakin?"


Sean mengangguk. "Aku yakin," jawabnya. "Ini jalan satu-satunya mengeluarkan serpihan anak panah itu."


Jessica merasakan aura kengerian. Remaja di depannya itu belum pernah melakukan metode kedokteran ini. Jessica mengurut keningnya, sepenuhnya dia percaya pada Sean. "Terserah kau saja, aku pasrah."


Tak ada pilihan, memang itu jalan satu-satunya mengeluarkan benda kecil menyakitkan ini. Atau, dia akan menjadi penyakit tetanus, lalu bernanah. Mengerikan, jika di bayang.


Sean merobek bagian sekitar luka, tidak terlalu besar, hanya mencabut benda kecil itu. Mungkin sepuluh menit lamanya, Sean berhasil mengeluarkan benda itu.


Darah sudah melumuri tangan, setidaknya ini membuahkan hasil.


Jessica sedari tadi memperhatikannya, lalu, setelah itu dia bergumam takjub. Sean tak bisa di ragukan lagi. "Dia benar-benar memang jenius," ucapnya pelan.


Sean yang pernah melihat Yudhar melakukan metode pengobatan pada Driyad, walau dia hanya melihat sekilas, tapi Sean ingin mencoba. Perlahan dia membaluri obat itu di luka Amuria, agak teliti, pasti rasanya seperti memakan sebotol saus sambal yang pedas.

__ADS_1


Beruntung bagi Amuria, mungkin karena dia tertidur sehingga tidak merasakan sakit dari pengobatan ini.


"Dia tadi hanya mengatakan ambilkan tanaman di pinggir sungai. Aku bingung harus menyebut apa nama tanaman itu. Hampir saja aku menyebutnya tanaman buas, karena yang menyuruh ku adalah hewan buas." Jessica mengadu, mengeluhkan apa yang dia pikirkan.


"Bukan hewan buas," sambar Driyad. "Amuria. Kau tak boleh sembarangan menyebutnya hewan buas," ucap Driyad memberitahu.


"Haruskah aku memanggilnya dengan sebutan itu?"


"Jika kau tak mau di terkam olehnya," Driyad menakut-nakuti Jessica.


Jessica menggeleng sebal, Driyad sedikitnya sudah berulah mengerjai dirinya.


"Hari sudah menggelap. Apa sebaiknya kita bermalam di sini?" Sean menyela.


Jessica melihat langit-langit yang sudah hampir tenggelam dari terangnya sinar matahari. Sesaat kemudian, "Aku setuju pada mu."


Sean tahu Jessica akan mengikuti instruksinya. Sean tak lagi berkata, hanya kembali berdiri normal lalu menjauh. Mencari ranting, di kumpulnya di dekat pinggir sungai.


"Dia ingin membuat api!" Jessica tahu itu. Dia melihatnya, tidak mungkin Sean akan piknik dengan ranting-ranting kering. Atau dia telah beralih profesi sebagai seorang tukang penjual kayu. "Omong-omong, Sean?" Jessica menyela. "Apakah di sekitar sini ada sumber makanan?"


"Pasti dia lapar," Sean berkata pelan. Dia sedang memantikan dua buah batu agar bisa menyalakan api. Di tengoknya kanan kiri, mencari sesuatu yang dapat di makan. Dan hasilnya nihil. "Aku belum menemukan sumber makanan," katanya acuh tak acuh.


"Ayolah Sean," Jessica mendekatinya, kemudian duduk berjongkok di depan Sean yang sedang memantik api. "Kau tentu sama laparnya dengan ku. Bisakah kita mencari makan? Aku benar-benar lapar!"


Api yang Sean buat sudah menyala sepanjang Jessica berkata. "Aku tanya dulu pada Driyad!" katanya mengambil keputusan. "Dia lebih tahu segalanya."


"Di sebelah barat ada kebun buah, kalian bisa kesana. Tidak jauh, ada di depan kalian," kata Driyad. Anak itu sudah menatapnya, sebelum dia bertanya, Driyad menjawab terlebih dahulu.


Sean dan Jessica pergi ke arah barat, melewati jalan kecil, berumput hijau. Dan benar saja, tidak jauh dari sana ada hamparan rumputan menjalar.


"Apakah ini semangka?" Jessica bergumam.


Sean mengangguk. "Kemungkinan ini semangka."


Mereka berdua agak bingung, apakah itu semangka atau bukan. Bentuknya amat besar, mungkin seberat ratusan pound.


Jessica mengetuk-ngetuk buah itu, dari luar memang semangka. Corak kulitnya mudah di kenali. TOK! TOK! jari jemari itu berbuat iseng. Di tempelkan telinganya di kulit bundar buah itu, demi memastikan bahwa itu benar-benar buah semangka.


"Aku yakin, si raksasa ini pasti semangka. Aku mengenali bentuk dan suaranya saat di ketuk," ujar Jessica berkeyakinan penuh.


"Jika kau yakin, maka tak ada lagi yang perlu di ragukan," balas Sean. Karena Jessica berkata itu semangka, Sean mengeluarkan pedangnya.


"Mau kau apakan?" tanya Jessica bingung. Sean sudah siap mengayunkan pedang besarnya.


"Tentu saja aku ingin memotongnya!"


"Oh! Ku pikir kau ingin melakukannya pada ku."


Sean menggeleng, pemikiran Jessica terlalu jauh. Sepersekian detik, Sean langsung menancapkan pedangnya, lalu..... Dan yang terjadi, terbelah menjadi dua bagian. Buah itu berakhir menjadi semangka yang terpotong.

__ADS_1


"Wow!!" mulut Jessica ternganga. Warna buah itu merah segar, bijinya besar, bahkan air buah ini mengalir karena begitu banyaknya kandungan air.


Sean memberikan potongan semangka pada Jessica, saat mencicipinya, Jessica menikmati sensasi sejuk nan legit buah itu. "Rasanya begitu manis, seakan di dalamnya di beri sebuah pemanis buatan."


"Glukosa?" Sean menyambar.


"sepertinya begitu," timpal Jessica. "Tapi, bagaimana bisa di tempat seperti ini. Buah-buahan bisa tumbuh subur bahkan bentuk mereka gak biasa. Apakah mereka menggunakan pupuk khusus atau mereka menggunakan bibit unggulan?" Jessica beralih berkata, di ikuti sebuah tebakan.


"Mungkin mereka memiliki sebuah lab penelitian gen." Sean menambahkan. "Atau mereka memiliki sebuah peralatan canggih yang bisa memperbesar ukuran dari buah sehingga berbeda dari bentuk semula."


"Ide mu konyol!" sahut Jessica. Sean ternyata bisa membual, oh.... Jessica lupa, Sean juga manusia. Hanya bersikap sok dewasa, sampai-sampai enggan bermain khas remaja.


"Aku hanya mengikuti instruksi mu," Sean mengelak.


Ya, setidaknya Sean salah satu bagian dari dirinya yang di bentuk kloning. Atau sejenis Amoeba yang bisa membelah diri. Jessica berpikir, ide membualnya terkontaminasi oleh dirinya, Yudhar, atau Driyad?


Saat sedang memakan buah besar itu, tiba-tiba di langit. Suara gemuruh terdengar, menghitam, seakan awan menyingkir karena di tutupi oleh bayangan hitam itu.


"Bukankah itu burung yang pernah kita lihat tadi?" sikut Jessica.


"Burung Ssura?" Sean menjawab. Setidaknya kata-kata Driyad tadi masih dia ingat.


"Ah, iya. Benar," Jessica menjentikkan jarinya. "Tapi, kenapa mereka kembali seperti itu? Apakah ada ancaman lagi?"


"Entahlah," Sean mengangkat kedua bahunya. "Apa sebaiknya kita cari tahu saja apa yang terjadi?" Sean menyarankan sebuah ide. Yang mungkin, agak menantang. Bisa saja ada makhluk buas yang sedang mengincar burung-burung itu.


Burung-burung itu terbang di sisi selatan langit yang agak gelap. Sean berpikir, selain ada ancaman, pasti ada serangan yang membuat burung-burung itu menggerutu.


Saat keduanya Ingin menuju ke arah para burung-burung itu, tiba-tiba saja dari balik tebing keluar mungkin ratusan mosarus.


"Oh, Tidak!" kali ini Sean dan Jessica kembali bertemu dengan si buas yang pernah mereka lihat di gua milik si penyihir buta. "Itu, makhluk.... Yang pernah kita temui!"


"Mosarus."


"Benar, dia makhluk itu!" Jessica hampir lupa nama makhluk ini.


Makhluk itu memiliki penglihatan yang tajam, jelas Sean dan Jessica terlihat dari udara, segerombolan burung itu rupanya hendak melintas di atas bukit.


Salah satu burung mendekati mereka, burung itu tahu kalau keduanya mangsa yang lezat.


Sean memegang tangan Jessica, lalu menariknya lari meninggalkan kebun buah itu. "Kita harus lari, atau mereka akan memakan kita!"


Nafas yang tersengal-sengal itu makin memuncak, jalan yang mereka tempuh kembali masuk kedalam hutan di pinggir sungai membuat keduanya agak kesusahan.


Tumbuhan jalar itu menghalangi langkah keduanya.


Karena langkah mereka yang tersendat-sendat, mosarus yang terbang secepat angin, kini berhasil menepikan cakarnya di pundak Jessica. Dan.... Berhasil. Makhluk itu membawa Jessica terbang di udara.


"Sean!" teriak Jessica.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2