Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 83


__ADS_3

Driyad terbangun dari tidurnya, sesaat setelah melihat Sean yang terengah-engah berkeringat membanjiri tubuh.


Matanya sayup-sayup terbuka walau agak berat baginya. Beberapa hari ini dia terlihat sering tertidur, tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya.


"Sean, apa yang terjadi pada mu?" Driyad bertanya, dia mulai ingin tahu saat melihat Sean termangu lemas.


"Tidak apa-apa, kami hanya sedang latihan senam yoga," jawab Sean singkat.


Driyad sedikit bingung, dia baru pertama kali mendengar kata senam yoga. "Apa itu senam yoga?" Driyad kembali bertanya, dia benar-benar tidak tahu apa itu senam yoga yang di ucapkan oleh Sean.


"Senam yoga adalah senam yang mengandalkan insting tidur yang panjang. Biasanya di lakukan oleh orang-orang pemalas," Jessica menyahut, sedikit menyindir.


"Ehm... Seperti itu rupanya," Driyad merasa mulai paham-paham saja.


"Ya, seperti itu penjelasannya," Sean membenarkan kata Jessica.


Mereka hanya berkata sesumbar. Driyad mengerti maksud kedua anak itu.


Driyad melihat heksodus, wanita itu terlihat tak seperti biasanya.


"Kau kenapa, wanita kuil?" dia kini bertanya pada heksodus. "Kau nampak lesu, apakah kau sedang tak sehat?"


"Bukan tak sehat, tapi kami hampir mati."


"Apa? mati?" Driyad memuncak. Seketika dia memaksa diri terbangun, menengok sekeliling berlagak siap melindungi ketiganya. "Siapa yang mencoba melakukan itu pada kalian, katakan!"


"Si payah!" heksodus berkata ketus. "Mereka baru saja di tumpas-kan oleh Sean dan Jessica si pemberani, tidak seperti Driyad yang bertubuh besar, hanya bisa tidur sepanjang waktu," heksodus bicara sejujurnya pada Driyad bahwa dia menyindir.


"Maksud kau, mereka yang di tumpas-kan oleh Sean dan Jessica, adalah......."


"Ya, itu, kau berhasil menjawabnya dengan benar," heksodus menyambar bicara. Dia memotong tebakan Driyad.


"Kau yakin itu mereka? bagaimana rupanya? apakah mereka terlihat buruk!" Driyad sedikit memburu panik. Bagai bencana yang akan melanda, Driyad sedikit getar-getir.


"Hampir buruk," Jessica menjawab. "Menyerupai kau yang malas," ledek Jessica tanpa segan.


"Betul itu," Heksodus pun setuju pada perkataan Jessica. "Lagi pula, mata ku tidak buta. Aku masih bisa membedakan mana gort, mana Driyad, mana nimfa," heksodus menggerutu, dia sebal pada Driyad yang meremehkannya. "Kau serigala paling payah yang pernah aku temui," tandas heksodus melecehkan Driyad.


Setidaknya aku pernah baik, Driyad mengelak. Bahkan tak ada yang berpihak pada ku saat aku terpojok. Seperti ini rupanya saat di musuhi oleh orang lain, Driyad membatin. Mereka terlihat memojokkan dirinya yang malang.


"Tapi omong-omong, kalian berhasil menumpas-kan gort, bagaimana caranya?" Driyad berdalih. "Dan kau, bukankah heksodus tidak bisa berperang. Bagaimana dia akan bertarung. Bahkan heksodus yang cantik seperti ini sangat cocok menjadi pelayan Osirus dari pada berkelahi," Driyad menuntut penjelasan, sambil meledek wanita itu.


Heksodus membesarkan matanya, dia memelototi Driyad yang berkata sarkasme padanya. "Heksodus jauh lebih baik dari pada Driyad si pemalas," heksodus bersikap acuh tak acuh.


"Oke! maafkan aku," Driyad mengalah. Heksodus telah menghardiknya dengan keras. "Lupakan masalah tadi, katakan siapa yang mengalahkan para gort itu, aku harus tahu siapa di antara kalian bertiga yang bertindak berani seperti ini."


Heksodus yang duduk tepat di hadapan Sean, melirik anak itu. Dia mengisyaratkan pada Driyad, bahwa Sean yang melakukannya.


Sean, Driyad paham maksud isyarat heksodus walau sedikit tak percaya dan sulit menerima kenyataan, namun heksodus mengatakan yang sebenarnya, bahwa Sean yang melakukannya. Driyad mendekati Sean, dia tahu bahwa Sean memang bisa di andalkan. "Kau tak terluka?" Driyad berbasa-basi.


Driyad sedikit bersikap seperti...... Seperti seorang ibu. "Jika kau ada keluhan, katakan saja pada ku. Aku akan membantu mencari solusinya," tandas Driyad bersikap agak memperhatikan Sean.


Sean menepisnya, dia baik-baik saja. "Aku tak ada keluhan, hanya sedikit letih dan harus bersabar saat melihat kau tertidur pulas."


"Aku?" Driyad menyebutnya. "Bagaimana mungkin aku yang membuat kau letih."


"Entahlah" jawab Sean. "Kau serigala yang lamban." Kali ini, Sean menampik dari lelucon Driyad. "Lupakan permasalahan ini. Yang terpenting adalah, kau heksodus."

__ADS_1


"Aku?!" heksodus bingung. Dia sedikit termangu dan kaget saat Sean menunjuknya. "Kenapa dengan diri ku?" heksodus ingin. tahu.


"Tentu saja kau," Sean menatapnya curiga. Apalagi Heksodus terlihat sedikit berbeda kali ini. "Kau pasti tahu dari mana asalnya makhluk itu. Kau adalah penunggu kuil ini, dan mereka datang dari balik bukit itu. Mereka pasti tahu jalan hilir mudik menuju kuil ini."


Heksodus mendongak kepalanya menatap langit-langit kuil yang beratapkan batu. Dia mulai teringat, sebenarnya makhluk bernama gort itu memiliki insting yang kuat dalam menemukan mangsanya. Berbeda dari makhluk lainnya, dia bisa mendeteksi gairah seseorang yang ia buru.


"hum.... Jadi," mata heksodus sedikit berputar, dia mencoba mengingat apa yang pernah ia ketahui. "Sebenarnya, para gort bisa mengetahui bahkan bisa masuk ke dalam kuil ini melalui jalan di balik bukit, mungkin karena kau," dia berkata mengenai Sean.


Sean menyoroti gaya bicara heksodus. Tak tahu mengapa, Sean merasa bahwa heksodus sedang mengaitkan kedatangan para gort di kuil-nya dengan hadirnya dia di tempat tersembunyi ini.


Sean menelan ludah yang tak enak di cerna oleh tenggorokan. Dia sedikit bergetar saat heksodus menyinggungnya. "Apakah kau ingin mengatakan bahwa kehadiran para siluman itu, adalah ulah ku?" Sean mulai memahami kecurigaan heksodus.


Tetapi, heksodus menampiknya. Dia bertindak cepat membantah argumentasi penebakan Sean ini. "Tidak," seringai heksodus. "Kau salah mengira jika aku sedang mencurigai kau, Sean."


"Apa maksud mu! aku tidak paham!"


"Sebenarnya, mungkin akan sulit di percaya oleh mu bahwa kau adalah incaran para gort," heksodus mengungkap kenyataan. "Sejujurnya, kau adalah incaran para gort sejak kau masuk kedalam kota ini."


Jessica menyeringai, dia menyela dan menghentikan bicara heksodus sejenak. "Maaf aku menyela perbincangan kalian," kata Jessica bertutur lembut. "Apakah Dewi heksodus ingin mengatakan bahwa Sean sebenarnya memiliki sesuatu yang aneh."


"Bukan aneh," heksodus kembali menampik. "Sean memiliki aura tersendiri yang membuat para makhluk binal itu tertarik mendatangi kuil ini."


Aura? Sean tak mengerti maksud heksodus. Dia belum bisa menelaah dengan baik perkataan si wanita kuil. "Aura seperti apa yang kau maksud?"


"Aura...... Sejenis Aura pemikat," heksodus berujar sedikit ragu. "Ehm... Maksud ku, ada sesuatu di dalam tubuh mu itu. Wajar saja kenapa mereka memliki insting bisa menemukan di mana kau berada," tukas heksodus menjelaskan.


Sean makin tak paham pada cerita heksodus. Seberapa kerasnya dia dalam berpikir, namun tetap saja cerita heksodus dengan apa yang ia pikirkan tak ada hubungan sedikit pun.


Sean lebih memilih jalan terbaik dengan menghentikan pembicaraan yang boros ini atau dia akan terpaku dalam cerita yang tidak saling berkaitan ini.


Dia melirik sekeliling alam yang luas, suasana mulai senja. "Sudah hampir malam, sebaiknya kita lanjutkan kembali pembicaraan ini," Sean berdalih. "Lain kali."


Heksodus dan Jessica mengikuti saja kemauan Sean. Memang suasana sudah makin menggelap, Sean harus melanjutkan perjalanannya menuju ke pusat kota saranjana besok.


Sean mengakhiri pembahasan mereka dengan tak bertanya apapun lagi. Dia merasa semakin bingung tak paham, sulit mencerna setiap ucapan semua Dewi yang ada di kota ini.


Akhirnya malam yang panjang di lalui Sean di dalam kuil yang agak gelap ini. Ketika bermalam di kuil heksodus, Sean setidaknya tahu beberapa hal mengenai wanita tua yang bertransformasi menjadi gadis belia itu.


Heksodus menceritakan kisahnya ribuan tahun yang lalu, beserta kejadian-kejadian yang pernah ia lalui. Heksodus yang malang mengatakan bahwa dia adalah salah satu bagian dari penjaga istana sadon.


Setidaknya wanita itu sudah akrab pada dunia luar sebelum mengakhirinya di balik kuil tua nan usang ini.


Keesokan paginya, saat matahari masuk menyeruak kedalam kuil yang gelap ini melalui celah jeruji jendela kuil. Sean membuka matanya, dia berpikiran untuk melanjutkan perjalanannya.


Sebelum keberangkatan pergi meninggalkan kuil Heksodus, Sean di beritahu oleh pemilik kuil bahwa mereka akan melalui beberapa rute yang lebih berbahaya lagi.


Heksodus mengingatkan Sean agar selalu berhati-hati dan waspada. Sebab gort akan terus menemukan mereka. Namun Sean tak ambil pusing, dia tidak begitu menghiraukan perkataannya.


Heksodus lalu memberitahu Sean bahwa mereka akan melalui sebuah gurun yang luas bahkan mungkin tanpa ujung.


Dia menceritakan panjang lebar mengenai tempat itu. Sean ingat, heksodus berkata bahwa, untuk melewati gurun tanpa akhir itu, dia harus menemukan kuil yang berdiri di tengah Padang pasir itu.


Jika Sean berhasil menemukannya, maka dia mampu melewati gurun tandus itu. Namun jika tidak, tentu yang di harapkan oleh gurun itu adalah kematian. siapa saja yang melintas di atas gurun itu, dan bila tak menemukan kuil sebagai pintu penunjuk jalan, maka mereka selamanya tak akan bebas dari gurun gersang itu.


Di balik legenda pasti ada rahasia yang tersembunyi. Sembari berjalan, Sean memikirkan setiap perkataan yang di katakan oleh heksodus padanya.


Sean mengingat setiap detail kata yang di ucapkan oleh mulut penjaga kuil itu.

__ADS_1


Kini Sean, Jessica dan Driyad sudah kembali memasuki hutan bunga. Hutan yang hanya ada tumbuhan berbagai macam bunga cantik, wangi segar dan warna-warna terang. Jessica dan Sean melupakan kekaguman mereka sejenak.



Tumbuhan bunga beragam bentuk dan mempesona ini, tumbuh besar layaknya pohon Pinus dan Cemara yang menjulang tinggi.


Tangkai dan kelopak bunga sangat besar hingga mampu menjadi tempat berteduh dari terpaan hujan, sinar matahari yang menyengat.



Mereka menyusuri hutan bunga ini sembari Sean berhenti sejenak, mengintrogasi Driyad yang jalan menyamai langkahnya.


"Driyad, apa kau tahu?" Sean bertanya. "Seberapa jauh lagi gurun pasir itu."


"Jaraknya butuh waktu hingga delapan hari perjalanan untuk sampai di sana," Driyad menjawab, dia terlihat sedikit tahu mengenai tempat itu. "Itupun belum termasuk melintasi gurun. Dan jika di akumulasi-kan, maka total perjalanan akan memakan waktu hingga satu setengah bulan Janus," Driyad menjelaskan.


"Setengah bulan Janus?" Jessica menyahut.


"Ya," jawab Driyad sekali lagi di ikuti anggukan kecil. Mereka berhenti sejenak di bawah bunga yang mirip kelopak bunga sepatu berwarna ungu cantik. Bunga yang langsung tumbuh dari tanah seakan bunga-bunga di hutan ini adalah hasil genetika persilangan.


"Sebenarnya, tidak perlu terlalu di pikirkan mengenai perjalanan menuju kesana, hanya saja yang akan membuat sulit adalah menemukan jalan keluar dari gurun tanpa akhir itu," Driyad kali ini berkata sedikit mendetail.


Dia mencoba mengingat apa saja yang pernah ia lalui selama perjalanan menuju ke tempat itu. "Tapi aku ingat," Driyad dengan pikirannya menyentak anak-anak.


"Apa yang kau ingat?" respon Sean. "Katakan!"


Driyad terduduk layaknya anjing yang sedang menunggu di beri makan, lalu dia berkata, "Sebenarnya, saat aku melintasi gurun pasir tanpa akhir itu, kami di pimpin oleh kawanan Driyad, si ketua serigala paling aneh, Herren." Driyad memberi tahu keduanya, dia mencoba mengingat apa yang bisa ia ceritakan.


Kedua anak itu setia menunggu dia bercerita. Kali ini Sean dan Jessica sedikit agak bersabar saat Driyad mencoba mengambil ingatan di masa lalu.


"Tetapi, hanya Herren yang tahu kuil itu. Kuil yang hanya akan muncul bersamaan dengan adanya sebuah sihir atau menemukan sebuah rahasia. Aku tak tahu bagaimana cara melihat pintu kuil itu."


"Rahasia?" Sean merasa tak asing.


Driyad mengangguk. "Iya, rahasia. Kuil itu akan muncul jika rahasia di Padang pasir itu terungkap. Tapi aku tak tahu bagaimana menemukannya, aku terlalu payah."


Sean mulai berpikir, dari cerita Driyad dia mulai tertarik untuk menelusuri tempat itu. Dia sedikit membayangkan seperti apa kuil itu beserta rahasia di balik gurun pasir tanpa akhir.


Jessica menegur Sean, dia ingin tahu apa yang di pikirkan olehnya. "Kau sudah mendapatkan ide brilian, Sean?" tanya Jessica penasaran.


"Sedang kupikirkan," balas Sean sederhana. "Bagaimana caranya menemukan kuil di tengah Padang pasir itu." Sean terlihat sangat ingin menemukan kuil itu.


Driyad hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia buntu berpikir, apalagi dia tak secakap Sean yang bisa mengetahui sebuah rahasia.


Driyad hanya bisa berkata tidak tahu.


"Anak-anak," Driyad menegur. "Dari pada berlama-lama di hutan ini, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Selagi hari masih pagi, dan tenaga masih kuat."


Jessica senada pada Driyad, dia membenarkannya. "Ada benarnya Sean apa yang di katakan oleh tuan serigala. Lebih baik kita memikirkan ide ini sambil melanjutkan perjalanan," Jessica menyarankan.


Sean juga tidak bisa menolaknya, dia setuju saja atas saran keduanya. "Baiklah, mari kita kembali melanjutkan perjalanan," ungkap Sean.


Sean melangkah di depan, dia bagai pemandu wisata, mengikuti jalan setapak yang seperti sudah di siapkan dan sudah di lalui oleh berbagai orang.



k

__ADS_1




__ADS_2