Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 111


__ADS_3

"Aku kesal. Mereka mengurung kita di sini! Tidak tahu apa kesalahan yang telah kita perbuat." Jessica mengumpat, mengadu, bahkan mungkin curhat pada pria yang tengah duduk bersamanya di ruangan—mirip kamar—megah.


Ada tempat tidur yang terlihat bersih. Lalu ada lampu kecil tradisional, ada meja kayu bundar dengan empat kursi dan ada juga beberapa catatan kuno di meja—sebelah tempat tidur. Catatan kuno itu tergulung dalam daun lontar dan beberapa diantaranya tergulung dalam kayu.


"Mereka tidak mengurung kita. Hanya sedikit menahan kita di sini sampai urusan mereka pada Sean selesai," jawab Gordon. Dia duduk santai di meja bundar sambil memainkan sebuah kuas untuk menulis. Mempelintir benda itu di atas meja, layaknya sedang menggulung adonan kue.


Mereka berdua di tempatkan dalam satu ruangan. Jessica khawatir pada Sean, karena anak itu di bawa pergi oleh prajurit kuil Pharos. "Oh..... Sungguh menyebalkan!" tukas Jessica sambil membuang nafas lelah. Sayup-sayup matanya sudah mulai mengantuk, menunggu kabar dari Sean. Anak itu belum kuning kembali sampai saat itu. "Seberapa lama lagi Sean akan tiba? Aku sudah lelah menahan kantuk ku menunggunya!" seru Jessica pada Gordon.


"Jika kau sudah tak kuat menunggu bocah tampan itu. —Maksud ku pangeran! Sebaiknya kau tidur dahulu. Aku yakin dia saat ini sedang berusaha ingin menemui mu!" jawab pria tua itu.


Jessica yang duduk di meja kayu, berseberangan dengan tempat tidur, berdiri, beranjak ke kasur. "Aku lelah. Jika Sean datang, kau bangunkan aku." Jessica memberitahu Gordon. Bisa di bilang itu adalah perintah yang harus di ingat oleh pria ini.


Gordon mengangguk sekilas saja. Menatap Jessica yang sudah terpejam dengan pulas, lalu kembali melamun. "Semoga dia benar-benar pangeran."


Gordon tahu, mereka—Dewi Pharos dan Crypto sedang melakukan hal itu. Gordon saja yang sudah mengenal mereka, tidak di perbolehkan melihat Sean. Dia juga tidak berani menentang Dewi Pharos, dia yang berkuasa di kuil ini.


****


Langkahnya yang meninggalkan Sean seorang diri di ruangan gelap berisi Ligong, makhluk legendaris para Lausius itu, membawa Crypto menuju ke aula istana Dewi Pharos.


Di sana, wanita cantik yang mengenakan mantel bulu itu tengah duduk santai di atas singgasana emasnya yang berukir burung surga. "Bagaimana keadaannya? Apakah kalian sudah saling dekat?" tanya Dewi Pharos pada Crypto mengenai kelanjutan kisah mereka.


Crypto menggeleng. "Dia masih keras kepala. Bahkan tadi menolak saat aku memanggilnya pangeran."


"Dia belum sadar kalau dia adalah pangeran. Jadi biarkan dia tahu perlahan siapa dirinya. Jangan memaksa kalau dia enggan mengakui bahwa dia adalah pangeran Lausius itu," kata Dewi Pharos yang memahami situasi ini.


Jika di pikir-pikir, tanda-tanda Lausius itu sudah jelas. Tapi satu hal yang membuat Crypto tak paham. Kenapa Sean tak tahu identitasnya. Padahal tadi dia sudah terhubung dengan Ligong.


Walau Sean sudah membuktikan diri sebagai Lausius, namun tetap saja. Misteri apa yang membuat anak itu tak mengenali rasnya sendiri adalah bentuk keanehan yang di rasakan oleh Crypto. Selama ini, semua Lausius akan tahu kisah masa lalu mereka, namun Sean tetap polos. Tak ada ubahnya, anak itu tetap keras kepala.


"Kita sudah tahu kalau dia Lausius. Apakah Elius dan beberapa makhluk sekutu Lausius sudah tahu keberadaannya?" tanya Crypto pada Pharos. Sebenarnya, Crypto benar-benar khawatir kalau dia tidak mampu menjaga Lausius dari kejaran Elius dan sekutunya suatu saat nanti.


Apalagi, kekuatan Crypto tak sebanding dengan kekuatan para makhluk itu. Terakhir kali dia bertempur dengan Elius saat perang tiga ribu tahun itu berlangsung. Jika tak ada Dewi Pharos yang datang membantunya, mungkin Crypto akan lenyap kembali ke jiwa asalnya sebagai bunga.


Dewi Pharos berdiri, meninggalkan singgasananya, menuruni beberapa anak tangga, berjalan lenggak-lenggok sambil mengenang. "Elius dan sekutunya sudah tahu keberadaannya. Hanya saja, entah apa yang membuat anak itu tak mengeluarkan cahaya saat memasuki lembah ini. Hal itu yang membuat beberapa trik sandi Elius dan sekutunya kehilangan jejaknya."


"Maksud anda—"


"Elius tidak hanya memerintahkan penyihir buta mengikuti anak itu saja. Tetapi dia juga menempatkan Uli dalam memata-matai segala tindak tanduk anak itu."


"Itu artinya, pangeran Lausius muda tidak hanya di ikuti oleh suruhan Elius, maksud anda—pangeran di ikuti oleh pasukan sekutu Lausius?" kata Crypto menyambar.


Dewi Pharos mengangguk pelan, pelayannya itu sedikit banyak memahaminya. "Xavier, si raja neraka itu juga menempatkan beberapa mata-mata di belakang Elius. Diam-diam, dia satu langkah lebih cepat dari bawahan iblis itu. Itulah sebabnya, aku menempatkan kau di sisi pangeran muda. Jiwanya belum tumbuh sempurna, kadang situasi seperti ini yang menguntungkan pihak-pihak pemburu Lausius itu."


"Rupanya Xavier benar-benar ingin kembali menguasai Lausius," ucap Crypto geram. Seingat Crypto, selain Elius dan Xavier, masih ada banyak makhluk yang ingin mendapatkan Lausius muda.


Masih ada iblis wanita itu, Zumirh. Dia juga tidak akan ketinggalan ingin mendapatkan Lausius yang terakhir. Menyempurnakan kekuatan sihirnya melalui kelahiran terakhir Lausius, dia rela ikut bertempur dalam beberapa perang besar Troya. Jiwa setiap Lausius yang terbunuh bisa meningkatkan kekuatan spiritual mereka. Jadi tidak heran kalau kelahiran Lausius muda itu mengundang perpecahan bahkan pertumpahan darah.


"Tapi—aku bukanlah tandingan mereka. Bagaimana bisa aku mengalahkan raja neraka Xavier, Ratu iblis Zumirh atau Elius. Kekuatan ku tak sebanding dengan mereka," ucap Crypto yang hampir menyerah. Walau dia tidak mengatakan kalau dia tidak mau mengemban misi ini lagi—menjaga Lausius. Tetapi dia tidak bisa menolak perintah Dewi Pharos.


"Kau tidak akan terluka parah sekalipun mati ketika mereka menyerang mu," jawab Dewi Pharos.


"Ma—maksud anda!!"


Dewi Pharos menatap wajah Crypto yang terlihat menegang itu. Kekhawatirannya akan masa depannya terlihat jelas dalam ekspresi kepanikan. "Lausius muda terlihat polos. Namun dia kuat. Saat kita masuk ke ruangan Ligong, cahaya itu mengenai tubuh mu."


Crypto ingat. Saat Sean terbang lalu terjatuh saat mereka masuk, cahaya dari sayap di punggung Sean pecah. Sayap cahaya itu hancur, menerangi seluruh ruangan. Crypto ingat, cahaya itu sempat mengelilingi dirinya dan Dewi Pharos, bagai kunang-kunang lalu setelah itu hilang.


"Apakah karena cahaya itu?" tanya Crypto. Dia memeriksa seluruh bagian tubuhnya, benar saja, ada yang aneh dari dirinya. Seperti ada energi yang kuat merasuki setiap pori-porinya.

__ADS_1


Dewi Pharos mengangguk pelan. Dia sangat paham mengenai Ligong dan Sean. "Cahaya itu melepaskan energinya. Bila cahaya itu terkena di tubuh makhluk lain, maka jiwanya bisa di jamin. Dan kau tidak perlu cemas, karena jiwa mu telah tersegel oleh cahaya dari tubuh pangeran itu."


"Jika begitu! Maka aku tidak akan ragu lagi untuk terus melindungi pangeran. Walau jiwa ku akan hancur!" ujar Crypto penuh penghormatan.


Dewi Pharos tersenyum saat pengabdian Crypto terus terucap. Sebenarnya dia juga sangat penasaran pada Sean. Anak itu unik, baru kali ini dia bertemu dengan Lausius yang tak menyadari bentuknya.


****


Sean yang di tinggal seorang diri oleh Crypto, diam-diam menyelinap di depan pintu. Pintu besar itu tak di kunci, nampaknya Crypto memang lupa menguncinya atau dia sengaja membiarkan Sean keluar.


Sean mencuri-curi perhatian saat menyelinapkan kepalanya keluar dari pintu. "Apakah tak ada penjaga?" ucap Sean. Dia menelisik sekeliling di luar pintu, biasanya ada prajurit yang berjaga-jaga, tapi saat itu hening.


Tak ada seorang pun di luar.


"Kemana mereka semua? Kenapa sangat sepi di lorong ini? Tadi saat aku di bawa kedalam, ada begitu banyak prajurit yang berbaris rapi? Kenapa sekarang sepi tak berpenghuni. Apa mungkin mereka.......Hantu?"


Sean ternganga. Dia percaya tak percaya atas apa yang baru saja dia katakan.


Tapi Sean tak ambil pusing mengenai kenapa tiba-tiba di depan pintu itu hening. Yang pastinya, Sean berharap dia bisa menyelinap keluar dari ruangan mencekam itu.


Saat ingin keluar dari ruangan gelap ini, Ligong, macan hitam yang bersinar sama halnya seperti Sean. Tiba-tiba mengerat, mengelus-elus kepalanya di pinggul Sean.


Bulu-bulu itu menggelikan pinggul Sean.


Sean kaget saja, kenapa makhluk itu bisa menempel akrab seperti itu padanya. Sean kemudian ingat, "Jika hewan mengelus lembut kepalanya. Itu artinya dia telah menemukan tuan baru. Apa mungkin dia inginkan aku menjadi Tuannya?" Sean bergumam pelan.


Sean menatap sorot mata Ligong, di ikuti kedua tangannya memegang lembut wajah berbulu dan berkumis itu. "Apakah kau ingin ikut bersama ku?" tanya Sean pada Ligong.


Ligong tidak bisa bicara. Walau dia di sebut hewan takdirnya para Lausius karena keterikatan antar simbol cahaya di tubuh masing-masing, tetap saja dia adalah hewan.


Saat Sean bertanya apakah dia ingin ikut Sean atau tidak, Ligong mengangguk. Sepertinya dia paham pada apa yang Sean katakan. Kala dia mengangguk, tubuhnya yang hitam legam, mendadak muncul cahaya totolan bersinar cerah.


Karena makhluk itu mengiba pada Sean. Dalam pelariannya ini, dia membawa Ligong kabur dari ruangan gelap yang menahan mereka berdua.


Sean mengendap-endap meninggalkan lorong demi lorong. Kadang Sean kewalahan saat Ligong berulah, terlalu menonjolkan diri. Sean benar-benar takut—kalau prajurit-prajurit itu menangkapnya lagi.


"Pssst..... Kesini," bisik Sean pada Ligong yang mengendap-endap bersembunyi mengikuti perintahnya. Entah mengerti atau tidak apa yang Sean katakan, makhluk itu terus saja sulit di atur.


Kadang dia mencakar dinding-dinding kuil, jahil menjatuhkan patung prajurit yang di buat dari emas, dan kadang pula Sean harus sigap menghentikan kekonyolan yang dia buat. Sepanjang lorong, ada begitu banyak manekin berbaju perang lengkap dengan tombak tajam


Bahkan Ligong juga mendengkur keras ketika mereka melewati beberapa lorong, lalu berguling-guling di lantai bak anak kucing. Kadang Sean menggeleng kepala pada makhluk yang mengikutinya itu.


Oh, sepanjang lorong yang Sean lalui, dirinya dan Ligong terus memancarkan cahaya. Tanda di tubuh Sean tak berhenti terus benderang. Anak itu kabur meninggalkan ruangan gelap tanpa pakaian yang menutup dadanya.


"Ssst..... Kau lihat, di depan ada prajurit. Kau harus diam, jangan mengacau," bisik Sean pada Ligong. Mereka mengendap, di antara tiga lorong yang membentuk huruf T. Di sisi kiri banyak prajurit yang berjejer, memegang tombak dan wajah tegang itu amat kontras. Lorong yang di jaga oleh prajurit di sepanjang jalan itu adalah menuju ke aula besar di mana Dewi Pharos berada bersama singgasananya.


Sean mengambil jalur sebelah kanan. Dia mengendap-endap, menyelinap pelan saat melewati lorong yang ia ambil. Agak sepi dan hening, di lorong yang Sean lalui tak ada prajurit yang menjaga.


Sesekali Sean menengok ke belakang takut Ligong berulah lagi. Dan........ Sumpah, hewan itu terus saja mengacau. Kalian tahu? Tingkahnya sama seperti anak kucing. Dia sering mengganggu langkah Sean, menjatuhkan patung-patung prajurit yang terbuat dari emas, tembaga dan apalah itu. Sean berulang kali menangkap patung itu agar tidak terjatuh. Supaya tidak membuat bunyi yang bisa mengundang perhatian para penjaga istana ini.


"Oh kawan. Kau selalu mengacaukan rencana ku!" kata Sean mengomelinya. Sean agak berkata keras pada Ligong, dan sejak Sean berkata menunjuknya, makhluk jadi penurut. Tapi........ Dia masih jahil. Sesekali dia menggigit rambut Sean yang sedang waspada. Oh, sungguh, Sean harus menahan kesalnya pada Ligong.


Sean mencari di mana Jessica berada. Dan, yah, Sean menemukan tempat di mana Jessica di tahan. Sean membuka pintu itu perlahan, menelisik seluruh tempat. "Oh...... Kau juga di tahan?" kata Sean pada Gordon yang termangu.


"Pangeran!! Kau baik-baik saja?" tanya Gordon. Dia beranjak berdiri, lalu memeluk Sean. "Pangeran, kau baik-baik saja bukan?" katanya mengulangi.


"Aku baik-baik saja!" balas Sean. "Dimana Jessica?" tanya Sean sambil matanya melirik sekeliling.


Pria itu menunjuk keberadaan Jessica melalui mulutnya. "Anak itu tidur, dia menunggu pangeran sejak tadi."

__ADS_1


"Oh... Aku tidak tahu itu?" kata Sean polos. "Tapi...... Aku kesini ingin mengajak kalian pergi."


"Tunggu!" Gordon mengehentikan. "Tubuh pangeran!!"


Sean melihat tubuhnya. Mungkin, pikir Sean Gordon juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. "Saat mereka mengurung ku. Cahaya ini muncul," kata Sean memberitahu.


Gordon melihat Ligong di belakang Sean, makhluk malam itu diam-diam malu saat di tatap olehnya. "Itu artinya...... Pangerang dan Ligong sudah terikat?"


"Aku tidak paham, tapi....... Mereka berkata seperti itu."


Gordon tidak salah. Sean memang pangeran Lausius itu. Dia melihat tanda di tubuh Sean, sungguh. Tanda itu amat terang, juga—dia terlihat unik. Ada tulisan di dada Sean, terukir bunga lotus/rose ungu. Dan di belakang Sean, di punggungnya juga ada tanda sayap yang ikut bercahaya. Di dada itu terukir tulisan yang tak bisa di mengerti, tapi tulisan itu membuat Gordon yakin kalau itu berasal dari langit.


Karena belum pernah dia melihat ada tulisan indah seperti di dada Sean sebelumnya.


Gordon menyentuh tanda yang benderang di dada Sean yang tengah telanjang dada itu. Saat di sentuh, permukaan tanda itu amat kasar, seperti menyentuh permukaaan batu. "Aku tidak salah. Kau adalah pangeran."


"Jangan pikirkan hal lain. Sebaiknya kita pergi dari sini?"


"Untuk apa?" tanya Gordon.


"Aku tidak suka menuruti perintah Dewi jelek itu. Aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Bahkan, dia membual saat mengatakan tahu segala hal mengenai kehidupan ku!" seru Sean mengadu.


Gordon terkekeh melihat tingkah Sean. Padahal Dewi Pharos tak sejahat yang Sean pikirkan. Tapi, anak itu malah beranggapan lain.


"Maksud pangeran mengenai Ayah pangeran yang akan marah jika pangeran muda tidak ada di rumah?"


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Sean keheranan.


Gordon ingin tertawa saat melihat Sean begitu polos. "Saat kita ada di istana Dewi Pharos. Apa yang pangeran muda pikirkan, semua akan terlihat jelas di dinding istana," katanya memberitahu.


"Apakah yang kau maksud dinding berukir bunga aneh dengan hiasan emas itu?"


Seingat Sean semua dinding di sana tak ada yang aneh, kecuali— Sean ternganga. Rahasianya takut pada sang ayah akhirnya terkuak.


Sean melihat Gordon. Pria bertubuh besar itu tertawa terbahak-bahak melihat kepolosannya.


"Baiklah. Kalian tahu semua rahasia ku!" ujar Sean lesu. Sean tidak berharap kalau apa yang dia rahasiakan akhirnya terungkap. Padahal hanya dia saja yang tahu seberapa takutnya dia pada sang Ayah walau belum pernah Ayahnya itu memarahi ataupun membentaknya.


Gordon memegang pundak Sean. Dia memahami perasaan anak itu. "Pangeran muda tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meledek pangeran. Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum Dewi Pharos tahu pangeran meninggalkan ruangan Ligong."


Benar apa yang dikatakan oleh Gordon. Sean hampir lupa pada tujuannya. Ingin kabur—


Anggukan Sean mencapai kesepakatan, pria itu ikut ingin meninggalkan tempat ini.


"Jessica!!" bisik Sean pelan. Dia membangunkan anak itu. "Hei, Jessica. Ini aku, cepatlah bangun!"


Suara Sean benar-benar membangunkan Jessica. Dia mengucek matanya karena menempel. Sulit bagi Jessica membuka matanya, dan saat mata itu terbuka, ada Sean di depannya.


"Sean? Apakah itu kau?"


"Iya, ini aku," angguk Sean. "Aku kesini ingin membawa kalian kabur. Sebaiknya kita pergi sekarang. Aku takut mereka akan menemukan kita secepatnya!"


Tanpa pikir panjang, Jessica menurutinya. Mereka kini merencanakan kabur dari kuil Pharos.


Mengendap-endap, menyelinap kadang menempel di dinding bagai cicak. Asal tidak ketahuan oleh prajurit istana ini, mereka rela mengendap bak pencuri.


Tapi tubuh besar Gordon menjadikan Sean harap-harap cemas. Tubuhnya terlalu menonjol, juga Ligong. Oh, Sean merasa kabur membawa dua makhluk besar itu membuatnya makin berdebar ketakutan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2