Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 114


__ADS_3

Sean, Jessica, Gordon, Crypto dan beberapa prajurit pengawal yang di bawa Crypto, duduk di pohon besar. Di pinggir tebing itu, Jessica memeriksa tubuh Sean.


Ada sedikit luka memar di dada Sean, dekat dengan tanda lahirnya yang kian bercahaya itu. Kadang sedikit mengeluarkan darah, tidak tahu apa penyebabnya. Tapi—Jessica menebak kalau itu di karenakan oleh pukulan Godam besar milik Gordon tadi.


"Apakah ini sakit?" tanya Jessica. Dia tengah membantu Sean membalut lukanya dengan secarik kain pemberian Crypto.


Kain itu tidak terlalu putih, warnanya lebih menonjol pada corak agak kotor, tapi bersih. Jessica melilitkan kain itu di seluruh luka memar yang kadang berdarah itu. bak menggunakan bra, dada Sean di ikat membentuk penutup sintal dada anak gadis yang masih suci.


Bukan terlalu buruk mengikat seperti itu, tapi kekonyolan ini membuat Sean menggeleng kepala. Jessica membantunya atau malah membuatnya malu di hadapan para Crypto dan gordon.


Di sekitar tanda di dada Sean, memang terluka. Darah menetes kecil-kecil, merembes mirip keringat yang keluar. Jessica membantunya membersihkan darah yang keluar itu. Setidaknya anak itu memperhatikan Sean sebentar. "Ini tidak terlalu sakit," jawab Sean pada Jessica. "Terima kasih sudah membantu ku membaluti luka ini."


"Selama kau baik-baik saja. Aku merasa senang membantu mu," kata Jessica sedikit tersenyum.


Crypto yang juga terluka, menghampiri Sean. Dia terluka tidak terlalu parah, hanya Sean yang terkena dampak paling sakit. Crypto amat mengkhawatirkan anak itu, tetapi sesaat setelah Sean kembali bersikap normal, Crypto merasa sedikit lega.


"Jiwa pangeran belum begitu sempurna. Pangeran Lausius belum bisa mengendalikan jiwa lotus biru itu, sepenuhnya. Maafkan aku yang mencegat pangeran tadi." Crypto duduk di dekat Sean, di perhatikan—nya wajah anak itu. Crypto mengakui kesalahannya, menghentikan langkah Sean menyakiti Uli tadi.


"Aku tidak tahu apa yang aku perbuat tadi. Kau juga tidak perlu merasa bersalah atas apa yang kau lakukan pada ku," balas Sean santai.


"Syukurlah. Aku pikir pangeran akan menghukum ku atas kelancangan yang aku perbuat tadi."


"Hei. Aku sudah bilang, jangan panggil aku pangeran!" seru Sean yang terus-menerus menegurnya.


Crypto bebal, dia tidak pernah mengindahkan ucapan Sean. "Itu tidak akan berubah. Pangeran tetap pangeran, dan itu tidak akan berubah sampai kapan pun."


"CK," Sean men-decak. "Terserah kau saja. Aku menyerah mengingatkan kau yang membangkang."


Sean berdiri, menuju jembatan. Menyeberangi jembatan itu, tanpa mengajak teman-temannya.


Jessica menjadi yang kedua mengekori langkah Sean.


Di depan Jessica, selain Sean, Ligong juga sudah lebih dahulu membuntuti tuannya.


"Dia kembali seperti itu," gumam Crypto pelan.


Saat Crypto memperhatikan punggung Sean yang berjalan di depan, Gordon menghampiri pria ini lalu berkata. "Apa dia tahu kalau di depan adalah Padang pasir itu?" singgung Gordon pada Crypto. Pria itu—Crypto termangu melihat Sean yang tak berubah sama sekali.


"Biarkan dia tahu sendiri. Dia tak terduga, aku yakin, dia pasti bisa mengatasi bahaya di depan." Crypto berdiri dari istirahatnya sebentar. Sudah cukup baginya beristirahat di pohon teduh itu. Dia juga ikut mengekori Sean dari belakang.


Crypto mengingat-ingat, sebenarnya Padang pasir tanpa akhir itu di jaga oleh ratusan siluman ular bertubuh manusia. Kaum Medina, sangat setia menjaga tempat gersang ini.


Orang-orang Medina, di bawah kepemimpinan ratu terhebat mereka, Medusa, penjaga batu merah tidak akan membiarkan siapapun melintasi Padang pasir gersang ini dengan selamat. Seluruh penjaga—siluman ular itu selalu memiliki jebakan di setiap Padang pasir.


Terakhir kali bertemu dengan Medusa, mungkin ribuan tahun berlalu. Kini Crypto hampir melupakan sepenuhnya ingatan masa lalu saat bertemu wanita ular ini.


Badan besar Gordon yang berjalan menghentak ini, membuat jembatan yang di lalui oleh Crypto dan prajuritnya bergoyang. "Kau tidak ada ubahnya seperti ribuan tahun lalu," lirih Crypto sinis. Dia meliriknya dengan tatapan tajam.


"Hohoho.... Crypto juga tak ada ubahnya. Selalu berpandangan dendam pada ku," jawab Gordon membual. Wajah bulat itu tersenyum lebar, gigi yang tersumpal batu itu membuat Crypto geli melihatnya.


"Ngomong-ngomong, apakah Medusa akan muncul saat mengetahui Lausius melewati tempat mereka?" crypto beralih bicara. Dia bertanya pada Gordon yang berjalan beriringan dengannya.


"Kemungkinan besar dia akan muncul. Aura tubuh anak itu sangat kuat, bahkan mengalahkan kekuatan batu merahnya. Jika Medusa berhasil mendapatkan jiwa Lausius, maka dia akan menjadi wanita paling kuat di tanah kemakmuran ini."


Gordon menjelaskan sedikit banyaknya mengenai apa yang dia ketahui tentang Medusa. Wanita cantik bertubuh ular itu juga menginginkan jiwa Lausius. Jika kekuatan batu merahnya di gabungkan dengan jiwa Lausius, maka kekuatannya tidak bisa tertandingi.


"Aku takut jika di Padang pasir itu tidak hanya Medusa yang mencegat kita. Tapi siluman lain juga akan datang."


"Apa maksud mu, hewan takdir itu yang memberitahukan hal ini?" Gordon menebak. Dia melihat ekor macan hitam itu yang berjalan di depannya. Seingat Gordon, hanya Ligong yang bisa melihat masa depan.


Crypto mengangguk saat pria gemuk ini menebak dengan benar arah perkataannya. "Lupakan masalah Medusa dan para siluman itu. Yang menjadi fokus kita adalah bagaimana menemukan pintu itu."


"Terakhir kali di Utara. Apa kali ini pintu besar itu kembali di pindahkan oleh orang-orang Medina itu?" sahut Gordon.


Dia pusing, pintu Padang pasir itu selalu berubah-ubah posisinya. Akan sulit bagi mereka menemukan kembali pintu fana itu.


"Kau pikir mereka makhluk bodoh yang akan membiarkan semua orang tahu keberadaan pintu itu." Crypto masih angkuh, Gordon tua terus membuatnya harus berkata meninggikan suara. "Mereka akan mengganti posisi pintu itu saat ada yang mengetahui letak pintu. Jadi, kau harus bekerja keras kali ini agar bisa menemukan pintu itu."


"Tapi Padang pasir ini luas. Bagaimana kita bisa menemukannya dalam waktu singkat?" Kilah Gordon. Menemukan pintu milik Medusa itu bukanlah perkara yang amat mudah. Gurun luas nan tandus itu tidak bisa di kelilingi seluruhnya hanya dalam waktu satu jam.


"Kau cerewet. Lihat pangeran sudah makin menjauh." Crypto mempercepat langkahnya menyusul Sean, Ligong dan Jessica yang sudah memasuki tanah tandus nan gersang ini. Bahaya di depan jauh lebih mengerikan dari pada menghadapi para Gort.


"Kita di mana ini Sean?" tanya Jessica.


Sean berhenti sebentar, pelupuk matanya melihat gurun yang luas ini. Ada tebing bebatuan di sisi kanan dan kirinya. "Aku juga kurang paham," balas Sean.


Ketika mereka sedang berhenti, Crypto menyahut, dia menjawab pertanyaan Jessica. "Ini di Padang pasir tanpa akhir milik Dewi ular, Medusa."

__ADS_1


"Maksud mu," Sean menyambar. "Kita sudah ada di Padang pasir itu, kah?" Sean ingat betul kalau Padang pasir adalah tujuannya menuju ke pusat kota Saranjana. Heksodus bilang kalau Padang pasir ini ada pintu keluar dan masuk yang memudahkan cepat sampai di sana.


"Apa itu artinya kita sampai, Sean?" sikut Jessica.


Sean mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku kurang yakin," katanya tak tahu menahu.


"Saat melintasi gurun pasir ini, kalian tidak boleh berpencar. Selalu waspada," Crypto berkata. Dia melirik prajuritnya yang ada di belakang. Dia mengingatkan kembali orang-orang payah itu agar tidak lengah.


Seluruh anak buahnya itu mengangguk siap. Mereka paham apa yang harus di lakukan.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan ini," ajak Sean pada semuanya. Dia kembali menjadi yang pertama berjalan di depan bersama Ligong.


Pasir panas dan gersang ini, sungguh sangat menyakiti kulit. Sesekali mereka harus berhenti di tempat teduh di bawah batu. Beruntung ada sedikit bebatuan, sehingga mereka bisa berteduh di dalam gempuran panasnya matahari yang mengganas ini.


"Perjalanan menuju ke kota, butuh waktu beberapa hari lagi. Masih ada desa Mouli yang harus di lewati. Setelah itu, baru kita sampai di kota." Crypto memberitahu.


Tidak ada yang lebih penting selain menginformasikan hal-hal yang tidak di ketahui oleh Sean.


Sesungguhnya Sean sudah mengeluh. Dia ingin berhenti tidak lagi melanjutkan perjalanan ini. Tetapi—Eed, ini semua karena anak itu. Jika bukan karena Eed, mungkin Sean tidak akan memasuki tempat ini.


"Hei, kau, pria berambut panjang," kata Sean pada Crypto. "Kenapa kau tidak duduk? Sedari tadi kau mondar-mandir kesana kemari. Apa kau tidak lelah?"


"Pangeran memperhatikan ku?" sahut Crypto.


Huh, Sean memalingkan wajahnya. Melipat tangan di dada, walau sebenarnya Sean tidak tega melihat pria itu bolak balik di bawah panasnya sinar matahari, tapi Sean tidak mau mengakui kalau dia memperhatikan pria berambut panjang terurai itu.


"CK, CK, CK. Pangeran memperhatikannya, tapi pangeran masih angkuh," Gordon ikut berkata. Dia tahu, Sean pasti tidak mau kalau ada yang terluka di antara mereka. Apalagi melihat Crypto yang terus bersiaga dengan pedangnya, sungguh keduanya memiliki keunikan tersendiri.


"Aku tidak memperhatikan dia. Aku benci padanya yang selalu bersikap menyebalkan pada ku!" ucap Sean ketus.


Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba terdengar suara seorang melahai tertawa.


"Hahaha....." Suara ini. Crypto sangat mengenalnya. Suara yang tidak asing di telinga Crypto.


Crypto mencabut pedangnya, dia bertindak siap siaga. "Keluar kau," teriak Crypto lantang. Dia tahu, pemilik suara ini adalah Elius.


"Hahaha," terdengar suara itu makin menggelegar. Saat Crypto menggerakkan bola matanya kesana kemari, dia melihatnya. Di atas tebing, bebatuan yang tinggi di hadapannya. Elius kini ada di depan mata, dia sudah tahu keberadaan mereka.


"Crypto. Penjaga yang setia melindungi Lausius. Ternyata selama ribuan tahun ini masih hidup. Ku pikir kau sudah mati dalam perang besar itu." Elius yang semula ada di atas mereka, kini turun menghampiri mereka yang sedang beristirahat sejenak. Tubuh Elius melayang di udara, dia....... Terbang.


Saat si penjahat Elius datang, para prajurit yang sudah siap mengacungkan tombaknya pada si penjahat itu ingin menyergap-nya. Inilah ancaman sesungguhnya yang kini mereka hadapi.


"Hei, jangan lupakan aku!" seru Gordon yang tidak ingin ketinggalan. Godam besar itu, siap menghancurkan tubuh si Elius walau penjahat itu terkenal kuat.


"Hahahaha...... Dua makhluk lemah ini ingin mencoba mengalahkn aku? Apa kalian sadar siapa yang kalian hadapi sekarang!" Elius, pria ini dengan nyata telah memprovokasi kedua orang itu.


Crypto menebak, kalau kedatangan Elius bahkan menemukan mereka, adalah perbuatan Uli. Uli adalah kaki tangan pria ini, jelas dia tahu keberadaan Crypto yang menjaga Sean karena informasi dari wanita itu. Walau Sean sebelumnya sudah mengambil gelang biru itu dari Uli, tapi membiarkan dia kabur adalah sebuah kesalahan. Pada akhirnya pria bernama Elius ini bisa mengendus keberadaan Sean.


"Sean, mereka siapa?" bisik Jessica.


"Kita pastikan siapa dia," balas Sean. Lalu dia menghampiri Crypto yang terlihat tegang dengan tangan yang tiada henti meremat-remat gagang pedangnya, siap bertempur. Hingga tangannya menjadi putih, bagai kekurangan darah.


"Hei. Kau!" pekik Sean pada Elius. "Siapa kau?"


Ligong, makhluk itu tahu kalau Elius adalah musuh para Lausius. Moncong tajam Ligong, mengigit celana Sean, agar anak itu tidak mendekati pria itu.


"Kau tenang saja. Aku bisa menghadapinya," kata Sean santai pada Ligong. Dia tahu, makhluk takdir para Lausius berusaha inginkan dia tak mendekati Elius.


Jessica, gadis itu sudah gugup. Dia takut, Sean...... Oh, sungguh, Jessica sudah menegang. Tidak tahu kenapa? Yang pasti, Jessica takut saat pria itu ada di hadapan mereka. Aura kengerian terlihat di wajah Elius.


"Hahaha...... Lausius muda yang belum tumbuh jiwanya. Ingin menghadapi ku? Kau pikir sedang berhadapan dengan seekor semut?"


Sean agak berang, pria itu meledeknya. Dia mencabut pedangnya dari punggung, siap menghunus.


Crypto, tangannya cekatan. Secepatnya dia menahan Sean agar tidak gegabah. "Serahkan dia pada ku pangeran," katanya menawarkan diri pada Sean.


"Tapi— Kau!"


Belum usai Sean berkata, Crypto dengan kekuatannya dan kecepatannya menghunuskan pedangnya ke tubuh Elius.


SRING!!


Tapi sayang, Elius bukan lawan yang sepadan yang dengan mudahnya di kalahkan oleh Crypto. Elius jauh lebih cepat dari Crypto, sehingga kekuatan bak angin itu, bisa menghindar dari pedang yang akan menusuknya itu.


"Hanya segitu-gitu saja kemampuan mu, wahai Crypto?" ucap Elius dengan angkuh. "Apakah dengan kekuatan yang tak berguna begitu, bisa melindungi Lausius muda?"


"Kau jangan menyombongkan diri di sini Elius!" sahut Gordon yang ada di belakangnya. "Kau belum merasakan kekuatan dari Godam ku. Maka bersiaplah menerima pukulan ku!"

__ADS_1


Badan besar itu, dengan kemampuannya, dia meloncat ke udara. Gordon melayangkan pukulan kuat dari Godam hitamnya itu ke tubuh Elius.


Namun, dengan santainya, Elius menahan serangan kuat dari Gordon menggunakan tangan sebagai menangkis.


"Kekuatan mu tak berarti di hadapan ku!" seru Elius, sembari melempar tubuh Gordon hingga beberapa meter menggunakan kekuatannya.


Seketika, tubuh besar itu terbentur di batu hingga membuat retak di permukaannya. Inilah kekuatan Elius, mampu menghentikan pergerakan lawan.


"Siapa lagi yang ingin menentang ku untuk mendapatkan Lausius?" Elius menantang.


Para prajurit yang mengawal Sean, tak berani bertindak. Sungguh, Elius dari dulu sulit di kalahkan. Raja para monster itu sulit di kalahkan walau seratus ribu pasukan yang menyerang.


Karena tak ada yang bisa menjadi andalan saat itu, maka, satu-satunya yang bisa bertarung dengan kekuatan cukup tinggi hanya Crypto. Walau dia tak sekuat Elius, tapi melawannya itu sebuah keharusan.


"Terimalah pukulan ku," terdengar, dari jarak beberapa meter, Crypto kembali mencoba menyerang Elius dengan pedangnya.


Kecepatan angin itu, sekejap mata sudah tiba di depan Elius. Namun seperti biasanya, Elius tetap santai. Saat pedang itu hampir mengenai tubuhnya, tangan Elius mampu menahannya.


"Kekuatan mu bukanlah tandingan ku. Jadi, enyahlah kau dari hadapan ku." Sama seperti yang di lakukannya pada Gordon, Elius juga melempar tubuh Crypto menjauh.


BRAK!! PRUK!!


Tubuh Crypto melayang hingga terpental-pental di atas pasir. Sean yang melihat Crypto tak berdaya, kadang kala memejamkan matanya, mengernyitkan alisnya, kadang juga berekspresi ngeri. Baru kali ini Sean melihat makhluk yang bisa terbang itu, memiliki kekuatan tak tertandingi.


"Sean, apa yang harus kita lakukan?" bisik Jessica yang hampir ketakutan.


"Jangan takut. Ada aku di sini," ucapnya dengan nada meyakinkan. Sean meminta Jessica mundur saat Elius perlahan maju ke arah mereka. "Kau dan Ligong, saling menjaga diri. Aku akan menyerangnya," kata Sean lagi.


"Tapi, Sean—kau!!" anak itu tak menghiraukan Jessica. Dia berlari ke arah Elius, ingin menyerangnya. "Oh, tidak. Sean." Jessica amat mencemaskan-nya. Sean tidak ada kekuatan apapun, bagaimana bisa mengalahkan pria bertangan besi itu.


Sean mengangkat pedangnya ke udara, dia ingin melepaskan serangan kuat pada Elius. Sean meloncat ke udara, dari atas dia ingin menghantam tubuh Elius.


"Pangeran!" teriak Crypto. Tubuh lemahnya tak bisa membantu Sean apalagi melindunginya di saat seperti ini.


"Hiya........." Saat Sean siap dengan kebrutalannya, Elius kembali menangkis serangan itu dengan kekuatannya.


Sean terpaku di udara, seakan kekuatan itu menahan Sean. Tak lama setelah itu, tiba-tiba kekuatan itu pecah.


ARGH!!


Sehingga Elius yang memaku Sean melalui kekuatannya, terpental walau tak terjungkal di pasir. Pria itu terpental dalam keadaan berdiri, bagai terkena dorongan sedikit.


Kekuatan yang pecah itu juga membuat Sean terpental.


Itu pedang merah milik Dewi Osirus. Kapan dia mendapatkannya. Elius tidak sadar, kalau Sean menggunakan pedang itu, seberapa kuatnya dia memaku Sean, tetap saja. Kekuatan luarnya tak bisa menandingi pedang merah besar itu.


Jika aku tidak mendapatkan anak itu secepatnya, tidak tahu kapan lagi aku akan mendapatkan keberuntungan ini. Elius tahu, bukan hanya dia saja yang menginginkan jiwa Lausius. Tapi ada beberapa orang lainnya. Zumirh, Xavier, dan siluman lainnya juga ingin mendapatkan jiwa itu. Lebih-lebih Medusa, dia juga ingin mendapatkan hal yang sama seperti dirinya agar dia menjadi yang paling kuat di antara semua makhluk di Saranjana.


Aku tidak akan membiarkan dia lepas kali ini. Niat itu sudah terbesit dalam benaknya. Kesempatan ini tidak bisa di lewatkan begitu saja, sehingga dengan kekuatannya bak angin, Elius tiba-tiba sudah ada di depan mata Sean. Elius, mendapatkan tubuhnya, mencekik leher anak itu hingga melayang di udara.


"Kau harus menjadi penyembahan ku wahai Lausius muda. Jika hari ini kau tak mati, aku tidak tahu kapan lagi jiwa cahaya itu tumbuh. Dan ini saat yang tepat untuk mendapatkan jiwa asal mu." Dia berkata pada Sean, sambil tangannya mencengkram erat leher Sean.


Sean terbatuk-batuk menahan sakitnya atas cekikan itu. Sesekali dia meronta melepaskan cengkraman tangan Elius, tapi tetap saja. Dia tak mampu melakukannya. Elius terlalu perkasa bagi Sean saat itu.


"Sean?" terdengar suara teriakan dari Jessica.


"Kau tetap di sana..... Jangan melakukan hal-hal yang tak aku suruh," ucap Sean terbata-bata menahan sakitnya cekikan itu.


"Pangeran!!" terdengar juga suara itu keluar dari mulut Crypto dan Gordon. Mereka yang tak bisa berbuat apa-apa, lantaran titik kekuatan mereka di kalahkan oleh Elius.


"Hahahaha....." Elius tertawa terbahak-bahak melihat semua penjagaan ketat pada Sean tak berkutik di hadapannya. "Jangan harap kalau perang Troya kali ini akan ada Lausius yang memimpin. Itu hanya kekonyolan yang di buat-buat!"


Sembari mencekik Sean, dia bisa tertawa terbahak-bahak. Oh, benar-benar sebuah berkah dari langit saat dia bisa membunuh putra cahaya itu dengan mudah. Tapi—


"Kau jangan berbangga dahulu Elius?" Sean kembali berkata tak normal seperti sebelumnya. Nampaknya seluruh jiwa Lausius itu kembali menguasai tubuh Sean.


Mendengar Sean yang berkata seperti itu, Elius terkaget-kaget. Tanpa sadar, Sean, dengan pedang besarnya, menusuk tepat di jantung Elius hingga menembus punggung.


ZRET!!! Darah segar itu menetes membasahi pasir.


"Kau........" darah segar tak hanya keluar dari tusukan pedang merah itu saja, tapi dari mulutnya, Elius memuntahkan darah. "Ah.... Kau......"


"Jika sebelumnya Elius selalu kuat. Maka, kali ini kau bukan apa-apa di hadapan Lausius yang terakhir," ucap Sean berkata tak normal.


Sean lalu mencabut pedangnya dari tubuh Elius, menendang tubuh yang sempoyongan itu hingga tersungkur.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin kau......."

__ADS_1


BERSAMBUNG


Kalau lama up, di tunggu yah. Aku sedang membuat naskahnya dulu, sehingga butuh waktu buat di publish. Salam manis, Author.


__ADS_2