
“Aku sudah tiba, wahai Medusa!” kata Zumirh angkuh.
Dia turun dari dahan pohon, kerena sejak tadi dia sudah mengawasi keduanya dari atas dahan. Tepat di hadapan Sean dan Medusa, dia tersenyum licik.
Zurry juga tiba, keduanya terbang secepat kilat. Mereka tahu keberadaan Sean, berkat tuntunan cahaya di tubuh anak itu. Di mana pun Sean berada, para pemburunya pasti akan tahu. Tidak terlalu sulit mengetahui keberadaan anak ini.
“Kalian masih belum menyerah rupanya!” ucap Zumirh picik.
Medusa tersenyum tipis, menatap kedua iblis di hadapannya. “Terlalu ambisius.”
Sean mendekat, di balik bahu Medusa dia berdiri bersebelahan. Menyamakan posisi keduanya—dengan Medusa.
“Kenapa mereka tahu kalau kita ada di sini?” tanya Sean berbisik.
“Tanda di tubuh pangeran,” balas Medusa pelan.
Sean menatap nestapa tubuhnya, benar. Kemungkinan orang-orang itu tahu keberadaannya dari cahaya ini. Semacam sinyal digital, seperti itu kemungkinannya. “Mereka benar-benar hebat. Hanya dengan cahaya ini, mereka bisa tahu keberadaan ku,” gumam Sean pelan seraya menggeleng. Decakan kagum, membuat Sean takjub akan kemampuan orang-orang itu.
“Medusa. Aku tidak ingin bertarung dengan mu kali ini. Asal kau menyerahkan Lausius itu pada ku. Maka aku anggap pertemuan kita kali ini adalah kesepakatan bersama.”
“Kau mencoba bernegosiasi dengan ku?” Medusa membalas ketus atas ucapan Zurry.
Zurry tersenyum sinis. Kakinya melangkah pelan, mengitari Medusa dan Sean.
“Kau benar-benar keras kepala. Seharusnya yang kau pikirkan saat ini adalah kaum mu, bukan pangeran Lausius itu. Mengapa kau harus bersusah payah ingin menguasainya sendiri?”
Medusa menoleh ke arah Zurry—yang menggandeng bahu Medusa dan bahu Sean. Bisikannya amat menjengkelkan kala menusuk gendang telinga ratu ular ini.
“Kau masih belum menyerah. Bagaimana mungkin aku akan memberikannya pada mu, Zurry.”
Zurry terkekeh-kekeh, saat bibir merekah sempurna wanita ular ini berkata. Zurry bisa merasakan, kalau Medusa benar-benar seorang Dewi ular yang tegas.
“Baiklah. Nampaknya kau benar-benar tidak bisa di ajak bernegosiasi,” kata Zurry yang kandas berkata. Tidak tahan lagi rahangnya bergerak atau mengayun.
“Dari pada kita buang-buang waktu. Sebaiknya kita langsung pada intinya saja. Aku sudah muak berbincang padanya!”
Medusa tersenyum kecut, ucapan Zumirh yang menyahut pembicaraan mereka, seakan mengundang pertikaian.
Medusa mendengus, sesaat kemudian—
“Kita selesaikan semua ini hari ini,” kata Medusa memulai pertarungan.
Melalui pedangnya, Medusa menyerang Zumirh. Wanita iblis ini mengeluarkan puluhan jarum beracunnya, melepaskan jarum-jarum kecil itu ke arah Medusa.
Medusa berhasil menangkisnya, hingga jarum-jarum itu terpontang panting ke berbagai arah.
Zumirh mendengus, melayang di udara, berputar, menyerang Medusa menggunakan kipas tajamnya.
Zurry cukup menjadi pemerhati saja. Sesekali lipatan di sudut bibirnya tercetak, menggambarkan senyum sumringah.
“Hei. Mereka bertarung tanpa diri ku!”
Sean mencabut pedangnya, ingin membantu Medusa menyerang Zumirh. Zurry dengan cepat merespon gerakan Sean. Pedang Zurry sudah menanggal di leher Sean, menandakan penahanan pada anak itu.
“Seharusnya kau melawan ku. Bukan membantu Medusa,” ujar Zurry menantang.
Apa boleh buat, dia memancing Sean untuk bertarung.
“Kalau begitu, aku akan membuat mu bertekuk lutut pada ku saat ini juga!”
Sean menepis pedang yang sekali getir mungkin akan menggores kulitnya ini. Suara pedang yang saling bertabrakan, menandakan bahwa mereka sudah memulai genderang pertikaian sengit.
“Hiya!”
Sean melompat ke udara, pedangnya menghunus dari atas. Di bekali semangat bertarung, Sean membabi buta.
Zurry yang di bawahnya, mendongakkan kepalanya—Sehingga, secepat mungkin Zurry menghindar dari serangan Sean.
TRANG!!!?
Pedang Sean menghentak tanah karena tak berhasil menghunus Zurry. Awan debu tercipta dari hentakan pedang besar itu. Sean melongos menyungging tersenyum, sesaat kemudian, Sean kembali menyerang Zurry.
Suara dentingan pedang menggema di ujung hutan, membuat siapa saja yang mendengarnya mungkin akan tertarik menyaksikan pertarungan ini.
“Hiya.....”
Kembali, Sean beringas. Dia menyerang Zurry dengan semangat. Sejak mendapatkan kekuatan aneh itu, Sean nampak seperti pendekar sungguhan.
“Kau harus berakhir hari ini iblis jelek!” teriak Sean geram.
»»»»»»»»»»»»
Uli jalan tergesa-gesa di lorong menuju ke dalam istana Elius. Setibanya di daun pintu besar itu, Uli di sambut oleh empat mata yang tengah berbincang.
Seketika Uli langsung tertunduk hormat, menurunkan kepalanya, matanya menghadap ke lantai—sebelum Elius memerintahkan dirinya mengangkat kepalanya—Uli tak sanggup berkata apapun.
“Katakan. Berita apa yang kau bawa?” tanya Elius.
__ADS_1
Ucapan itu mulai keluar—Uli sigap meresponnya.
Uli mengangkat kepalanya sebentar, lalu kembali menundukkan kepalanya. Setelah itu, mulutnya mulai bicara.
“Zumirh dan Zurry sudah menuju ke Padang pasir di perbatasan hutan. Mereka sudah menyerang pangeran itu.”
“Kau tidak salah bukan?”
“Tidak Tuan agung,” Uli menggeleng. “Aku mengikuti mereka hingga ke perbatasan gurun. Mereka di sana, sedang menyerang Medusa dan Lausius.”
“Ehm.....” benar-benar bagi Elius. Kedua iblis bersaudara itu sudah lebih dahulu tiba di sana. Dugaan Elius benar, tidak meleset sama sekali, mereka gerak cepat. “Nekabudzer. Bagaimana menurutmu?” Elius melirik pria yang berdiri di depan singgasananya.
Nekabudzer mengangguk mengerti. Satu tangannya melipat di dada. Satu tangannya lagi melipat di punggung, dia menunduk setengah badan.
“Tak ada pilihan lain. Kita harus kesana sekarang.”
“Hahaha..... Kau memang rekan yang bijak.”
Sejatinya, Elius harus segera bertindak agar cepat mendapatkan Sean. Akan tetapi, Nekabudzer terus menahannya. Dan ini waktunya, Elius sudah menantikan saat itu. Saat di mana dia akan menguasai Lausius itu seutuhnya, menyempurnakan keabadiannya—Hingga menjadikan dirinya yang paling kuat di antara makhluk lainnya.
“Kita pergi sekarang!” ajak Nekabudzer cepat.
Elius mengangguk, mereka meninggalkan istana Elius, pergi menuju ke Padang pasir gersang itu.
Keduanya mengepakkan sayapnya masing-masing, terbang keluar dari balkon istana.
»»»»»»»
“Hiya....”
Suara teriakan Sean memacu semangat. Dentingan tiap pedang, mewarisi gema alam.
Zurry pandai dalam mengelak. Setiap serangan Sean, berhasil dia tekuk—walau tak bisa melumpuhkan Sean.
Medusa yang menyerang Zumirh, berhasil merobek lengan wanita itu dengan pedang tajamnya. Memaksa Zumirh mundur menahan pedih luka gores.
“Kau..... Masih sama......”
Medusa tersenyum ketika Zumirh mundur hingga terdesak di pepohonan besar.
“Kau dan aku di ciptakan sama-sama kuat. Hanya saja, kau terlalu berambisi untuk menguasai Lausius itu seorang diri.”
“Angkuh!”
Zumirh kembali ingin menyerang. Akan tetapi, sebelum dia mengangkat senjatanya, Zurry menarik pundak Zumirh.
“Bagaimana cara menyingkirkan dia,” bisik Zumirh pelan.
“Dia sulit di tangani hanya dengan taktik kecoa. Dia memliki banyak rahasia dalam kekuatannya.”
Medusa mendengus, ketika melihat kakak beradik itu saling berkata pelan dengan lirihan mencurigakan.
“Wei. Kenapa kalian berhenti bertarung!” teriak Sean polos.
Medusa menahan Sean, ketika anak itu hendak menyerang Zumirh dan Zurry.
“Sebaiknya pangeran pergi sekarang. Aku akan menahan mereka.”
“Wei. Ini tidak adil!” Sean mengerang.
“Pangeran!” Medusa meliriknya dan menyoroti Sean dengan tatapan tajam. Dan Sean terlihat bungkam seketika. “Sebaiknya pergi sekarang. Atau mereka akan datang kembali.”
“Siapa?” tanya Sean.
“Dewa iblis dan yang lainnya.”
Oh, Sean tahu. Nekabudzer, Elius, Xavier dan yang lainnya. Mereka juga pasti akan datang—mencegatnya.
Sean membuang napas lelahnya, benar apa yang di katakan Medusa. Waktunya tidak banyak, dia harus sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Menyusul Jessica dan yang lainnya. Sean tidak mau terpisah lagi dengan mereka.
“Aku...”
“Jangan khawatir pada masalah di sini. Aku akan mengatasinya.”
Medusa tidak bisa menahan Sean lebih lama lagi di sini. Sementara, kedua orang di hadapannya saling memandangi keduanya.
“Kalau begitu. Aku akan pergi sekarang,” kata Sean mengambil keputusan. Dan sangat tepat menurut Medusa. “Kau jaga baik-baik dirimu,” katanya lagi pada Medusa. Setelah itu, Sean tak lagi berkata apapun.
Wanita ular itu mengangguk pelan, Sean melangkah perlahan. Sesekali dia menengok ke arah Medusa—wanita itu hening.
Sesaat kemudian, Sean memburu langkahnya. Berlari secepat mungkin, meninggalkan hutan ini, memasuki gurun. Panasnya mentari, tak urung Sean terjang walau dia tak memakai pelindung tubuh.
Zumirh mendengus tersenyum picik, keduanya tidak mengejar Sean. Justru lagi-lagi memandang wajah Medusa. “Katakan. Seperti itukah kau melindungi Lausius yang telah mengambil jiwa dewa dan kekuatan batu permata yang selama ini kau jaga?”
“Bahkan takdir itu telah mengubahnya—bukan menjadi milik ku!” Medusa menimpalinya.
“Huh.... Dewi ular yang sok bijak,” Zurry menggerutu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, keduanya saling lempar pandangan. Mengisyaratkan satu sama lainnya, bahwa inilah saat yang tepat.
“Kalau begitu. Bersiaplah untuk mati wanita ular!” teriak Zumirh menggebu.
Sedetik kemudian, keduanya menyerang Medusa dengan kesepakatan sebelumnya. Medusa terpaku ketika bayangan secepat angin itu hampir merengkuh nyawanya. Senjata kipas tajam Zumirh, melewati pelipis pipi Medusa, membuat wanita ini mengelak cepat.
Medusa mundur beberapa langkah, menghindar dari senjata tajam Zumirh. Dari belakang, Zurry membalas serangan, yang hampir saja tidak di ketahui Medusa.
Beruntung, sesaat sebelumnya, Medusa sempat melirik—Sehingga dia bisa menghindar dari serangan Zurry.
“Kakak beradik ini?”
Medusa memiringkan sudut bibirnya, manik-manik matanya melirik dua orang yang sudah berencana melenyapkannya.
Dua orang di depannya kembali menyerang, akan tetapi. Belum sampai serangan itu, tiba-tiba keluar pusaran angin yang membelah jarak Zurry, Zumirh dan Medusa.
“Hahhahaha......”
Ketiganya amat mengenal suara ini. Sayangnya, itu tidak membuat Medusa gentar. Medusa mendengkus, iblis sialan itu sudah mengusik pertarungan mereka.
“Kalian nampaknya sudah memulai pertarungan tanpa diri ku rupanya.”
Ucapan nyaring yang hampir merusak gendang telinga ini memecahkan suasana hening—di ikuti bayangan dewa iblis yang keluar dari pusaran angin kencang tadi. Bersama Xavier, dewa iblis seakan baru terbangun dari tidurnya yang panjang.
“Dewa iblis. Lagi-lagi kau datang di saat yang tepat!” kata Zurry berbasa-basi.
Alih-alih di tanggapi, justru dewa iblis berkata sarkas pada Zurry.
“Oh. Iblis kecil rupanya berkata pada ku.”
“Hei. Kau....”
“Hentikan.”
Zurrry menarik pundak Zumirh kembali. Adiknya sudah mengangkat senjata, ingin menyerang dewa iblis atas penghinaan ini.
“Kenapa kau menghentikan aku?” tanya Zumirh.
“Dia bukan prioritas kita saat ini.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Mengelabui mereka, lalu pergi,” balas Zurry pelan.
“Namun itu tidak akan berhasil!” dari belakang keduanya, entah sejak kapan Xavier ada di sana, dia menggandeng bahu Zumirh dan Zurry. Membuat keduanya sedikit terkejut.
“Kau.....!”
Ucapan Zumirh terhenti, ketika Xavier menyerang mereka lebih dahulu. Memaksa keduanya angkat senjata, kembali bertempur.
Suara dentingan pedang kembali menggema. Membuat Medusa terpaku sinis, menatap pergerakan kilat ketiga orang di hadapannya. Sesaat setelahnya, Medusa tersenyum tipis.
“Kalian bertarung, membuat aku senang melihat pertumpahan darah di antara kaum yang sama.” Medusa bergumam pelan.
Hanya karena bocah yang sudah berlalu itu, mereka rela adu pedang walau satu kaum—Iblis terkutuk. Benar-benar pertunjukan yang menarik untuk di saksikan oleh Medusa saat ini.
“Kau bangga bukan?” tegur dewa iblis ketika menyaksikan senyum tipis dari sudut bibir Medusa. “Apakah kau senang melihat pertarungan yang melibatkan tanah kekuasaan mu, ratu ular?”
“Bahkan jika kalian musnah. Aku sangat berharap begitu!”
“Omong kosong!” sentak dewa iblis. “Jika bukan karena Lausius itu ada di tangan mu. Mana mungkin aku akan menginjakan kaki ku di sini.”
Lagi-lagi Medusa tersenyum tipis. Wajahnya datar nan tenang, seakan tak ada halangan baginya untuk bahagia serta riang.
“Kau ingin mencoba ku?” Medusa mencoba memancing kemarahan dewa iblis.
Akan tetapi, alih-alih marah, justru makhluk dasar neraka itu melahai tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha..... Itu bukan pilihan untuk ku saat ini. Menghancurkan kaum ular bagi ku cukup menjentikkan jari saja. Namun, kali ini, mungkin kau beruntung. Karena tujuan ku datang bukan untuk mu, tetapi untuk putra cahaya itu.”
Medusa tahu, dia hanya sesumbar. Sesaat setelah berkata, dewa iblis menghilang di balik pusaran anginnya yang dahsyat.
Medusa tak sekalipun mengedipkan matanya, atau mencoba menahan makhluk itu. Medusa tahu, dewa iblis pasti menuju ke Padang pasir. Dia berusaha mengejar Sean.
“Hahaha..... Jika aku berhasil mendapatkan anak itu. Aku pastikan kaum ular mu akan musnah dari tanah surgawi ini.”
Sebelum dia menghilang di balik pusaran anginnya, dewa iblis mengecam. Medusa tak gentar, bahkan dia akan menunggu kedatangan makhluk itu.
Dewa iblis menghilang, Medusa pun ingin berlalu.
“Kalian lanjutkan pertarungan kalian,” kata Medusa pelan pada ketiga orang yang sedang bertarung di depannya. “Aku harap, salah satu dari kalian ada yang beruntung.”
Medusa mengepakkan sayapnya. Sayap yang terbuat dari cahaya merah muda itu, berkibar meninggalkan hutan di perbatasan.
“Jika salah satu mayat kalian di temukan oleh kaum ku. Aku jamin, aku akan membuatkan pemakaman yang layak untuk kalian.”
Di udara, Medusa menoleh sekejap. Masih pada hal yang sama, mereka tak gentar saling adu kekuatan.
__ADS_1
TBC