
Sean, Jessica dan Driyad berpamitan ingin meninggalkan sadon. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke pusat kota saranjana.
Sebelum meninggalkan sadon, Sean berpapasan dengan Volinia. Mereka bertemu sekilas, dan gadis itu sedikit berbasa-basi.
"Kalian akan pergi sekarang?" Volinia bertanya. "Secepat ini!"
Sean mengangguk, wajahnya terlihat sedikit berseri. "Ya." Balas Sean singkat.
Sean melangkahkan kakinya, dia siap meninggalkan sadon. Mungkin butuh waktu cukup lama untuk kembali ke istana ini. Tempat yang megah dan unik, Sean tak akan melupakannya.
"Tunggu Sean," Volinia menghentikan langkahnya.
Sean menoleh, dia melihat wajah Volinia untuk yang terakhir.
"Aku ingin memberikan kalian sebuah hadiah," Volinia mendekati Sean. Dari saku pakaiannya, dia mengeluarkan sebuah benda kecil. "Ini suling kesayangan ku. Jika kau menyukainya, maka aku akan senang hati memberikannya." Volinia memberikan suling bambu berwarna kuning.
"Ini untuk ku?" Sean bertanya. "Kau yakin memberikan suling ini untuk ku!" Sean tak percaya jika Volinia memberikannya sebuah hadiah.
Volinia mengangguk. "Iya. Ini untuk mu," wajahnya tersenyum saat Sean menerima suling miliknya. "Anggap saja itu hadiah atas bantuan mu yang membebaskan aku dari pintu waktu milik helian."
"Tentu aku akan menerima hadiah ini. Aku senang menerimanya," kata Sean berbangga hati.
Jessica mendeham. "Aku di lupakan." Jessica menyindir. "Memang sepatutnya aku di lupakan."
Volinia menatap Jessica, wajahnya tetap tersenyum pada Jessica walau dia di tanggapi sinis oleh gadis ini.
"Aku juga menyiapkan hadiah untuk mu," Volinia berbaik hati. "Jessica."
"Aku tidak butuh hadiah," Jessica berkata ketus. "Aku sudah cukup dengan apa yang aku miliki!" Kata Jessica yang masih seperti sikap sombong sebelumnya, Jessica tidak pernah memberikan kesan baik pada orang-orang yang pernah ia temui.
Volinia menggenggam tangan Jessica. Dia tidak peduli gadis itu marah atau tidak, tanpa menunggu persetujuan Jessica, Volinia memakaikan sebuah pernak-pernik cantik di tangannya. "Jika kau tak menyukainya, kau bisa membuang gelang ini." Volinia berkata lembut.
Volinia tidak peduli jika Jessica tak menyukai pemberiannya, dia sudah memberikan tanda mata pada gadis itu. Volinia berharap niat baiknya tak di tolak begitu oleh Jessica.
"Nah. Sean, Jessica, aku harap kalian baik-baik di jalan." Volinia memberkati perjalanan keduanya. "Aku akan merindukan kalian, jadi sehat-sehat lah kalian. Agar bisa bermain lagi di sadon ini."
"Terima kasih Volinia," Jawab Sean. "Aku pasti akan merindukan sadon dan para pelayan setianya." Sean berbasa-basi. "Lebih baik kami berangkat sekarang, sebelum matahari tergelincir di barat," timpalnya mengisyarat.
Volinia paham, dia merelakan Sean dan Jessica berangkat.
Tinggal di sadon untuk beberapa saat sebenarnya membuat Sean sedikit tenang.
Apalagi mengelilingi pasar sadon yang luas, membuat Sean makin teringat pada tempat ini. Sean merasa mulai akrab pada keramaian di desa manun.
Sean, Jessica dan Driyad akhirnya meninggalkan sadon dan mungkin tidak akan kembali lagi ke istana ini.
Sekarang mereka sudah menjauh dari hiruk pikuk ramainya penduduk di manun. Desa yang megah, keramaian ada di mana-mana dengan keberagaman yang nyata.
Mereka bertiga melalui jalan yang biasa di gunakan oleh orang-orang yang ingin menuju ke manun. Jalan yang di tempuh belum terlalu sulit bagi ketiganya.
"Hei!" Jessica menegur. Di tengah perjalanan mereka, Jessica mulai bicara. "Apa yang kau pikirkan? Kau sakit?" Jessica bertanya pada Sean, dia sedikit perhatian. Terlihat bahwa Sean dari tadi hanya diam tanpa suara.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, hanya sedang terpikirkan untuk kembali mengunjungi sadon suatu saat nanti," jawab Sean mengelak. "Setidaknya di sadon kita pernah melihat sebuah rahasia kuno di manuskrip tua herenoid."
"Kau yakin tidak apa-apa?" Jessica kembali ingin memastikan keadaan Sean.
Sean mengangguk, dia baik-baik saja. "Aku hanya sedang terpikirkan oleh sadon, tempat megah itu." Sean kembali berkata hal ini untuk kedua kali.
"Aku juga berpikir begitu," Jessica senada dengan Sean. "Aku akan merindukan istana emas itu, lengkap dengan kemegahan nya yang indah itu," Jessica mulai berimajinasi. Dia sudah berangan-angan memikirkan sadon di desa manun.
"Sudahlah. Jangan di bahas lagi," Sean tiba-tiba membuyarkan imajinasi Jessica. "Jika terus memikirkan sadon, kemungkinan kita tidak bisa berpikir tentang hal yang lainnya."
"Itu lebih baik." Jessica menutup perbincangan. "Ketika aku sedang berimajinasi, tiba-tiba di hancurkan seketika olehnya. Seperti luka yang di beri tetesan lemon."
Sean melanjutkan perjalanan, mereka kembali memasuki hutan lebat. Driyad menuntun perjalan, suara burung-burung berkicau.
Hari mulai senja, matahari terlihat di ufuk barat sudah memerah, siap tenggelam di balik awan metis.
Suara jangkrik dan beberapa makhluk hutan lainnya mulai terdengar. Hari menjelang malam ini sedikit berbeda dari malam biasanya. Suhu udara terasa sedikit dingin.
"Tidakkah kita butuh tempat istirahat?" Jessica menyela langkah perjalanan.
Driyad yang menuntun perjalanan, menengok melirik Jessica. "Apakah kau sudah lelah?" Tanya Driyad.
Jessica mengangguk. "Sangat lelah," Timpalnya.
Suasana senja itu sudah masuk dalam kegelapan, perjalanan yang mereka tempuh pun sudah di setengah perjalan hutan. Driyad melirik Sean, dia butuh pendapat-nya. "Bagaimana Sean? Kau setuju untuk istirahat?"
"Tak masalah?" Sean mengangkat kedua bahunya. "Jika Jessica sudah lelah, istirahat sejenak mungkin lebih baik dari pada memaksa melanjutkan perjalanan." Sean berkata bijak.
Sean sedikit tersenyum. "Kalian tunggu di sini. Aku akan mencari pemantik api."
Sean beranjak, dia ingin mencari apa yang ia butuhkan.
Jessica berteriak saat melihat tingkah Sean. "Hei Sean! Memangnya kau bisa menyala api?" Jessica bertanya lalu mengikuti langkah Sean.
"Untuk apa kau mengikuti ku," lirih Sean. Langkah kaki Jessica kini menyamai langkah Sean.
"Hei bung!" Jessica berlagak sok preman. "Aku mengikuti mu karena aku tak yakin jika kau bisa menyalakan sebuah api?"
"Kau hanya terlalu meremehkan aku!"
Sean tidak memperdulikan Jessica yang terus mengganggunya.
"Hei bung," Jessica masih tak menyerah. "Bagaimana aku tidak meremehkan mu! Bahkan terakhir kali kita pergi dalam kegiatan sekolah, kau sendiri tidak bisa menyalakan api unggun."
Jessica menyinggung Sean atas kejadian di sekolah. "Dan kau juga ingat? Saat kau di jadikan ketua regu, tim kita selalu kalah. Karena memilih ketua yang payah tak memiliki keahlian apapun. Jadi jangan salahkan aku jika aku meremehkan mu!" Jessica meledek. Dia tak bisa diam untuk membuat Sean terpaku.
Sean tak bergeming, dia sibuk pada pekerjaannya. "Dari pada kau memikirkan dan membicarakan kelemahan orang lain, lebih baik kau bantu aku mengumpulkan ranting ini." Sean menyodorkan tumpukan ranting kecil, tepat di pangkuan Jessica.
Gadis itu memeluk ranting-ranting kecil pemberian Sean. Tepaksa.
"Hei! Kau pikir aku adalah pekerja di rumah mu?" Jessica tak terima di perlakukan seperti ini.
__ADS_1
Sean yang sibuk mencari ranting, men-jeda sejenak kesibukannya. Dia menoleh, melihat wajah ketus Jessica. "Lebih baik begitu, dari pada kau mengomel tak karuan."
Jessica membanting tumpukan ranting yang ada di tangannya, dia sedikit kesal. "Kau begitu menyebalkan!"
Sean terkekeh melihat tingkah Jessica. "Oke. Maafkan aku, kau ahli merajuk." Kata Sean mengalah. Dia mengambil kembali tumpukan ranting yang di buang Jessica.
Sean membiarkan anak itu marah, pikir Sean Jessica butuh waktu untuk merajuk lalu menenangkan diri.
"Sejujurnya," Sean menghampiri Jessica. "Saat acara sekolah waktu itu, bukan aku tak bisa menyalakan api unggun yang seperti kita rencanakan, tapi aku mengalah." Kata Sean sambil mengacungkan Jessica dua bongkah batu ukuran sedang.
"Mengalah?" Tanya Jessica. "Pada siapa?"
Sean mendeham. "Sejujurnya saat itu, aku mengalah untuk tidak menyalakan api itu karena Eed." Sean memberitahu. "Saat itu Eed memaksa ku agar memberikan dia kesempatan untuk menjadi ketua tim. Alhasil, kau berpikir bahwa aku adalah ketua tim yang payah. Aku tidak menampiknya, kau berkata benar."
"Benarkah sean!?" Jessica tak percaya. "Kau berkata jujur bukan?"
Sean mengangguk. "Itulah mengapa kau selalu meremehkan aku!"
"Ehm... Artinya, aku selama ini selalu membuat mu kesal?" Jessica menyadari dirinya. Dia mendatangi Sean yang sedang menyalakan api. "Kau.... Tidak mengumpat ku bukan?"
Sean menghentikan kesibukannya sejenak, dia menghela nafas lalu melirik Jessica. "Kau pikir aku seorang wanita, yang selalu menggosip!" Sean menggerutu.
"Itu artinya memang benar jika aku selalu membuat mu kesal?" Jessica memastikan. "Ayo katakan Sean? Apakah aku wanita yang menyebalkan."
"Iya," jawab Sean singkat.
"Iya, bahwa aku selalu menyebalkan. Begitu-kah?" Jessica merengek.
"Iya, kau selalu menyebalkan dan mengedalkan," jawab Sean jujur. "Bahkan kau selalu meremehkan aku dan Eed. Kau membanding-bandingkan antara Eed, aku dan teman lainnya," Sean berkata sambil membenturkan dua batu.
Sean berusaha memercikan api di atas ranting kecil yang telah ia susun.
"Dan kau juga suka bertengkar dengan para pria!" Sean menambahkan kata jujur yang penuh kekesalannya pada Jessica.
"Tapi Sean!" Jessica berkata pelan. "Aku tidak sengaja melakukannya!" Jessica duduk tepat di sebelah Sean yang sedang sibuk pada apinya.
"Aku tahu itu," balas Sean. "Kau memang selalu berkata seperti itu pada ku. Tidak sengaja, tidak sengaja. Kau selalu ingin berdebat," Sean mengomelinya.
"Kau memang teman yang paling pengertian Sean." Jessica tersenyum kecut, dia tak menyangka jika Sean mengingat semua kejadian masa lalu. "Bahkan aku sudah melupakannya," dia berkata pelan pada perkataan terakhirnya.
Sean mendengus. Dia tahu jika Jessica selalu begitu. Setelah kejadian berlalu, dia akan mengulangi lagi tindakannya. Suka berdebat dan meremehkan teman-teman prianya. "Untung aku Sabar," kata Sean bergumam.
Driyad menyela, dia mendekati kedua anak itu. Lebih-lebih api yang Sean nyalakan sudah membesar. Driyad merebahkan tubuhnya di atas tanah dekat dengan api.
"Kalian selalu bertengkar," kata Driyad bosan pada tingkah anak-anak. "Bahkan setiap saat," Driyad mulai bicara apatis, entah sejak kapan.
"Bahkan kau pun ikut campur," jawab Jessica congkak. Dia membuang muka, layaknya anak yang suka merajuk.
Sean menggelengkan kepalanya, dia mulai menyerah untuk bicara. Atau mereka akan berbicara lalu berdebat hingga besok sampai besoknya lagi. Sean bijak menanggapi kelakuan Jessica, siapa lagi yang akan mengerti dirinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1