Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 174


__ADS_3

Sean menitikkan air mata, ketika melihat Jessica sudah tak lagi membuka matanya.


Peperangan terhenti, semua orang kini beralih memperhatikan Sean. Termasuk Elius, dia terlihat girang saat melihat Sean terpuruk.


Karena semua perhatian teralih pada Sean, mereka lupa bahwa mereka sedang bertempur. Crypto, Handita dan yang lainnya terpental karena tak bisa menahan serangan dari pihak Elius. Membuat pasukan Sean serta para petarung lainnya terpukul mundur. Tak ada satupun di antara mereka yang bisa menahan pukulan dari pasukan Elius.


Mengangkat jarinya, Elius mengode. Dan prajuritnya langsung melepaskan banyak anak panah pada tubuh Sean.


Sean belum menyadari kalau dia mendapatkan hujan panah dari pasukan Elius. Sean tidak peduli apapun, yang ada dalam pikiran Sean hanya ada Jessica. Hingga beberapa anak panah menusuk punggungnya. Darah segar mengucur, namun Sean masih belum beranjak.


“Jessica ....”


Air mata Sean jatuh ke puncak kepala Jessica. Namun sayang, itu tak akan membuat gadis itu terbangun lagi.


Melihat Sean makin hening, Elius makin merajalela. Dia kembali memerintahkan para Gort agar mengeksekusi Sean, melalui isyarat tangannya.


Ada beberapa Gort mendekati Sean, mereka siap memenggal kepala anak itu. Sean yang sedang dilanda kehilangan, membuatnya murka.


Sean berbalik sebelum pedang para Gort mengeksekusi dirinya. Dengan cepat kilat, Sean mengambil alih senjata Gort, lalu membalas memenggal kepala siluman bertanduk itu. Darah terus mengucur, walau Sean bertarung gigih.


“Kalian harus membayar atas semua yang telah kalian lakukan. Tak akan ada di antara kalian yang bisa selamat!”


Sean melompati satu persatu Gort dan prajurit Elius. Mereka mencoba menyerang Sean, namun Sean tak bisa di halau. Menusuk, memenggal, mematahkan tulang belulang mereka. Sean makin mengganas, membuat orang-orang yang melihatnya terperangah.


Ada pilar besar yang roboh di dekat Sean. Sean mengangkatnya, lalu melibasnya pada Gort dan pasukan Elius yang mencoba menikamnya. Tubuh-tubuh itu terpontang karena menerima benturan keras dari pilar yang Sean kibaskan.


Tak hanya itu, Sean makin maju saat para Gort terus ingin mendesak Sean. Kepala bertanduk itu, Sean penggal satu persatu. Menusuk jantung, mematahkan leher bahkan memutuskannya dari tubuh. Sean amat bar-bar. Darah para Gort dan prajurit Elius memercik kemana-mana.


“Cepat serang dia. Bunuh jika itu perlu!”


Elius, dia kembali memerintahkan para prajurit untuk menangkap Sean. Mengikuti perintah Tuannya, para prajurit Elius menyerang Sean.


Lagi-lagi Sean mampu mengatasinya. Dia membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi dirinya.


Melihat Sean makin mendekat, apalagi tak satupun anak buah Elius mampu menghalau Sean. Terpaksa, Elius mengangkat pedangnya.


“Inilah jalanku. Aku yang akan membunuhnya dengan pedangku sendiri.”


Nekabudzer menarik pundak Elius, pria ini menoleh.


“Kau mencoba menahanku?” tanya Elius.


“Biarkan aku yang menumpaskan Lausius itu,” kata Nekabudzer ingin berganti peran. Namun sayang, Elius menolak.


“Menjadi tanggung jawabku membuatnya mati. Jangan mengotori tanganmu hanya masalah sepele seperti ini!”


Alih-alih menuruti kemauan Nekabudzer, Elius justru makin tertantang. Ambisinya telah menguasai jiwanya. Sama halnya seperti Elius, Sean mencabut pedangnya yang sempat tertancap di tanah. Menariknya melalui kekuatannya, lalu balik menyerang Elius.


Suara dentingan kedua pedang itu sempat memercikkan api, namun tak sampai di situ. Sean berbalik, terbang ke belakang punggung Elius.


Menerjangnya dari belakang, membuat pria itu terdorong. Terjungkal, pria itu mengguling di tanah berbonggol-bonggol. Elius lalu menyeringai, tersenyum miring.


“Kau mencoba ingin mengutukku. Kau bisa apa!”


Elius kembali ingin membalas serangan Sean. Penghinaan ini tak akan mudah dia lupakan semudah itu. Elius benci pada kekalahan.


Sean yang sudah tersulut akan kemurkaan, tak lagi takut pada kematiannya. Yang ada, setiap serangan Elius justru Sean hindari dengan santai.

__ADS_1


Saat pedang Elius ingin menyentuh kulitnya, Sean menepis. Sean membalas serangan Elius, dan dengan kekuatan penuhnya, Sean menghantam tubuh Elius berkali-kali.


Tepat mengenai jantung Elius, Sean menghujamnya sangat keras. Membuat pria itu terdorong mundur. Darah mengalir dari sela bibirnya. Sempat Elius menahan dirinya ketika mendapati serangan keras dari Sean, namun itu tak mampu dia lakukan. Sean sangat kejam pada Elius.


Seketika, Elius merasa dunianya terasa mendadak berhenti. Darah segar mengucur, dia terpental-pental hingga mendekati kaki Nekabudzer.


“Elius ..., kau ....”


“Anak itu ....”


Elius tak bisa melanjutkan lagi ucapannya, mendadak pria itu menutupkan matanya. Detak jantungnya tak lagi berdegup, Nekabudzer tak merasakan apapun dari tubuhnya yang mulai dingin. Kulitnya memucat, pria itu benar-benar meregangkan nyawanya.


“Elius. Elius. Kau ....”


Darah segar dari mulut Elius terus menerus mengalir. Darah hitam, membasahi bibirnya. Dia mati?


Ya, Elius mati. Secepat ini, bahkan pria itu belum sempat mengalahkan Sean. Membawa mimpinya itu menuju ke puncak kejayaan. Sayangnya, ambisi Elius harus kandas. Sean telah memusnahkan harapannya.


Usai menumpaskan Elius, napas Sean terasa berat. Dia mulai terengah-engah. Memperhatikan Elius yang telah terkapar, Sean tak menyesali perbuatannya. Karena Sean telah melihat takdirnya sendiri di istana awan Metis.


Nekabudzer merasa terpukul saat melihat kematian Elius. Dia tak terima jika Elius secepat ini meninggalkannya.


Semuanya terkenang, dalam satu ingatan. Kenapa Nekabudzer begitu kehilangan akan diri Elius. Karena Elius adalah adik angkatnya. Nekabudzer nyaris mati di tangan Patriak Zhu kala dia masih muda, dan seorang pria datang menolongnya. Yang tak lain adalah Ayah Elius. Pria itu memintanya, jika dia mati, Nekabudzer harus menjaga Elius. Dalam keadaan hidup atau mati.


Dengan segenap jiwa dan raganya, Nekabudzer harus melindungi Elius. Itulah kenapa, Nekabudzer sangat terpukul atas kematian Elius. Semuanya terasa bagai mimpi. Bagi Nekabudzer, Elius sudah seperti adiknya sendiri. Adik yang paling dia cintai.


“Aku gagal melindungi Elius. Aku tak mampu memenuhi tugasku. Tuan agung, aku pastikan. Aku akan membalas semua yang menimpa Elius. Janjiku padamu, akan aku penuhi.”


Nekabudzer menyentak pedangnya di tanah. Sampai tanah yang tereksekusi itu, menciptakan gelombang lalu retak.


“Lausius. Kau harus mati di tanganku!”


Pria itu makin berang. Membuat Handita memasang ekspresi cemas berlebihan pada Sean.


“Pangeran ....”


Sean menulikan pendengarannya ketika Handita mengkhawatirkannya. Sean mengangkat pedangnya, berlari membalas Nekabudzer yang ingin menyerangnya.


Saat keduanya telah mendekat, Nekabudzer mengibas pedangnya. Sean menangkis serangan Nekabudzer, dengan mengangkat pedangnya. Pedang keduanya saling bertabrakan, hingga menimbulkan percikan kekuatan yang dahsyat.


Nekabudzer terpental ulah kekuatan pedang Sean. Namun dia mampu menahannya, sehingga dia tak terpental hingga terjungkal.


Sean tak gontai, dia masih kokoh. Sean menghantam pedangnya di tanah. Sampai tanah yang tertancap itu retak besar.


Nekabudzer menyeringai. “Kau benar-benar Lausius yang tangguh. Tapi, aku pastikan bahwa kau akan mati di tanganku saat ini!”


Kembali mengangkat pedangnya, Nekabudzer mencoba menyerang dari segala arah. Kecepatan bak angin itu menantang Sean. Sean kembali mengangkat pedangnya, ketika Nekabudzer mengitari tubuhnya.


Menciptakan sebuah badai tornado, Sean merajam sembarangan tubuh Nekabudzer. Tidak berhasil, dia selalu mengelak. Sorot mata Sean kian tajam. Cahaya di tubuh Sean terus bersinar.


Nekabudzer merasa inilah kesempatannya. Dia ingin menusuk tubuh Sean dari belakang. Tanpa Nekabudzer sadari, lirikan mata Sean lebih tajam dari yang dia duga.


Sean berbalik, menghantam tubuh Nekabudzer dengan pedang besarnya. Seketika pria itu terpental jauh hingga menghantam tanah sekeras batu. Terbatuk hingga memuntahkan darah, pukulan dari Sean sangat dahsyat.


Nekabudzer menekan dadanya, begitu sakit saat Sean menghantamnya dengan kekuatan begitu tak sebanding dengan yang dia kira. Nekabudzer, kurang menerka seberapa kuatnya anak itu. Perkiraan Nekabudzer pada Sean belum terukur.


“Jika aku tak bisa membunuhmu secara langsung dengan pedangku. Maka, tak ada cara lain untuk membalaskan kekalahan ini. Kau harus menerimanya Lausius!”

__ADS_1


“Kau lakukan apa saja yang kau mau. Akan aku buat Medan peperangan ini menjadi kuburan terakhirmu!”


Sean menantang. Dengan senang hati Nekabudzer melayaninya. Pria itu bangkit kembali dari kekalahannya. Kini, entah apa yang terjadi.


Tubuhnya mengeluarkan kekuatan. Tak lama, dia mengerang seakan kesakitan. Sean memicingkan matanya, memperhatikan apa yang terjadi pada tubuh Nekabudzer.


“Darah iblis!” ucap Handita pelan. Dia juga ikut memperhatikan perubahan Nekabudzer. “Monster ini. Dia berhasil menghidupkannya. Bagaimana ini bisa terjadi?”


Handita benar-benar di buat tercengang akan perubahan drastis itu. Darah iblis, semua orang tahu bahwa darah iblis adalah konspirasi yang sangat ilegal. Namun pria itu menentang kehendak langit, dengan membangkitkan darah iblis dalam dirinya.


Sean menghela napasnya. Kembali mengangkat pedangnya, Sean mulai memahami apa yang terjadi pada tubuh Nekabudzer.


“Pangeran. Berhati-hatilah. Dia sedang ber-kultivasi menjadi seorang iblis tingkat surga. Tak mudah mengalahkannya!” ucap Handita mengingatkan Sean.


“Aku mengerti. Aku akan mengalahkannya!” balas Sean singkat.


Tubuh Nekabudzer sepenuhnya sudah berubah menjadi sosok yang mengerikan. Monster tinggi dan besar, tanduk kepalanya menyerupai kerbau. Gigi dan napasnya terlihat sangat panas. Sean yakin, makhluk itu bisa memuntahkan api panas.


Dia nampak seperti seekor naga, namun sekilas jika di perhatikan. Tubuh besar itu menginjak Gort dan pasukan Elius. Mereka yang tak bisa menghindar dari tubuh besar itu, tewas terinjak olehnya.


“Haha ..., kesempatanmu untuk melarikan diri tak akan bisa lagi Lausius. Kau sudah aku siapkan menjadi penghuni neraka. Kau akan menjadi milik iblis neraka. Kau harus mati!”


Suaranya menggelegar. Tubuh besar yang menyerupai monster naga berwarna biru ini, sangat tangguh. Nekabudzer menghantam tubuhnya ke arah Sean.


Sean menahannya menggunakan pedangnya, sesekali Sean mengerang. Sekuat tenaga, Sean menahan gempuran itu. Bahkan Sean harus mengeluarkan kekuatanya, agar bisa menahan tubuh Nekabudzer. Kakinya sangat berat, bak sedang menahan beton yang cukup berat. Sean di buat lunglai.


Nekabudzer terbahak. “Haha ..., kau tak akan selamat Lausius!”


Handita mencoba membantu Sean, dia menyerang tubuh monster Nekabudzer dengan kekuatannya. Pharos demikian, dia ikut membantu.


Namun sayang, kekuatan yang mereka hantamkan ke tubuh Monster Nekabudzer, tak mempan. Sambil terus mendesak Sean, monster itu melirik Handita dan Pharos. Setelah itu, dia menyemburkan napas apinya pada kedua Dewi itu.


Sesegera keduanya terbang menghindar dari napas api milik Nekabudzer. Tak lupa, api panas itu sempat mengenai Crypto dan yang lainnya, tapi Gordon mampu melindungi para rekannya dengan tameng besar.


“Perkara kecil bung!” ucap Gordon sumringah—pada rekan-rekannya itu.


Crypto mendengkus. “Di situasi seperti ini. Kau masih saja membual,” ucapnya kesal.


Kembali pada Sean, karena sudah terdesak, anak itu mengeluarkan segenap tenaganya yang tersisa. Mengangkat kaki monster Nekabudzer yang menghantamnya, Sean melempar tubuh Monster Nekabudzer ke udara.


Sean terbang secepat kilat, lalu menusuk setiap tubuh Nekabudzer. Monster itu obesitas, jadi dia agak sulit dalam bertarung. Kecuali, dia menerima banyak serangan dari Sean.


“Hiya ....”


Satu serangan terakhir dari Sean, memenggal kepala monster Nekabudzer. Membuatnya terkatung-katung, Nekabudzer tersungkur ke tanah. Begitu besarnya tubuh Nekabudzer yang bersemayam dalam rupa monster neraka, saat jatuh tubuh itu menghantam keras permukaan tanah.


Menciptakan awan debu, dan sebuah api besar layaknya ledakan bom. Tubuh Nekabudzer hancur berantakan. Siapa saja yang berada di tubuh yang hancur itu, melayang di udara. Terlempar akibat, begitu kerasnya hembusan angin yang tercipta.


Sean menapakkan kakinya, dengan napas terengah-engah usai menaklukkan iblis itu.


Percikan api dari tubuh Nekabudzer, mengenai tangan Sean. Sean menyulutnya, mengibas api yang tiada artinya itu.


“Dia mati? Secepat ini?” gumam Edward pelan.


Yudhar yang mendengar gumaman Edward, dia membisik pelan di telinga anak itu. “Dia di takdirkan harus mati!”


Di tengah tubuh mereka yang terluka dan mengeluarkan darah. Sempat-sempatnya kedua anak itu menggosip.

__ADS_1


__ADS_2