
Sean melangkah lebih dalam lagi masuk kedalam hutan. Sama seperti sebelumnya, hutan di sini pepohonan bercahaya, ada jamur yang timbul dari tanah. Memancarkan cahaya indah, penuh warna.
Semua unik. Membuat siapa saja seakan berada dalam mimpi. Namun ini nyata, ini bukan mimpi semata, Sean yakin itu. Sean tiba di sebuah telaga, ada danau kecil di sana setelah melewati jalan setapak. Ada air terjun, dan..... Sean menemukan sebuah jubah. Bagus, burka hitam itu amat tebal. Cukup membuat tubuh siapa saja hangat ketika memakai burka tebal itu.
Sean mendapatkannya dari ranting pepohonan, seseorang meninggalkannya di sana. Di sekitar telaga ada banyak semak tinggi, Sean yakin. Seseorang yang bersembunyi di balik sana, pasti tidak akan di temukan oleh siapapun.
Sean menggunakan jubah hitam itu Seakan sudah di takdirkan menjadi miliknya, jubah itu pas untuk Sean. Ada penutup kepala, dan Sean menggunakannya. Menutupi kepalanya, sehingga yang terlihat hanya wajah misterius. Namun tak menutupi kemungkinan, cahaya di tubuh Sean masih saja menembus ruang kain jubah yang dia kenakan. Namun, setidaknya ini lebih baik.
“Apakah ada orang di sana?”
Ketika sedang mengarahkan seluruh perhatiannya, Sean mengeraskan suaranya. Satu tangannya mengambil jubah itu dan langsung memakainya, sementara matanya meluas. Mencari sesuatu atau seseorang yang memungkinan ada di sekitar telaga ini.
“Apakah ada orang di sana?” kembali Sean mengulangi.
†††††
Mata Sean teralihkan ketika ada suara dari semak-semak di balik batu besar. Batu itu ada di dekat air terjun, Sean penasaran pada suara yang menggoyangkan semak-semak berduri ini.
“Tidak mungkin kan jika ada seseorang di sini kecuali aku?”
Tangan Sean membuka semak, matanya jengah melihat sesuatu di balik sana. Sean menginterupsi sekeliling semak, ketika Sean menoleh ke bawah kakinya....
“Oh..... Tikus!!”
Sean tidak kaget, pada dasarnya hewan pengerat itu sudah menggigit boot kuno yang dia pakai. Hanya saja, bentuk tubuh yang amat besar. Itulah kenapa begitu aneh saat melihat tikus liar itu. Sean sempat mengira bahwa hewan pengerat itu adalah kucing.
“Hei kawan, kau jangan mengganggu ku. Pergi sana, ini bukan tempat mu.”
Sean menendang tikus besar itu, hingga tubuhnya terpental lalu hilang di balik semak-semak. Suara gemercik air menambah suasana khas telaga. Lalu..... oh, suara Sean menggema di sini. Bicara dengan suara beroktan rendah pun, di sini terasa seperti menggunakan pengeras suara.
Tetapi, dari balik semak itu. Mata Sean melihat.... Banyak tengkorak. Ya, Sean melihat ada beberapa tengkorak yang sudah tersisa menjadi belulang kering. Sean menghampirinya, dan rasa penasaran itu membuat Sean mencoba menelaah tengkorak yang di tutup jubah lapuk.
“Di sini juga ada banyak tengkorak. Aku kira hanya di dalam gurun itu saja. Aneh.”
Setidaknya, Sean merasakan bahwa tempat ini juga ambigu. Tetapi Sean ingat kata Medusa.
“Jika sudah keluar dari perbatasan gurun, seharusnya aku menemukan sungai emas dimana ada sekoci kecil di sana. Lalu aku akan di tuntun mengalir ke sungai emas Mosapus. Tetapi kenapa aku tidak menemukannya di sini. Kecuali...... Hanya hutan dan.... mayat.”
Sean agak bingung ketika tak mendapati sungai emas atau sekoci kecil di luar pintu perbatasan gurun. Tak seperti yang di katakan oleh Medusa, namun, setidaknya ada benarnya apa yang di katakan oleh Medusa. Jika tak menemukan sekoci kecil itu, maka Sean akan menemukan hutan. Dan bisa jadi, inilah yang Sean dapati.
“Aneh. Apa mungkin pintu itu bergeser ketika aku keluar dari gurun Medusa. Sehingga aku tidak menemukan pintu itu. Atau, pada dasarnya memang aku tidak di takdirkan menemukan sekoci kecil itu?”
Entahlah, Sean merasa aneh saja. Sean makin meluaskan pandangannya. Kini belulang itu membuat Sean tak habis pikir. Begitu banyak tengkorak yang terkapar di dekat telaga, sementara Sean sendiri menggunakan salah satu jubah yang sama—seperti yang di kenakan para tengkorak kering.
“Mereka mati sepertinya karena kelaparan dan kelelahan. Di tambah udara malam yang amat dingin di sekitar telaga, kemungkinan ini yang membuat mereka berakhir menjadi mayat.”
Sean menutup hidungnya, sebab bau menyengat makin kuat. Menyeruak ke dalam hidung lancip Sean, seolah mayat-mayat yang tersisa tulang ini baru beberapa hari saja mati. Padahal kenyataannya, Sean paham. Pasti sudah bertahun-tahun mayat ini berada di telaga gelap ini.
Sean melirik ke belakang ketika tempat gelap ini ada cahaya. Mata Sean dengan cepat menerima rangsang cahaya lain, selain dirinya dan Ligong. Sean tahu, di sini yang bercahaya hanya dirinya dan macan hitam itu.
“Siapa kau!”
Dengan cepat Sean mengacungkan pedang besarnya pada seseorang yang berdiri di belakangnya. Seorang wanita, membawa sebuah lampu lampion.
“Kau.....”
Wanita itu mengangguk tersenyum. “Aku kira kita tidak akan bertemu lagi kali ini Sean. Ternyata kita bertemu lagi di sini,” kata wanita itu, yang tak lain adalah Jessica.
“Tunggu!” ketika Jessica dengan sumringah ingin mendekatinya. Sean sadar, kalau sebenarnya ada yang aneh. “Apakah kau yakin kau.....”
“Tentu saja aku Jessica, Sean!”
“Jessica?”
Wanita itu mengangguk. “Apakah kau tidak mengenali ku lagi Sean?”
“Tidak, tidak, tidak.” Dengan cepat Sean menggeleng. “Aku kira ku....”
“Aku di sini Sean. Tidak mungkin aku hantu.”
Sean mengerutkan keningnya, agak janggal. Ehm, Sean bingung. Ada yang aneh saat melihat wanita yang paling dia kenali ini. Namun tak tahu apa, sulit mendeskripsikannya.
“Jika kau benar Jessica, di mana yang lainnya. Gordon, Crypto dan para pengawalnya.”
__ADS_1
“Mereka......”
“Bukankah kau bersama mereka sebelumnya?”
Jessica berdelik, wajah yang sebelumnya sumringah, kini berubah menjadi sendu.
“Mereka...... Ada di belakang mu.”
“Tunggu. Maksud mu.... Kau tidak sedang membual bukan?”
Sean memutarkan matanya, melihat ke sekeliling. Benar, memang banyak tengkorak, namun tidak seperti Crypto dan yang lainnya. Sean tahu, Jessica sedang mengatakan kalau mereka semua sudah lenyap, sementara dirinya sendirilah yang selamat.
Sean hapal, mereka menggunakan pakaian apa. Dan..... Oh, Sean ingat. Gordon menggunakan gondola besar sebagai senjatanya. Namun Sean tak melihatnya di antara semua tengkorak yang tertutup jubah. Sebelum Sean berpisah dengan Gordon dan yang lainnya, mereka tak menggunakan jubah, kecuali.... Crypto. Hanya dia yang Sean ingat menggunakan pakaian itu.
Dan, yang membuat Sean aneh adalah, baru beberapa hari mereka berpisah. Lalu kenapa mayat-mayat yang tersisa tengkorak itu sudah mengering, seakan tengkorak-tengkorak ini sudah lama mati walau aroma bangkai itu masih menguat. Sean merasakan ada yang aneh di sini.
“Sean.... Aku....”
Aneh, kenapa bisa semua ini terjadi.
“Kau kenapa?” tanya Sean.
“Aku......”
Sean yang sedang memendarkan pandangannya ke semua tengkorak, tiba-tiba saja melihat Jessica gontai. Dia terhuyung, dengan cepat Sean menangkap tubuhnya agar tak tersungkur.
“Hei. Kau baik-baik saja bukan?”
“Aku..... Aku.....”
Jessica mendadak pingsan, sesaat setelah melihat wajah Sean. Bahkan menyentuh lembut wajahnya.
“Dia sepertinya kelelahan.”
††††††††
“Anak itu, apakah kau yakin dia selamat?”
Zurry menggeleng ketika mendapatkan pertanyaan klise dari Zumirh. Sambil memandang khidmat pedangnya yang sedang dia perbaiki, tak sekalipun pandangan Zurry terabaikan dari pedang kebanggaannya itu.
“Jadi..... Kau......”
“Tidak bisa di pungkiri, anak itu akan mati di tangan si raksasa rakus itu. Aku jamin, dia tidak akan selamat.”
“Sebegitu yakin kah kau tentang keselamatan Lausius itu?”
Zurry mengangguk, sama seperti sbelumnya. Pandangannya tak berubah, tetap fokus membersihkan pedang mengkilap itu.
“Jika kau mau, silahkan coba. Aku jamin, di dasar goa itu kau tak akan bisa keluar dari tempat terkutuk milik raksasa rakus. Aku tak bis menahan mu jika kau bersikeras. Aku juga tak yakin kau akan selamat, atau bisa keluar dengan mudah dari tempat itu.”
“Gila....”
Pikir Zumirh, mana mungkin dia akan datang kesana. Apalagi harus terjun ke bawah, itu sama saja namanya bunuh diri. Zumirh paham betul, apa yang akan terjadi di bawah sana.
“Haha.... Aku kira kau akan bodoh. Mengulangi tingkah mu seperti beberapa hari yang lalu.”
“Hei. Jika bukan karena Lausius itu, mana mungkin aku nekat bertarung dengan Medusa.”
Zumirh berdalih, dia melakukan pembelaan. Dia malas kalau harus di pojokan dalam kesalahan. Zurry hanya men-decak, sesekali dirinya melirik sinis Zumirh, namun tak lama. Karena fokus Zurry terpaku pada senjatanya, dia tak punya waktu mengurus Zumirh atau berkata panjang lebar padanya.
“Tetapi, ngomong-ngomong. Apakah kau benar-benar menyerah tak mau mendapatkan Lausius itu. Bukankah inilah impian mu mendapatkan Lausius itu?”
Kembali, Zumirh menyinggung. Mendengar ucapan Zumirh, Zurry berhenti sejenak pada kegiatannya. Lalu meninggalkan tempat duduknya, kini Zurry beralih pada manuskrip yang ada di dinding istana mereka.
“Mau bagaimana lagi. Kita di takdirkan tidak bisa memiliki Lausius itu. Apakah aku harus memaksa takdir—agar menuruti kemauan ku?”
“Ckckc.... Payah,” decak Zumirh sebal. “Aku kira kau akan antusias menyambut kedatangan Lausius itu. Nyatanya, kau pun menyerah.”
“Bukan kemauan ku. Tapi takdir yang mengubahnya.”
†††††
Uli jalan tergesa-gesa, menuju ke singgasana Elius. Sesampainya di sana, dia langsung sujud di hadapan Elius, kemudian berkata dengan napas memburu.
__ADS_1
“Maafkan hamba Tuan agung baru melaporkan berita ini sekarang!”
“Katakan pelan. Tak perlu kau terburu-buru begitu.”
Elius tengah menikmati nikmatnya memejamkan mata. Sambil di kipas oleh beberapa dayang istananya, rasanya makin nikmat kala embusan angin menerpa pori-pori kulitnya.
“Itu..... Sang Lausius....”
“Lausius?” dengan cepat Elius merasa semangat saat membahas nama itu. “Katakan. Ada apa dengan Lausius.”
“Sang Lausius....”
Elius mengernyitkan dahinya, dia makin penasaran. Tangan yang semula menopang pipinya, kini duduk normal. Sesekali Elius melirik Nekabudzer, pria itu mengangguk pelan. Kadang. Namun Nekabudzer paham, Elius memintanya mendengar dengan jelas maksud Uli.
“Aku dengar, Lausius itu jatuh ke lubang raksasa gondola.”
“Hou..... Benarkah?”
“Sungguh Tuan,” angguk Uli. “Dia mati di dalam lubang raksasa itu. Aku dengar, katanya dia tak akan selamat.”
“Siapa yang berkata seperti itu?” tanya Elius sedikit menginterogasi. “Katakan.”
Uli, makin tertunduk, seharusnya berita ini membuat pria ambisius yang di pertuan agungkannya ini kaget tak percaya. Namun itu berbeda, dia terlihat santai.
“Zumirh dan Zurry. Aku dengar mereka berkata begitu.”
“Ehm..... Bagaimana jika dia tidak mati di dalam lubang itu. Apakah mereka yakin sudah memastikannya dengan benar?”
“Benar Tuan. Mereka menyaksikannya sendiri.” kembali, Uli mengangguk.
Tidak, sebenarnya Elius tidak percaya. Meskipun Uli di tempatkan untuk memata-matai dua iblis itu, Zumirh dan Zurry. Bukan berarti Elius akan percaya sepenuhnya pada berita ini.
“Nekabudzer,” lirih Elius menginterupsi. “Katakan, apakah kau yakin anak itu akan mati jika masuk kedalam lubang itu?”
“Menurut ku. Siapa saja yang masuk kedalam sana, tentu akan berakhir menjadi tulang yang sia-sia. Namun tidak tahu apakah anak itu berhasil lolos atau tidak, kita perlu memastikannya.”
Nekabudzer menjelaskan sesuai yang ia tahu. Selebihnya, Nekabudzer belum pernah mengalaminya. Atau memasuki lubang itu, dia tak pernah bermimpi masuk ke sana.
Elius tersenyum miring, mendengus dingin. “Jika begitu, maka kita perlu menyelidikinya dahulu.”
Elius melirik Uli, wanita itu tertunduk ketika melihat mata tajam Elius. Sorot mata dingin, seakan menariknya untuk masuk kedalam sana.
“Aku tuan.”
Dengan cepat, Uli memahaminya. Dia tahu, pasti Elius akan memerintahkan dirinya lagi kali ini—agar masuk ke dalam lubang itu.
“Kau tentu tahu apa tugas mu,” kata Elius. Dia tidak perlu menjelaskannya, hanya perlu menginterupsi Uli dengan sorot mata tajam. Wanita itu pasti paham.
“Te—tentu Tuan.” Agak ragu, Uli menjawabnya sekenanya.
“Kalau begitu, jangan berlama-lama di sini. Laksanakan secepatnya, jangan membuat aku kecewa kali ini.”
“Baik Tuan. Aku akan melakukannya ”
Setelah berkata, Uli pun berlalu. Dia meninggalkan istana Elius.
Elius melipat bibirnya, sudut bibir Elius mulai menunjukkan sisi kalap nan picik. Uli sudah menghilang dari pelupuk mata Elius, pria ini terlihat makin picik.
“Jika dia selamat, maka aku akan membebaskannya. Namun jika tidak, maka dia adalah persembahan untuk si rakus itu.”
“Kau mencoba menyinggungnya!” sahut Nekabudzer.
“Uli sudah lama bersama kita. Dan ini cukup untuk membuatnya istirahat untuk selamanya.”
Nekabudzer menggeleng, pikiran picik Elius benar-benar licik. Dengan memerintah Uli turun ke lubang itu, bukankah sama saja dengan membunuh bawahannya itu. Jalan pikiran yang cerdik, Nekabudzer mengakuinya. Akan tetapi, itu pemikiran yang salah.
“Kau yakin ingin membalas semua jasa Uli dengan cara seperti ini?”
“Tak ada alasan lain?” Elius mengangkat kedua bahunya. Kemungkinan, inilah piihan mutlaknya.
“Ehm.... Aku rasa, kau terlalu mengabaikan wanita itu. Seandainya kau lebih berpikir kritis, maka kau hanya perlu mengorbankan beberapa Gort alih-alih mengumpan Uli.”
Elius tersenyum miring, lagi-lagi wajah picik itu tak bisa di tebak.
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti.”
†††††