Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 12


__ADS_3

KALIMANTAN OR BORNEO'S


LELAH.


Itulah yang dirasakan oleh Sean dan kawan-kawan.


Menempuh perjalanan yang cukup jauh, duduk dengan rapi di atas burung besi selama lebih dari 20 jam lamanya pasti sangat membosankan. Jaringan seluler tak leluasa menjangkau tekhnologi modern, bahkan menilik berita dari gadget pun sukar di dapatkan.


Akhirnya setelah hampir satu hari penuh mereka terbang, kini moncong pesawat itu telah bersandar di tempatnya.


Di bandara salah satu kota di Kalimantan.


Selama hampir dua puluh empat jam pesawat yang mereka tumpangi mengudara melintasi entah berantah tempat yang tidak di kenali.


Usai chek in di bandara, Jessica rasanya ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di kasur.


Namun tidak dengan Sean, ia masih ingin berjalan mengelilingi paru-paru dunia ini.


Inilah impiannya, impian mengunjungi INDONESIA.


Meskipun bukan Bali tujuan akhir mereka, bagi Sean sama saja.


Bukankah Bali, Kalimantan masih dalam satu negara.


Mengunjungi negara ini bagi Sean adalah perjalan luar biasa menyenangkan.


Bahkan negara ini lebih cantik dari Kanada, lebih makmur dari Panama yang ada di Amerika latin dan lebih indah dari pulau Galapagos.


Pikir Sean demikian sebab hiruk pikuk kehidupan di kota sebesar New York ia belum pernah berlibur ke hutan sekali pun. Tidak, lebih tepatnya kota yang berkonsep Forest City.


****


Edward memperhatikan di sekeliling bandara, ia menyaksikan begitu baiknya ornamental kearifan lokal khas Kalimantan. Dia mulai takjub dan jatuh cinta saat melihat kebudayaan setempat.


"Aku rasa aku akan jatuh cinta pada Borneo." Bisik Edward pada Sean. Mereka berdiri di lounge bandara menunggu jemputan wisata mereka.


"Aku rasa aku juga begitu," Jawab Sean membalas bisikan Edward.


Keduanya bicara seraya menarik koper yang mereka bawa.


Sementara Jessica dan ayahnya mengikuti berjalan di samping kedua sahabat itu.


"Hei kalian tahu? Kalimantan adalah salah satu pulau paling cantik.


Meskipun aku kecewa karena bukan Bali yang menjadi tujuan kita, tapi aku rasa mengunjungi pulau ini adalah keputusan yang tepat.


Dimana kita bisa merasakan udara yang sangat nikmat. Bahkan jauh lebih nikmat dari Las Vegas." Jessica bicara seraya menggoda kedua temannya itu dan ia berjalan mundur menyeimbangi langkah keduanya.


Sean hanya tersenyum mendengar celoteh Jessica, namun Edward kali ini yang berulah.


"Kau pikir hanya kau saja yang ingin menikmati liburan mu di Bali. Kami berdua pun ingin merasakannya kau tahu itu?" gerutu Edward, ia mulai menunjukan sikap angkuh dan sewotnya itu pada Jessica.


"Baiklah, aku rasa kali ini kau harus tahu, bahwa di sini! di Kalimantan hantu yang ku maksud, hantu kepala tanpa tubuh itu ternyata suka berkeliaran di kota ini. Aku rasa kau harus baik-baik pada ku." Ujar Jessica menjawab tak kalah sengit dan sedikit ketus.


Lalu ia mendahului kedua teman itu.


Jessica memasuki mobil jemputan khusus untuk para turis Amerika yang telah menunggu di lobby bandara.


"Lihatlah Sean, sikap angkuhnya mulai merongrong. Aku tidak menyukai tingkahnya itu." Ucap Edward pada Sean, ia kesal pada ulah jessica yang selalu menakutinya dengan cerita absurdnya itu. Dia mengadu pada Sean seakan dia yakin Sean akan membelanya.


"Aku pikir, kau seharusnya meminta maaf pada Jessica. Kau tahu ibunya adalah mantan paranormal.


Kau pasti akan bisa membayangkan bagaimana rasanya jika memiliki ibu yang mempunyai kekuatan." Sean menambahkan bumbu keangkeran Jessica pada Edward. Alih-alih membelanya, justru Sean makin membuat anak itu merinding.

__ADS_1


Lalu ia berjalan mendahului Edward, dia akan tertawa bahagia jika Edward temannya yang konyol ini merasa berdebar kala membahas cerita mistik.


"Sean.. Aku harus melakukannya, aku harus berbaik hati dan bersikap damai padanya." Edward mulai terpancing pada ucapan Sean. Ia merasakan tubuhnya merinding saat Sean mengatakan hal yang di anggapnya benar, namun sesungguhnya perkataan Sean adalah ucapan konyol yang tak perlu di tanggapi.


Ia berlari menuju Sean yang sudah masuk kedalam mobil bersama tuan Muller dan Jessica Muller.


Kini mobil wisata itu telah berlalu.


berlalu meninggalkan bandara.


BANDARA GUSTI SYAMSIR ALAM.


Pengalihan penerbangan ini membawa mereka menuju wisata eksotis di kota yang terletak di provinsi Kalimantan Selatan.


Kota yang indah.


Alamnya terawat alami dengan sempurna.


udaranya sejuk dan segar.


Sepanjang mata memandang, yang terlihat di mata Sean adalah jalannya menyatu dengan alam.


Rumput liar seakan menyambut kedatangan para pelancong asing.


Burung-burung berkicau merdu.


Kupu-kupu cantik terbang bebas di mobil Van yang sedang melintas itu.


Semilir angin kesejukan berhembus mengibarkan rambut hitam Sean.


Bahkan Sean juga melihat kawanan simpanse yang dilindungi bergelantungan di pepohonan seolah kawanan primata itu menyampaikan suka cita kedatangan Sean.



Sesekali Sean membuka jendela mobil yang ia tumpangi, ia mengeluarkan kepalanya untuk menghirup udara segar.


Sejuk, asri, indah, alami.


semuanya seolah telah membuat Sean enggan kembali ke kota new York.


Kota dengan segala kesibukan manusiawi yang membosankan.


Bagi Sean menyatu dengan alam adalah karunia tuhan yang patut di syukuri.


Beruntungnya orang-orang yang bisa tinggal dan hidup berdampingan dengan alam yang hijau dan memanjakan mata ini, pikir Sean.


Sean yang duduk di bagian depan mobil tak bisa memejamkan mata layaknya ketiga penumpang di belakangnya itu. Tuan Muller, Jessica dan Edward mereka tidur terlelap akibat lelahnya perjalanan.


****


Berakhir sudah perjalan yang melelahkan itu.


Mobil Van yang mereka tumpangi berhenti di tujuan akhir. Berhenti di penginapan kayu modern di pinggir pantai.


Penginapan ini lebih mirip rumah modern minimalis namun lebih menyatu pada alam. Semua bahan bangunan ini terbuat dari kayu-kayu yang di percantik dengan hiasan khas daerah setempat.


Sean mulai memperhatikan penginapan modern dan kontemporer itu.


Ia juga menyaksikan area sekeliling penginapan.


Tempatnya masih benar-benar suci, belum ada sentuhan tangan yang kasar.


Belum tersentuh oleh tingginya bangunan yang mencoba mencakar langit.

__ADS_1



Kemudian kakinya tergerak untuk mengunjungi hutan di belakang resort.


"Sungguh luar biasa alam ini. Aku tak akan mempercayainya. Bahkan di luar dugaan ku." gumam Sean bicara sendiri.


Matanya masih terbelalak melihat kesana kemari, melihat apa yang belum pernah ia lihat.


Sekali lagi ini adalah alam dimana ia tak akan pernah melupakan pengalaman paling mengesankan ini.


"Hei Sean," Edward berteriak padanya seraya menghampiri Sean.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Edward penasaran.


"Kau lihat!! sungguh aku tak menyangka hutan ini benar-benar cantik. Bahkan lebih cantik dari amazon." Sekali lagi Sean bicara takjub.


Sean menaiki sebuah bukit batu yang ada di hadapannya.


Ia kembali takjub karena melihat pemandangan hutan hijau ini dari batu yang berdiri kokoh.


Pantainya yang juga bersih bisa Sean lihat dari ketinggian.


"Sean," teriak Edward tiba-tiba.


"Ada ular Sean... Ayo lari,"


Edward memperingati Sean bahwa ada ular besar mencoba mendekatinya.


Hampir saja Sean tak percaya pada ucapan Edward, namun setelah ia tahu benar bahwa ada ular anaconda besar mencoba mendekatinya, Sean mengambil langkah seribu.


Ia menyembunyikan kepanikannya dengan berlari secepat kilat.


Keduanya lari tunggang langgang menuju resort sekencang-kencangnya.


Tak peduli apapun keduanya terus berlari tanpa henti hingga tiba di penginapan mereka.


Hosh Hosh Hosh.


Suara nafas keduanya yang terengah-engah.


Sean berhenti tepat di depan Jessica, membungkuk sambil memegang perutnya karena kesulitan bernafas.


Sedangkan Edward terkapar di tanah karena tak kuat lagi.


Nafasnya dan jantung mereka seolah akan meninggalkan raga tuannya.


"Kalian kenapa?" Tanya Jessica heran.


Keduanya tak mampu menjelaskan kepada Jessica karena hampir saja mati tak mendapatkan oksigen.


Perlahan mengatur nafas, dan mulai menenangkan diri dari ketakutan sesaat.


itu hanyalah reflek.


"Kami... Kami.... Kami...... Di hampiri ular." Jawab Edward terbata-bata dengan sisa nafas yang hanya sampai di tenggorokan.


Jessica yang mendengar ucapan Edward seketika tertawa lepas, ia tak percaya kedua pria ini bisa takut pada ular yang tak berbisa itu.


Ia merasa lega karena tahu kelemahan keduanya.


Yakni ular.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


SARANJANA EPISODE 12


__ADS_2