
Seluruh makhluk bernama gort yang menyerang Sean, kini terkapar tak bernyawa.
Nafas Sean yang sempat tersengal-sengal karena semangat dalam bertarung kini mulai normal. Bahkan tubuhnya nampak kembali seperti ke semula. Sean yang bertenaga kuat, kini kembali menjadi Sean seperti sebelumnya. Bahkan terkadang Sean lupa pada diri sendiri saat dia di kendalikan oleh nafsu.
"Jessica," Sean menyadari bahwa teman wanitanya terluka. "Kau tak apa-apa?" Tanya Sean sembari menghampirinya.
Sean memangku Jessica di pahanya, dia khawatir pada gadis itu.
"Jessica. Kau bertahanlah, aku akan mencarikan obat untuk mu! Kau harus kuat," Sean amat mencemaskan Jessica, dia mengerat di tubuh gadis itu.
"Hei!" teriak Jessica. "Kau terlalu berlebihan. Aku belum sekarat!" tegur Jessica. Dia mendengus nafasnya seperti kuda, jengkel pada Sean yang terlalu cemas.
Sean menatapnya bingung. "Kau!" kata Sean tercengang. "Kau, sehat-sehat saja!" Sean khawatir, sambil memeriksa seluruh bagian tubuh Jessica hingga mendetail.
Jessica bangun dari pangkuan Sean, dia berdiri normal seperti sebelumnya. "Kau pikir aku seperti pejuang wanita yang ada di film-film itu kah?" Jessica menuntut. "Aku hanya terjatuh, tidak terluka seperti yang kau pikirkan!"
Jessica bersikap baik-baik saja, dia kembali jalan menuju api. Tetapi, seperempat jalannya, Jessica mengerang. "Ssshhh.... Akh..." Jessica memegang pinggangnya. "Sepertinya pinggang ku encok," kata Jessica menahan sakit.
Sean masih tercengang, dia tak percaya bahwa Jessica jauh lebih kuat dari dugaannya. "Luar biasa," ucap Sean menggeleng.
Jessica hendak duduk di dekat perapian, tetapi wajah Sean yang terpaku membuatnya menegur anak itu. "Jangan pikir bahwa aku wonder woman!" Jessica mengernyitkan dahinya. "Aku sama seperti mu. Manusia biasa, bukan wonder women yang bisa terbang dari Jakarta ke Atlanta hanya dalam waktu delapan jam." Jessica berkata lelucon. "Oh, iya. Aku Jessica si penyihir cantik dari Perancis! Kau harus mengingatnya!"
Jessica penuh tuntutan, dan Sean lega karena dia kembali seperti Jessica sebelumnya. Atau mungkin Sean akan mengalami banyak kesulitan jika dia berubah menjadi Jessica yang ganas.
Sean benar-benar di buat tak habis pikir. Jessica bahkan membuatnya terkejut. Dia menghampiri Jessica yang tengah mengurut pinggangnya, sambil otak Sean berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi pada anak itu. Bagaimana dia bisa kuat menahan serangan makhluk itu.
"Kau bukan wonder women!" Kata Sean mendekati Jessica sambil mengambil pedangnya yang tergeletak. "Tapi wonder girls," ujar Sean membual.
"Sudahlah Sean!" Jessica menghentikan bicara Sean. "Kalau mengatakan tentang super Hero tidak akan ada habisnya." Jessica bersikap sok mendewasakan diri.
"Ehm..." Sean mendeham. "Ternyata gadis Perancis sudah bisa berkata sekarang," Sean menyindir. Itu adalah ucapannya, tetapi di ambil oleh Jessica.
Jessica tertawa saat mendengar Sean mengatakan kejujuran. "Kau memang selalu membuat ku tak pernah marah." Jessica melucu, memukul bahu Sean.
Kemudian Jessica sadar bahwa Sean terluka. "Sean," Jessica memanggilnya. "Lengan mu...... Terluka!" tegur Jessica.
Dengan santainya, Sean berkata oh pelan. "Hanya luka kecil, jangan di pikirkan," jawab Sean. "Mungkin terkena tanduk makhluk siluman tadi."
__ADS_1
"Kau yakin?" Tanya Jessica. "Itu hanya luka kecil? Kau tak mencemaskan luka itu?"
"Kenapa harus mencemaskan luka seperti ini!" Sean membalik pertanyaan. "Besok juga sudah mengering!" Seru Sean berkata normal.
"Bukan itu maksudku," Jessica membantah. "Tapi, aku mengkhawatirkan kalau luka mu terkena racun."
"Racun?" Jawab Sean. Dia berpikir sejenak, mendongak kepalanya menatap langit. "Aku rasa tidak mungkin," Sean menampik. "Mana mungkin dalam tanduk kerbau itu ada racun."
Jessica menarik nafas panjangnya, kemudian memutar wajah Sean lalu menatapnya dalam-dalam. "Siapa tahu itu bisa terjadi!" Pekik Jessica. "Semua bisa terjadi di dunia ini."
Jessica berkata terlalu berlebihan, Sean tak menanggapinya serius. Sean berpikir bahwa itu hanya kisah fiktif belaka. Sean memanyunkan bibirnya, mirip bokong ayam bentuk bibirnya saat itu. "Mereka hanya banteng! Aku tidak percaya jika mereka memiliki racun," Sean berkata apatis.
Mendengar Sean berkata mengelak, Jessica hanya bisa termangu dalam mati kata. "Dia berkata selalu benar," Jessica menggerutu. "Tidak tahu bagaimana Nyonya Jane membesarkan putra satu-satunya ini. Putra yang malang," Jessica berkata pelan, dia mengumpat Sean seorang diri.
Sean dan Jessica sedari tadi belum menyadari jika Driyad masih bertarung. Mereka yang sedang duduk itu, tiba-tiba di kejutkan oleh Driyad.
Dia keluar dari balik semak-semak dalam keadaan pengap.
"Driyad! Kau," Sean terkejut, dia tidak berpikir sebelumnya, bahwa serigala itu masih bertarung. Tanpa henti.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Jessica. Gadis ini ikut terkejut bercampur bingung saat melihat Driyad yang masih belum menyelesaikan pertarungan terakhirnya.
"Selama ini?" balas Jessica. "Bahkan kita berdua hampir mati menghadapi puluhan makhluk menjijikan ini, sementara Driyad, belum satu pun yang ia kalahkan!" Jessica menuntut. "Luar biasa! Kupikir dia yang terkuat di antara kita bertiga," kata Jessica kesal melihat tingkah pertarungan Driyad melawan siluman kerbau, Jessica berkata seperti itu.
Sean menengahinya, dia bersikap wibawa. "Lebih baik kita bantu dia, dari pada melihatnya saja," ujar Sean lalu bangkit dengan pedangnya ingin membantu Driyad.
"Terserah kau saja," Jessica ikut alur Sean.
Sean dengan pedang besarnya, menghampiri pertarungan antara hidup dan mati gort melawan Driyad.
"Payah!" ucap Sean, sambil mengangkat pedangnya yang berat.
"Berhati-hatilah Sean," Jessica berteriak. Dia duduk menyaksikan pertarungan dua melawan satu sambil menikmati sepucuk ranting yang ia kunyah hingga membasahi seluruh ranting kecil itu. Seolah Jessica sedang mengunyah batang korek.
Sean melirik Jessica sebentar, sesaat, sebelum pedangnya memenggal kepala gort. Sean tersenyum licik, bertingkah bagai seorang pejuang paling tangguh.
Suara mengaung dan desas-desus nafas kedua makhluk itu yang mengganas, makin membuat Sean terpacu membara untuk menyerang.
__ADS_1
Dan tepat di tengkuk kepala gort, Sean berhasil menancapkan pedangnya itu hingga membelah dua bagian tubuh gort menjadi dua bagian yang tak berimbang.
Tak ada darah yang mengucur dari makhluk itu. Yang keluar hanyalah asap berwarna hijau, mungkin pikir Sean asap itu pengganti darah siluman kerbau hutan itu.
Pertarungan ini akhirnya berakhir, Driyad terlihat tersengal-sengal dalam bernafas. Dia menarik udara masuk kedalam paru-parunya sedikit kacau dan tak karuan.
Dari pedang Sean, asap hijau milik gort, ia tiup menjauh dari senjatanya. Bagai seorang koboi yang meniup asap keluar dari pistol soft gun-nya.
"Fyuh..." Sean menyeringai kening, seolah dia berkeringat deras.
"Terima kasih Sean!" seru Driyad. Dia menghampiri Sean.
Sean dengan sombongnya, mendongakkan kepalanya, lalu kakinya menginjak dan melecehkan tubuh gort yang berhasil ia tumpas-kan.
"Jangan khawatir," Sean berkata santai. "Hanya masalah kecil."
"Ya.... Kau memang hebat Sean," puji Driyad. "Tidak salah jika kau sangat sempurna dalam segala bidang."
"Tidak perlu memujinya," Jessica dari kejauhan meneriaki keduanya. "Dia hanya sedang dapat keberuntungan melawan siluman lemah, atau Sean akan kalah nanti," Jessica mengangkat kedua bahunya, dia berkata sedikit kontra pada Sean yang sudah seperti pahlawan.
Sean melirik Driyad sambil memanyunkan bibirnya menunjuk ke arah Jessica. Dia berisyarat pada makhluk itu. "Jangan pikirkan dia," Sean membisik. "Dia hanya kesal tak bisa mengalahkan para siluman sialan ini," pungkas Sean, lalu dia pergi menghampiri api-nya.
Driyad hanya tak mengerti, seperti apa dia harus menanggapinya. "Anak-anak itu selalu berkata entah apa, aku tidak mengerti," Driyad menggerutu. "Dan suka berdebat setiap saat," ucap Driyad. Lalu dia juga menghampiri api kesayangannya. Dia merindukan api itu.
Di dekat api, ketiganya masih terduduk. Mereka belum bisa memejamkan mata karena kewaspadaan yang tinggi membuat mereka berjaga-jaga.
Mereka sedikit berkata-kata mengenai sebuah cerita panjang lebar. Ketiganya berkata meng-gurau, sambil memikirkan siasat untuk perjalanan besok.
Sekitar satu hingga dua jam termangu dalam keheningan, Jessica akhirnya mulai berkat. Dia sudah terserang lawannya sendiri.
"Ku rasa, sebaiknya tidur lebih baik, Sean!" saran Jessica. Dia mulai mengantuk. "Tidak akan ada lagi yang berani menyerang kita malam ini," Jessica berkata menebak, setelah menunggu sekian lama, takut saja ada yang menyerang lagi.
Jessica menyandarkan kembali tubuhnya di batang pohon, sambil membuang sisa-sisa ranting pipih yang ia gigit rakus. "Jangan pikirkan mereka akan kembali, Sean," Jessica menebak. "Mereka hanya akan datang sekali dalam satu kali serangan."
Driyad menimpalinya, dia senada dengan gadis itu. "Dia benar. Tidur lebih baik dari pada terjaga semalaman."
"Saran yang bagus," Sean menghardik keduanya.
__ADS_1
Tanpa peduli pada Sean, Jessica dan Driyad melanjutkan istirahat mereka yang sempat ter-jeda. Mereka meninggalkan Sean sendiri dalam keheningan udara malam yang berhembus.