
Manor tua
Di dalam manor tua itu, Sean dan dua sahabat menatap sekeliling ruangan yang besar ini. Walau pun besar tetapi tempat ini sudah seperti tidak terawat dan di tinggalkan oleh empunya bangunan.
Ada begitu banyak lubang menyelimuti ruangan tua manor ini. Lantai yang terbuat dari kayu pun tak luput dari makanan rayap sehingga membentuk lubang di dekatnya
Mereka berjalan berhati-hati agar tidak terjatuh di kayu lapuk itu. Tumbuhan-tumbuhan rambat menutupi sebagian bangunan. Namun tetap saja, ada sebagian dari peninggalan manor ini yang masih terlihat utuh.
Akar-akar menjalar menjajah seluruh bangunan jelek ini. Bangunan usang ini hampir membuat mata Jessica sakit untuk melihat betapa berantak-nya suasana di dalam manor tua ini.
Sesekali Jessica menghela nafas menyerah karena tak kuat lagi baginya menyusuri manor nimfa tak berguna ini.
"Ku rasa ide bermalam di kota ini sangatlah buruk. Bahkan tidak ada tempat bagi tubuh kita untuk merebahkan diri."
"Bahkan jauh lebih buruk saat kita di tipu tempat ini. Manor emas? Bukan emas yang di temui tetapi kayu-kayu lapuk ini yang tak berarti menyambut kita," tambah Yudhar yang kembali senada dengan Jessica.
Harus berulang kali bagi Sean menatap heran kedua sahabatnya itu. Setiap saat tidak pernah ada sekalipun untuk keduanya memikirkan ide cemerlang selain mengeluh tidak berguna seperti itu.
Keheningan memang sedang menyelimuti suasana ketiganya. Sean juga paham pada Jessica yang sudah mulai kelelahan. Namun hanya ada satu yang Sean pikirkan saat itu, yaitu apa yang sedang mereka lakukan di dalam manor usang ini.
Pikir Sean jika hanya sekedar untuk tidur bermalam, bisa saja dia dan Asgart serta kedua temannya tidur di dekat api, goa atau di bawah sinar rembulan pun akan ia lakukan.
Tidak ada bedanya Tidur di sembarang tempat dengan bermalam di manor nimfa. Namun kata-kata Dewi Handita yang meminta tangki air di mahligai ini terbuka membuat Sean merasa harus memenuhi permintaannya. Tanggung jawabnya tidak terlalu berat hanya saja dia bingung di mana letak tangki air itu.
Karena langkah kaki tanpa tujuan akhirnya membawa mereka memasuki manor ini.
Disaat Sean sedang berpikir mencari tempat menyandarkan tubuh, Jessica yang berdiri tepat di sebelahnya mengambil inisiatif bersuara di dalam manor ini.
"Halou..... Apakah ada orang di sini." Jessica berteriak, berharap bahwa akan ada yang menyahut suaranya.
Dia mengulangi teriakannya hingga berkali-kali. "Halou!!! Adakah orang disini!" Suara Jessica kali ini ia buat sedikit lebih berat dan parau meniru suara pria dewasa.
"Halou.... Siapa pun itu. Pemilik manor ini. Bisakah kalian meminjamkan kami sebuah tempat tidur yang empuk."
Permintaan Jessica terlalu nyeleneh dan tidak biasa. Dia berpikir bahwa dia sedang minta di layani oleh pelayan hotel.
Ilustrasi
Gambar hanya ilustrasi, di dapatkan dari pihak ketiga.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya Jessica mulai lelah untuk bersuara. "Ku rasa aku sudah tidak kuat berteriak. Tenggorokan ku rasanya sudah kering."
Jessica menyerah, dia mulai kesal pada tempat ini.
"Sebaiknya kau istirahat dulu. Aku akan menggantikan mu berteriak." Yudhar menyela perkataan Jessica. Dia ingin menyambung teriakan anak itu.
Tepat sesaat sebelum Yudhar bersuara dengan keras, Sean menghentikan bicara omong kosong nya itu. "Berhentilah berteriak. Atau langit-langit manor ini akan runtuh karena suara nyaring mu yang menyakiti gendang telinga para nimfa." Tegur Sean pada Yudhar.
Bocah lelaki ini tidak bisa mengabaikan perkataan Sean. Dia menurutinya sambil mengomel ketus. "Setidaknya dia berkata benar." Ujar Yudhar bersua mengumpatnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Yudhar bertanya serius.
"Haruskah kita mencari tempat untuk beristirahat disini atau menunggu empunya tempat datang membawakan selimut hangat untuk kita?" Tambahnya bertanya. Dia beralih berbicara lain.
Sean sedikit bingung apa yang harus ia lakukan saat itu. "Kurasa aku harus mencari ide lain. Tetapi sebelum itu, sebaiknya kita beristirahat dulu."
Sean mengambil tempat duduk tepat di sebelah Jessica. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding manor seraya memejamkan matanya. Dia sudah terlihat lelah sama halnya seperti Jessica.
Melihat kelakuan Sean membuat Yudhar ikut menyandarkan kepalanya. Berat rasanya tubuh Yudhar saat itu karena berhari-hari tidak memejamkan mata.
Mereka bertiga memutuskan untuk tidur sejenak di manor tua ini.
Mereka memaksakan mata untuk terpejam.
Sean menengoknya, anak itu bicara sambil memejamkan matanya. Dia terlihat agak santai dan nyaman malam itu. "Walau kau anak yang menyebalkan, tetap saja aku menganggap kau sebagai sahabat ku." Balas Sean berbicara meyakinkan.
"Jangan dengarkan dia Sean. Dia hanya manusia kolot tak berguna," Jessica menyambar kata-kata Sean dengan gaya bahasa tidak akrab. Dia juga berbicara sambil memejamkan mata.
Dalam situasi sesulit apapun halangan yang mereka hadapi pasti keduanya akan bertengkar. Sean hanya bisa menarik nafas panjang memikirkan kelakuan dua anak itu.
"Sebaiknya kalian tidur. Besok kita harus kembali melanjutkan perjalanan." Sean menutup pembicaraan.
"Kau juga tidur Sean. Jangan berlagak seperti orang dewasa yang akan melindungi kami. Aku membencinya." Gerutu Jessica untuk yang terakhir kalinya.
Sean menuruti perkataan Jessica. Dia ikut memejamkan matanya yang mulai terasa sangat berat.
Dan pada akhirnya mereka memutuskan tidur di manor yang jauh dari kata layak di huni.
Tetapi, belum sepenuhnya mata Sean tertutup bersiap menuju alam mimpi, samar-samar ia mendengar suara seperti ada yang mendekati mereka.
Secepat kilat Sean membuka matanya melihat situasi di hadapannya.
__ADS_1
Dan yah, Sean mendapati sesosok makhluk mirip lalat terbang mengiang di hadapannya. Mereka sangat kecil namun tak dapat di pungkiri bahwa mereka memiliki sayap yang tak kalah bersinar cantik seperti kupu-kupu yang mereka lihat di hutan dekat danau suci.
Bahkan cahaya tubuhnya sering berubah-ubah setiap detik saat mata Sean melihatnya.
Ada rasa takjub dan terpesona dalam diri Sean. Dia tidak bisa menampik bahwa ternyata dia pernah berjumpa dengan makhluk cantik seperti ini.
"Siapa kalian!" Seru Sean berteriak.
Sean cukup kaget saat makhluk itu mendekati dirinya dan terbang di hadapannya.
Sontak Jessica dan Yudhar yang ada di sebelahnya terbangun dari tidurnya saat mendengar Sean berteriak.
"Ada apa Sean?" Jessica bertanya di selimuti rasa kaget.
Sean tidak bisa menjawab Jessica karena dia masih terbelalak dengan makhluk yang ada di hadapannya.
"Aku yang harus bertanya? Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan di manor tua ku ini." Kata salah satu makhluk yang nampak bersayap kupu-kupu tetapi berparas manusia kecil macam liliput.
"Kami hanya ingin bermalam di sini. Maafkan kami jika mengganggu malam kalian." Jawab Sean bicara sangat sopan.
Sean menebak kalau merekalah yang di maksud oleh Driyad sebagai nimfa pemilik manor si peri hutan.
"Sean! Apakah dia yang di katakan sebagai nimfa si peri hutan itu?" Jessica membisik. Dia juga mencoba menebaknya senada dengan pemikiran Sean.
"Aku rasa begitu." Balas Sean ikut membisik. Mereka kemudian terbangun dari duduk yang sejenak itu, walau terganggu oleh kedatangan para nimfa.
"Di tempat ini tidak ada apapun. Kalian lihat, bahkan tempat ini tidak layak untuk di tinggali oleh anak-anak seperti kalian."
Nimfa-nimfa ini jumlahnya dua orang. Sementara satunya telah pergi sedangkan satunya lagi bertanya-tanya dan terbang di hadapan anak-anak.
"Kami tidak butuh tempat yang bersih dan nyaman. Di izinkan bermalam di sini rasanya sebuah kehormatan bagi kami." Sean bicara merendah dengan gaya bahasa yang sopan.
"Ya makhluk kecil. Kami hanya ingin bermalam di sini. Jika kau mengizinkannya maka dengan senang hati kami sangat berterimakasih." Jessica menambahkan kata-kata yang tak kalah sopan dari Sean.
"HM.... Aku mendengar kata-kata kalian. Lalu? Bagaimana dengan teman kalian itu? Mengapa dia tidak memohon pada ku." Nimfa merujuk kan matanya pada Yudhar seraya menunjuknya. Dia tidak suka jika Yudhar hanya bersikap monoton.
Kedua anak itu menatap Yudhar seakan menyuruh anak itu mengatakan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Mendapati tatapan dari temannya terlebih di tegur oleh cupid, Yudhar dengan segera langsung berujar ikut memohon. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melupakan anda." Kata Yudhar yang juga ikut berbicara sedikit sopan dari biasanya.
"Ini yang aku butuhkan. Kalian memohon bermalam di manor tua ku ini. Maka aku izinkan kalian bermalam di manor ini. Tetapi, maaf! Aku tidak bisa memberikan lebih selain tempat untuk bersandar." Pungkasnya sambil terbang kesana kemari.
Sean paham, dia tidak meminta lebih pada nimfa itu. "Tidak perlu berlebihan wahai peri kecil. Kau mengizinkan kami tinggal di sini semalaman, kami sudah merasa sangat bahagia." Timpal Sean menghibur peri itu yang terlihat berwajah muram.
__ADS_1
Tidak tahu kenapa? Yang pasti raut wajah nimfa itu nampak dalam kesedihan.
BERSAMBUNG