Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 48


__ADS_3

SARANJANA


Kejadian ribuan tahun lalu membuat para petinggi olympia sudah mengetahui kabar kedatangan utusan itu.


Di kuil douglass para makhluk olympia yang ada di dasar danau yang menyatu dengan laut ini, mereka berkumpul mengadakan persembahan untuk para penguasa samudra.


Patung besar Asparos adalah patung yang sangat di puji oleh para Marmaida. Duyung-duyung itu amat membanggakan Tuan mereka.


Para Marmaida tidak memiliki hubungan apapun dengan dunia darat sehingga mereka menutup diri dari kisah di kota SARANJANA.


Ekor-ekor para duyung yang cantik ini menjadi incaran para manusia karena bisa mendatangkan keberuntungan dan kekayaan baik harta maupun rupawan.


Dahulu kala sebelum dunia manusia memasuki abad modern, kota dongeng ini pernah di buka untuk umum. Menjalin kerjasama dalam hal spiritual dengan para raja-raja di wilayah sekitar yang berbatasan dengan kota dongeng ini.


Saranjana adalah kota yang makmur, kekayaan dan emas disini berlimpah ruah. Kota yang di juluki 'Negeri dongeng di selimuti Emas' ini berdiri di atas sungai emas mosapus yang membelah jantung kota dan bahkan bangunannya pun ikut di buat dari emas.


Dahulu hanya para raja yang bisa memasuki kota ini. Hanya saja untuk memasuki kota bernama SARANJANA ini, para petinggi dari berbagai negeri itu harus membuat perjanjian bahwa tidak boleh mencuri maupun mengambil apapun yang ada di wilayah kota ini.


Bahkan para pelancong yang berdagang dari barat dan utara dunia menyambangi tempat ini karena segel penutup kota di buka. Dalam arti lain sihir kota saranjana di lepas agar para pedagang dari belahan dunia bisa memasuki kota ini. Bebas melakukan transaksi perdagangan mereka tanpa takut rugi.


Tidak hanya itu, dulu orang-orang awam juga bisa masuk kedalam kota hasil gabungan dari fantasi dan imajinasi ini. Pakaian yang di kenakan oleh orang-orang di kota ini amat beragam mengikuti budaya setiap negeri yang menyambangi tempat ini. Tetapi pakaian dari bulu domba dan kambing lah yang menjadi favorit penduduk kota.


Sejak ribuan tahun kota ini baik-baik saja, hingga datang beberapa pedagang yang tidak bisa menahan diri. Pedagang-pedagang itu di kenali sebagai orang-orang Eropa dengan tubuh besar. Mereka mengenakan mantel berbulu tebal dan bisa di ketahui bahwa mereka tinggal di wilayah yang bersuhu amat dingin. Mereka mencuri sisik emas milik salah satu Marmaida. Tak hanya itu, mereka juga menculik salah seorang Marmaida lalu membawanya ke benua Eropa.


Mendapati bahwa salah satu duyung ini menghilang, para makhluk olympia mulai panik. Hingga berbagai petisi di layangkan untuk para petinggi olympia agar segera menutup danau Osirus ini dan meminta shutanhamun menyegel kembali mantera kota agar tertutup dari dunia asing.


Dulu siapa saja bisa melihat danau Osirus ini tanpa harus bersusah payah mencarinya. Namun sejak kejadian saat itu para penunggu danau ini akhirnya menutup diri dari hubungan manusia. Mereka nampak seperti takut dan sedikit risau karena desas desus akan di kuliti menjadi makhluk pajangan untuk generasi kedepan.


Saat ini mitos putri duyung memang menjadi yang paling di gemari oleh para peneliti untuk di telaah. Bukan karena para Marmaida takut pada manusia, tetapi karena keserakahan manusia membuat para makhluk ini lebih baik menghindar dari pada menghadapi manusia.

__ADS_1


Beruntungnya manusia tidak ada yang tahu jika di dekat Osirus terdapat mata air keabadian. Mata air yang terkumpul dari air mata Dewi Asparos istri termulia pemilik danau Osirus ini. Di percaya, bahwa mata air nampart bisa membuat siapa saja yang membasuh tubuh dan wajahnya di sana akan di berkahi awet muda. Istri Asparos mati ketika perang Troya terjadi. Berbagai upaya di lakukan oleh para makhluk olympia agar mata air keabadian ini tidak di ketahui oleh para manusia.


Menanggapi hal ini akhirnya danau Osirus sepenuhnya tertutup oleh sihir.


Dan sejak saat itulah terjadi penutupan total tentang kota ini bahkan di lupakan dari sejarah bahwa kota ini pernah ada.


Orang-orang menganggap kota ini sebagai kota mitos semenjak kejadian pembunuhan terhadap salah satu Marmaida oleh pedagang yang mengaku berasal dari negeri Andalusia.


Semua ini terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dan sudah bagian dari sejarah singkat Osirus dan kota SARANJANA.


"SARANJANA adalah kota makmur di bawah tepi sungai Mosapus. Sungai emas yang membawa keberkahan. Maka di perintahkan tutuplah semua gerbang kota dan jangan biarkan siapa pun keluar dari tempat ini. Dan jangan biarkan siapa pun juga masuk ke kota ini tanpa perintah petinggi saranjana."


Kata-kata yang di ucapkan oleh penguasa saranjana membuat orang-orang terlebih mereka yang bukan penduduk asli kota ini terkurung dalam kota emas ini.


Mereka tidak bisa kembali lagi ke negara asal mereka dan sudah menjadi bagian dari penduduk kota dongeng ini.


Hingga beberapa tahun setelah itu, muncul berbagai fenomena bahwa kota ini sebenarnya adalah kota mistis. Orang-orang gemar menceritakan cerita yang bahkan mereka sendiri tidak mengetahuinya. Sejujurnya orang-orang yang mengatakan kota ini sebagai kota mitos adalah karena mereka tidak pernah mengunjunginya.


Peradaban mengubah segalanya. Dengan begitu, kota ini tetap aman dari rakus dan serakahnya tangan manusia. Beruntungnya secepat mungkin kota ini bisa di selamatkan dengan baik.


Dan di lupakan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab dan pembuat kerusakan.


Sean, dan kedua temannya beserta Driyad menyusuri jalan yang di penuh bunga-bunga cantik. Seperti kata Driyad tadi, malam ini adalah malam purnama penuh. Dimana malam ini jauh lebih panjang. Tidak seperti hari biasanya, malam ini dua kali lebih panjang dari malam sebelumnya.


Mereka melalui hutan yang bercahaya cantik menuju ke manor seperti yang di katakan oleh Dewi Handita tadi. Manor itu di gunakan sebagai tempat mereka bermalam nanti.


"Tuan Driyad! Apa itu manor? Apakah tempat itu secantik danau tadi?" Di tengah perjalanannya Sean bertanya.


Mereka berjalan beriringan sambil mata di suguhkan dengan warna cahaya yang menyala dari pepohonan dan bunga yang cantik.

__ADS_1


Sembari berjalan, Driyad menjawab pertanyaan Sean. "Manor adalah kediaman Dewi hutan yang di kenal dengan nama nimfa. Mereka pemilik manor itu sekaligus pendiri kediaman besar bergaya khas ala peri hutan itu."


Cerita Driyad ini selalu enak di dengar oleh ketiga anak itu. Setiap apa yang di katakan dari mulutnya, akan membuat siapa saja yang mendengarnya terbuai pada imajinasi yang liar berangan-angan tinggi.


"Jadi maksudnya kita menuju manor dan akan bermalam disana. Begitukah?" Jessica menyambar perkataan Driyad.


"Ya. Kita akan bermalam di sana. Tidak ada tempat lain di hutan ini selain manor milik para nimfa itu." Pungkas Driyad.


"Lalu? Bagaimana rupa nimfa itu? Apakah dia peri yang sama cantiknya seperti Dewi tadi?" Sean bertanya kembali dengan lagak polos.


Driyad menggelengkan kepalanya. Dia membantah perkataan Sean. "Dia jauh lebih kecil dari dugaan kalian." Driyad bicara menggantung. Anak-anak masih penasaran pada kelanjutannya.


"Mungkinkah sebesar biji lada ukuran mereka!" Seru Yudhar melucu. Kali ini dia mulai menyambar pembicaraan.


"Tidak! Tidak! Terlalu kecil untuk ukuran lada. Setidaknya mereka lebih besar dari tanaman itu." Bantah Driyad kembali. Sepenuhnya perkataan ke-tiga anak itu yang menebak tidak ada yang tepat.


"Jadi Sebenarnya seperti apa makhluk itu?" Sean bertanya mencecar.


Driyad menjawabnya sedikit dengan deskripsi yang agak mendetail. "Makhluk itu peri yang besarnya hampir menyamai ibu jari. Mereka di sebut koloni peri kupu-kupu karena bertugas menjaga hutan dan kebun bunga."


Mulut anak-anak kali ini ternganga takjub karena begitu banyak keajaiban yang mereka temui di kota ini.


"Lalu? Apa kelebihan para nimfa itu? Apakah mereka memiliki sihir yang sama kuatnya seperti Dewi penguasa danau suci tadi?" Tanya Sean kembali.


Yang lain mendengarkan apa yang di tanya Sean dan apa yang akan keluar dari mulut Driyad sudah siap di terka oleh anak-anak dengan pikiran polos mereka.


Driyad menghela nafas panjang. Seakan belum siap untuk bercerita, namun ia terpaksa mengatakan fantasi dari mulutnya itu. Anak-anak sudah tidak sabaran mendengarkan dongeng paling seru yang pernah mereka dengarkan itu. Mulut Driyad sudah di anggap sebagai mesin ilmu pengetahuan oleh anak-anak modern seperti Sean dan Jessica.


"Mereka makhluk kecil yang penuh rahasia. Dan salah satu rahasia mereka adalah tentang manor emasnya."

__ADS_1


Lagi-lagi anak-anak sudah terbuai pada cerita Driyad sepanjang perjalanan mereka. Imajinasi mereka dalam menangkap cerita tentang nimfa sangat menggairahkan.


BERSAMBUNG


__ADS_2