
Wohooooo
Anak-anak berteriak kegirangan terutama Yudhar. Dia atas kayu berlubang di berbagai sisi ini, ketiga anak itu duduk terdiam dalam wahana alam liar yang membawa mereka meluncur menuju kebawah bukit berlereng di jalan setapak yang mulus.
Seolah seperti sedang menaiki roller coaster atau perosotan di wahana kolam renang, tak ada hambatan apapun yang menghalangi kayu untuk berseluncur bebas.
Sean dan Jessica cukup terpaku tak bergeming di atas kayu lapuk ini. Sedangkan Yudhar begitu menikmati permainan ini.
Whaaa..... Hooooooo....
Kali ini Jessica dan Sean kembali berteriak takut sesaat setelah kayu yang mereka tumpangi tergelincir sedikit karena batu kerikil mengguncang kayu tua itu. Bahkan hingga membuat kayu itu hampir saja karam menghantam batu besar di hadapan mereka.
"Kayu ini tidak ada rem!" Teriak Jessica. Kedua anak di belakangnya juga tahu kalau kayu hampir bobrok ini tidak ada rem. Pikir Jessica dia sedang mengayuh sepeda gunung, jadi Sean dan Yudhar menganggap otak anak itu sedikit bermasalah.
Deburan debu mengambang di udara karena tergerus oleh kayu yang terperosok sepanjang jalan setapak yang curam ini. Jalan yang lurus namun miring dan amat curam.
Sedangkan Driyad berlari di sebelah mereka menyamai kecepatan kayu liar ini.
Dari berbagai sisi para ular Derik gurun juga ikut menyamai kecepatan kayu yang terperosok itu. Kecepatan para ular-ular ini sangat luar biasa gesit.
Tubuh mereka menggeliat, melompat-lompat di permukaan tanah dan mendorongnya ke udara agar sama dengan kecepatan kayu itu. Bagai antelop, mereka amat lihai dalam bergerak.
"Sean! Mereka semakin dekat." Teriak Jessica yang sudah terlihat gusar. Wajahnya mulai terlihat panik seraya berekspresi takut.
Sean juga melihatnya, bagaimana pun hewan-hewan melata itu pasti tidak akan menyerah untuk mendapatkan mereka.
"Kendalikan diri mu, Jessica. Mungkin ular-ular itu tak akan berhenti sebelum mereka memangsa kita. Bersikaplah tenang." Sean menjawab teriakan Jessica yang tadi mulai panik. Dia berusaha menenangkan Jessica yang mulai kacau.
Yudhar yang duduk di bagian belakang, menyahut ucapan kedua anak itu. "Kalian jangan terlalu panik, di depan sana. Kalian lihat di sana jalannya membelok. Kita harus bisa mengendalikan kayu ini agar bisa berbelok." Tukas Yudhar memperingati keduanya.
__ADS_1
Di bagian paling bawah jalan itu memang ada bagian jalan yang membelok tajam. Dan di sisi sebelah kiri belokan itu ada batu besar yang menjadi penahanan jalan dari jurang tepat di sebelah jalan bertanah kering ini. Tebing yang menyeramkan, itulah yang di lihat oleh ketiganya. Bahkan sangat ngeri jika terjun bebas dari atas jurang itu.
Driyad yang tadi berlari di sebelah mereka, kini malah menghilang entah kemana. Di saat mereka panik Driyad justru tidak lagi terlihat bentuk tubuhnya yang besar itu. "Kemana Driyad." Pekik Sean mengamati sekeliling. Dia sadar jika Driyad sudah menghilang.
"Entahlah. Kemungkinan dia sudah di terkam oleh si buas ular-ular itu." Timpal Yudhar asal bicara.
Sean tidak percaya begitu saja, tetapi kenyataannya memang makhluk itu menghilang.
Kehilangan Driyad sangat mengecewakan bagi Sean. Padahal Driyad baginya adalah teman terbaik yang pernah ia temui.
Sean mencoba bersikap baik-baik saja saat hewan itu menghilang, walau dia baru saja menghilang bukan berarti Sean tidak memperhatikannya. Sean kembali melihat sekeliling dan berharap hewan itu sedang membuntuti mereka dari belakang. Namun hasilnya nihil. Dia benar-benar hilang tanpa jejak. Sean merasa sedikit khawatir saat Driyad itu tidak terlihat nampak di matanya. Jessica yang duduk di bagian depan menghentikan pikiran Sean yang tengah mencari kemana hewan itu beranjak.
"Sean! Kita sudah mendekati jalur yang mulai membelok. Cepat ganti haluan ini. Atau kita akan masuk kedalam jurang kematian itu." Teriak Jessica kembali memperingati.
Kedua pria yang duduk di belakangnya mengerti. Seketika mereka memutar kayu itu berbelok ke kanan dan tepat di tingkungan tajam bagian sisi sebelah kiri mereka ada jurang yang cukup dalam. Mereka mengikuti perkataan Jessica yang bertindak sebagai nahkoda. Mereka memutar membelokkan kayu penuh kendali mengikuti jalur tingkungan yang tajam ke sebelah kanan mereka.
Mereka memutar kendali kayu lapuk setengah hancur ini harap-harap cemas sebab usianya mungkin tidak akan lama lagi akan hancur. Tubuh anak-anak berputar penuh hingga sudut seratus delapan puluh derajat bagai berputar di atas roller coaster di wahana Vernon.
Sedangkan ular-ular yang mengejar mereka sebagian ada yang masuk kedalam jurang karena insting mereka bukan seperti manusia. Mereka kurang paham pada kondisi lereng bukit ini.
Anak-anak menengok keadaan para ular-ular itu, walau sebagain jatuh ke jurang namun sebagian lagi ada yang berhasil dan masih mengikuti Arum jeram liar mereka itu.
Jalan memang panjang dan sangat curam. Bahkan kayu itu melaju sangat kencang. Walau jalan setapak ini mulus, tetapi debu yang mengambang bagai awan, mengikuti jejak anak-anak ini. Begitu pun dengan ular-ular itu mereka masih mengekor tiada henti.
Akhir dari perjalanan ketiga anak-anak adalah dua ngarai besar yang ada di depan mereka. Seperti ngarai grand canyon yang ada di Arizona, ngarai ini jauh lebih luas dan lebar membentang mungkin sepuluh meter diantara kedua sisi. Tanahnya sedikit tandus kala nampak di mata anak-anak.
Tidak ada jembatan di atasnya, namun cukup ngeri untuk melompat ke sisi sebelahnya. Sulit untuk mencapai seberang ngarai berbahaya ini.
Bagian bawah ngarai di isi oleh air biru yang cerah dan tak lupa buaya menunggu siap melahap siapa pun makhluk yang jatuh kesana.
__ADS_1
"Sean, lihat. Di depan sana ada dua tebing yang terpisah cukup jauh. Apakah bisa kita melalui dua ngarai itu." Lagi-lagi kejelian mata Jessica menuntun mereka harus mencari ide. Tidak tahu bagaimana ide mereka, Jessica mulai pasrah dan menyerahkan ide sepenuhnya pada kedua teman yang duduk di belakangnya.
Sean sempat menyipitkan matanya, melihat tebing yang di maksud oleh Jessica. Sean sudah memikirkan ide saat sekali melihat tebing itu dengan matang. Dia kemudian paham bagaimana cara melintasi kedua tebing ini.
"Aku tahu. Kita pasti bisa melewati kedua tebing itu." Ucap Sean sumringah dengan ide cemerlangnya.
Yudhar sedikit bertanya heran? Sebab seperti apa cara yang bisa di lakukan oleh Sean melintasi halangan itu. "Bagaimana caranya Sean? Kau lihat, bahkan jarak kedua ngarai itu sangat lebar."
"Kalian tidak perlu khawatir. Cukup pegangan yang erat. Kita akan meluncur." Di atas kayu, Sean kali ini berekspresi girang. Dia tidak menampakkan wajah tegang walau suasana mereka sudah pelik.
Tebing pemisah itu sedikit menukik seperti saat mereka terperosok di salju beberapa waktu yang lalu.
Kini, tempat itu hampir sama dengan apa yang pernah mereka lalui di lorong salju sebelumnya. Curam sedikit menukik, sedangkan kecepatan kayu bisa melampaui dua tebing itu. Sean memikirkan ide ini, seolah dia paham tempat ini.
Kayu yang membawa ketiga anak itu mulai menukik tepat di dekat bibir ngarai. Melesat meninggalkan kawanan ular pemangsa bersamaan dengan awan debu yang sudah mereka buat. Suara berisik dari ular-ular dan juga gesekan kayu yang merusak tanah hingga membentuk tanda guratan sepanjang kayu itu meluncur amat bising. Kini anak-anak sudah tiba di sisi lain ngarai.
Di atas kayu, ketiga anak itu menutup mata histeris. Bahkan udara mengibarkan rambut Jessica hingga menampar wajah Sean karena kencangnya angin yang berhembus. Mereka memegang kayu sekencang mungkin saat benda itu melayang di udara.
Di sisa-sisa terakhir perjalanan sebelum kecepatan kayu itu makin menggila, kayu itu sudah melayang melewati ngarai tandus di sebelahnya.
Anak-anak merasa bagai sedang terbang melayang di udara tepat di atas kayu terbang saat itu. Sementara para ular tidak lagi bisa menyeberang, mengikuti langkah kayu tua itu. Bahkan mereka hanya bisa menunggu mangsa lainnya saat melihat Sean dan kawan-kawan terlepas dari genggaman mereka.
Wohooooo....
Lagi-lagi anak-anak itu berteriak tak kuasa menahan ngerinya perjalanan. Tepat di sisi jurang ketiga bocah ini tersungkur di atas tumpukan buah-buahan segar. Mereka terjun bebas kala itu.
Kayu yang mereka tumpangi terjungkal tepat di hadapan mereka. Bahkan karena kuatnya terjatuh dan terpental dari udara membuat kayu lapuk setengah tua berabad ini patah berkeping.
Anak-anak hanya bisa pasrah saat mendarat tepat di atas buah besar berdaging lunak itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG