
"Kalian lapar?" Volinia bertanya, perut Jessica sudah bergetar. "Mau makan di kedai sekitar sini?"
"Tidak perlu!" Jessica menyahut. "Kami tidak lapar.
Volinia melirik Sean. Sean pura-pura tertawa geli. "Ha-ha. Iya, kau benar. Aku sangat lapar sekarang," Sean menjawabnya dengan ekspresi terpaksa. "Bukan ide yang buruk mencari makan di pasar manun yang luas ini."
"Kalau begitu, mari kita makan di kedai sana." Volinia menyarankan. "Di sana, makanannya terkenal enak. Campuran dari berbagai masakan enak di seluruh dunia." Dia memberitahu Sean. "Kalian tertarik pergi kesana?"
"Tentu saja aku mau," Sean menyetujuinya. "Dengan senang hati aku akan menerima tawaran ini."
"Apa yang kau lakukan?" Jessica menyikut Sean. "Kau menerima tawarannya untuk makan di kedai itu!" Jessica berbisik pelan.
Sean mengangkat kedua bahunya. "Dari pada kelaparan!"
Jessica men-decak. "Kau menyebalkan Sean!" Dia sedikit marah pada Sean. "Kenapa kau mau menerima tawarannya begitu saja. Bukankah kita bisa pergi mencari makan sendiri." Jessica menuntut Sean.
"Hei! Sudahlah." Sean berusaha meyakinkan Jessica. "Lagi pula kau sudah lapar bukan? Ini waktunya kita mencari makan. Kita nikmati seluruh makanan di kota ini," Sean berangan-angan.
Sean menariknya, Jessica tak menolaknya. Tapi dia sebal saja karena Sean sesuka hati menerima tawaran wanita itu.
Volinia menggiring kedua tamunya menuju kedai makan. Di sana dia dengan semangat memberitahu Sean dan Jessica tentang makanan yang mereka pesan.
Jessica lagi-lagi amat jengkel saat wanita itu sok tahu. "Dia mengambil alih perhatian Sean!" Jessica menghentakkan meja. "Makanannya terlalu biasa." Jessica berkata pelan.
"Ada apa Jessica?" Sean bertanya. "Apa kau tak menyukai makanan ini!" Sean ingin tahu.
"Tidak ada. Aku menyukainya," Jawab Jessica. "Jangan pedulikan aku." Jessica bersikap sok cuek. "Anggap saja aku patung."
"Jessica, kau tahu?" Volinia menengahi. "Makanan di kedai ini pernah menjadi makanan paling lezat yang ada di manun. Semua orang menyukainya karena mengandung beberapa filosofi penting."
Jessica masih cuek, dia tak menggubris ucapan Volinia.
Volinia tidak peduli, dia tetap melanjutkan perkataannya. Panjang lebar, mungkin sudah bosan bagi Jessica mendengar ucapan Volinia yang berkata entah apa. Jessica tak mengerti.
Sean melirik Jessica sambil memakan kue yang terbuat dari buah-buahan segar. Mirip pie, tapi ini lebih enak. Sean tersenyum kecil melihat tingkah Jessica yang cuek. Itu bukan tipenya sama sekali, Sean paham kelakuan anak itu. Kelakuan seorang gadis yang tak bisa mengalah.
Jessica tadi sebal, apalagi ucapan Volinia yang menjelaskan mengenai kue ini mendetail sekali. Seolah dia sedang menjelaskan ciri-ciri seorang penjahat pada seorang polisi.
"Kau bisa berhenti bicara tidak!" Jessica marah. Mulutnya ternganga lebar, Sean menggunakan kesempatan ini, memasukan kue kedalam mulut Jessica. Seketika makanan lezat itu meleleh di mulutnya. "Oh.... Ya ampun... Lezatnya," Jessica memuji. "Enak sekali."
Gelak tawa Sean pecah. Dia tidak menyangka anak itu bisa terdiam saat mencicipi kue di kedai kuno itu. "Lezat bukan?" Sean menggoda. "Tentu saja lezat, kau rugi jika tak mencicipi nya."
"Sangat lezat." Jessica menimpalinya. "Bahkan lebih lezat dari masakan ayah ku." Jessica mulai jatuh cinta pada kue yang ia makan. "Tidak, lebih tepatnya, lebih lezat dari masakan ibu mu dan juga kue tart Nyonya Lopez." Jessica berkata membanding-bandingkan.
Volinia tersenyum melihatnya. "Itulah mengapa kue ini di sebut bunga dari manun. Karena kelezatannya." Volinia kembali bicara walau tak di gubris Jessica. "Habiskan, anggap saja kalian sedang menyantap makan di rumah sendiri." Volinia meminta tanpa sungkan.
"Tanpa kau suruh tentu aku akan menghabiskan semua ini," Jessica bergumam kecil.
Tidak jauh dari kedai di tempat Volinia menjamu Sean dan Jessica. Terlihat beberapa orang bertubuh tegap dengan seluruh tubuh di tutupi oleh baju besi. Sama seperti Sean, hanya saja mereka menggunakan pelindung kepala dari baja, mengendarai kuda di tengah pasar yang ramai nan cantik ini.
"Cepat kumpulkan seluruh upeti dari para budak di sini. Jangan buang-buang waktu." Seorang pria bertubuh besar, di atas kudanya meneriaki beberapa teman lainnya.
Mungkin dia adalah kepala prajurit, Sean melihatnya begitu. "Hei. Kau, cepat bayar upeti mu!" Dia berteriak entah kepada siapa.
"Siapa mereka?" Sean bertanya. Dia melihat kejadian pemalakan dengan paksaan itu.
__ADS_1
"Mereka adalah vandal," Volinia menjawab. "Vandal dari tanah Hurian. Mereka suka merampok uang rakyat, mengatasnamakan upeti pada raja. Namun tidak tahu raja yang mana?" Volinia menjelaskan. "Mereka terkenal suka merusak apa saja yang menghalangi jalan mereka. Mereka membawa pedang besar yang di baluri dengan racun dari pulau mereka. Dan, yang terpenting harus di ketahui adalah, mereka ahli dalam meracik racun dari tumbuhan sejenis bunga teratai hitam dari bukit vulia."
"Sekejam itukah mereka?" Jessica menyahut. Dia pendengar yang baik.
"Jauh lebih kejam." Volinia menambahkan kata-kata sadis.
Sean entah kenapa kepalanya terasa sakit. Dia menahan keras kepalanya yang terasa tertarik amat kuat. Seperti ada yang mengendalikan otak dan syarafnya.
"Sean! Kau kenapa?" Jessica panik. "Apa yang kau rasakan Sean."
Sean memegang kedua telinganya. Dia mendengar seperti ada suara mendengung yang menyakiti gendang telinganya.
Volinia ikut bicara, dia melihat anak itu sudah bertingkah aneh. "Kau kenapa Sean? Kau baik-baik saja?" Dia memegang punggung Sean. "Katakan sesuatu pada ku. Apa yang kau rasakan?" Volinia khawatir.
"Aku baik-baik saja." Sean berkata tenang. Sean berusaha menormalkan dirinya agar tak merasakan sakit parah. Tapi, rasa sakit kini di ikuti oleh rasa sakit lain.
Sean mendesah, dadanya juga mulai terasa sakit dan berat. "Sssshhhh...... Akh...."
"Sean kau tak mengapa kan?" Jessica memastikan. Dia memperhatikan Sean.
"Aku tak apa-apa. Hanya sedikit sakit." Sean menepis tangan Jessica. Tangan kanannya menahan sakit di kepala di ikuti suara nyaring di telinga. Dan tangan kirinya menahan sakit di dada. "Apakah mulai kambuh?" Dia bertanya pada dirinya sendiri.
Dari jauh, Sean menatap beberapa vandal yang merusak dan memukul pemilik toko gerabah. Mereka memecahkan beberapa kendi milik toko.
Sean tak bisa tinggal diam. Seakan dia memiliki kekuatan, dia menghampiri perampok-perampok itu. Dia ingin melampiaskan semua kesakitan yang di derita pada vandal-vandal itu.
"Sean." Jessica menarik lengannya. "Kau mau kemana?" Jessica bertanya khawatir.
"Aku mau kesana. Membantu mereka." Kata Sean singkat.
"Tapi Sean!" Volinia menghentikan langkahnya. "Kau tak akan bisa menghadapi mereka. Kau tak ada kekuatan."
"Aku akan baik-baik saja. Kalian tunggu disini." Sean tak menyerah.
Jalan Sean tertatih-tatih, dia menahan sakit di tubuh sambil menatap dendam para vandal yang telah merusak toko gerabah di dekat kedai tempat ia makan.
"Hentikan kekacauan ini!" Sean membentak. "Atau aku akan membunuh kalian semua jika tak menghentikan kekacauan ini!" Sean berseru. Dia berkata seakan dirinya berani melawan keempat perompak itu. Seperti bukan Sean, seakan tubuhnya di kendalikan oleh orang lain.
Para vandal menatap Sean. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat bocah yang menantang pria-pria gagah dari pulau Hurian itu.
"Kau bocah kecil!" Pimpinan vandal meledek. "Punya kemampuan apa sampai berani menentang hagos si penguasa Hurian."
"Aku bilang hentikan kekacauan dan kekerasan yang kalian lakukan ini!" Sean berkata memerintah. "Atau kalian para vandal pulau Hurian akan mati di tangan ku." Dia mengepal tangannya.
Hagos merasa tertantang. Dia turun dari kendaraan bernyawa nya. "Kau berani memerintah ku untuk menghentikan kekacauan ini?" Hagos mulai bergeming. "Jangan mimpi bocah kecil."
Hagos melirik ke tiga anak buahnya, dia mengkode para pengikut setianya itu. "Pukul dia sampai mati, aku mau melihat dia tersiksa karena berani berurusan dengan hagos." Dia berkata sombong.
Prajurit-prajurit berbaju besinya menuruti perintah hagos. Mereka menyerang Sean dengan senjata besar mereka. Mata Sean memerah, dia mulai menyerang.
"Argh....." Sean mengerang marah memuncak. Dia melayangkan pukulan kerasnya. Sean tak takut walau berhadapan dengan pedang-pedang besar ketiga vandal itu. Justru dia makin tertantang.
Pukulan pertama berhasil dia tinggalkan pada salah satu vandal. Dia terpental hingga masuk kedalam sebuah toko keramik, tubuhnya menghancurkan pajangan toko.
Sisanya, Sean masih menanganinya.
__ADS_1
Suara-suara gerabah pecah berantakan karena ulah pedang para vandal. Sean berkali-kali menghindar dari serangan mereka. Ia melakukan pertarungan politik jual beli.
Satu persatu telah Sean lumpuhkan dengan kemampuannya yang entah datang dari mana. Alamiah, kekuatannya datang secara tiba-tiba.
Hingga baju besi yang di kenakan oleh para petarung Hurian itu penyok, pukulan Sean begitu kuat. Dia tak terbendung lagi dalam menyerang. Sean amat brutal tanpa hati, dia melakukannya.
Orang-orang sekitar pasar manun menyaksikan pertarungan ini. Mereka takjub pada Sean yang terbilang berani menghadapi para vandal itu.
Hagos makin merasa tertantang, apalagi melihat ketiga anak buahnya sudah terkapar lemah memuntahkan darah. Pedang-pedang besar mereka jatuh, menjauh dari tubuh.
"Kau bocah kecil yang harus aku patahkan salah satu kaki mu!" Hagos menantang. "Akan aku biarkan kau hidup dalam kesengsaraan terpincang-pincang." Dia berkata sombong sambil melenturkan jari tangannya.
"Kau, terimalah pukulan ku ini," hagos melayangkan pukulan keras. Dia bertarung mem-brutal.
Sean tersenyum pahit, wajahnya terlihat berekspresi amat membenci. Sean menghindar dari serangan hagos, dia seperti terlatih dalam bertarung.
Serangan demi serangan hagos berikan, namun Sean lihai dalam menepisnya. Sean membalas hagos dengan pukulannya yang keras hingga tubuh hagos berakhir seperti anak buahnya. Terpental.
Hagos terpental-pental sampai tubuhnya terbentur gerabah yang di jadikan toko tempatnya memalak meminta upeti sebagai pajangan toko.
Hagos tak mempermasalahkan dia kalah melawan Sean melalui serangan tangan kosong. Tubuhnya yang terkapar karena serangan Sean, kembali bangkit, dia tak menyerah. Hagos mencabut pedang besarnya, kali ini dia benar-benar berniat menyerang Sean hingga mati.
"Kau mungkin bisa mengalahkan aku dengan tenaga mu yang kuat. Tapi kali ini aku tak akan membiarkan kau lolos dari kematian mu bocah tengik!" Hagos mengacungkan Sean pedang besarnya.
Sean menyoroti hagos dengan tatapan tajam, dia menunggu serangan itu. "Kau yang akan menemui malaikat maut mu," Sean menantang.
Hati hagos semakin panas saat Sean membantah dirinya dengan tantangan sengit. Tanpa pikir panjang, hagos menyerang nya.
Sean menghindar, Sean menundukkan tubuhnya serendah mungkin menghindar dari pedang itu. Tepat di sebelah Sean, pedang vandal lainnya tergeletak. Sean memanfaatkan pedang itu, dia mengambilnya dan menjadikan senjata melawan hagos.
Mereka saling adu pedang. Suara nyaring dan ber-denting terus berbunyi. Bahkan percikan api sedikit keluar dari gesekan kedua pedang.
Pertarungan keduanya cukup sengit. Sean dengan kelincahannya, berhasil menaklukan hagos. Dia terluka cukup parah oleh pedangnya sendiri.
Sama seperti hagos, Sean tak sengaja terkena sedikit goresan melalui pedang itu. Tepat di lengan sebelah kanan Sean, darah mengucur.
Ke-empat vandal lebih memilih kabur luntang-lantung, mereka pergi meninggalkan pasar manun tanpa membawa hasil apapun.
"Sean!" Volinia mendekatinya. "kau terluka," dia memberitahu Sean.
Sean melihatnya, darah yang keluar dari lengannya bukan berwarna merah namun hitam.
"Kau sepertinya terkena racun dari pedang ini Sean." Volinia berkata seraya menghirup darah Sean. Dia mendeteksi jenis racun apa yang di gunakan para vandal itu. "Nampaknya mereka menggunakan racun bunga mawar hitam di campur dengan bisa ular pulau Hurian. Racun ini berbahaya Sean." Volinia mulai harap-harap cemas.
"Aku tak mengapa." Jawab Sean tenang. "Hanya luka kecil, bukan masalah." Sean memilih duduk di lantai, dia kelelahan sehabis bertarung.
Namun, tak lama Sean merasakan tubuhnya kembali normal. Sakit kepalanya mulai mereda di ikuti oleh sesak dada yang mulai menghilang.
Darah yang mengucur di lengannya perlahan berkurang dan luka gores yang cukup dalam itu pun mulai menutup dengan sendirinya.
Jessica melihatnya, dia terbelalak kaget. "Lihat!" Jessica bergeming terkejut. "Luka Sean hilang dengan sendirinya."
Volinia dengan segera memeriksa luka Sean, benar yang di katakan oleh Jessica, luka itu menghilang. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Volinia kebingungan.
"Seharusnya, racun dari pulau Hurian itu sulit di sembuhkan kecuali meminta obat penetralisir-nya. Tapi kenapa bisa menghilang sendiri seperti ini, bahkan tanpa bekas."
__ADS_1
Volinia mulai meragukannya, dia membolak-balik lengan Sean. Dia takut salah melihat, namun hasilnya tetap sama saja. Luka itu hilang tanpa jejak. "Aneh!" Lirih Volinia.
BERSAMBUNG