Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 152


__ADS_3

Sean, dia mengambil jalur disebelah kirinya. Membuat ketiga pria dibelakangnya kebingungan. Anehnya, jelas tadi Sean tahu kalau mereka harus pergi kearah kanan.


Namun anak itu justru mengambil jalur yang berlawanan.


Perjalanan mereka sudah setengah memasuki hutan di jalur sebelah kiri ini. Ketiganya belum berani bertanya, tetapi pertanyaan mulai mengganjal di otak Driyad. Sehingga, pria itu memberanikan diri bertanya. “Pangeran. Kenapa kita memilih jalan ini. Bukankah kita seharusnya melalui jalan di sebelah kanan, tadi.”


“Aku ingin berbeda dengan para Lausius sebelumnya. Aku tidak mau mengikuti jalur yang sama. Yang berarti aku juga akan berakhir sama seperti ksatria sebelumnya.”


“Maksud pangeran ...,”


“Jalur itu sudah biasa. Aku ingin melalui jalan ini. Karena aku yakin pada diriku sendiri, terlepas dari apakah jalan ini benar atau salah,” jelas Sean.


Sepasang mata Driyad memperhatikan wajah Sean. Jujur, dia bingung dengan pemikiran anak itu. Namun, dia tak berani bertanya lebih jauh lagi.


“Pangeran belum tahu jalan ini bahkan pangeran belum pernah melalui jalan ini sebelumnya. Mengapa pangeran sangat yakin bahwa jalan ini lebih baik dari jalan yang biasa di lalui para Lausius?”


“Pemikiran kuno. Aku tidak suka sesuatu yang sama. Aku memiliki prinsip ku sendiri,” balas Sean teguh.


Mungkin bagi Driyad ini agak aneh, namun Sean memiliki caranya sendiri. Dia memiliki ide yang mungkin tidak terpikirkan oleh ketiga pria di belakangnya.


Ucapan Sean tadi, seketika membuat Driyad sadar—bahwa setiap orang memiliki cara dan pikiran yang berbeda-beda. Driyad hening, tak lagi berkata apapun, kecuali ..., bicara didalam hati. Menyadari ucapannya tadi.


“Benar yang dia katakan. Pangeran memang berbeda. Dia sangat maju dalam berpikir, bahkan aku tanpa berpikir kenapa aku bertanya seperti ini. Dan aku juga salah jika menganggap ini jalan yang sengsara. Pertama kali melalui jalur ini, aku tak merasakan bahwa aku akan takut menghadapinya. Namun pangeran, dia tak tahu apapun mengenai jalan yang akan dia hadapi—percaya bahwa dia bisa melewati jalan ini. Aku mulai saat ini harus yakin pada pangeran, dia benar. Setiap orang memiliki caranya masing-masing.”


Pikiran Driyad terpaku, membayangkan jalan yang didepannya seperti apa. Bukit terjal, jalan bebatuan yang tajam, tempat yang gelap. Petir menyambar, lahar panas yang membara, dan banyaknya Mossarus terbang rendah di sekitar gunung.


Pria ini jelas tahu seperti apa keadaan tempat ini—meskipun dia belum pernah memasuki tempat asing seperti ini. Jika mengambil jalur di kanan, mereka tidak akan menemukan rintangan berat.


Membayangkannya saja Driyad sudah ngeri, namun apa boleh buat. Dia harus siap dengan segala resiko yang akan mereka hadapi.


“Pangeran, didepan ada telaga. Sebaiknya kita beristirahat di sana sebentar!”


Mendengar ucapan Amuria, Sean langsung meluaskan perhatiannya. Benar saja, di depan Sean suara gemercik air terdengar menyejukkan telinga. Sean menganggukkan kepalanya, menandakan dia setuju pada ucapan Amuria.


Tepat dipinggir telaga, mereka berhenti. Bebatuan itu lumayan licin, membuat jalan mereka agak tertatih. Tak bisa bergerak leluasa, sebab permukaan bebatuan di penuhi lumut berlendir. Salah melangkahkan kaki, bisa jadi akan tergelincir.


Sean menuju ke air telaga. Sedangkan ketiganya sibuk menyalakan api, sebagai penghangat dinginnya cuaca malam.


Sean mengambil sejumput air, yang ia tampung di telapak tangannya. Sean meminumnya, melepaskan dahaga yang sedari tadi sudah mengering.


“Pangeran, sebaiknya pangeran beristirahat dahulu. Jalan kita kemungkinan akan tiba besok, pangeran perlu memulihkan tenaga.”


Crypto mendekat, tepat di sisi kanan Sean dia juga mengambil air, lalu meminumnya.


“Kalian saja yang beristirahat, biarkan aku yang berjaga.”


Sean menoleh kebelakang, Driyad dan Amuria sudah terkantuk-kantuk. Sean tak berani mengganggu keduanya. Apalagi perjalanan cukup jauh, pasti lelah bagi keduanya menempuh jalan berkilo-kilo meter.


“Tidak pangeran. Pangeran harus beristirahat. Ini tugas ku menjaga pangeran.”


Walau Sean sudah memerintah agar Crypto beristirahat, namun pria ini tetap enggan menurutinya.


“Baiklah. Jika kau ingin tetap terjaga, maka aku akan beristirahat. Kau bangunkan aku jika sesuatu terjadi.”


“Tentu saja pangeran. Aku akan melakukannya.”


Sean meninggalkan Crypto, dia mendekati tubuhnya di api yang menyala. Mereka sungguh baik, bahkan untuk tidur pun Sean di layani sepenuh hati.


Sean mencoba memejamkan matanya, berusaha menutupinya agar dia tertidur. Tetapi, tak bisa. Sean, entah kenapa dia merasa gelisah malam itu.


Crypto memperhatikan Sean sejak tadi, pria itu sedikit mencemaskan Sean.


“Ada apa? Apakah pangeran butuh sesuatu?”


Crypto mendekat, Sean memilih untuk tetap membuka matanya. Meskipun dipaksakan, tetap Sean tak akan bisa memejamkan matanya.


“Entahlah. Aku tak tahu, kenapa aku merasa gelisah malam ini.”


“Mungkin pangeran membutuhkan sesuatu. Apakah pangeran lapar?”


Sean menggeleng. “Aku tidak lapar sama sekali. Tapi, aku merasa ada yang aneh di tempat ini.”


“Aneh ..., semacam apa yang pangeran maksud.”


“Tak tahu. Aneh ini rasanya membawa degup jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan cukup kencang.”


“Mungkin itu hanya perasaan pangeran saja. Aku yakin, mungkin pangeran sedang memikirkan sesuatu. Semisal, teman-teman pangeran.”


“Aku harap begitu,” timpal Sean senada.


Tetapi itu salah, Sean merasakan aneh ini makin menjadi.


Sean memperhatikan keadaan sekitar. Lagi-lagi pikirnya. Crypto ikut melihat semak-semak tempat Sean melirik dengan sorot mata tajam.


“Ada apa pangeran?” tanya Crypto bingung. “Apakah pangeran merasakan sesuatu?”


Sean mengangguk. “Mereka datang,” balas Sean sambil waspada. “Aku yakin, merekalah penyebab kenapa aku tak bisa tenang.”


“Siapa yang mereka maksud?” tanya Crypto lagi.


“Jika aku tidak salah, dari aroma ini. Pasti para Gort yang datang.”


“Apakah pangeran yakin jika itu para Gort?”

__ADS_1


Sean mengangguk. “Aroma ini, aku sangat mengenalinya.”


Sean bangkit dari duduknya, mencabut pedang sambil berjaga-jaga. Semak-semak kembali bergoyang, Sean yakin itu makhluk yang sama seperti saat itu. Dimana dia dan Jessica kala itu di serang oleh monster mengerikan, didalam hutan.


Crypto, dia ikut waspada. Walau dia tak se-peka Sean, namun Crypto percaya—bahwa Sean benar. Anak itu pasti merasakan kehadiran makhluk mengerikan itu hadir di tempat ini.


“Bersiaplah, jumlah mereka banyak.”


“Tentu,” Crypto mengangguk. “Aku akan selalu waspada.”


Pria itu (Crypto) mencabut pedangnya, dia bersiap-siap. Crypto tak tega membangunkan Driyad dan Amuria, karena mereka sudah terlelap. Jadi Crypto ingin melindungi keduanya, tanpa membebani mereka.


“Keluarlah kalian. Jangan bersembunyi,” teriak Sean. Dia berkata pada monster yang bersembunyi di semak-semak.


Crypto memicingkan matanya. “Sehebat inikah Lausius terakhir. Bagaimana bisa dia menebak kalau ada yang mengincarnya di tempat ini.”


Mungkin ini sebuah pertanyaan yang sulit dijawab dengan akal sehatnya. Namun Crypto yakin, Sean jauh lebih cerdas dari yang ia duga.


Tak lama saat Sean meminta, para monster itu keluar dari semak-semak. Nampaknya, kawanan makhluk itu sudah lama bersembunyi di sana.


“Gort!”


“Jumlah mereka banyak. Selalu waspada,” lirih Sean pada Crypto.


“Tentu pangeran. Aku akan selalu waspada.”


Sean mengeraskan rahangnya. Puluhan atau mungkin ratusan Gort berlari menyerang Sean. Sean, dengan santainya remaja itu mengangkat pedangnya.


“Hiya ....”


Sean berlari kearah ratusan Gort, lalu membalas mereka dengan serangan membabi buta.


Satu persatu Gort datang, dengan kekuatan penuh, Sean memenggal para siluman genetika itu melalui pedang besarnya.


Suara dentingan pedang Sean dan Crypto, membangkitkan mata yang sedang terlelap.


“Amuria, bangun. Pangeran ....”


Amuria membuka matanya, walau agak berat.


“Ada apa?” tanyanya tak paham.


“Gort menyerang!”


“Apa?”


“Lihat, pangeran di depan. Di sedang di kepung oleh Gort.”


“Ini adalah kesempatan ku. Aku tak akan membiarkan mereka pulang selamat. Pasti Elius yang memerintah mereka datang kemari!” ucap Amuria sesumbar sambil bertarung.


“Siapa lagi yang berani mengendalikan para monster ini selain pria ambisius itu,” sahut Driyad se-pemikiran.


Satu persatu pedang tajam Amuria memenggal kepala Gort, dia sangat antusias menghadapinya. Driyad pun demikian, ini kali pertamanya bertarung melawan Gort. Pada kesempatan sebelumnya, dia selalu tertidur. Alhasil, dia sering melewati beberapa pertarungan besar ini. Seperti kejadian di kuil Heksodus.


“Aku tak akan membiarkan mereka menyakiti pangeran. Kali ini, mereka harus membayar atas dendam yang telah mereka perbuat!”


Driyad sangat antusias dalam bertarung. Suara dentingan pedangnya ber-adu melawan kapak besar para Gort. Itu bukan berarti akan mengendurkan semangat juang Driyad. Justru dia makin menggila dalam melucuti para monster itu.


“Hiya ....”


††††


Sean terbang rendah ketika sekumpulan Gort ber-senjatakan kapak besar ingin menghantamnya. Sayap bercahaya itu terbuka sempurna.


Di udara, Sean memperhatikan jumlah mereka.


“Mereka sangat banyak. Itu artinya, mereka sudah ada di sekitar sini sejak aku memasuki tempat ini.”


Sean menebak, kemungkinan tebakannya akan sempurna jika itu benar.


Driyad, Crypto dan Amuria asik bertarung. Sean memperhatikan ketiganya, dia tak ingin ketiganya kewalahan dalam menghadapi makhluk mengerikan itu.


Dari udara, Sean mengeluarkan kekuatan dahsyatnya. Sekali hantam, Sean menghamburkan semua tubuh besar Gort dalam sekali serangan.


“Hiya ....”


Tubuh-tubuh mengerikan itu berantakan kemana-mana. Mungkin mati. Awan debu tercipta, para Gort sudah tak nampak berdiri gagah. Mereka semua tumbang.


Sean melirik ke segala penjuru, memastikan apakah masih ada yang tersisa atau tidak. Nihil, mereka semua tewas tak tersisa. Hantaman yang keras, apalagi terjatuh di batu, pasti membuat tulang-tulang rusuk itu remuk tak beraturan.


“Aku rasa, makin banyak Gort yang datang kemari. Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini secepatnya.”


“Apakah kita akan pergi sekarang?” tanya Driyad polos.


Sean mengangguk. “Jauh lebih baik menghindar. Saat ini bukan mereka prioritas kita.”


“Baiklah pangeran,” balas Crypto. “Kita seharusnya pergi sekarang jika itu keputusan pangeran. Kami akan menurutinya.”


Sean memutar tumitnya, meninggalkan sekumpulan mayat tak bernyawa itu. Diikuti oleh ketiga pengawalnya, mereka menjauh dari telaga.


††††


“Ada banyak jalan setapak di sini. Jalan mana yang harus kita tempuh.”

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh dari telaga tadi, kini mereka di hadapi pada situasi sulit.


Ketiga pria yang berada di belakang Sean memperhatikan jalur di depan mereka. Sialnya, tak satupun di antara mereka ada yang tahu jalan mana yang bisa di lalui.


“Ada sepuluh jalan setapak. Semuanya berada di dalam hutan. Membentuk lengkungan setengah bundar nyaris sempurna. Tidak mungkin jika kita akan melalui satu persatu jalan ini. Terlebih kami belum pernah memasuki tempat ini sama sekali, jadi aku tidak bisa menyarankan apapun.”


Crypto menjelaskan. Memang dia tak tahu apapun mengenai tempat ini. Jujurnya, Crypto sejak tahu tempat ini berbahaya, dia enggan melangkahkan kakinya di sini, kecuali malam ini bersama Sean.


“Driyad,” lirih Sean. “Apakah kau tahu sesuatu tentang tempat ini?” tanya Sean.


“Tidak,” balas Driyad. “A


Sama seperti Crypto, aku belum pernah memasuki tempat ini sama sekali sebelumnya. Jadi, maafkan aku pangeran. Aku tak bisa menunjukkan jalan mana yang harus kita tujui.”


Sean melirik Amuria, sama seperti kedua temannya. Dia tak mengerti, jalan mana yang harus dia tunjukkan. Pria itu angkat bahu, menandakan dia yang paling tidak mengerti jalur ini.


“Maafkan aku pangeran. Aku tak tahu apapun mengenai jalan setapak ini.”


Dari ketiga pria di belakangnya, tak seorangpun yang tahu jalan mana yang tepat dan jalan mana yang harus mereka lalui.


Terpaksa, Sean kembali harus mengandalkan instingnya.


“Jalan ini berjumlah sepuluh. Jalan setapak, yang ditandai dengan ukiran hewan di setiap pohon. Jika aku menebak, mungkin itu adalah sebuah penanda dan pembatas setiap jalur setapak. Lalu ....”


“Apakah kita harus mengambil salah satu jalan setapak secara acak?”


Sean menggeleng, saat Amuria berinisiatif menggagas pendapatnya. “Jalan ini membentuk sebuah jebakan. Jika kita salah mengambil jalur, maka kita akan tersesat. Dengan begitu, kita tidak akan bisa sampai di gunung. Atau bisa jadi, kita tak akan bisa keluar dari tempat ini selamanya.”


“Jadi, bagaimana pangeran. Apakah kita kembali ke tempat semula. Lalu memilih jalur kanan tadi?” Driyad menyela.


“Tidak,” bantah Sean. “Kita tetap harus melewati jalan ini. Aku yakin, salah satu jalan ini pasti bukanlah jebakan.”


“Bagaimana jika kita mengambil jalur lurus di depan, pangeran?” Crypto menyahut dengan ide cemerlangnya.


Namun itu tak cukup cerdas bagi Sean. “Kalian perhatikan gambar-gambar yang ada di pepohonan itu. Bukankah hewan-hewan yang digambarkan adalah hewan yang sering kalian lihat.”


“Maksud pangeran, apakah ini semua ada hubungannya?”


Jujur, Crypto tak mengerti jalan pemikiran Sean. Remaja ini terlalu banyak misteri, anak itu sulit di tebak.


“Ada sepuluh hewan yang di ukir di kulit pohon. Jika tebakan ku tidak salah, dari semua ukuran itu, hanya ada satu kemungkinan yaitu ..., pohon di sebelah sana adalah jalan menuju ke gunung Mossarus.”


Sean menunjuk jarinya ke jalur sebelah kanan, tepat dimana Crypto berdiri. Ketiganya memalingkan wajah, mengikuti jari Sean.


Anak itu satu langkah lebih maju dalam berpikir. Mereka tidak sadar, bahwa di ukiran itu ada gambar Mossarus, dan Sean tahu itu pasti jalannya.


“Apakah kita akan melalui jalan itu?” tanya Amuria.


“Tidak,” jawab Sean menggeleng.


“Kenapa pangeran?” sambar Crypto ingin tahu. “Bukankah pangeran mengatakan bahwa itu jalan yang harus kita lalui.”


“Aku hanya menebak, bukan berarti tebakan ku akan kalian ilhami.”


“Jadi ....”


Ketiganya kembali bingung, jelas-jelas Sean mengatakan kalau pohon berukir Mossarus tadi adalah jalannya. Lalu, belum hilang ucapan Sean itu dari telinga ketiganya, Sean malah berujar hal lain.


“Apakah kau ingat Driyad, hewan apa yang suka di mangsa oleh Mossarus?”


“Maksud pangeran?”


Kini Driyad makin bingung, pasalnya Sean memaksa otak Driyad berputar mengingat sesuatu yang tak dia ketahui. Namun tetap saja, hasilnya kosong. Driyad sudah berusaha mengingat, tapi tak ada yang berhasil singgah di otaknya. Kecuali, istana, petualangan mereka dan lain-lain. Hanya itu yang Driyad ingat.


Sean lalu menjelaskan, saat tak ada ingatan apapun yang keluar dari mulut Driyad.


“Saat kita berada di hamparan labu raksasa. Kala itu kita melihat makhluk mengerikan itu memakan gajah. Seharusnya, jalan yang kita lalui adalah pohon berukir gajah, bukan Mossarus.”


Lagi-lagi ketiganya tak paham. Namun, mata mereka mencari ukiran gajah di kulit pohon yang dimaksud Sean. Dan ....


“Jadi itu jalannya,” tebak Amuria ketika dia berhasil menemukan pohon yang Sean maksud.


Sean mengangguk. “Ayo, itu jalannya.”


Sean melangkah lebih dahulu memasuki jalan itu. Sialnya, dari ketiga pengawal itu, tak seorangpun yang memahami pemikiran bocah belia itu. Terpaksa, mereka harus mengakui kecerdikan Sean.


“Apakah itu benar-benar jalannya?” tanya Driyad membisik di telinga Crypto.


“Entah. Kita ikuti saja,” balas Crypto pasrah. Dia tak mau menjawab sesuatu yang bahkan dia tak tahu.


“Dia benar-benar sulit di tebak,” bisik Amuria pada kedua temannya.


“Dia mungkin utusan dewa. Itulah kenapa dia sangat cerdas,” jawab Crypto memuji.


“Dia bukan dewa. Bisa saja dia putra langit, alih-alih putra Edna,” Driyad menyahut.


Crypto dan Amuria mencebikkan bibirnya, lalu memburu langkah kakinya masing-masing, mengejar Sean yang sedikit menjauh dari pandangan mereka.


Mengacuhkan Driyad, mereka sudah terlatih akan hal ini.


“Lagi-lagi mereka mengabaikan aku,” gerutu Driyad kesal. Dia di tinggalkan lagi.


††††

__ADS_1


__ADS_2