
[“Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.”]
_____________________________________________
Langkah kaki yang terus berjalan menyusuri jalan setapak didepannya, membawa Sean menuju ke sebuah lembah besar.
Seperti yang di katakan oleh ketiga pria yang mengekorinya itu, kini kenyataan itu benar terjadi. Ada batu tajam yang muncul dari permukaan tanah.
Tempat yang gelap dan hening, semuanya nampak hitam. Kecuali, hanya ada kilatan petir yang Sean temui berserta warna merah menyala. Jalan di depan Sean terputus, ada dua tebing yang terpisah. Sedangkan di bawah sana jurang berisi lahar panas, meluap-luap. Siap memangsa siapa saja yang masuk kesana menjadi daging bakar.
Dari radius jarak beberapa meter, Sean sudah merasakan panasnya api neraka itu. Membelenggunya, membuat Sean sebenarnya enggan ingin menapakkan kakinya lebih dekat lagi.
“Pangeran, jalan di depan terputus. Bagaimana caranya kita menyeberangi jurang berisi lahar itu,” kata Amuria berkomentar.
“Kita pikirkan itu nanti.”
Sean membalas ucapan Amuria, sambil kakinya terus mendekati mulut jurang yang mulai terasa panas itu.
“Apakah kalian berpikir bahwa pangeran sedang ber-ide?” tanya Amuria pada kedua rekannya.
“Bisa jadi dia sedang mencari cara agar bisa menyeberangi neraka ini,” balas Driyad sesumbar.
“Hanya menebak, bukan sesuatu yang kadang mudah dipahami,” sahut Crypto ikut bersua.
Setelah berkata, pria sok menawan dan berwibawa itu mengikuti Tuannya yang ada di depan.
“Setelah ribuan tahun, Crypto tetap tidak berubah. Dia selalu angkuh,” kata Driyad mengeluh.
“Bahkan setiap saat aku selalu berusaha ingin menghindar darinya.”
Amuria berkata senada dengan Driyad, setelah itu langkahnya ikut menuju kearah Sean. Driyad setuju akan ucapan itu, dia ingin sekali menghindar dari sorot mata Crypto. Pria itu dingin, jarang sekali dia berkata panjang lebar. Atau ..., bersenda gurau layaknya makhluk sosial pada umumnya.
Crypto hemat berkata, semua rekan kerjanya mengakui hal ini. Namun pria itu tetap cuek saat dia di sebut pria paling tidak peduli sekitar.
Driyad ikut menyaksikan lahar panas itu, ini bukan wisata alam. Driyad benci harus berada di sana cukup lama. Apa yang akan terjadi, Driyad malas menebak. Jawabannya hanya satu, kemungkinan kembali selamat, atau terkurung di neraka ini selama-lamanya.
“Jarak dari tebing ini sampai di tebing ujung sana lumayan jauh, kita tidak memiliki cara lain saat ini pangeran, kecuali ....”
Sean melirik kanan kiri. Ketika mulut Amuria berkata, Sean merasa tidak ingin mendengarnya.
“Aku tahu, di sini pasti ada cara lain untuk sampai di ujung tebing. Aku yakin, ada sesuatu di sini.”
“Semisal ...?” sambar Driyad ingin tahu.
“Aku perlu memastikannya,” balas Sean santai. “Kita tidak perlu terburu-buru, semua ini pasti ada jalannya.”
“Oke, aku paham itu,” gumam Driyad pelan.
Mata keempat pria itu, meniti dengan baik lahar yang meletup-letup bak dodol yang sedang di masak.
“Bagaimana jika kita terbang saja?” kembali Driyad menggagas idenya.
“Kau kira ini masalah sepele,” lirih Crypto dingin. “Atau kau mencoba mengakhiri hidup mu sebelum kau menuntaskan misi ini?”
Driyad menggeleng. “Aku kira, menyebrangi lahar ini dengan sayap, jauh lebih mudah. Alih-alih terus memperhatikannya. Jadi makhluk bodoh jika kita terus terpaku di sini.”
“Jika kau mencoba terbang dengan sayap mu, apakah kau yakin tidak terjadi apapun?” Amuria menyahut, kali ini dia berkata bersebrangan dengan ucapan Driyad.
“Maksud mu?” tanya Driyad tak paham.
Sean membalas. “Sayap mu akan hancur jika memaksa terbang melintasi lahar panas ini. Ada banyak monster api di sana, jika tahu seseorang terbang di atasnya, maka mereka akan menaikkan suhu lava. Dipastikan, siapa saja yang melintas di atasnya akan berakhir menjadi debu.”
“Jadi, apakah pangeran memiliki ide?”
“Aku sudah menemukannya,” angguk Sean.
Crypto kebingungan, dia agak heran. “Maksud pangeran, Anda sudah mendapatkan cara untuk menyebrangi tempat berisi api panas ini?”
“Jalan di depan sudah terlihat. Kita akan melalui jalan itu!” balas Sean memberitahu. Menunjukan jalan, bahwa bukan saatnya bertanya hal tak penting.
“Jalan?” ucap Amuria menyela. “Jalan yang mana pangeran? Mengapa aku tidak melihat jalan itu?”
Matanya (Amuria) mengedar, mencari sumber jalan yang di tunjukkan Sean.
Sean jalan makin kedepannya, mendekati dirinya pada sebuah batu hitam besar. Di pinggir tebing, Sean menggeser batu besar itu.
“Aku rasa, ada jalan disini!”
Dugaan Sean mungkin tidak akan salah, keakuratan terkaan Sean bisa dibilang nyaris mendekati kata sempurna. Batu yang di geser kini memunculkan suara gersing.
Tiba-tiba, suara keras dan parau yang berisik terdengar. Tebing tempat keempat pria itu berdiri ikut terguncang kecil. Meruntuhkan, menjatuhkan dan memindahkan posisi batu kerikil panas dari temaotnya semula.
“Gempa!” seru Driyad.
“Ini bukan gempa, hanya getaran kecil,” balas Sean memberitahukan lagi. “Jalan itu akan keluar.”
Ketiganya makin bingung, tetapi benar apa yang Sean katakan. Ada sebuah jembatan yang keluar dari balik tebing. Dugaan Sean benar-benar terjadi. Di ikuti sebuah goa besar di tebing seberang sana—terbuka.
“Suara berisik ini, nyatanya adalah jembatan yang menghubungkan dua tebing," gumam Crypto pelan.
Sean melangkahkan kakinya lebih dahulu menyeberangi jembatan. Ketiganya mengekori, sambil sekali Driyad membisik. “Kenapa pangeran sangat tahu segala hal hanya dengan sekali lihat. Aku bingung, dia terlalu cerdik di mata ku.”
“Simpan pertanyaan mu Driyad. Kau bisa bertanya nanti jika kita sudah keluar dari tempat ini,” komentar Crypto.
Ketika mereka sedang berdiskusi pelan, Sean melirih mereka. “Di depan ....”
“Pangeran, awas!” sambar Amuria lebih dahulu.
__ADS_1
Sean melirik waspada, dengan cepat Sean berhasil menghindar. Mencabut pedangnya, Sean sempat akrobatik di udara kala cakar tajam Mossarus ingin mencengkram.
“Berhati-hatilah. Jumlah mereka sangat banyak!” ucap Sean meminta waspada.
Sialnya, di atas jembatan ini, mereka terkepung banyak Mossarus. Ketiga pria di belakang Sean mencabut pedang, sigap ingin menuntaskan serangan para Mossarus. Suara melengking itu dari pangkreas Mossarus, sungguh sangat berisik.
“Apakah kita sudah sampai di tempat itu?” tanya Sean santai.
Driyad mengangguk. “Aku rasa, sekarang koloni mereka berada di sini!” tegasnya merespon.
“Kalau begitu, itu artinya; Raja Mossarus ada disekitar sini!” tebak Sean. Sambil dia melirik sekitar, mencari dimana makhluk setengah naga itu bersembunyi.
“Mungkin saja, dia sepertinya mengawasi kita pangeran!” sahut Amuria ikut andil dalam berkata.
Sean menoleh ke bawah, lahar panas meledak-ledak itu menyembur ke atas. Kulit memang terasa seperti terbakar, namun tidak bagi Sean. Dia tak merasakan panasnya api, justru Sean merasa dia berada di tempat dingin.
Di bawah, ada beberapa tiang batu. Ketiga pria di belakang Sean, mereka sibuk menghalau Mossarus, sedangkan Sean sibuk mencari makhluk itu.
“Pangeran, aku rasa jumlah mereka semakin banyak!” teriak Crypto hampir menyerah. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Sean melihat mereka—kewalahan itu jelas membuat mereka sulit mengatasinya. Jumlah Mossarus makin banyak, dan Sean belum menemukan raja Mossarus itu.
“Jalan satu-satunya, aku harus menumpas dahulu para Mossarus ini. Setelah itu, baru mencari dimana rajanya!”
Sean berpikir, mungkin ini cara terbaik agar energi tetap terjaga. Juga, ketiga pengawal di belakangnya tidak ada yang terluka.
Sean sebal, dadanya mulai membara. Pedang ditangan Sean menyala makin merah. Mungkin, kekuatan menyalur di Pedang itu. Sayap Sean terbuka, setelahnya Sean terbang secepat angin, menebas setiap Mossarus yang melintas di kepalanya. Sean tak bisa menahan dirinya lagi, untuk bertindak.
ZRAT!! ZRAT!!
Sepersekian detik, banyak Mossarus yang tak terhitung jumlahnya, tewas masuk kedalam lahar. Sean, dia sangat cepat. Sekali kedipan mata, ketiga pria itu hanya terdiam tanpa bersuara—menyaksikan tumbangnya para makhluk buas itu di tangan Sean.
Komentar apa yang akan mereka ungkapkan di saat seperti ini, kecuali; “Selain cerdik, pangeran sangat lincah dalam bertarung,” puji Driyad bersorak.
“Kecepatan ini. Sungguh, aku mengaguminya,” Amuria menukas pujian.
Sean menapakkan kakinya lagi, di atas jembatan. Matanya lagi bersinar, ketika ketiga orang itu menatapnya terpesona.
“Pangeran, apakah pangeran terluka?” tanya Crypto perhatian.
“Jangan pedulikan aku saat ini. Makhluk itu ada di sekitar sini.”
“Darimana dia tahu kalau makhluk mengerikan itu ada di sekitar sini?” Amuria membisik pelan—saat melihat Sean tahu lagi, juga matanya selalu waspada. “Apakah pangeran sedang menebak.”
“Tidak,” bantah Crypto. “Melihat dari ekspresi pangeran yang sangat serius. Aku merasakan bahwa ....”
“Dia keluar!” pekik Sean pada ketiganya. Memaksa ketiga pria itu berhenti berdiskusi—agar tetap waspada. “Riak lahar itu. Dia pasti berada di sana!” tunjuk Sean penuh kepastian. Mengarah ke dalam lahar, gelembung mulai tercipta di lahar panas itu.
“Ucapan Crypto belum usai, pangeran telah memotongnya. Dan pangeran menunjuk ke arah bawah, tempat lahar panas yang mulai menggelembung. Sungguh tidak terduga pemikiran Lausius muda ini.” Driyad memperhatikan, jelas dia makin kagum pada Sean.
Suara raungan, suara kepakkan sayap, dan mata yang terbuka. Sean tahu, makhluk itu ternyata tidur di dalam lahar panas. Cipratan lahar panas mengenai tubuh Sean saat makhluk itu terbangun dari tidurnya, kemudian mengguncangkan tubuhnya.
Walau terkena cipratan lahar panas itu, ajaibnya Sean tak merasakan panasnya atau kulit Sean melepuh. Justru, lahar itu hilang di balik kulit bercahaya itu.
“Siapa yang telah berani mengganggu raja Mossarus. Membangunkan tidurnya, merupakan perbuatan tak terpuji.”
Suara parau, kasar besar dan menggema itu terbang rendah di depan Sean, memutar-mutar tubuhnya mengitari Sean.
Dia belum menyadari Sean, nyawanya perlu di kumpul. Maklum saja, dia baru terbangun dari tidur panjangnya. Kira-kira, ribuan tahun dia belum membuka matanya.
“Pangeran, berhati-hatilah!” pekik Amuria khawatir. “Dia makhluk yang kuat!”
“Keluar dari jembatan ini. Jangan ada yang berada di dekat ku!” balas Sean meminta. Melirik ketiganya tanpa ekspresi.
“Tetapi pangeran!”
“Turuti perintah ku!” sahut Sean tegas.
Amuria melihat kedua temannya, keduanya mengangguk. “Sebaiknya, kita turuti perintah pangeran. Jauh lebih baik tidak terlibat masalah dalam hal ini,” Crypto berkata. Dia berpendapat, yang mungkin akan di dengar oleh kedua temannya.
“Baiklah, jika itu kemauan kalian. Kita akan menunggu di pinggir jembatan.” Amuria patuh, jauh lebih baik menghindar daripada keras kepala.
Ketiganya sepakat. Kini mereka berdiri di pinggir tebing, tempat dimana mereka berdiri semula. Hanya memperhatikan Sean di jembatan, bersama dengan si naga penuh api itu. Hanya itu yang mereka lakukan.
“Aku datang ke sini, untuk membalaskan semua tindakan pengrusakan yang telah kau lakukan pada kaum penduduk kota Saranjana. Dan hari ini, sebelum perang tiga ribu tahun itu berlangsung, aku ingin kau lenyap. Agar kau tak lagi mengacaukan kehidupan para penduduk!”
Sean menunjuknya berang dan gagah berani. Raja Mossarus itu merespon ucapan Sean dengan tertawa lihai, terbahak-bahak. Jujur, dia terkekeh di balik wujud menakutkannya itu.
“Haha ..., ternyata Lausius yang datang. Hampir saja aku tak mengenalinya!”
Sean mendengkus. “Kau harus lenyap!”
“Bagaimana bisa. Tubuh kecilmu hanya semut bagi ku!”
“Kau ingin mencobanya?” tantang Sean.
“Jangan kau tanya. Aku sangat menantikan Lausius terakhir, sebagai penyempurna kekuatan ku. Dan menjadikan aku sebagai dewa naga paling kuat. Haha ....”
“Baiklah. Jika itu kemauan mu. Maka, kau harus menerimanya!”
Sean mengepakkan sayapnya, terbang di hadapan Mossarus—kemudian menyerangnya secepat kilat.
Tiba-tiba didepan, lalu muncul di belakang, menghantam bagian dada, kadang kala sudah berada di kepala Mossarus, secepat itu kekuatan Sean dalam menyerang makhluk itu.
Mossarus terdiam, karena kecepatan bak angin dengan kilatan perdetik membuatnya terkecoh. Satu hantaman Sean dari atas, membuat raja Mossarus tersungkur kebawah, tubuhnya menghantam tiang bebatuan besar yang muncul di tengah permukaan lahar.
Kepalanya terasa pusing, sebab pedang besar itu, sangat keras memukulnya.
__ADS_1
“Haha ..., bocah kecil itu ternyata kuat juga. Dia berhasil mengecohkan aku dalam sekali serangan!”
Sean berada di atas Mossarus, terbang Sean makin rendah. Mendengar ucapan Mossarus, Sean kembali ingin menghujani Mossarus dengan serangan dahsyat.
“Kau harus di akhiri saat ini juga. Hiya ....”
Menyadari hal itu, raja Mossarus dengan cepat menghindar dari serangan itu. Dia terbang menuju ke dinding tebing di sisi lainnya. Sedangkan Sean, bahkan kekuatan besar itu menghancurkan batu itu sia-sia. Awan debu tercipta akibat kuatnya serangan Sean.
“Haha ..., untuk membunuh Mossarus, bahkan saudara-saudara mu tak mampu melakukannya. Kau jangan berharap, bahwa kau bisa melakukannya!”
Lirikan mata tajam bercahaya itu, lagi-lagi menginterupsi raja Mossarus dengan licik penuh dendam. Sean berdiri gagah, walau tak berhasil menaklukkan raja Mossarus dengan sekali serangan.
Sean, terbang secepat angin, kembali mengarahkan serangannya pada makhluk setengah naga berkulit keras itu. Hanya cahaya dari sayap Sean yang tersisa di pelupuk mata sang naga. Rupa Sean, entah di mana dia berada.
Suara Guntur bunyi cukup keras, ketika Sean berhasil mencapai tubuh raja Mossarus. Suara hentakan, bahkan ada retakan di dinding tempat Mossarus berpijak. Sialnya, Mossarus kembali berhasil menghindar.
Walau badan itu besar, namun bukan berarti dia akan kesulitan dalam bertarung. Makhluk itu terbang di dekat Sean, dengan cakar-cakar tajamnya, dia membalas Sean dengan serangannya. Membalikkan keadaan, kini sepenuhnya Sean terdesak oleh cakar Raja Mossarus.
“Haha. Kau akan mati di tangan ku, Lausius kecil!" ucap Mossarus girang. “Kau akan menjadi penyempurna keabadian ku dalam mencapai surga. Awan Metis akan tunduk pada ku!”
Sean, tak tahu jika Raja Mossarus telah sampai di tubuhnya. Cakar-cakar itu telah menggapai Sean, dengan sigap Sean menahannya dengan pedang besar. Itu cukup membuat tubuh Sean terhindar dari kuku sekeras martil.
“Kau terlalu bangga dengan perbuatan mu, tapi kau lupa jika ada yang lebih kuat dari dirimu. Aku akan mengakhirinya sekarang, kau harus mati ditangan ku!” pekik Sean menggema.
Dari pinggir tebing, ketiga pria itu terdiam. Tak tahu, apa yang harus mereka lakukan. Kecuali Driyad, dia sudah mengepakkan sayapnya, pedang pun sudah siap ingin membantu Sean.
Namun, Crypto mampu menahan pria itu. “Jangan bertindak gegabah. Pangeran belum memerintahkan apapun untuk kita sekarang.”
“Kau tak melihat pangeran dalam kesulitan. Kita harus membantunya sekarang.” Driyad membantah, dia cukup keras kepala—memaksa Amuria ikut berkata.
“Kita tunggu sebentar lagi, sampai pangeran memerintahkan kita untuk bertindak.”
“Benar apa yang dikatakan oleh Amuria. Kita tunggu pangeran memerintahkan sesuatu, jangan sampai mempersulit ruang gerak pangeran!” sahut Crypto senada.
“Hah ....” Driyad mendesah sebal, oke, dia akan menuruti ucapan kedua temannya. “Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Tunggu sebentar lagi. Kita lihat, apa yang akan pangeran perintah!” balas Crypto bijak.
Perhatian ketiganya, kembali pada Sean. Sosok yang sedang berjuang mati-matian. Mencoba lepas dari belenggu Mossarus.
Sean, dengan sekuat tenaga ingin lepas dari cengkraman Mossarus. Sean berhasil mendorong makhluk itu melepaskan cengkeramannya. Sean, dengan kekuatan secepat anginnya, kembali menghunus makhluk itu.
“Matilah kau!” teriak Sean membara.
Lagi-lagi, Sean menyerang dari berbagai arah. Kepala, buntut, dada. Semuanya Sean Hujam. Ketika makhluk itu terasa lemas, Sean menghentikan serangannya yang dashyat.
“Kau hampir mati, ucapkan sesuatu agar kau bisa tenang di kehidupan mu selanjutnya,” bisik Sean pada makhluk itu.
“Aku tidak akan menyerah pada mu. Dedikasi ku untuk membunuh, merusak dan menghancurkan kehidupan penduduk kota. Aku tidak akan tunduk pada siapa pun!”
“Kalau begitu, kau harus mati secepatnya!” teriak Sean memburu. Keduanya masih terbang di atas lahar panas.
Sean makin memperdalam tusukan pedangnya di dada raja Mossarus. Makhluk itu tak berdaya, kecuali cakar-cakarnya yang lemah, ingin menghalau Sean. Namun itu tak berhasil, Sean cukup kuat.
“Untuk pertama kalinya, aku akan mati di tangan Lausius. Namun itu tak akan terjadi! Kau ....”
Sean mencabut pedangnya ketika ucapan Mossarus itu makin melemah, di ikuti matanya yang terpejam, hampir menutup tak lagi mampu terbuka.
“Itu tidak akan terjadi. Riwayat mu berakhir hari ini!”
Sean terbang, berdiri di pinggir jembatan. Sedangkan Mossarus, dia terjatuh dari ketinggian. Sean yakin, dia akan menjadi mayat yang terbakar jika dilahap oleh lahar panas.
Namun ....
“Pangeran!” teriak Crypto cemas.
“Haha ..., kau harus mati bersama ku Lausius!”
Sean, tanpa sadar—ternyata raja Mossarus masih memiliki sedikit tenaga. Ekor makhluk itu mengikat kaki Sean, memaksa Sean tergelincir di tempatnya berpijak.
Tangan Sean berpegangan di pinggir jembatan, sambil menahan beban beratnya tubuh Mossarus yang mengerat di kakinya.
“Akh ....”
Peluh Sean makin melemah. Ketiga pria di pinggir sana mempercepat langkah kaki mereka ketika melihat Sean hampir terjatuh bersama Mossarus.
“Pangeran!” teriak Driyad ingin meraih Sean.
Sialnya, tubuh Sean lebih dahulu terjatuh. Sean tak mampu lagi menahan beban makhluk itu.
“Jika aku tidak kembali, katakan pada Kakek, agar memulangkan Jessica dan Edward tanpa diri ku. Selamat tinggal!”
“Pangeran!”
Amuria memburu, dia ingin meraih Sean. Akan tetapi tidak berhasil, anak itu sudah lepas dari genggaman mereka.
“Biarkan aku turun, aku akan menyelamatkan pangeran!” ucap Driyad berinsiatif.
Pria itu ingin melompat ke bawah, namun Crypto berhasil menarik bahunya. “Jangan bertindak gegabah. Kau tidak akan mendapatkan hasil!”
Sean melemparkan pedangnya sebelum dia terjun kebawah. Membuat ketiga pria di atas jembatan itu terpaku.
“Pangeran!” jerit Amuria histeris.
Sayangnya, tubuh Sean sudah hilang dilahap lahar panas. Apa yang mereka lakukan adalah, meratapi saja.
Berakhir!
__ADS_1