
“Woho!”
Sean terjatuh, tepat di atas tubuh Ligong. Beruntung, jika tidak, mungkin tulang Sean akan patah jika terhantam di bebatuan. Jatuh dari ketinggian, rasanya tentu mengerikan.
“Kau tidak apa-apa kawan?” tanya Sean pada Ligong. Sean berdiri, dia tak mengapa, tak terluka sedikitpun. Kecuali, mengkhawatirkan teman barunya itu.
Hewan itu mendengus girang. Dia baik-baik saja, Sean melihatnya. Bahkan Ligong terlihat bugar, seolah tak terjatuh dari tempat tinggi. Ligong berdiri tegap sempurna, seolah terjatuh dari atas bukanlah sesuatu yang menyakitkan.
Sean mendongakkan kepalanya, melihat ke atas. Ow, sungguh. Amat tinggi mereka terperosok ke bawah. Kabar baik, Sean tak mengalami cidera apapun.
“Kita terjatuh di dalam goa. Kemungkinan, lubang di atas tercipta oleh gerusan air.”
Pandangan Sean tak bisa lepas dari lubang besar di atasnya. Sementara itu, Zumirh dan Zurry tidak berani turun ke bawah.
Memasuki lubang? Ide gila. Zurry tidak mau mengambil resiko terlalu jauh. Dia tidak tahu ada apa di dalam sana, jika nekat mengejar Sean. Bisa jadi dia sendiri akan terlibat dalam masalah.
Zurry dan Zumirh menahan kesal, Sean telah menipu mereka.
“Ayo kita pergi. Anak itu tak bisa menjadi milik kita lagi kali ini.”
“Kau tak berniat mengejarnya?” tanya Zumirh.
Zurry mengangkat kedua bahunya, menggeleng adalah keputusannya. “Di bawah, raksasa gondola berada. Apakah kau yakin anak itu selamat.”
“Maksud mu?”
“Raksasa pemakan daging itu beruntung. Jika dia bisa memangsa Lausius, kemungkinan dia pemilik jiwa abadi itu. Dan kita tidak punya waktu untuk memikirkan anak itu lagi. Aku kurang yakin jika anak itu akan baik-baik saja setelah terjatuh dari tempat yang tinggi.”
“Jadi kau menyerahkannya pada raksasa itu sepenuhnya?” tebak Zumirh.
“Mau bagaimana lagi.” Zurry agak pasrah. Sebenarnya di tidak ingin ini terjadi, namun..... Sudahlah. Pikir Zurry, tak ada gunanya lagi mengejar anak itu. “Perkiraan ku hanya ada dua. Antara dia mati terjatuh di bawah sana. Atau di mati di mangsa raksasa itu. Kau hanya perlu berpikir dua kali untuk mendapatkannya.”
Zurry mengepakkan sayapnya, dia ingin cepat-cepat berlalu. Malas baginya jika harus berada di gurun panas ini berlama-lama. “Kau jangan konyol masuk ke sana tanpa berpikir ulang. Kau akan jadi makanan lezat Gondola jika kau nekat,” lirih Zurry. Sesaat setelahnya, Zurry makin tinggi mengepakkan sayapnya.
“Zurry selalu menyerah. Apakah mendapatkan Lausius itu dari tangan raksasa sulit baginya?” gumam Zumirh pelan. Kesal, tentu saja. Zumirh sangat menantikan hal ini, namun anak itu justru kabur. Dan ini bukan keberuntungan yang mereka dapatkan, malah kesialan.
Zumirh menoleh ke dalam lubang. Benar, kedalamannya tak terhingga. Zumirh pun merinding ketika membayangkan bagaimana jika dirinya terjatuh kesana.
Raksasa? Akh, mengerikan. Zumirh ingat, raksasa Gondola di bawah sana sebenarnya bukan raksasa yang bertubuh tinggi tak karuan.
Hanya karena sifat rakus dan buasnya. Itulah kenapa dia di sebut raksasa di tambah bobot tubuhnya hampir sama dengan enam ekor gajah. Inilah sebabnya dia di sebut raksasa. Kadang memakan batu jika tak ada makanan, kadang pula memakan sesama rekannya. Ngeri bukan?
“Kali ini tidak ada yang berhasil mendapatkan Lausius itu kecuali raksasa Gondola. Adil, aku rasa kali ini Lausius itu bukan milik siapa-siapa.”
Usai memandang kedalaman lubang, Zumirh membuka sayapnya. Mengepak, kemudian hingar, terbang menyusul Zurry—yang lebih dahulu sudah terbang menjauh. Lengangnya langit, tak menghalangi kepergian Zumirh.
“Dia tak akan selamat!”
****
Sean jalan, langkahnya mencoba menyusuri gua unik ini. Warnanya mencolok, membuat siapa saja menyangka kalau tempat ini terbuat dari makanan raksasa.
Namun siapa sangka, bahkan Sean mengira goa ini adalah karamel. Ternyata keras ketika Sean mengetuknya, lebih ke penasaran. Benar saja, mirip goa sunset yang sering lihat di layar handphonenya. Nyata, ternyata Sean bisa melihat tempat unik ini.
“Ayo Ligong, kita cari jalan keluar dari sini.”
Selama berada di tempat ini, seisi tempat yang Sean lihat adalah bebatuan unik. Sedimen kapur menggerus tempat, yang amat luas ini.
Ada banyak celah di goa ini, ukurannya empat kali lebih besar dari celah di tebing gurun. Di atas, Sean ingat, dia melewati celah-celah itu agak menyempit. Di sini beda, ukurannya amat besar, serupa empat buah pintu. Jika di ukur.
“Ligong, sepertinya itu pintu keluar dari tempat ini!” tunjuk Sean pada salah satu ruang goa. Besar, layaknya pintu rumah orang-orang Eskimo.
Mata Sean agak jeli melihat ada pintu goa, sementara Ligong mengalihkan pandangannya ke sana kemari. Membuat Sean ikut menginterupsi keadaan sekitar.
“Hei. Ada apa kawan? Kenapa kau terlihat gusar seperti ini?” tanya Sean.
Ligong menggigit gemas lengan Sean, menariknya ke sudut goa. Di balik bebatuan goa yang membentuk tiang penyangga goa, mereka bersembunyi. Ukurannya besar, cukup untuk dinosaurus bersembunyi.
“Ada apa. Mengapa kau membawa ku bersembunyi seperti ini?” tanya Sean lagi.
Ligong bersembunyi di balik punggung Sean, membuat Sean makin tak paham. Raut wajah Sean penuh tanda tanya, makhluk itu mendadak aneh.
“Apakah dia sedang ketakutan?”
Gendang telinga Sean mendengar hentakan kaki, lumayan banyak. Sean memperkirakan ada banyak kaki yang berjalan tak jauh darinya.
Sean mengintip, menyelinapkan kepalanya, memastikan siapa yang melintas di balik bebatuan besar tempat keduanya bersembunyi.
__ADS_1
“Ow.....”
Sean terkaget, matanya membesar ketika melihat empat orang makhluk.... Aneh. Ya, Sean melihatnya aneh. Empat orang berbadan besar dan tinggi, menggotong satu ekor hewan.... Kemungkinan, ini yang di maksud oleh Ligong. Kenapa dia bersembunyi, inilah sebabnya. Sean merasakan getaran dari napas Ligong.
Sean memicingkan matanya, memastikan hewan apa yang di angkut menggunakan tandu itu.
“Bukankah itu.....” Sean memicingkan lagi matanya, menyipit hingga fokus pada satu titik. Dan, yah. Sean melihatnya dengan jelas. “Itu gajah kan? Benar, sepertinya itu..... Gajah?”
Benar, Sean memastikan bahwa gajah yang di bawa oleh ke empat makhluk berbadan besar itu. Dua gadingnya panjang bengkok, berbulu agak lebat.
Mereka sudah berlalu dari hadapan Sean. Beruntung, tubuhnya agak kecil. Jadi, Sean tidak terlihat oleh ke empat makhluk itu. Cukup merasakan getaran dari hentakan kaki mereka.
“Ayo Ligong. Kita ikuti mereka.”
Suara dentuman kaki ke empat makhluk itu, jujur, membuat Sean penasaran. Baru kali ini dia melihat makhluk besar yang jalannya bahkan bisa menggertak bumi.
Sean mengendap-endap, kadang bersembunyi, diam-diam mengekori mereka. Hingga tiba di sebuah goa yang luasnya berkali-kali lipat.
Ada singgasana besar terbuat dari batu, lalu....... Oh, kali ini Sean makin ternganga. Dari kejauhan, kornea mata Sean dengan jelas mendapatkan pemandangan luar biasa..... Mengejutkan.
“Apakah itu raksasa?” bisik Sean pada Ligong.
Keduanya mengintip dari balik pintu masuk goa. Sementara, keempat pria berbadan besar, yang besarnya sepuluh kali lipat dari Gordon—menurunkan gajah yang terkulai tak berdaya itu.
Sean menebak, kalau sebenarnya gajah itu akan di persembahkan pada makhluk besar di hadapan Sean.
Ukuran gajah, hampir sama dengan ukuran penunggangnya. Tetapi, ajaib, mereka mampu mengangkut gajah itu. Mereka tak merasakan beratnya beban kala mengangkat gajah tak bernyawa ini.
Mata Sean menelisik lebih luas lagi pandangannya. Memutar bola mata, mengedarkannya ke seluruh sudut tempat. Banyak tulang, di sana Sean mendapatkan ada banyak tulang yang berserakan. Tulang-tulang hewan besar, memenuhi seisi goa.
“Hoho..... Kalian membawakan aku gajah besar. Aku akan menikmati makan ku dengan nikmat kali ini!”
Sialnya, Sean melihat buasnya pria berbadan besar yang duduk di singgasana. Jelas, perutnya saja seperti karet. Mengembung keras, bagai paus di darat. Lipatan kulit dan lemak, sangat cocok. Di tambah wajah bulatnya, mirip...... Gog Magog.
Benar, mereka terlihat seperti makhluk mengerikan dalam cerita Yunani itu. Sean juga pernah mendengar cerita mengenai makhluk pemangsa buas itu, di Arab. Pikiran Sean terpaku pada cerita orang-orang mengenai kisah si badan besar. Tak jauh berbeda dengan kisah mitologi di Yunani, kali ini mereka menyebutnya Yajuj Majuj. Di mana mereka adalah ras perusak. Ngeri, Sean sudah merinding melihat kebuasan mereka.
Jari tangannya saja sebesar kayu gelondongan. Seram, apalagi darah hewan yang di makannya tumpah kemana-mana.
Sean mual ketika melihat badan besar itu, dengan rakus memangsa banyak hewan di mulutnya.
Sean mundur pelan, dia ingin pergi. Namun, aroma tubuh Sean cepat menyeruak di hidung raksasa gondola. Mata raksasa melirik keluar, dan dia mendapati Sean hendak pergi.
“Lausius!”
“Oow!!!”
“Hohoho..... Lausius akhirnya tiba di tempat ku!”
Sean mundur pelan, hingga dia terpojok mendekati suara raksasa yang melahai tertawa. Ketika sampai di sana, Sean baru sadar, kalau sebenarnya pria tua berbadan besar itu agak keras. Dia seakan menyatu dengan batu, tak beranjak sekalipun.
“Mereka......”
Sean menoleh kanan kiri, dia telah di kepung.
“Akhirnya Lausius yang di tunggu-tunggu datang ke tempat ku. Dan kali ini, aku akan memakan makanan keabadian. Sungguh surga sedang berpihak pada ku,” kata raksasa Gondola girang. Senyum di wajah mengembang, membuatnya makin ngeri untuk di tatap.
“Kau ingin memakan ku?” tanya Sean.
“Tidak ada alasan untuk ku menolak santapan lezat.”
Sial, Kabar buruk bagi Sean. Lepas dari Zumirh dan Zurry, kini masuk dalam perangkap raksasa buas. Untung, Sean tak sampai mati ketakutan saat melihat sekumpulan badan besar ini. Jika tidak, mungkin Sean sudah berakhir sekarang.
Terpaksa, Sean kali ini harus bertindak melawan, atau dia akan berakhir menjadi santapan si makhluk rakus itu.
“Jika kau berniat ingin menjadikan aku makanan lezat mu. Maka, kau harus membayarnya dengan nyawa. Agar setimpal!”
Sean mengangkat pedangnya, mengacung sempurna di wajah sang pria berbadan besar itu. Si raksasa mendengus tertawa terbahak-bahak, lebarnya mulut itu saat terbuka, Sean perkirakan hampir sama dengan pintu rumahnya.
“Hohoho..... Rages, Kuti, dan Wanx kalian tangkap bocah itu. Aku ingin menyantapnya sebagai hidangan ku malam ini.”
Mungkin berang di tantang, si raja raksasa menunjuk kasar Sean.
Sean tersenyum miring, sesekali meledek mereka dengan tingkah sarkas.
“Kalau begitu, aku akan memenggal kepala kalian!” teriak Sean tak tahan.
Dia lebih dahulu memulai pertarungan. Sean meloncat lincah ketika tangan besar dan panjang ke tiga raksasa di depannya menghantam Sean. Kadang Sean melompat dari satu batu, ke batu yabg lainnya.
Beberapa di antara bebatuan itu, ada yang hancur akibat hantaman keras para petarung raja raksasa.
__ADS_1
Sean melompat di udara, berputar, lalu menaiki satu pundak raksasa ke pundak yang lainnya. Sean menunjukan kemampuannya dalam akrobatik, sehingga beberapa di antaranya terkecoh.
“Hiya....”
Sean mengerang, sayap merah muda itu keluar dari punggungnya. Membantu Sean terbang lincah di dalam goa. Sean takjub, dia keluar di saat yang tepat. Sean tersenyum manis, karena ini uang dia harapkan. Sayap itu, sayap yang membantunya terbang.
“Matilah kalian!”
Satu persatu, dari ketiga dada besar itu Sean terjang keras. Hingga ketiganya terpental-pental, punggung mereka menghantam dinding goa. Sementara yang lainnya, Sean membuat mereka pincang, mematahkan rahang, bahkan mematahkan tangan mereka.
“Anak itu....”
Pria berbadan besar itu tak berdaya ketika melihat anak buah andalannya kalah oleh Sean dalam sekali pertarungan.
Kemarahannya akan kekalahan, membuat si badan besar mengamuk. Dia mengambil tulang dari hewan besar di dekat singgasananya. Melempar ke arah Sean yang menikmati kekalahan anak buah sang badan besar.
Sean menoleh, untung saja dia bergerak cepat. Tulang tajam itu tak melukai Sean, karena Sean berhasil menghindar. Agak mendramatis, Sean mampu melongos tulang yang di lempar kuat itu.
“Kau telah membuat Gondola mengamuk. Kau harus menerima ganjarannya.”
“Kenapa? Apakah ini kali pertama bagi diri mu kalah?”
“Kau!!”
Sean mendengus puas, dia tak takut kala menghadapi si badan besar, perut karet itu. Sean sudah cukup senang ketika berhasil menumpas beberapa dari kawanannya.
Karena tak mampu bergerak leluasa, sebab hampir separuh badannya menopang isi perut. Kemungkinan kaki si badan besar Gondola itu pendek, sehingga dia gak mampu berdiri. Alhasil, dia hanya bisa menyerang Sean dari jarak jauh. Menyerang dari singgasananya.
Dia tak bisa meninggalkan tempat duduknya. Sean makin leluasa ketika tangan raksasa itu ingin meraihnya. Cukup unik, dia memiliki kecepatan dalam menyerang.
“Hiya.....”
Sean membalas setiap kibasan besar tangan raksasa itu. Namun, sesuai dugaan Sean, si tua berbadan besar itu berkulit keras. Mungkin sudah bertahun-tahun dia hanya duduk di batu, jadi kulitnya mengeras. Apalagi tahunya hanya makan saja, maka Sean bersuka cita melawan makhluk besar itu.
Berkali-kali pedang merah Sean menghantam tangan si raksasa, namun tetap. Dia tangguh.
“Hahaha...... Kau rupanya Lausius yang hebat. Kau mampu menahan setiap serangan ku!”
“Bacot kau! Akan aku buat tubuh besar mu kehilangan nyawanya!”
Si badan besar makin terbahak-bahak melihat ambisi Sean. Sungguh, walau Sean lincah mampu terbang kesana kemari, bukan berarti si Gondola ini menyerah.
“Hiya.....”
Sean dari atas, terbang, siap menghunus tubuh besar itu dari punggung. Tangan besar Gondola menyapu tubuh Sean. Dia tak mau anak itu melukainya.
“Kau tak aku biarkan keluar dari sini selamat anak kecil. Kau akan mati di tangan ku.”
“Justru kau yang akan aku buat mati raksasa busuk!” balas Sean meledek.
Sean hinggap di tangan besar nan panjang si badan besar. Si Gondola menepuk jejak tangannya yang di lalui Sean—agar anak itu lumpuh di tangannya.
Namun sayang, itu gagal. Sean lincah, tak sekalipun Sean masuk dalam jeratan tangan yang besarnya berlipat-lipat dari ekskavator ini.
“Hiya!”
Sean berputar, mengeliling lagi si raksasa pemalas ini. Sean mencoba membuatnya lengah, dengan begitu, Sean akan mengatasinya kemudian.
Sesuai dugaan Sean, tengkuk belakang si badan besar terlihat jelas. Dan Sean, dia siap menghunus ke arah itu. Apalagi menjadi sasaran empuk, tak ada alasan bagi Sean untuk tak menusuk bagian itu.
“Hiya.......”
Oh, tidak. Sialnya, Sean tak sadar. Kalau tangan besar itu menghantam Sean.
“Woho.....”
Tubuh Sean terpental, mengambang di udara, kemudian terjungkal ke tanah. Awan debu tercipta, membuat Sean terbatuk-batuk akibat debu yang meraih paru-parunya.
“Hoho.... Kau masih punya nyali rupanya.”
Sean mencoba berdiri gagah. Akan tetapi, tangan besar itu kembali menghampiri Sean. Mencoba menghantam tubuh kecil Sean, namun. Sean dengan cepat menahannya dengan pedang besarnya.
“Kau..... Tak... Akan, bisa mengalahkan.... Aku..... Akh....”
Sean mengerang keras, mendorong tangan si raksasa, sehingga Sean terbebas dari cengkraman berat tangan bak beton itu. Napas Sean di tarik agak susah, pekerjaan sulit mengalahkan si perut karet ini.
“Kau salah. Aku tidak akan menyerah di tangan mu!” kata Sean tak mau kalah.
Sean berlari kearah si raksasa. Pedangnya ter-ayun siap menghujam Gondola. Sean melompat ke udara, sementara gondola membelalakkan matanya. Dia......
__ADS_1
“Hiya..... Matilah kau....!”
TBC