Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 104


__ADS_3

Lembah kering yang di sebut rumah bagi koloni gort adalah tempat yang cukup menyeramkan. Sepanjang hari tanah itu terasa sangat panas.


Tanah kering kerontang, pohon-pohon terbakar hangus kadang juga selalu mengeluarkan asap-asap sisa-sisa terbakar. Ada gunung lahar di sana, tempatnya selalu gelap, matahari enggan masuk ke wilayah yang di huni oleh sekumpulan makhluk menyeramkan itu.


Tanah juga menghitam, kering, panas, ada batu-batu di setiap tempat. Lembah di sana begitu terjal juga banyak goa. Siapa saja yang masuk kesana katanya tidak akan selamat.


Tapi anak-anak itu belum tahu tempat ini. Jika anak-anak itu tahu, bisa jadi mereka akan masuk ketempat ini. Bukankah mereka selalu saja di selimuti oleh rasa penasaran.


Ribuan Mosarus terbang dari Utara ke Selatan. Tempat gelap ini juga menjadi rumah bagi jutaan burung pemangsa paling kejam itu.


Semakin masuk ke dalam lembah Lorde de Gort, maka akan menemukan sebuah benteng kuno yang besar dan kokoh. Tempat itu di huni oleh penguasa terbaik di tempat ini. Dialah bernama Eluis.


Di benteng besar itu melindungi istana besar yang terbuat dari bebatuan. Ada lebih dari ribuan anak tangga untuk mencapai gerbang benteng yang di jaga penuh oleh kaum Gort.


Eluis adalah pimpinan para Gort dan Mosarus. Pria itu masih muda, dia terlihat awet setelah ribuan tahun hidup. Terakhir kali dia memimpin pasukan perangnya tiga ribu tahun yang lalu. Perang Troya itu sudah menjadi ambisinya dalam menguasai Para Lausius juga kota berlapis emas, Saranjana.


"Aku kehilangan dia, wahai Tuan ku!" di hadapan Elius yang agung, penyihir yang bertemu dengan Sean di perkampungan mati itu, menyembahnya. Di bersimpuh di depan Elius yang tengah duduk santai di singgasananya yang besar. "Tolong Tuan ku yang agung mengampuni kegagalan ku."


Sebenarnya Elius jijik saat karpet istananya di injak oleh kaki penyihir buta. Meskipun terlihat cantik, tak ada ubahnya sepasang mata si Elius melihatnya sebagai makhluk paling hina.


Oh, istananya cukup besar, mirip sebuah altar. Bahkan lebih besar dari sebuah aula.


"Kau gagal lagi membawa dia kemari, wahai penyihir buta?" kata Elius yang kejam. Matanya yang sempat tertutup itu, perlahan membuka, melihat wajah menjijikan si penyihir yang menyembah di hadapannya. "Apakah kemampuan mu dalam memikatnya kurang berpengaruh padanya?"


"Benar Tuan! Lausius ini sungguh kuat dari Lausius lainnya. Dia terlihat lemah, namun tak bisa di remehkan."


Wajah si penyihir buta sungguh sudah ketakutan. Dia tak berani menatap wajah Tuan yang di agungkannya itu. Di luar, di balik pintu istananya yang besar, ada beberapa Gort yang menunggu. Mereka penjaga pintu itu, oh, malangnya bagi penyihir buta.


Kepatuhannya pada Elius membuatnya tak berani mengangkat kepalanya itu.


Jika dia berbuat salah. Eksekusi terhadapnya tidak bisa di negosiasikan. Para Gort di luar sana pasti menjadi orang-orang yang akan menyiksanya sampai mati. Penyihir buta ini tak sanggup membayangkan kalau dia akan berakhir secepat ini.


Elius agung mendengkus. Lalu tersenyum penuh pikat, entah apa yang dia pikirkan, dia terlihat sangat licik. "Sungguh menarik," ucapnya. "Seluruh penyihir buta menginginkan dia. Paras para Lausius mampu membuat para penyihir buta makin awet muda di samping wajah mereka yang menjijikan jika berhasil mendapatkan Lausius ini. Aku merasa, ini saatnya menunjukan bagaimana caranya membunuh para penyihir buta yang gagal!"


Mendengar kata-kata ini, penyihir buta yang bersimpuh itu, sudah ketakutan. Dia berharap, Elius tidak membunuhnya dengan cara yang keji. "Tuan ku yang agung. Tolong maafkan kegagalan ku kali ini. Aku berjanji, aku pasti bisa membawa Lausius itu ke hadapan Tuan."


"Hou, itukah janji mu ketika gagal?"


"Tidak Tuan. Itu sudah menjadi kewajiban ku. Aku mohon, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon, Tuan mempertimbangkannya!" kata penyihir buta yang mengiba.


Hidup dan matinya, kini sepenuhnya ada di tangan Elius yang agung itu.


Elius sedikit menyungging tersenyum jijik. Kesetiaan para penyihir buta yang sudah di selamatkan olehnya memang patut membayar seluruh jasanya. Melalui kekuatan yang ada di tangannya, Elius mengangkat batang leher penyihir buta yang tertunduk di hadapannya.


"Tuan, ampuni aku, Tuan!" ujar penyihir buta yang menahan kesakitan. Lehernya di cekik sedemikian rupa, hingga tubuhnya melayang. Elius tidak mencekiknya secara langsung, tapi melalui kekuatan sihirnya. "Aku mohon Tuan. Berikan aku satu kali lagi kesempatan. Aku berjanji, kali ini aku bisa mendapatkan Lausius itu!"


"Kau sudah gagal dalam misi mu. Seharusnya aku berbaik hati membuat mu tidak lagi mengembankan misi ini. Kau sudah cukup lelah menjalankan tugas yang aku berikan. Oleh karena itu, sebagai gantinya, aku akan membiarkan kau beristirahat yang panjang kali ini."


"Tidak Tuan. Aku mohon, jangan lakukan itu," sambil menahan sakit di cekik. Penyihir buta ini memohon kepada Elius yang berkuasa. "Tolong Tuan Elius, jangan musnahkan aku. Beri aku kesempatan sekali lagi."

__ADS_1


"Kau pikir tugas ini hanya lelucon?"


"Tidak Tuan. Aku tidak berkata seperti itu!" bantah penyihir buta.


"Ha-ha-ha!!" tiba-tiba saja Elius tertawa terbahak-bahak. Lalu dia membanting tubuh penyihir buta hingga beberapa meter. Dia terpental-pental, hingga membuat altar Elius terasa rusak. "Jika kau gagal lagi dalam misi ini. Kau akan berakhir seperti saudara penyihir mu yang lainnya!"


Elius mengeluarkan jasad penyihir buta lainnya. Di hadapan Moor—penyihir buta itu, dia membunuh saudaranya sesama kaum Manun. "Inilah yang akan terjadi jika kau kembali pulang dengan tangan kosong. Kegagalan mu yang kedua, akan membuat mu berakhir menjadi santapan para Mosarus."


"Tidak Tuan," jawab Moor setengah ketakutan. "Aku tidak akan gagal lagi dalam misi ini. Aku berjanji, aku akan membawa Lausius muda itu kehadapan Tuan yang agung."


"Bagus!" kata Elius. "Sekarang pergi. Aku tidak mau mata ku rusak melihat wajah buruk rupa mu itu," ucapnya mengusir.


"Baik Tuan. Aku akan pergi." Dengan segara Moor pergi. Dia merasa beruntung, Elius yang agung mengampuninya kali ini.


Di singgasananya, Elius duduk sambil menopang tulang wajahnya. Dari celah langit-langit istana yang besarnya hampir sama seperti jendela. Celah yang di gunakan oleh burung-burung kuil keluar masuk itu, wanita berjubah hitam menghampiri Tuannya.


"Berita apa yang kau bawa?"


Wanita berjubah itu membungkuk di hadapan Elius. Usai Moor keluar, kini giliran si jubah hitam yang melapor. Dia si misterius, dengan rasa hormat menyampaikan berita pada tuannya itu.


"Tuan Elius yang agung. Maafkan aku!" ujarnya memohon ampun. "Aku tidak menemukan keberadaannya sama sekali. Aku sudah menyusuri seluruh hutan terakhir kali Lausius muda itu meninggalkan jejaknya. Tapi tidak tercium auranya setelah masuk di perkampungan mati itu."


"Lausius ini terlihat lemah. Tapi dia memiliki kecerdasan di atas Lausius lainnya. Tidak mudah menemukan dia lagi kali ini!"


Elius berdiri, meskipun dia terlihat menawan awet muda selama ribuan tahun ini. Tetapi ketidak berdayaannya itu membuatnya semakin takut jika tidak segera mendapatkan Lausius muda yang tengah dia incar itu.


Aura Lausius muda itu sungguh kuat. Jika dia mampu menyerap kekuatan cahaya Lausius terakhir ini, maka Elius mampu menyempurnakan kekuatannya. Dia akan menjadi penguasa di jagad kota emas yang di belah oleh sungai Mossapus.


Elius mondar-mandir di depan singgasananya yang besar nan tinggi itu. Uli, si cantik kaum Manun, merasakan keresahan hati Tuannya itu.


Ada beberapa anak tangga menuju singgasana Tuannya. Namun dia tidak berani melangkah ke singgasana itu biar melewati satu anak tangga pun. Atau, Elius akan menghukumnya.


"Bagaimana dengan tanda cahaya di punggung dan dada anak itu? Apakah kau bisa merasakan aura dari pancaran sinar itu?" tanya Elius.


"Maaf Tuan. Tanda itu hilang sejak aku mengikuti mereka di Padang rumput Amuria," ujarnya memberitahu.


Jubah panjang Elius sungguh ikut merasakan aura keresahan Tuannya itu.


Elius mengurut dagu, dia benar-benar di buat risau jika tidak mendapatkan si Lausius yang menjadi incarannya itu.


"Apapun yang terjadi, kau harus terus mencari jejak anak itu. Dapatkan dia bagaimana pun caranya. Jika kau gagal, maka kau akan menerima konsekuensinya!" perintah Elius pada Uli.


"Siap Tuan. Aku akan mencarinya, hingga dapat," kata Uli menuruti perintah Tuannya. Lalu dia pergi meninggalkan Tuan yang di agungkannya itu.


Sebenarnya Uli yang melarikan diri dari istana Sadon, sudah mengikuti Sean dan Jessica kemanapun mereka pergi. Keluar masuk hutan, menaiki bukit, menuruni lembah, memanjat tebing, mengarungi sungai, menyebrang danau hingga menemukan banyak keindahan lainnya di sepanjang jalan mengikuti Sean.


Semua pergerakan Sean akan menjadi perhatian Uli kemanapun dia melangkah. Uli menjadi saksi bisu kejeniusan Sean dalam memecahkan berbagai misteri yang sebelumnya tidak pernah ada yang bisa menelaah dengan benar.


Sean memiliki sebuah tanda di dada dan punggungnya. Tanda itu akan bersinar tiap kali ada masalah mendesak. Namun tidak ada satupun yang mampu melihatnya, kecuali Sean juga beberapa orang yang ada ikatan dengan tanda itu.

__ADS_1


Tanda berwarna putih kemerah-merahan itu beberapa kali sudah bersinar. Uli sudah melihatnya hingga berkali-kali, termasuk saat Sean ada di istana Sadon.


"Anak itu sungguh lincah pergerakannya. Bagaimana aku bisa mendapatkan dia. Anak itu harus aku dapatkan!! Bagaimanapun caranya!"


Tekad Elius mendapatkan Lausius muda itu sungguh menjadi tingkat ambisi yang paling tinggi. Oh, ada begitu banyak hal yang akan dia dapatkan jika mengambil aura cahaya dari Lausius terakhir itu.


"Melalui aura kuat dari Lausius muda ini. Aku akan menguasai seluruh kota berlapis emas. Hahahaha!"


Tertawa terbahak-bahak mungkin sudah menjadi kebiasaan semua orang yang berwatak antagonis. Pria pemimpin tanah Lorde de Gort ini memiliki nyali yang menantang.


Dia meninggalkan istananya. Menuju ke sebuah ruangan rahasia. Oh, dinding-dinding itu membawanya ke ruang bawah tanah yang gelap.


Elius menyalakan lampu-lampu yang menempel di dinding. Terangnya api cerek di sepanjang lorong ruang bawah tanah membuat Elius seperti seorang pembunuh bayaran.


Tidak terlalu buruk menjadi seorang pembunuh bayaran, tapi dia adalan pimpinan para Gort. Citra terkuatnya tak bisa membuatnya lemah di mata bawahan.


Di ruang bawah tanah yang agak gelap ini, ada sebuah pintu besar. Terbuat dari baja, saat ingin membuka pintu itu, Elius menekan dinding. Mungkin itu cara membukanya. Daun pintu itu besar, ada gambar naga di ukiran pintu itu.


"Sudah lama Aku tidak mengunjungi Tuan ku sejak peperangan terakhir itu," kata Elius. Dia berjalan lebih dalam lagi melangkah kedalam ruangan yang luasnya sama seperti di istananya tadi. "Hamba memberi hormat pada Tuan ku yang agung."


Elius membungkukkan setengah badannya, menyatukan kedua tangan. Di hadapan sebuah dinding, dia menyembah kepala tengkorak yang amat besar. Di kedua sisi tengkorak yang menempel di dinding, ada dua buah obor api yang menyinari ruangan.


"Kau begitu ingin mendapatkan kekuatan dari Lausius terakhir. Kau seharusnya berhati-hati. Lausius kali ini mungkin jauh lebih baik dari Lausius lainnya. Kau sudah aku ramalkan, berada dalam dua fase yang aku sendiri tidak bisa lagi memprediksinya."


Kepala tengkorak manusia yang besar itu bersuara membulat. Terlihat agak kaku saat dia berbicara. Suaranya menggema di seluruh ruangan gelap ini.


"Meskipun dia berbeda dari keseluruhan saudara-saudaranya. Ambisi ku untuk mendapatkan Lausius ini tak bisa aku tahan walau ada resiko yang harus aku bayar." Elius melipat tangannya di belakang punggung, berkata pada tengkorak besar itu merupakan bentuk komunikasinya.


Tengkorak itu adalah alat meramalkan masa depannya. Walau beberapa kali tengkorak besar berbentuk kepala manusia itu meramalkan jauh dari kata prediksi, tapi dia cukup benar setiap memberikan saran.


"Sebagai seorang Elius, bertahun-tahun belakangan ini kau gagal mendapatkan isi kitab orang-orang Herenoid. Kau harus tahu, membunuh Lausius kali ini harus di ikuti oleh mantra dari kitab Herenoid itu. Jika kau tidak bisa menguasai isi mantra-mantra manuskrip milik orang-orang Helian itu, maka perjuangan mu akan sia-sia. Dan kau akan berakhir menjadi orang gila jika memaksakan diri sendiri."


"Kau tak perlu menyarankan aku wahai Nekabudzer," bantah Elius. "Aku tahu bahwa aku tidak bisa mendapatkan manuskrip tua milik orang-orang Helian itu karena kebodohan anak buah mu si kaum Manun yang bodoh itu. Seandainya saja Uli lebih cerdas, mungkin manuskrip tua itu sudah aku kuasai sekarang."


"Kau tidak bisa menyalahkan wanita dari suku Manun itu wahai Elius," kata suara yang besar dan bulat ini. "Kesalahan itu di sebabkan oleh kecerdasan Lausius muda itu. Dia yang menyebabkan kekacauan ini. Dan kecerobohan Uli membawanya pada sebuah kegagalan."


Elius yang tengah berkata pada Nekabudzer itu, sangat paham betul kalau tengkorak ini tidak terlalu berguna. Dia sangat cocok tidak menyarankan sesuatu padanya. Elius tersenyum pahit, perkataan Nekabudzer membuatnya tak nafsu berlama-lama di tempat gelap itu.


"Lain kali kau bisa berkata pada ku. Hari ini aku tidak bisa berlama-lama disini."


Elius meninggalkan ruangan bawah tanahnya.


Mendengar kata-kata Nekabudzer membuat kepalanya makin runyam. Sebelumnya tujuannya tercapai, Nekabudzer belum bisa dia singkirkan.


Note.


Nekabudzer adalah tengkorak besar yang menempel di dinding. Dia mampu meramalkan masa depan Elius, walau tidak sepenuhnya bisa tepat. Tapi Nekabudzer di agungkan karena memiliki saran yang baik dalam menuntun jalan hidup Elius.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2