
KITAB RAMALAN DAN KELAHIRAN LAUSIUS
~Saat bunga teratai ungu berbunga. Mekarnya mampu memikat siapa saja yang melihatnya.
Pegunungan di balik awan Metis, menjadi saksi ramalan kelahiran setiap Lausius. Mossapus yang membelah kota, sungai emasnya menjadi berkah siapa saja yang mengambil kemakmuran di dalamnya.
Dari timur hingga ke barat, orang-orang menyambut kelahiran setiap Lausius. Ada seratus Lausius yang akan di lahir-kan, semuanya memiliki takdir dan peruntungan yang berbeda-beda.
Seratus Lausius yang terlahir, hanya akan menyisakan satu Lausius yang akan menanggung kehidupan Lausius-lausius terdahulu.
Mereka terlahir dari hati yang bersih, bagai seorang malaikat, mereka menjadi penegak kebangkitan Mossapus. Anak sungai emas, memberkahi kemakmuran para penduduk.
Anak gunung di balik awan Metis, mereka menjadi saksi kelahiran para Lausius-lausius muda yang siap membentuk diri mereka.
Jiwa yang bersih, namun rapuh akan menjadi kelemahan mereka. Lausius hanya akan bertarung dalam satu jalan. Yaitu jalan menuju kebangkitan anak sungai emas yang membelah kota Saranjana.
Akan ada masanya, akan tiba waktunya. Terlahir seorang Lausius yang gagah pemberani. Dia akan menanggung beban dari saudara-saudara Lausius lainnya yang terdahulu.
Dia akan datang sekali dalam seumur hidup. Maka pertempuran Troya. Pertempuran yang sudah di ramalkan akan terjadi seratus ribu tahun yang akan datang. Semua itu benar-benar akan merusak bumi yang Pertiwi. Hingga tiba saatnya, para Lausius benar-benar kembali menjadi sebuah cahaya.
Mereka akan kembali ke jiwa asal mereka. Jiwa yang tersimpan dalam cahaya, dan mereka akan kembali kedalam cahaya yang penuh. Memulai jiwa mereka kembali seperti kuncup bunga teratai ungu.
Lausius yang terakhir, semua sudah di takdir-kan dalam kitab ramalan. Menunggu kedatangan mereka, maka akhir dari perjalanan para cahaya.
Para Lausius di berkati. Mereka memiliki tanda tersendiri di dada dan mata mereka. Lausius yang agung, terakhir di kandung. Seluruh keagungan memberkatinya.
Lausius pertama dan terakhir, mereka berasal dari jiwa yang sama. Dalam ribuan tahun, mereka bersemayam dalam jiwa yang bersih. Para Lausius akan hancur kembali ke jiwa asal saat mereka sudah selesai pada kehidupan mereka.
~
Sean terbangun dari tidurnya setelah dia mendengar suara ini. Ada ribuan manuskrip bersampul emas di depannya. Mereka bersuara, bersyair tapi tak tahu di mana rupa mereka. Yang terlihat hanya cahaya putih bersih.
"Sean?" terdengar suara lembut itu memanggil namanya. Suara itu berulang kali di ucapkan. Sean hapal suara siapa itu. Suara lembut sang Ibu. Suara itu membangunkan Sean dari tidurnya yang panjang.
Sean perlahan membuka matanya yang sayup-sayup sulit terbuka. Matahari pagi masuk ke dalam kamarnya, sehingga membuat matanya agak silau.
Di atas kasur sutranya yang berwarna putih, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih.
"Sean?" suara itu kembali terdengar. Suara yang terus memanggilnya berulang kali.
"Ibu?" ucap Sean. "Kenapa dia terus memanggil nama ku?" Sean heran. Sepagi ini tak biasanya sang Ibu memanggilnya terus.
Sean meloncat dari tempat tidurnya, lalu berlari menuruni anak tangga menghampiri suara yang terus memanggilnya itu.
"Ibu!" Sean memanggil sang Ibu juga. Sama halnya seperti yang Ibunya lakukan tadi. "Apakah itu Ibu?" ucap Sean memastikan. Dia menuju ke dapur. Suara itu berasal dari dapur. "Ibu, kau sudah kembali?" Sean melihat sang Ibu berdiri di dapur.
Dia sedang memasak. Ibunya datang sepagi ini. Biasanya sang Ibu sejak pagi sudah berangkat bekerja, bahkan jarang kembali ke rumah, kecuali...... Di akhir pekan.
"Ibu sudah kembali, Bu?" kata Sean kembali mengulangi.
"Tentu," jawab sang Ibu. "Kenapa kau menatap Ibu seperti itu?"
"Tidak," Sean menggeleng. "Tidak biasanya Ibu datang sepagi ini. Juga.... Memasak?"
"Ck,," sang Ibu men-decak. Anaknya itu berkelakuan aneh. Seakan seperti tidak suka melihat kehadirannya. "Bukankah kau suka saat Ibu memasak makanan untuk mu?"
"Tentu saja aku suka Bu," jawab sean. Tapi di heran saja, kenapa Ibunya ada di rumah. Bukan seperti Ibunya. Pikir Sean apakah Ibunya saat ini masuk agak siang. "Ngomong-ngomong, di mana Ayah, Bu?" tanya Sean.
"Ayah sudah berangkat sejak tadi."
"Berangkat!" Sean merasa aneh. Bukan seperti biasanya— mereka tidak di rumah sepagi ini.
"Kau bersiap-siaplah. Ibu akan mengantarkan mu ke sekolah pagi ini."
__ADS_1
Tidak. Ada yang salah. Ini bukan mimpi. Ini pasti salah.
Sean memejamkan matanya, entah kenapa kejadian pagi ini seperti mengulangi kejadian yang sudah berlalu. Saat Sean kembali membukakan matanya, dia melihat dirinya sudah berpakaian rapi. Dia hendak ke sekolah.
"Apa yang terjadi?" Sean memandangi seluruh tubuhnya. "Kenapa aku merasa kejadian ini mengulangi kejadian yang sudah aku alami."
Sean memikirkan ini dengan baik-baik. Oh, Ibunya sudah terlihat rapi dengan pakaian kerja. Di depan pintu, dia menunggu Sean yang tengah bersiap-siap.
"Apa yang kau pikirkan Sean? Sekarang sudah waktunya berangkat ke sekolah. Ayo berangkat sekarang kau akan tepat nanti!" kata Ibunya. Di depan ambang pintu itu, Sean melihat Ibunya sudah siap bergegas.
Tidak. Ini pasti salah. Aku tidak mungkin kembali ke rumah saat ini.
Sean memegang kepalanya— rasa sakit itu mengiang. Dia berpikir, bahwa ini hanya mimpi. Itu bukan Ibunya, tapi orang lain.
Sean melangkahkan kakinya keluar menuju pintu. Mengikuti Ibu yang sudah menunggunya. Saat hendak keluar, hal aneh itu terjadi. Bukan halaman rumah yang Sean temui. Tak ada mobil Ibunya yang terparkir di garasi, maupun taman kecil di depannya. Tapi, dia seperti berjalan di awan.
Ya, semua berubah menjadi putih— seputih sutra. Di depannya, Ibu, Sean melihat Ibunya seperti berjalan di atas awan. Dan, saat Sean melangkahkan kakinya mengikuti sang Ibu, tiba-tiba saja—
Semua berubah! Semula berjalan di awan putih, kini berubah menjadi sebuah tempat seperti bangunan tua terbengkalai. Dinding-dinding bangunan terbuat dari batu itu di penuhi tanaman rambat. Akar-akar merusak bangunan, Ibu Sean berdiri di depannya. Mereka seperti ada bangunan kuno. Langkah kaki itu membawa Sean entah kemana.
Sean memandangi bangunan kuno ini. Susunan batu membentuk tempat yang sedikit bergaya khas manusia pra-modern. Akar-akar pohon membuat tempat ini terlihat nyata, dia sudah berumur.
"Ibu!" Sean memanggilnya. "Kenapa kita ada di tempat ini? Ini di mana Bu?"
Ibunya tak menggubris Sean. Tapi—
"Edna. Kau harus pergi dari tempat ini. Aku tak akan membiarkan kau mati di sini. Kau harus selamat!"
Sean melihat pria tua yang pernah dia temui beberapa waktu yang lalu. Pria berjanggut putih dan kaki berkabut asap itu. Di bicara pada sang Ibu yang kini berpakaian aneh. Bukan berpakaian seperti biasanya. Namun, Sean sadar, pria tua itu kini menapak di tanah.
Uh, pria tua itu tidak lagi melayang di udara dengan kabut asapnya itu. Dia sudah bersikap normal layaknya manusia pada umumnya. Sean masih ingat, pria tua itu memiliki sebuah sihir.
"Dia! Bukankah dia orang tua yang pernah bertemu dengan ku dalam mimpi itu?" Sean mengingat-ingat. Benar, dia yakin, pria itu yang ada di dalam mimpinya. Mimpi saat Sean berada di awan, pria tua itu ada di depannya. Bersama sang Ibu, dia juga memegang tangan Ibunya erat-erat.
Sean panik. Ibunya bahkan tak melihat dirinya ada di hadapannya. Dia menangis, Sean mencoba memeluk juga memapah berdiri sang Ibu, tapi Ibunya tak bisa di gapai.
"Kenapa? Kenapa aku tak bisa menyentuh Ibu ku?" Sean bertanya pada dirinya sendiri. Dia melihat kedua telapak tangannya itu. Dia baik-baik saja. Dia melihatnya tak ada yang aneh pada dirinya, tapi kenapa tak bisa menggapai sang Ibu. Ibunya bagai bayangan dari asap yang tak bisa di sentuh. Sean bingung, bagaimana ini bisa terjadi.
"Tapi Ayah. Bagaimana aku bisa meninggalkan Ayah sendiri. Aku mengkhawatirkan Ayah!" kata sang Ibu tersedu-sedu.
Sean makin bingung, kenapa Ibunya menangis seperti itu, sementara dia seakan mengabaikan dirinya ada di sana. Dan pria tua itu, dia seperti tidak memperdulikan sang Ibu yang menangis terisak itu. Sean tak mengerti, apa yang membuat sang Ibu menangis seperti ini.
"Edna. Kau harus menyelamatkan putra mu. Kau harus meninggalkan aku. Jangan pikirkan aku, bagaimana pun aku bisa menjaga diri ku baik-baik." Pria tua itu berkata. Pria tua yang ada di mimpinya saat Sean berada di Padang rumput Amuria.
"Tapi Ayah!" terlihat oleh Sean, Ibunya seperti memohon. "Aku tidak bisa meninggalkan Ayah dalam keadaan seperti ini. Ayah satu-satunya yang aku miliki saat ini!"
"Ayah!" Sean mengerutkan dahinya. "Tidak mungkin jika Ibu memiliki seorang ayah. Ibu tidak pernah mengatakan pada ku kalau dia memiliki seorang Ayah. Apa pria tua itu kakek ku?"
Kejadian ini membuat Sean bingung, Ibunya terlalu banyak rahasia. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi jelas—Sean mendengar Ibunya memanggil si rambut putih dengan sebutan Ayah.
Dari belakang Sean, Ayahnya muncul. Seakan Sean seperti bayangan. Ayahnya seperti tak merasakan kehadirannya. Bahkan melalui tubuh Sean begitu saja, dia tak merasakan apapun.
"Edna, kita harus pergi dari sini," ucap sang Ayah. "Kita harus menyelamatkan putra kita. Kau harus melakukannya."
Sean makin bingung. Ayahnya pun terlihat berpakaian aneh ala orang-orang jaman dahulu. Non—modern, bahkan memanggil Ibunya dengan sebutan Edna.
Ayahnya memapah Ibunya berdiri. Meninggalkan sang pria tua beruban putih itu seorang diri.
"Ayah," ucap Sean. "Ini Sean! Apakah kau melihat ku?"
Lagi-lagi, orang tuanya itu mengabaikannya. Sang ayah justru melewati Sean begitu saja. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka mengabaikan kehadiran ku?"
Saat akan meninggalkan kuil tua itu. Sean mengikuti kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu, ini aku. Sean!" teriaknya pada kedua orang tuanya itu. "Ayah, Ibu, ini aku. Kenapa kalian meninggalkan aku!"
__ADS_1
Sean terus di abaikan. Kehadirannya seakan tidak di rasakan oleh keduanya. "Kenapa Ayah dan Ibu tidak melihat ku? Apa yang terjadi? Kenapa mereka mengabaikan aku?"
Sean memandangi seluruh detail tubuhnya. Memang dia terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang aneh, tapi kenapa mereka terus mengabaikan dirinya. "Ayah! Ibu!" teriak Sean lagi. Dia mencoba meskipun kehadirannya terus tak di lihat. "Ayah! Ibu! Ini Sean."
"Sean?" Ibunya menoleh, karena mendengar suara anaknya itu. Kali ini Sean yakin, sang Ibu bisa merasakan kehadirannya. "Sean? Itu kau kah nak?"
"Iya, Ibu. Ini Sean!"
Wajah yang sedang menangis itu, mendadak langsung mendekati anaknya itu. Dia memegang wajah anaknya dan menatapnya tajam. Air matanya meringis di balik pupil mata. "Sean, anakku. Kau baik-baik saja?"
"Sean baik-baik saja Bu," jawab Sean haru. "Kenapa kalian mengabaikan ku tadi."
Ibunya itu sudah terlihat menangis tersedu-sedu. Tidak tahu kenapa, saat melihat putranya itu, sang Ibu menangis deras, lalu memeluknya erat. "Maafkan Ibu."
"Maaf untuk apa Bu?"
"Ini pertemuan terakhir kita. Maafkan Ibu yang harus meninggalkan mu," katanya terisak. "Maafkan Ibu!"
Sean memandang wajah aneh sang Ibu. Lalu, dia berpaling melihat sang Ayah. "Ada apa ini? Kenapa Ibu berkata seperti itu Yah?" tanya Sean meminta penjelasan.
Ayahnya mendekati kedua orang yang paling ia sayangi itu. Lalu memeluk keduanya. "Ayah dan Ibu akan pergi. Kau harus bahagia tanpa kami Sean," kata ayah yang bahkan Sean tak tahu apa. Mereka berkata aneh, seolah-olah perkataan itu pertanda bahwa mereka tidak akan bertemu.
"Apa yang ayah ucapkan!" tandas Sean. "Sean tidak akan meninggalkan kalian. Sean menyayangi ayah dan Ibu!"
"Tidak nak!" Ibunya menggeleng seraya menahan isak tangis. "Ibu dan ayah harus pergi. Kau tidak bisa ikut bersama kami."
"Tidak Ibu!" sentak Sean. "Kalian tidak boleh pergi."
Sang Ayah menarik Ibunya menjauh dari Sean. Sean menarik tangan sang Ibu, dia tidak membiarkan mereka meninggalkannya. "Maafkan Ayah dan Ibu, Sean. Kami harus pergi!"
"Tidak! Ayah! Ibu! Kalian tidak boleh pergi!" teriak Sean tak rela. "Kalian tidak boleh meninggalkan Sean. Jangan pergi, Ayah! Ibu," Sean menangis. Melihat kedua orangtuanya begitu saja tak lagi memperdulikan dirinya.
Kedua orang tuanya itu tak berkata. Mereka tetap pergi, dan saat Sean melepaskan pegangan tangan sang Ibu. Keduanya terbakar, berubah menjadi abu.
"Ayah! Ibu!" teriak Sean. "Ayah, Ibu! Jangan tinggalkan Sean!" teriaknya lagi. "Ayah! Ibu! Jangan tinggalkan Sean."
"Sean! Sean!" Jessica membangunkan dirinya yang tengah mengiggau dalam tidur yang terlelap itu. "Kau kenapa? Apa yang terjadi Sean?"
Nafas Sean terengah-engah. Saat bangun, keringat sudah membasahi keningnya.
"Kau mimpi buruk sepertinya, Sean!" kata Jessica. Ya, anak itu mengigau. Dia menyebut kedua orang tuanya itu.
"Aku bermimpi. Aku mimpi Ayah dan Ibu pergi meninggalkan aku!" Sean memberitahu Jessica prihal mimpinya itu. Sean tidur menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Beruntung, Jessica membantu Sean sadar dari mimpinya itu.
"Itu hanya mimpi, kau tak perlu berpikir yang tidak-tidak. Mana mungkin Paman dan Bibi akan meninggalkan anaknya seperti ini," kata Jessica menghibur.
"Tenanglah nak. Kau akan baik-baik saja. Ayah dan Ibu mu meninggalkan mu hanya dalam mimpi, bukan sesuatu yang benar-benar akan terjadi," Gordon ikut bersua. Dia menyahut, mimpi buruk Sean memanggil kedua orang tuanya itu membangunkan dirinya yang juga hampir terlelap itu.
"Ini nampak nyata!" ucap Sean memburu panik. "Ayah dan Ibu benar-benar meninggalkan ku. Mereka....... Mereka hilang. Mereka menjadi abu!"
"Sean!" Jessica menenangkan remaja itu. "Kau hanya bermimpi. Itu sungguh-sungguh tak akan terjadi. Mimpi hanya—mimpi. Kau tak perlu mencemaskan-nya."
"Aku merasa mimpi itu seperti pernah aku alami. Aku merasa bahwa mimpi itu pernah terjadi sebelumnya," ucap Sean mengingat-ingat.
"Kau tidak perlu memikirkan mimpi itu. Sebaiknya kau tidur lagi, besok kita harus melanjutkan perjalanan menuju ke Padang pasir itu. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak saat ini. Kita akan kembali, aku yakin. Kita akan keluar dari tempat ini!"
"Benar apa yang di ucapkan si gadis kecil. Sebaiknya kau lanjutkan tidur mu. Kita perlu energi yang cukup besok," kata Gordon menyahut.
Apa yang di katakan oleh Jessica mungkin ada benarnya. Asumsi Sean mengenai mimpi buruknya itu bisa saja hanya karena Sean terlalu merindukan kedua orang tuanya.
Sean ingat, dia bersalah. Pergi tanpa meminta izin kepada kedua orang tuanya itu. Sean berharap itu hanya mimpi semata, dia tidak berharap itu akan benar-benar terjadi.
BERSAMBUNG
__ADS_1