Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 105


__ADS_3

KISAH DI MASA LAMPAU


"Bertahun-tahun Elius ingin merebut banyak hal dari kota saranjana. Kota emas itu sudah menjadi ambisi terkuatnya agar menjadi penguasa.


Mendapatkan Lausius muda merupakan pencapaian terbesar yang pernah dia impikan.


Melalui Lausius muda itu, Elius akan mendapatkan wajah awet mudanya. Juga menambah kekuatan sihirnya, itulah kenapa dia sangat berambisi ingin mendapatkan Lausius muda itu."


Di tengah perjalanan mereka, Gordon menjelaskan pada Sean juga Jessica mengenai kisah Elius. Gordon tahu banyak mengenai pemimpin para Gort itu. Setidaknya Gordon sedikit memberitahu keduanya mengenai kisah lain di tempat ini.


Mereka berada di jalan di tengah hutan. Lagi-lagi hutan, tak ada jalan yang mereka lintas selain hutan, bukit, lembah bahkan ngarai. Semua di lalui sama halnya seperti jalan sebelum-sebelumnya.


"Apa itu artinya Elius termasuk orang-orang jahat?" sahut Jessica. Sambil berjalan mengamati wajah bulat Gordon. "Dan juga.... Lausius, bagaimana nasibnya?"


"Sangat jahat," balas Gordon. "Lausius tidak hanya membuatnya kuat, tapi juga membuatnya berambisi ingin menguasai seluruh kota berlapis emas. Mengekspansi kekuatannya hingga ke tanah Hurian. Pulau beracun itu juga membuatnya terobsesi. Di sana, berbagai macam jenis racun bisa dia dapatkan. Itulah kenapa Elius menjadi musuh semua penduduk kota Saranjana, karena wataknya yang buruk. Terlebih akibat ketamakannya itu, membawanya menjadi pimpinan para Gort yang berwajah mengerikan itu."


Kisah masa lampau yang di ceritakan oleh Gordon sebenarnya menarik minat Sean untuk mendengarkannya, namun, ada satu hal yang tidak bisa dia mengerti. Mungkin sesuatu yang tidak masuk akal, yaitu, dia, si Elius! Siapa dia? Walau Gordon menjelaskannya tadi, tapi Sean tidak paham.


Sean memikirkan dia sejenak, si Elius ini membuat Sean kebingungan. Ah, makin masuk ke kota ini, begitu banyaknya misteri yang Sean makin tak mengerti.


"Lalu? Apakah kau tahu, siapa itu Edna?" tanya Sean menyela.


"Hohoho...." Gordon menyeringai tertawa, wajah itu begitu riang menenteng Godam besarnya itu. "Edna adalah putri Lord Shutanhamun yang melarikan diri. Dia–lah keturunan terakhir Tuan agung yang akan melahirkan Lausius. Setiap putri Tuan agung, mereka akan melahirkan tiga orang Lausius. Dan dua putranya sudah hancur menjadi cahaya, tinggal menunggu Lausius yang terakhir."


"Apa maksud mu, Edna itu masih hidup?"


"Sean, kenapa kau bertanya seperti itu?" Jessica menyela. "Siapa Edna? Kenapa kau nampak ingin tahu?"


"Itulah kenapa aku ingin tahu siapa itu Edna," kata Sean pada Jessica. Mungkin bertanya pada Gordon dia akan tahu suatu hal. Sean menantikan jawaban yang benar-benar mampu membuatnya puas.


"Dia masih hidup," kata Gordon menjawab. "Tapi tidak ada yang tahu di mana keberadaannya. Dia yang paling tahu di mana Lausius itu berada."


"Masih hidup?" mendengar jawaban itu, nendadak Sean menjadi rapuh. Dia berpikir setelah menggabungkan semua cerita yang dia ketahui ini dengan mimpinya. Sean berkesimpulan kalau—


"Apa mungkin—"


"Dia Ibu mu!" Gordon memberitahu. "Kau-lah Lausius yang di buru oleh orang-orang selain penyihir buta dan Elius!"


"Ibu ku!" Sean benar-benar tertegun. Firasatnya mengenai itu akhirnya benar. "Tidak mungkin!! Tidak mungkin Ibu ku adalah wanita yang aku impikan itu."


Sean tak percaya, dia hanya asal tebak. Mana mungkin pikir Sean bahwa Ibunya adalah wanita yang ada dalam mimpinya itu, juga. Ayahnya!!


"Tapi tenang saja Nak," ucap Gordon. Dia menepuk-nepuk pundak Sean, terlihat wajahnya agak santai dalam berkata. "Itu hanya dugaan ku saja. Belum tentu kalau kau adalah Lausius itu. Apalagi Edna adalah Ibu mu. Karena Lausius sebenarnya memiliki tanda juga aura yang mampu memikat siapa saja. Aku bisa merasakan siapa Lausius dan siapa yang bukan. Kau tidak memiliki aura itu, apalagi tanda yang akan membedakan mu dengan Lausius, aku hanya membual mengenai lelucon ini, sungguh."


"Lelucon?" Sean menirukan. "Itu artinya kau membohongi ku!" teriak Sean berang.


Gordon tertawa terpingkal-pingkal. Melihat Sean marah, dia merasa gembira. "Apa kau pikir aku serius mengatakannya!"


"Kau jangan terlalu mendengarkannya Sean. Orang-orang di sini terlalu banyak berbohong," sahut Jessica yang ikut berang.


Sean merajuk, si Gordon bertubuh gemuk ini telah mempermainkan dirinya. Jessica juga ikut merajuk, sahabatnya itu di buat bahan lelucon tak sedap si gigi palsu ini.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa mendapatkan pedang merah Marmaida itu? Kau tidak mencurinya dari si cantik itu bukan?" kata Gordon yang kali ini beralih berkata.


"Dia yang memberikan pada ku kala itu," balas Sean ketus. Dia masih belum bisa melupakan lelucon konyol Gordon.


"Beberapa waktu yang lalu," sahut Jessica menambahkan.


"Ehm....." Gordon mendeham. Mengurut lagi jenggotnya, tapi kini beralih merapikan kumisnya. "Tidak banyak orang yang bisa mendapatkan pedang merah itu. Tapi kau hanya sekali bertemu dengannya, tanpa pikir panjang si Dewi para Marmaida itu langsung memberikannya pada mu. Kau benar-benar spesial nak!"


"Biasa saja," balas Sean. "Bahkan aku sendiri tidak berharap jika aku bisa memiliki benda ini apalagi menerimanya dari Dewi itu. Dia secara suka rela memberikannya pada ku di istana Sadon."


Gordon menggeleng keheranan. Baru kali ini dia bertemu dengan anak yang tidak mau memperisai-kan diri dari ancaman. "Seharusnya kau beruntung, Nak," kata Gordon. "Kau satu-satunya bocah yang menerima benda milik Marmaida itu. Jika aku jadi kau, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Itu menurut mu, tapi Sean tidak!" sambar Jessica.

__ADS_1


"Kau juga mendapatkan benda itu dari ratu Marmaida itu, kau juga beruntung," ucap Gordon pada Jessica.


"Tapi sulit di kendalikan saat pertama kali mencobanya."


"Itu karena kalian belum menyatu dengan senjata ini," Gordon memberitahu. "Apa yang kalian rasakan saat pertama kali menerima benda itu."


"Berat," sahut Sean lebih dahulu. "Setelah beberapa kali mencoba mengangkatnya, barulah makin ringan. Bahkan aku merasa seperti memegang ranting kecil karena begitu ringan."


"Itu artinya, kau sudah mampu mengendalikannya," ujar Gordon. Pria gemuk ini agak takjub saat Sean memiliki pedang legendaris milik danau Osirus itu. Tidak banyak yang mampu mendapatkan si merah yang perkasa ini.


Karena jalan sambil berbicara, tanpa sadar. Langkah kaki mereka memasuki sebuah hutan Pinus yang luas. Ehm, hutan itu di penuhi salju putih bersih.


Di sana tidak terlihat ada bekas jejak siapapun yang melintasinya, kecuali..... Ada kelinci kecil, juga ada...... Rusa salju bertanduk panjang berundak. Kedua makhluk itu yang terlihat baru saja melintas di hutan bersalju ini. Kadang anak-anak itu bergumam takjub melihat hewan-hewan yang unik ini.


"Kita ada dimana ini?" tanya Jessica. "Tuan Gordon?"


"Lembah salju abadi!" jawab Gordon.


"Lembah salju abadi?" Sean menirukan.


Gordon mengangguk. "Tempat ini di huni oleh orang-orang bertopeng. Mereka biasanya menyerang orang-orang yang memasuki wilayah mereka. Suka menyantap daging mentah, kadang juga meminum darah. Mereka percaya pada suatu ramalan mengenai kaum mereka yang hampir punah itu."


"Apa maksud mu mereka berbahaya?" Sahut Jessica.


"Sangat berbahaya!" seru Gordon.


Ehm...... Tempat ini saljunya sangat tebal. Juga angin yang membawa salju turun terasa amat dingin. Jejak-jejak kaki mereka tertinggal selama melewati hutan Pinus bersalju ini.


Mereka menanjaki jalan yang agak meninggi.


Sekonyong-konyong mereka berjalan. Jessica, tak tahu melihat jalan atau tidak, dia tersandung.


BRUKK!!! Oh, gadis itu tersungkur di tumpukan salju.


"Aku baik-baik saja," balas Jessica santai. Dia tidak menerima uluran tangan Sean. Jessica ingin berdiri sendiri, tapi..... "Hei, apa ini mayat?"


"Maksud mu?" Sean bergidik tak paham.


Jessica membongkar tumpukan salju yang menjadi batu sandung-nya. Dia mengais salju itu, dan..... "Astaga!! Benar, ini mayat!" kata Jessica syok. Dia kembali menemukan sesuatu yang membuatnya agak merinding.


Gordon menyingkirkan Sean. Dia ingin melihat mayat itu. "Mayat!" kata Gordon ikut menirukan Jessica. Gordon juga mengais tubuh yang sudah terkubur dalam salju itu. "Hah...... Mayat ini!"


"Ada apa?" sambar Sean. "Apa kau mengenalinya Tuan benteng?" tanya Sean penasaran.


"Sangat kenal," jawab Gordon. Dia masih terpaku menatap mayat itu. Mayat yang sudah kaku hanya meninggalkan tulang saja. Dan Gordon melihat dengan jelas bahwa itu adalah mayat prajurit tempurnya. Dia bisa mengenalinya dari pakaian zirah yang mayat itu kenakan. Ada tombak, baju besi masih lengkap, penutup kepala dari besi yang ada rumbai-rumbai menjuntai berwarna merah.


"Siapa?" kata Sean lagi ingin tahu.


"Dia prajurit perang ku. Dia kembali ke kota atas perintah ku. Tidak ku sangka, dia mati di tengah perjalanan sebelum sampai ke kota meminta bantuan," ucap Gordon. Menyayangkan kejadian ini.


"Oh, aku turut prihatin," ucap Sean ikut berduka.


"Kau jangan bersedih, Tuan benteng perkasa," hibur Jessica. Dia mengelus lembut pundak pria bertubuh besar itu. "Aku yakin, dia sudah berbuat yang terbaik selama berada bersama mu."


"Aku tidak bersedih, hanya saja. Ku pikir dia sudah tiba di kota," ujar Gordon santai.


"Kau tidak bersedih?" Jessica berusaha memahami. Dia menatap wajah pria besar ini, dan yang terlihat memang dia berekspresi datar biasa saja. "Kau yakin tidak merasa kehilangan bawahan mu?"


"Hei nak," kata Gordon melirik Jessica. "Kau pikir aku pria seperti apa? Aku si benteng perkasa tidak pernah bersedih atas sesuatu yang sudah pergi. Kau harus berlapang dada saat sesuatu meninggalkan mu walau kau tidak rela melepaskannya."


"Kau yakin, kau kuat?" Sean mengkhawatirkan pria bertubuh besar ini, walau dia terlihat baik-baik saja. "Kau sepertinya tidak dalam suasana hati yang baik?"


Gordon yang tengah duduk meratapi kematian bawahannya itu, menatap Sean nanar. Ah, Sean membuatnya sedikit merasa aneh. Dia bangun dari duduknya, lalu.....


"Hei, apa yang kau lakukan!" teriak Jessica. Gordon dengan tangan besarnya itu memboyong kedua anak itu. Kebiasaan Gordon, karena badan besar dan tenaga kuatnya, dia membawa kedua anak itu pergi meninggalkan mayat yang sudah menyisakan tulang itu.

__ADS_1


"Dari pada kalian terus berkata omong kosong. Sebaiknya kita pergi dari sini," katanya ingin melupakan si mayat.


"Tapi kau harus menurunkan kami!" teriak Sean sebal. "Kau membuat ku hampir tak bisa bernafas!" ungkap Sean.


Ya, pria besar ini mengapit tubuh Sean dan Jessica di ketiaknya. Bak sedang mengapit karung kapas yang begitu ringan. Tidak peduli kedua anak itu meronta minta di turunkan, dia tetap mengapitnya. Si tubuh badak ini tak membiarkan mereka turun menginjak salju.


Tapi, saat Gordon berjalan sedikit agak jauh dari mayat. Tepatnya, di depan pria berbadan besar itu ada sebuah goa. Gordon mendadak berhenti, dia mendengar sesuatu. Di liriknya seluruh dahan pohon, area sekitar dia juga perhatikan. Setelah itu, dia menurunkan kedua anak ini. "Ada yang mencoba mengusik kita anak-anak," katanya memberitahu.


"Siapa?" tanya Jessica yang mulai waspada.


"Mereka..... Suku kanibalisme!"


"Ma..... Ma....ksud mu? Kita di kepung oleh makhluk penunggu hutan ini!" seru Sean yang sudah bergidik ngeri.


Gordon mencengkram pundak Sean, di tatapinya wajah anak itu. "Kalian harus waspada!" peringat-nya.


"Ba—baik!"


Sean dengan cepat mencabut pedang besarnya yang berwarna merah itu, dia siap siaga saat si Gordon menyuruh mereka waspada.


"Jessica, kau juga harus berhati-hati!" kata Sean ikut menyinggung gadis itu.


"Tenang saja Sean, aku bisa mengatasinya," teriak Jessica lantang. Mereka bertiga saling membelakangi.


Tapi hanya Gordon yang terlihat santai. Mungkin dia masih tertawa, bahkan Godam besarnya itu masih menempel di pundak. Kelakuan Gordon memang sulit di tebak, disaat Sean dan Jessica sudah carut marut dalam ketakutan, si beruang besar ini dengan santainya malah membersihkan karang gigi menggunakan secuil kayu kecil.


"Hei, Tuan benteng. Kenapa kau santai, apa kau tidak takut mereka menyerang?" kata Jessica menegur.


Mendengar Jessica menegurnya, Gordon membuang kayu kecil yang di jadikan sebagai pencongkel karang giginya. "Mereka sudah muncul. Untuk apa kau mencemaskan mereka. Siapa bilang Gordon akan takut jika mereka menyerang."


Sean membuang nafasnya. Dia lelah, pria ini sulit di tebak. Apalagi sikap santainya itu. Sean yang sudah memasang kuda-kuda, kini kembali berdiri tegak seperti sebelumnya.


"Kau selalu santai. Apakah kau tidak takut mereka menyerang mu secara tiba-tiba?"


"Untuk apa takut," jawab Gordon. "Mereka ada di depan mata. Bersiaplah!"


"Siapa? Dimana?" Jessica bersiaga.


Gordon mengacungkan Godam besarnya. Lalu berkata menantang. "Keluar kalian! Atau aku akan menyeret kalian ke neraka!"


Ucapan Gordon membuat makhluk yang di tantang itu keluar dari balik pohon-pohon. Oh, nampaknya mereka bersembunyi di pohon-pohon Pinus ini.


"Penyamaran yang sempurna," puji Sean. Menyeringai tertawa, melihat makhluk yang keluar dari persembunyian mereka.


ROAR!! Puluhan serigala keluar dari persembunyian. Mereka mengepung dari segala arah. Taring-taring mengerikan itu sangat cocok dengan rupa serigala yang besarnya hampir sama seperti ukuran Driyad.


"Anak-anak! Bersiap!" seru Gordon.


Para kawanan serigala itu kemudian meloncat ke udara. Mereka siap menerkam ketiganya.


ROAR!! Suara itu menggelegar di ikuti kuku-kuku tajam mereka yang siap menerkam. Gordon, dia melayangkan pukulan keras melalui Godam besarnya itu. "Enyahlah kalian wahai makhluk tak berguna!" erang Gordon berang.


BRAK!! BRUK!! Beberapa serigala itu terpelanting karena Godam tajam Gordon hingga Godam besar itu berlumuran darah segar. Salju putih nan bersih itu kini ternoda oleh cairan merah hangat itu.


ROARK!! Suara itu masih menggelegar. Suara ini amat garang, sungguh hewan yang amat buas siap menerkam Sean dari belakang. "Sean, berhati-hatilah!" teriak Jessica memperingati.


"Tenang saja. Aku bisa menghancurkan mereka!" jawab Sean berani. Di hadapannya, melalui pedang besar itu. Sean menghantam kepala-kepala para serigala salju yang berbadan besar itu.


"Enyahlah kalian dari pandangan ku!!" teriak Sean yang mulai berang.


ZRET!! ZRET!! BRUK!! Sean melumpuhkan beberapa serigala besar itu. Lalu berputar kesana kemari memenggal kepala makhluk buas. Sean melihat di belakang Jessica ada satu serigala yang hendak menerkam.


Dengan sigap, Sean meloncat ke udara. Pedang besarnya itu, tanpa ampun langsung memenggal kepala serigala yang mencoba mengganggu teman Sean. "Arghhhhh!" teriakan Sean ini mengakhiri pertarungan melawan hewan buas.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2