Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 07


__ADS_3

DENGARKAN AKU BAIK-BAIK


Alunan emosi yang menggebu, seolah emosi itu tak akan reda.


Sean dengan wajah kecewa khas remajanya, berdiam diri dalam kamar seraya mengunci rapat pintu kamar itu.


Sean tak ingin di ganggu siapapun.


Ibu, bahkan ayahnya sekalipun ia tak akan mengizinkan masuk kedalam bilik kamar yang sedang kacau itu.


Dari luar pintu kamarnya, Sean hanya mendengar suara ketukan pintu kayu yang di sertai suara sang ibu.


Tok Tok Tok Tok.


"Sean.... Apakah kau kecewa pada ayah dan ibu?" Ucap sang ibu sedikit cemas.


"Ibu tahu jika ayah tak akan mengizinkan mu liburan ke Bali, tapi setidaknya jangan biarkan ayah dan ibumu ini cemas. Ibu dan ayah akan sangat menderita jika terjadi sesuatu pada mu." Lanjut Nyonya Jane bicara panjang.


"Kau tidak marah bukan? pada ayah dan ibu," Nyonya Jane dengan nada memelas melanjutkan celotehnya dari luar pintu kamar Sean.


Namun Sean tak bergeming, ia tetap saja membisu kecewa. Bahkan membenamkan diri dalam larut frustasi.


"DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, nanti jika waktunya sudah tepat ibu akan membawa mu mengunjungi Indonesia. Ibu bukannya tak ingin mengizinkan mu liburan kesana (INDONESIA) tapi, ibu tak bisa membujuk ayah mu, ia terlalu keras kepala. Jadi ibu mohon sedikit mengertilah pada keadaan ini," lanjut nyonya Jane dengan nada mengiba.


Ia bicara seolah sedang memohon agar Sean tak kecewa pada dirinya dan suami.


"Kumohon dengarkan lah ibumu ini. Ibu dan ayah ada alasan khusus mengapa melakukannya pada mu. Jadi ibu mohon berhenti kecewa. Ayo kita pikirkan rencana liburan kita kesana lain kali,"


nyonya Jane benar-benar harus mengalah pada Sean akan hal ini.


Hingga dering telepon menghela bicara nyonya Jane. Ponsel nyonya Jane yang ia letakan di saku celananya itu berdering keras.


"Hallo, iya. Baiklah, tentu saja. Baik kami akan segera kesana." Secara pasif nyonya Jane bicara dengan penelpon itu, seraya mematikan panggilan teleponnya.


Nyonya Jane kemudian meninggalkan pintu kamar Sean, dan menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu.


"Mr. Emmirson menghubungi ku. Ia mengatakan bahwa ada keadaan mendesak di Frankfurt (Kota di Jerman, yang terkenal dengan perdagangan bursa efeknya), dan ia meminta kita kesana secepatnya," Ucap Nyonya Jane pada suami yang sedang mengelus-elus keningnya itu.


"Baiklah, urus semua keperluan kita, menuju Frankfurt. Aku akan meminta Yosa mengurus semua akomodasi pesawat dan hotel padanya," Jawab Tuan Dean menerima laporan sang istri. Ia tak ingin menunda kepergiannya.


"Tentu! aku akan menyiapkan semua keperluan kita sekarang." Timpal Nyonya Jane meninggalkan suami yang tengah duduk di sofa sendirian.


..

__ADS_1


..


"Oh,.. Aku tak menyangka jika aku harus meninggalkan Sean sendiri lagi. Pekerjaan ini sungguh membuat ku jauh dari putra ku," gumam nyonya Jane dengan nada lesu dan menyerah.


Satu persatu ia memasukan pakaiannya kedalam koper.


Terdapat dua koper di atas kamar tidur nyonya Jane. Koper besar berwarna hitam dan kuning itu terisi penuh oleh pakaian suami istri itu.


Rupanya perjalanan bisnis keduanya akan memakan waktu yang lama.


Hingga ia selesai menyiapkan semua perlengkapan perjalanan keduanya.


"Passport sudah, ID card sudah, dan aku rasa semuanya sudah lengkap," Gumam nyonya Jane yang masih dalam keraguan, apa yang belum nyonya Jane bawa dan apa yang masih ia lupakan.


"Sepertinya memang sudah tak ada yang aku lupakan." Nyonya Jane memastikan tak ada yang ia lupakan.


Perlahan ia mengeluarkan kedua koper besar itu dari kamarnya.


Melewati lorong demi lorong rumahnya yang besar.


Suara koper yang amat berisik dan bising.


"Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku akan bicara sebentar pada Sean," ucap nyonya Jane menyampaikan kesiapannya pada tuan Dean.


"Baiklah, sampaikan padanya bahwa kita akan liburan setelah pulang dari Frankfurt," kali ini Tuan Dean berucap pada Nyonya Jane sebagai sebuah tanda.


Tanda bahwa ia telah meredakan emosinya pada Sean tadi.


Kini hatinya yang sedang emosi lesu sudah terasa membaik.


Bahkan tuan Dean adalah tipikal suami yang cinta pada keluarganya. Ia adalah sosok suami yang setia dan penyayang.


"Tentu saja, aku rasa ia sedang tak ingin bicara pada ku kali ini. Tapi aku akan mencoba bicara padanya," Ucap nyonya Jane menyeringai.


Ia kembali meninggalkan sang suami di ruang tamu. Kali ini ia tak ingin memperburuk suasana hati Sean. Nyonya Jane hanya ingin mengatakan sepatah dua kata, kata pamit bepergian.


Setelah itu, tak ada hal lain lagi yang akan memperburuk suasana hati Sean.


Baginya Sean adalah putra kecilnya yang imut sehingga ia tak pernah menganggap serius sikap sewot Sean.


Dan lagi Sean bukanlah tipe remaja yang suka memendam masalah. Tentu nyonya Jane sangat menyukai sikap dewasa Sean jika ia tak lagi memendam amarahnya.


Menjadi kebanggan tersendiri bagi nyonya Jane memiliki putra tampan di hatinya.

__ADS_1


"Sean." Nyonya Jane memanggil putranya itu sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Sean ibu akan pergi ke Frankfurt. Apakah kau tak ingin mengatakan sesuatu pada ayah dan ibu?" nyonya Jane bertanya dengan harapan Sean sudah membaik tempramennya saat ini.


"Sean," Sekali lagi nyonya Jane memanggil putranya itu seraya mengetuk pintu.


Sementara Sean tak menyahut panggilan sang ibu.


"Sean, ayolah ibu mohon jawab ibu. Apakah kau ingin meminta sesuatu sebagai hadiah dari Frankfurt?" Tanya nyonya Jane sekali lagi.


"Aku tidak butuh apapun, tinggalkan aku sendirian." Tukas Steve menyingkat jawabannya pada sang ibu. Kali ini Sean menyahut dengan nada ketus.


"Baiklah!! ibu mengerti! ibu akan berangkat sekarang, jaga dirimu baik-baik ya sayang. Ayah dan ibu janji akan kembali secepatnya, dan kita akan pergi mengunjungi san Jose (ibukota negara di Amerika latin). Apa kau setuju?" tanya nyonya Jane.


Namun Sean tak mendengar ucapan sang ibu. Dan akhirnya Nyonya Jane paham bahwa Sean masih dalam tahap pubertas nya, maka Nyonya Jane pun meninggalkan lantai atas rumahnya.


Kembali lagi Nyonya Jane mendatangi suaminya yang telah lama menunggu di lantai bawah dengan suasana hati tidak tenang, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apakah sudah siap berangkat?" tanya Tuan Dean pada Nyonya Jane.


"Aku rasa tak ada apapun yang tertinggal, jadi kita bisa berangkat sekarang," Ujar Nyonya Jane menjawab dengan sigap.


"Baiklah. Omong-omong bagaimana Sean. Apakah ia masih tenggelam dalam emosinya yang kekanakan itu?" Lanjut tuan Sean bertanya.


"Ah, tidak juga. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Dia sepenuhnya masih membutuhkan waktu untuk memahami keadaan. Lagi pula dia sudah terbiasa akan hal ini. Sebaiknya kita bergegas, jika tidak nanti kita akan ketinggalan penerbangan sore ini!" Jawab nyonya Jane dengan nada tenang.


"Ya. aku rasa sebaiknya kita jalan sekarang. Toh Sean masih marah pada ku!" Tuan Dean dengan wajahnya tadi sedang semrawut pusing, kini telah sedikit membaik moodnya.


Sementara bagi Sean liburan kali ini, ia hanya ingin menikmati pulau Bali. Pulau seribu pure, dengan eksotisme alam yang indah.


Sunset yang tak terbayangkan begitu mempesona, hingga ia ingin merasakan rasanya memancing bersama sang ayah.


Mengunjungi Pantai Kuta, Nusa penida hingga Nusa dua Bali, ingin Sean rasakan jika benar ia bisa liburan kesana.


BERSAMBUNG....


catatan kecil penulis:


"Semakin kreatif anda, maka semakin banyak inovasi baru yang anda ciptakan. Maka perbanyaklah menemukan hal-hal yang kreatif."


****


****

__ADS_1


SARANJANA EPISODE 07


__ADS_2