Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 123


__ADS_3

Medusa menyatukan kedua tangannya. Menutup matanya sesaat, kemudian membuka kembali matanya, di ikuti oleh kornea mata yang sudah bersinar terang.


Suara iring-iringan tabuhan gendang dan seruling, menyemarakkan suasana pemujaan. Bagi Medusa, saat inilah yang dia harapkan. Pemujaan yang telah di tunggu-tunggu selama ribuan tahun, terlebih adanya Lausius saat ini.


Wahai leluhur ular dan roh penjaga. Malam ini aku mengadakan pemujaan. Seluruh kaum ular menyambut berkah mu. Berikan kami keabadian. Biarkan kami mencapai puncak kejayaannya. Biarkan kami menjadi pemuja setia mu tanpa mengabaikan semua berkah yang kau berikan. Antarkan kami di jalan menuju tanah surgawi, menapak jejak mu, menyembah keagungan mu.


Para roh ular. Berikan segala macam berkah surgawi. Mengendalikan awan Metis, menuju ke dunia nirwana. Turunkan berkah langit, agar kaum ular mencapai kesempurnaan. Menghindari tindasan, mengakhiri paceklik penyiksaan di dunia fana ini. Biarkan tanah surgawi jadi tempat abadi kami. Bersanding di sisi mu, melalui roh-roh alam.


Medusa mengucapkan permohonan pada dewa ular. Setelahnya, dia ikut menari. Setiap lekuk tubuh itu menari dengan sempurna, menghipnotis mata Sean agar terpaku pada tubuh langsing wanita ular ini.


Sementara Sean, dia melupakan tubuhnya yang terus bersinar. Garis bermotif indah di tubuhnya, seakan menandakan bahwa jalan surgawi sudah terbuka. Dia hanya terpaku pada satu titik, yaitu Medusa.


Sambil menari, Medusa sesekali melirik Sean. Lentiknya jemari itu makin menambah keanggunan si Dewi pelindung ular.


Patung ular yang ada di hadapan Medusa kembali bersinar. Sesaat kemudian, dari langit yang gelap di atas kuil, di puncak menara istana Medusa, cahaya besar nan terang muncul.


Semua kaum ular terpana. Sebagai pertanda bahwa pemujaan malam ini akan sempurna. Sean sedikit terpukau, dengan mulut ternganga. Setidaknya, dia tahu sedikit mengenai istana Medusa, dan kaumnya.


Medusa tersenyum miring, melirik Sean. “Waktunya sudah tiba pangeran,” kata Medusa mengingatkan.


“Pernikahan?”


Medusa mengangguk. “Sebentar lagi roh ular akan keluar.”


“Lalu?”


“Kalian akan menyatu!”


Medusa mendongakkan kepalanya ke atas, Sean pun ikut. Melihat ke atas. Di balik awan yang memancarkan aura kekuatan dahsyat, benar saja.


Roh ular leluhur kaum ular keluar. Berputar-putar di udara. Ada seperti uap keluar dari tubuh roh ular itu. Layaknya baru keluar dari tempat yang paling dingin.


“Dia kah roh ular itu?” tanya Sean.


Medusa mengangguk kembali. “Malam ini keberkahan itu akan membawa kaum ular mencapai puncak kesempurnaan.”


Ehm. Sean paham. Oke, dia mengerti pada pemujaan ini. Tidak perlu lagi di jelaskan.


Medusa menutup matanya, Sean melihat kontur wajah yang tegas itu. Mulutnya komat-kamit, seakan dia sedang membacakan sebuah syair.


“Roh ular para dewa. Malam ini Lausius ada di hadapan kalian. Maka, gabungkanlah segala inti kekuatan kalian dengan aura Lausius!”


Aura pemanggilan. Medusa meminta roh ular yang ada di atasnya, melakukan tugasnya. Ular roh itu bekerja, dia turun mendekati Sean. Sean mundur beberapa langkah, Medusa melongosnya.


“Jangan khawatir pangeran. Dia ingin menggabungkan jiwa kalian!” kata Medusa meyakinkan.


“Aku?” tanya Sean santai.


“Cahaya yang bercampur roh akan menjadi dua kekuatan inti yang tertandingi. Pangeran akan menjadi makhluk paling kuat saat ini jika melakukan penggabungan jiwa.”


Sean berdebar, apalagi ular roh yang ada di hadapannya hanya berjarak beberapa centi. Sebalnya, lidah ular roh itu menjilati wajah Sean. Membuat Sean geli dan tak berani menolak.


Medusa tersenyum bahagia, di ikuti lirikan dari kornea mata yang bersinar itu. Sedetik kemudian, roh ular yang besarnya empat kali lipat dari pohon kepala ini, menjalar di tubuh Sean.


“Hei. Ada apa ini?” tanya Sean. “Akh.... Kenapa dia.....”


Belum terjawab pertanyaan Sean, roh ular masuk kedalam tubuh Sean. Yang membuat anak itu mengerang hebat. Mungkin Sean merasakan kesakitan.


Roh ular besar itu memaksa masuk ke tubuh Sean melalui tanda lahir di dadanya. Dan rasanya lebih sakit dari pada menyerap kekuatan dari batu permata sebelumnya.


“Akh....” Erang Sean kesakitan. “Cepat lepaskan aku. Siapapun di antara kalian!”


Medusa mendengus. Bahkan inilah jalannya. Ular itu sudah menggabungkan jiwanya dengan jiwa Sean. Sean menekan dadanya keras, sebab roh ular itu sudah menembus dadanya. Lalu menghilang di dalam sana. Padahal ukurannya amat besar, hebatnya bisa menembus kulit Sean yang tipis dan tubuhnya yang kecil.


Semua kaum ular ternganga. Tak terkecuali Medusa, dia tersenyum puas. Leluhur ular yang ada di belakangnya, mendekati Medusa. Dengan tangan membawa sebuah kendi kecil berisi air suci.


“Setelah ini. Kalian akan menikah,” bisik si tua.


“Perintahkan semua kaum ular agar terus melanjutkan tariannya,” balas Medusa.


“Tentu.”


Tetua kaum ular berbalik. Menghadap ke seluruh kaum ular yang bergumul.


“Sesuai perintah ratu. Tarian ular kalian di lanjutkan. Biarkan dewa ular puas pada pemujaan kali ini,” kata tetua ular pada kaum ular di depannya.


Mereka semua mengangguk. Para penabuh genderang makin semangat dalam menabuh gendang mereka. Suara musik makin menggema. Tarian berjalan, Medusa terlihat senang. Mengusik setiap Sukma, membuat semua orang terpana.

__ADS_1


“Akhirnya. Selama ribuan tahun, aku bisa mendapatkan Lausius ku. Terima kasih para roh ular.”


Pandangan Medusa tak teralihkan. Tetap terpaku pada Sean yang hampir saja mencapai puncak keabadian kekuatan. Gabungan yang sempurna. Tubuh Sean berwarna, membuat anak itu menghipnotis semua mata.


“Akh.....” Ini adalah teriakkan terkahir Sean. Dia melepaskan aura yang ada di tubuhnya, di ikuti kesempurnaan penggabungan dua kekuatan dahsyat.


Setelah semua ini berhasil, Sean kembali normal. Napasnya terengah-engah, bahkan hampir tak bisa bernapas. Akan tetapi, dadanya berdegup kencang. Tidak seperti biasanya.


“Pangeran!” Medusa memegang pundak Sean. Dan Sean sadar, dia kembali pada tubuhnya yang normal. “Kau sudah menyelesaikan ritual pemujaan!”


“Secepat ini?” tanya Sean.


Medusa mengangguk. “Kau berhasil mencapai puncak keabadian.”


Sean memperhatikan dengan teliti tubuhnya. Benar, kini tubuhnya makin ringan rasanya. Bahkan seringan kapas.


Sean mencoba mengeluarkan kekuatan dari tangannya. Tentu saja, api merah muda keluar dari tangannya.


“Apakah kekuatan ini yang kau inginkan?” kata Sean pada Medusa.


“Kekuatan itu akan menjadi milik pangeran. Akan tetapi, jika kita terikat dalam pernikahan, maka kekuatan itu bisa tersalurkan kepada ku.”


“Oke. Kita menikah sekarang,” sambar Sean tanpa berpikir panjang.


Dia malas berlama-lama di tempat ini. Apalagi, hanya ada dirinya yang berkaki di sini. Tak ada yang lain. Sementara yang lainnya, ekor semua. Sean sebal melihat gaya jalan mereka yang menggeol. Seolah jalan mereka menggoda.


Medusa mendengkus tersenyum, bahkan ini yang paling manis dari semua senyum yang dia hias di wajahnya.


“Tetua.”


Ketika memanggil si tua, pria beruban itu langsung mendekat.


“Hamba yang mulia ratu,” ujarnya hormat.


“Laksanakan upacara pernikahan ini secepatnya!”


“Tentu saja ratu. Aku akan melakukannya dengan baik.”


Medusa dan Sean di tuntun oleh tetua ular naik ke pelataran kuil. Di hadapan seluruh kaum ular, mereka akan melaksanakan pernikahan. Mendekati patung ular, meminta berkah dari dewa suci Medusa.


“Jika aku bisa mengembalikan kekuatan yang di berikan oleh para ular ini pada Medusa. Maka aku bisa pergi mencari Edward dan Jessica. Setelah itu aku akan kembali ke tempat asal ku. Ibu, Ayah. Maafkan Sean yang selalu membuat kalian khawatir.”


Wajah Sean tak sedih, hanya pikirannya saja yang terbawa kembali mengingat orang-orang yang dia cintai. Seandainya dia bisa menangis, mungkin Sean akan menangis menyesal. Terutama pada sang Ayah, Sean tahu pasti Ayahnya akan marah besar kali ini.


“Pangeran,” Medusa tersenyum pada Sean. “Aku harap kau menjadi pendamping ku dalam memimpin tanah kaum ular.”


Yah, Sean tak peduli. Bahkan dia hanya ingin segera berlalu dari tempat ini. Tak ingin lagi melihat orang-orang berekor ini.


“Ratu dan pangeran. Mari kita mulai ritualnya,” kata tetua kaum ular.


Medusa siap, namun Sean terlihat sendu—walau dia sudah siap. Medusa tak memperhatikan wajahnya, dia hanya fokus pada ritual ini.


Tetua ular menyemprotkan sedikit percikan air ke tubuh keduanya. Air suci, berkat dari dewa ular.


“Wahai penguasa roh ular. Hari ini, pimpinan tertinggi kaum ular akan mengikat pernikahan dengan putra cahaya. Maka berkahi ritual ini—agar kaum ular terbebas dari sengsara.”


Medusa dan Sean berdiri di bawah cahaya dahsyat yang keluar dari balik awan yang gelap. Dan ini adalah puncaknya.


“Keabadian akan menjadi milik kaum ular,” gumam Medusa pelan.


Dari atas, Elius yang terus memperhatikan keadaan di bawahnya mendengkus tersenyum. Dia melirik Nekabudzer, mengode dengan isyarat senyum kecutnya itu—bahwa mereka sudah mencapai puncak rencana.


“Ayo kita turun sekarang,” ajak Elius.


Nekabudzer tidak menolak. Elius sudah mengepakkan sayap birunya menukik tajam ke bawah. Mereka menapakkan kaki, namun tak sampai menyentuh gurun pasir.


“Kau yakin akan melakukan pernikahan ini?” kata Elius dengan sombongnya. Dia berkata, menghentikan tetua yang sedang be-ritual.


“Elius!”


Medusa tidak kaget pada kedatangan pria itu. Akan tetapi dia lebih terkejut ketika ada Nekabudzer di sebelahnya.


“Hahaha.... Medusa nampaknya lupa kalau seluruh Lausius. Hampir semuanya aku yang menguasai!”


“Jadi sekarang kau ingin mengambilnya!” Medusa menimpali.


“Hahahha..... Medusa sepertinya paham siapa Elius!”

__ADS_1


Medusa cukup mengenal si sombong. Alih-alih takut, justru Medusa melongos dengan senyum meledek. Bukan ini yang dia harapkan, bertarung dengan Elius. Tetapi melawan Nekabudzer.


“Apa kau yakin benar kalau kau bisa membawa Lausius pergi bersama mu?!” tanya Medusa dengan gairah meledek.


“Apa maksud mu?” Elius meliriknya sinis, dia bertindak gegabah. Namun dengan cepat Nekabudzer memegang pundak Elius. Nekabudzer tahu, Elius sudah terpancing oleh emosinya sendiri.


“Kau terakhir kali kalah melawan Lausius. Apa kau yakin kali ini bisa mendapatkannya kembali!”


Sial. “Kau....” Elius benar-benar terpancing emosinya. Namun Nekabudzer kembali menahannya.


“Jangan gegabah,” katanya menghentikan. “Gunakan kelembutan menghadapi wanita ular ini.”


Medusa mendengus, senyum pahit mulai mengembang di wajahnya. “Nekabudzer. Walau aku tahu kalian tidak pernah gagal mendapatkan Lausius. Namun kalian bukanlah tandingan ku!” katanya pada Nekabudzer. Meledek dengan ucapan merendahkan.


“Hah..... Kau benar-benar sombong ratu ular.”


Nekabudzer sedikit tersinggung, akan tetapi dia menyembunyikan rasa kesalnya di balik wajah yang terlihat tenang dan santai.


Dari atas, Zumirh rasanya puas. Dia bisa tahu percakapan orang-orang di bawahnya dengan jelas. Tanpa terhalang apapun.


“Kau lihat. Elius memang bukan tandingan kita jika kita mengambil kesimpulan. Kekalahan melawan Lausius kemarin, bukanlah sesuatu penghinaan bagi Elius.”


“Kau benar,” Zurry menyahut. “Dia patut di anggap sebagai lawan terberat. Aku yakin, kekalahannya kemarin melawan Lausius adalah tak tiknya saja.”


“Baguslah jika kau sadar. Lain kali jangan meremehkan lawan-lawan mu. Atau kau akan kalah jika tak bisa menyeimbangkan emosi dengan kekuatan mu.”


Dia tidak berusaha menasihati Zurry. Hanya mengingatkan saja. Sebagai saudaranya, Zumirh cukup perhatian pada saudaranya yang selalu bertindak gegabah ini.


“Tidak lama lagi, dewa iblis akan datang. Maka kita akan menjalankan rencana kita,” ujar Zumirh mengingatkan.


Zurry mengangguk paham. “Kita saksikan saja.”


Di bawah, Elius yang memprovokasi Medusa, nampaknya tak bisa diam. Mulut cerewet yang sombong itu terus saja bicara. Sean sampai pusing mendengarkan perdebatan yang Sean sendiri tidak paham.


“Aku hanya bisa diam saja. Biarkan mereka yang berkata,” gumam Sean pelan.


Elius melirik Nekabudzer, dia berisyarat. Nekabudzer paham, kemudian Elius tersenyum miring.


“Jika kau tidak mau menyerahkan Lausius pada secara baik-baik. Maka terimalah kalau kaum ular akan hancur di tangan ku.”


Elius mengeluarkan pedangnya di balik kekuatannya. Tangan yang kosong, kini di isi oleh pedang bergerigi tajam mengerikan. Siap menghujam siapa saja musuh yang ada di depannya.


Medusa mendengkus, senyumnya mulai melicik. “Jika kau berniat ingin mendapatkan Lausius dari tangan ku. Maka kau harus membayarnya dengan darah. Jangan harap kau bisa menghancurkan kaum ular ku. Itu hanya mimpi semata!”


Medusa tahu, Elius adalah yang terkuat. Akan tetapi, dirinya juga Dewi ular yang tak tertandingi. Kali ini dia ingin mencoba seberapa kuatnya pria ini.


Elius memiliki banyak prestasi dalam mendapatkan Lausius. Hal ini sudah bosan di dengar oleh Medusa.


Medusa mengeluarkan senjatanya juga dari tangannya. Dia siap menerima serangan Elius.


“Kau akan melihat, bagaimana rasanya bertarung melawan Elius. Hiya.....”


Sean memperhatikan, dia ternganga. Dua kekuatan besar sedang adu pedang di udara. Sayap-sayap mereka mengepak, membuat keduanya saling lempar serangan.


Mereka bertarung di udara. Mata Sean terpaku pada kecepatan keduanya. Nekabudzer tersenyum ketika melihat Sean ada di hadapannya.


“Aku harap, kali ini aku tidak akan gagal.”


TANG TING!!!


Suara adu pedang keduanya mengguncang istana Medusa. Kaum ular gaduh, sebab ini pertama kali melihat pimpinan pelindung kaum ular bertarung hebat.


“Hiya.....” Elius mencoba menyerangnya dengan kekuatan penuh. Medusa berhasil menghindar, sebab dia bukan lawan yang mudah di remehkan oleh Elius. “Kali ini kau dan kaum mu akan berakhir wahai ular menjijikan!”


Teriakan penuh provokasi itu tak lantas membuat emosi Medusa menggebu. Dengan santainya dia membalas Elius dengan serangan kekuatan yang besar pula.


“Kita lihat. Siapa yang akan kalah dalam pertarungan ini!” Medusa membalasnya dengan nyali menggema.


“Hiya.......”


BERSAMBUNG


Hai. Bagaimana dengan episode kali ini. Apakah kurang over power? Silahkan keluarkan unek-unek kalian, mengenai Sean. Apakah menurut kalian, Sean remaja yang lemah?


Berikan pandangan kalian yah mengenai Sean. Ngomong-ngomong, banyak bab yang aku asal publish tanpa edit dahulu. Jadi di maklumi yah jika ada typo atau semacamnya. Hehehe, aku malas merevisi ulang naskah akhir-akhir ini. Apalagi banyak novel yang aku tulis secara bersamaan. Jadi ide ku sering berubah-ubah.


Bahkan menulis pun, aku sering menggunakan sistem ketik sedetik (SKS) hehehehe. Di mana aku menulis amat ngebut, 180 km/jam hehehe.

__ADS_1


__ADS_2