Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 97


__ADS_3

Angin berhembus kencang membelah perkampungan. Oh, badai itu sungguh kencang. Sampai-sampai mata Sean tak berani terbuka. Banyaknya debu dan kotoran pasti akan menggelintirkan kornea matanya.


"Badai apa ini Sean!" Kata Jessica menutup matanya rapat-rapat. Melindungi wajahnya dengan punggung tangannya. "Mengapa begitu kencang."


Sean tahu bahwa badai ini mungkin lazim terjadi. Mungkin, beberapa saat kemudian badai ini akan berlalu. "Kita mungkin harus meninggalkan tempat ini segera. Aku takut roh-roh orang perkampungan ini marah."


"Aku sudah mengatakannya dari tadi," Jessica mengomel pelan. "Dasar manusia batu."


Ucapan Jessica tadi, oleh Sean yang keras kepala justru terabaikan ucapannya. Dan akhirnya ini yang terjadi, belum usai ucapan itu mengering di lidah, kini sama saja. Pada akhirnya Sean yang lebih dahulu mengajak Jessica meninggalkan tempat ini.


Jalan Sean tertatih-tatih. Setelah menuruni gundukan tanah dari kuil tadi. Perlahan badai angin yang berhembus kencang ini mulai reda. Jalan Sean tadi sempat menabrak pohon. Dia tidak melihat apapun, sehingga tidak sengaja menabrak pohon besar tadi.


Sean melirik Jessica, beruntung gadis itu tidak melihatnya ketiban sial, atau dia akan meledeknya sepanjang waktu. "Badai-nya sudah berlalu, kau bisa membuka mata sekarang!" tegur Sean.


"Oh, ku pikir belum reda."


"Sebaiknya kita cepat keluar dari sini. Aku rasa roh-roh itu mengisyaratkan sesuatu," ucap Sean mengingatkan. Sean mengajaknya meninggalkan kuil di dalam hutan itu menuju ke arah tempat semula mereka masuk.


"Tunggu Sean," Jessica menghentikan. "Bukankah roh-roh itu menyuruh pergi ke arah Utara. Mengapa kau ingin kembali ke tempat semula kita masuk?" tegur Jessica mengingatkan.


Ya, Sean ingat. Seharusnya ke Utara. Utara yang di maksud ke empat roh di pilar rumah itu menyuruh lari ke Utara.


Utara seharusnya ada di sisi jalan yang ada di sebelah kuil tadi. Jalan setapak itu seharusnya yang mereka tempuh untuk keluar dari tempat ini.


Sean sudah memikirkannya, dia ingin tidak mengikuti instruksi roh pergi ke Utara. Tapi.... "Kita jangan hiraukan apa kata mereka," ujar Sean bersikeras pada idenya. "Siapa tahu mereka hanya menyesatkan kita. Kau jangan terlalu percaya pada sesuatu yang tak nyata!" Sean hanya percaya pada apa yang dia pikirkan. Dia mengabaikan kata-kata empat roh di dalam kuil tadi.


Anak lelaki ini lebih memilih jalan ke tempat asal di mana mereka masuk. Ya, batu besar di luar tadi. Di sana jalan yang harus di tempuh untuk keluar dari sini. Sean hanya tahu jika ada pintu keluar, pasti ada pintu masuk. Selama menyintas, seharusnya pintu yang ada batu tadi tempat jalan keluar.


"Sebaiknya kita lari sekarang. Aku takut para roh itu sedang membangunkan para roh yang lainnya," kata Sean yang agak mulai mencemaskan. "Ini jauh lebih baik dari pada mengabaikan keselamatan kita."


"Kenapa tidak mengikuti kata-kata mereka saja, Sean?" rengek Jessica. "Pergi ke Utara. Mungkin mereka menunjukkan jalan yang benar," kata Jessica kontra pada pemikiran Sean.


Sebenarnya Jessica percaya tidak percaya. Tapi.... Kata-kata tadi, dia merasa ucapan para orang-orang mati itu ada benarnya. Tidak ada salahnya jika mencoba mengikuti perintah arwah-arwah itu. Selama belum mencoba, bagaimana mereka akan tahu apakah jalan keluar benar-benar ada di Utara atau tidak.


Melihat Jessica yang terlalu banyak berpikir. Sean menarik lengannya, dia langsung membawa Jessica keluar dari bukit di dalam hutan itu.


"Hei Sean, apa yang kau lakukan!"


Jalan yang tergopoh-gopoh, karena begitu cepatnya dia berlari, Sean meliriknya sebentar. "Keluar sekarang. Aku rasa ini pertanda buruk."


"Kau berkata apa Sean. Mana mungkin ada pertanda buruk!"


"Kau percaya saja pada ku. Kali ini aku yakin, pasti ada pertanda tidak baik di sini," entah apa yang Sean pikirkan. Dia mulai mencemaskan sesuatu yang tidak pasti.


Tepat menuruni gundukan tanah yang membentuk bukit kecil itu, setelah melewati rumah di ujung jalan perkampungan. Tiba-tiba perkampungan itu berubah menjadi hening.


Horor rasanya bagi Sean karena suasana begitu makin mencekam di tambah dinginnya udara yang menusuk kulit seakan ikut meramaikan suasana kengerian.


Sean tiba-tiba berhenti. Dia tahu, pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Lebih tepatnya, Sean memperkirakan para roh itu keluar.


"Kenapa kau berhenti Sean?" tanya Jessica. "Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?"

__ADS_1


Sean melirik ke kiri dan ke kanan. Bola matanya bergerak mencari sesuatu yang aneh. Tepat, lirikan Sean mengarah pada Jessica.


Sean mencabut dan menghunus pedangnya pada Jessica. ZRING! ZRING! Sean berusaha menebas tubuh anak itu. Jessica mundur, karena Sean tiba-tiba menyerangnya.


"Apa yang kau lakukan, Sean?" tanya Jessica lagi. "Apa kau ingin membunuh ku?"


"Kau bukan Jessica!" teriak Sean. "Siapa kau?"


"Aku Jessica!" Jawabnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu."


Argh!! Sean tak percaya. "Kau bukan Jessica. Kau pasti telah menipu ku!" Dia mengangkat kembali pedangnya, lalu menebas tubuh Jessica hingga terbelah menjadi dua. Darah segar itu mengalir dari tubuh Jessica.


Terlihat wajah terakhir gadis itu. Wajah yang terlihat tak bersalah.


Jessica terkapar di atas jalan bebatuan itu. Sean tidak menyesali perbuatannya. Jessica terlihat sudah tidak bernyawa. Usai menghunuskan pedangnya di tubuh Jessica, Sean merasa sangat lelah. Nafasnya memburu, Jessica yang ada di hadapannya sedikit lincah.


Saat Sean menundukkan kepalanya, menopang di atas gagang pedang. Tiba-tiba saja, tubuh Jessica yang terbelah dua di jalanan tadi, kembali menyatu. Seakan tadi bukan tebasan, tapi hanya luka biasa.


Darah-darah yang mengucur bahkan sudah menyerap kedalam tanah itu, kembali ke tubuh Jessica. Sialnya, Sean sudah tahu bahwa itu bukan Jessica.


Sean sadar saat ada badai tadi, di sana, saat Sean menarik tangannya, gadis itu menjadi sangat dingin. Padahal Jessica tidak pernah dingin.


Telapak tangan temannya itu selalu hangat dan agak sedikit kasar. Tetapi, Jessica yang ada di hadapannya itu memiliki tangan yang lembut, Kuku yang panjang dan dingin. Sean sudah mencurigainya. Sean ingat, tadi di dalam hutan badai itu berhembus kencang. Sean yakin sekali, saat itu Jessica telah berubah menjadi Jessica yang lain.


"Ha-ha-ha!" Suara itu terdengar terbahak-bahak. Jessica yang ada di hadapannya itu, perlahan menunjukan identitas aslinya pada Sean. Wanita cantik dengan pakaian hitam. Berlenggak-lenggok menggoyangkan pinggulnya. Berjalan mendekati Sean, ah, Sean hapal. Dia si penyihir buta yang merubah penampilannya menjadi lebih cantik. Itulah kebiasaannya demi memikat lawan jenis.


"Kau ternyata bisa mengenali ku rupanya Tuan Lausius ku," lirihnya dengan ucapan menggoda. Penyihir buta mengitari tubuh Sean, menyentuh dan meraba kulit wajahnya yang mulus, uh, dia amat ingin menggoda Sean. "Pangeran tampan ku. Kau benar-benar memikat ku kali ini," katanya merayu.


"Hahaha," dia kembali tertawa melahai terbahak-bahak. Tawaan terpaksa. Ya, si penyihir buta tertawa memaksakan diri. "Kau pikir penyihir buta hanya ada satu."


Sean tahu, si buta yang mati semalam di tangannya itu bukanlah si buta yang ada di hadapannya. Tapi, si buta yang lain. Rupanya kali ini juga berbeda, walau Sean tak tahu. Sebelumnya Sean tak pernah melihat wajah si buta yang mati di goa itu, lantaran sihir pemikat ada di wajahnya. Jika Sean melihat wajah mereka yang cantik, maka Sean akan terikat oleh sihir itu.


"Kau pasti menginginkan hal yang sama seperti si buta lainnya? Begitu-kah tujuan mu datang ke sini?" Sean mencoba menebak. Semua penyihir buta mengatakan dia Lausius, bahkan Sean tidak tahu siapa itu Lausius.


"Tepat sekali," si penyihir buta menjentikkan jarinya. Di depan wajah Sean, dia terlihat kegirangan. "Semua penyihir kaum manun sangat menunggu kelahiran Lausius yang terakhir. Tidak ku sangka, ternyata rumor yang mengatakan Lausius terakhir memiliki aura yang kuat, memang tak bisa di bantah oleh siapapun yang melihatnya. Oh Lord, mengapa mahakarya yang satu ini sangat sempurna. Elok di pandang, wajah bersinar, tubuh yang kekar, semampai dan gagah. Aku yakin, jika aku memiliki Lausius seperti mu, kekuatan sihir ku akan bertambah."


Sean mendengus, walau dia tidak tahu siapa itu Lausius, dia juga tidak berharap kalau si makhluk ini mampu menarik perhatiannya. "Apapun yang kau katakan, aku tidak akan pernah peduli," ucap Sean acuh tak acuh. "Dan, aku bukan Lausius seperti yang kalian perebutkan! Aku hanya anak yang tersesat di hutan ini, jadi jangan berharap aku akan tunduk pada mu!"


"Hou... Jauh-jauh aku datang dari selatan. Hanya ingin menemui mu. Oh, sungguh tak di sangka, Lausius kali ini jauh lebih pemberani dari Lausius lainnya," kata penyihir buta. Tidak peduli Sean berkata apa, dia sudah menemukan incarannya. "Aku tawarkan diri mu Pangeran Lausius ku. Menikahlah dengan ku, maka aku akan menjamin kau bisa menemukan teman mu, si anak tidak berguna itu."


"Eed," ujar Sean membesarkan matanya. Sean berpikir tidak mungkin Jessica yang dia maksud. "Di mana dia sekarang. Katakan!!" tuntut Sean padanya.


"Oh," si buta mendesah. "Tidak semudah itu kau bisa menemukan teman mu. Kecuali menikahi ku, baru aku akan memberikan teman mu yang tak berdaya itu."


Teman tak berdaya. Sean berang, para penyihir sudah cukup bermain-main dengannya. "Kalian para penyihir. Seharusnya aku menumpas-kan kalian sekarang juga!"


Sean mengangkat pedangnya, dia sudah muak dengan permainan para penyihir yang mencoba memanipulasi dirinya melalui trik-trik kotor mereka. Penyihir buta itu, di depan Sean, sasaran yang sempurna untuk di serang.


"Huh, ingin membunuh ku. Coba saja kalau kau bisa!"


Penyihir buta bukanlah makhluk yang bisa di bunuh semudah pemikiran Sean. Serangan Sean mungkin mudah terbaca, secepat kilat si penyihir buta sudah ada di depan Sean. Dia mengembuskan sesuatu di tubuh Sean, sehingga tubuh Sean terasa mengeras dan kaku.

__ADS_1


Oh, dari mulutnya itu ternyata ada sihir. Sean tak tahu kalau tiupan angin yang keluar dari mulutnya adalah sihir pemikat.


Si buta melepaskan sihirnya. Sean tidak tahu sihir apa yang dia gunakan. Sean tak mampu bergerak, benar-benar kuat cengkraman sihir itu sehingga membuat Sean terpaku tak bisa berbuat apa-apa.


"Ingat. Penyihir buta memiliki sebuah sihir yang cukup membuat mangsanya mati dalam kesedihan. Apalagi kau, hanya Lausius tak berguna, jangan harap bisa lepas dari genggaman ku."


"Teman mu si penyihir buta di goa selatan sudah ku musnahkan. Kau pikir aku tidak bisa melakukannya pada mu!" kata Sean menantang.


"Jika kau bisa mengalahkan aku. Maka akan aku lepaskan kau. Tapi jika kau tak bisa mengalahkan aku, maka jangan harap kau bisa lolos dari jeratan asmara ku," wanita licik ini sedang berusaha memberikan opsinya pada Sean.


Sean menyungging tersenyum ikut melicik. Dia tidak takut, ada keberanian dalam dirinya. "Baiklah, aku terima tantangan mu."


Mendengar kata-kata ini, penyihir buta melepaskan sihirnya. Dia berharap bisa mengalahkan anak itu. Dan, sesuai perjanjiannya, Sean harus menikahinya.


Sean bersiap-siap dengan serangannya, entah bagaimana Sean akan mengalahkan si penyihir buat, Sean bingung. Gaya pertarungan Sean pun hanya sebatas serangan taekwondo. Dia tidak punya teknik khusus untuk menyerang si buta.


Sean melirik seluruh tubuh si buta yang menawan itu. Tubuh ramping itu di lihatnya hingga mendetail. "Apa kelemahan wanita ini. Bagaimana kau bisa mengalahkannya!"


Sean benar-benar bingung dan bimbang. Bagaimana jika dia kalah? Tentu saja pikir Sean dia harus menikahi wanita yang menjijikan itu. Kebimbangan ini membuat Sean ragu ingin bertindak. Sean tidak bisa memprediksi dengan benar apa yang harus dia lakukan.


Penyihir buta mendengkus. Melihat Sean yang belum bertindak, dia yakin anak itu kebingungan bagaimana bisa mengalahkannya. "Kenapa tidak menyerang? Kau ingin menyerah?"


"Tidak," balas Sean. "Aku memberikan kau waktu untuk menghirup udara sebanyak mungkin. Agar kau tak lupa kalau kau pernah hidup!"


"Kau mencoba memprovokasi ku?"


Sean menggeleng. "Kau hanya perlu di ingatkan. Bahwa nyawa mu ada di tangan ku!"


"Kurang ajar!" penyihir buta sudah geram. "Kau menghina ku!"


Celaka, dia sudah marah atas ucapan ku. Terlihat, wanita itu menyerang, kemampuan bertarungnya sangat kuat, Sean bukanlah lawannya.


Tapi, sebelum serangan itu sampai. Tiba-tiba.....


"Celaka. Mereka keluar!" kata penyihir buta. Entah apa yang dia katakan. Sean tak paham. Sean melihatnya seperti sedang ketakutan.


Ada apa? Kenapa dia tiba-tiba berhenti.


Sean bertanya-tanya, dia tiba-tiba lari.


"Kali ini kau bebas pangeran Lausius ku. Tapi ingat!! Kau tidak akan lepas dari genggaman tangan ku!" kata penyihir buta.


Di belakang Sean ternyata para roh menghampirinya. Melihat para roh itu, mendadak si penyihir buta memilih pergi.


"Kenapa dia pergi? Apakah para roh itu adalah kelemahan?" Sean mencoba menerka.


Dia pergi secepat kilat. Si penyihir buta memang benar-benar hebat. Sekali lihat saja dia sudah hilang di balik gundukan tanah.


BERSAMBUNG


Jangan lupa bantu rate yah. Berikan bintang lima pada novel ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar agar Author bersemangat dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2