
Sean dan tiga pengawalnya, memasuki sebuah lereng lembah bersalju. Kabut tebal, dan angin mengusik setiap kulit wajah masing-masing.
Kulit keempat pria itu pucat pasi, diterpa oleh angin yang amat dingin. Menggunakan penutup kepala, dan pakaian berjubah, sebisa mungkin mereka berusaha melewati salju yang tak berhenti untuk terus mengguyur. Walau pakaian yang mereka gunakan amat tebal, tapi itu tidak cukup untuk menghentikan dinginnya cuaca.
Jejak kaki pun hilang, diterpa salju yang menggumpal. Menandakan, bahwa tempat ini memang tak akan bisa berhenti di guyur salju.
“Tempat apa ini Driyad. Kenapa sangat asing dan begitu dingin?”
Sean bertanya, melirik pria yang berada persis di belakangnya.
“Pegunungan Utara pangeran!” balas Driyad. “Tempat ini di sebut tempat turunnya salju abadi. Itulah kenapa, salju tak akan berhenti mengguyur, jika kita tidak secepatnya keluar dari sini.”
“Begitukah?”
Driyad mengangguk. “Tapi agak sulit menemukan jalan keluar dari sini. Di depan sana kabut tebal menyelimuti karang-karang bebatuan. Aku takut, sewaktu-waktu bebatuan tajam itu runtuh saat kita melewatinya. Tidak hanya itu, kadang kita akan tersesat di tempat ini dalam waktu yang tak terhingga. Kecuali, kita benar-benar memahami jalur perjalanan.”
“Tetapi itu bisa di atasi, jika kita melaluinya dengan hati-hati, pangeran!” sahut Amuria. Dia tak sabaran, ingin menyambar ucapan Driyad.
“Kau hanya bisa berargumentasi, tapi tak tahu bagaimana keadaan sesungguhnya,” protes Driyad sebal.
“Kau kesal padaku?”
Driyad mengangkat kedua bahunya. “Kau pikir saja sendiri.”
Amuria mengerti, tingkahnya seperti seorang wanita. Jadilah, memahami karakter Driyad, dia berusaha tak lagi mencampuri ucapan Driyad.
“Oke. Aku akan diam!” balas Amuria mengalah. Mendengar ocehan Driyad, Amuria mencoba menulikan pendengarannya.
Sean melirik ketiganya. “Apakah tak ada jalan lain keluar dari tempat ini?” tanya Sean. Mungkin, dia butuh opsi lain untuk keluar dari salju abadi yang terus turun.
“Terbang!” sambar Crypto menggagas.
“Tetapi, itu konyol Crypto!” kata Driyad membalas. “Kau kan tahu, kabut bersalju sangat menutupi penglihatan kita. Bagaimana bisa kita melalui semua ini dengan terbang?”
“Setidaknya, itu adalah rencana ku. Tergantung pangeran, bagaimana keputusannya!”
“Sudah-sudah, jangan berdebat!” ucap Sean menengahi. “Kita susuri jalan ini saja. Jika tak ada pilihan lain, maka ini satu-satunya yang bisa kita lakukan.”
Kaki mereka terus saja melangkah. Ketiganya, terus menahan gempuran badai salju. Mendengar sikap bijak Sean, Amuria sangat setuju.
“Pangeran selalu benar! Aku menyukainya!”
Kira-kira, begitulah yang dilakukan oleh Amuria. Dia benar-benar sangat menikmati perjalanan ini bersama Sean.
Tapi ....
“Ada apa pangeran? Kenapa berhenti?” tanya Crypto bingung. Yang membuat konsentrasi ketiganya buyar.
“Cincin ini. Darimana aku mendapatkannya!”
Sean, dia terus memperhatikan cincin yang ada di tangannya. Cincin berwarna biru cerah, terus bersinar di jari Sean. Sean baru menyadarinya, saat cahaya itu mengundang perhatiannya.
Sean mencoba mengingat, darimana dia mendapatkan cincin secantik itu. Namun, ingatannya itu nihil. Tak sedikitpun memori ingatannya, datang memasuki saraf otak Sean.
“Itu adalah roh Dewi Medusa. Dia berubah menjadi cincin giok itu, saat pengeran menghalau Dewa iblis,” jelas Amuria mengenang.
Sean, dia tertegun. Sambil jari-jarinya memutar cincin biru bercahaya terang itu. Bentuknya sangat cantik, melingkar di jari telunjuknya. Bentuk sempurna ular, yang Sean yakini adalah tiruan dari tubuh Medusa.
“Dia mati!” gumam Sean.
“Benar. Dia mati ketika kita berada di Padang gurun itu.” Crypto mengingatkan.
Mencoba menolak untuk lupa, namun Sean tak bisa melakukannya. Dia benar-benar di buat tak bisa melupakan wanita ular itu. Sean mengeraskan rahangnya, dia mencoba memahami keadaan—bahwa wanita ular itu sudah mati.
Tapi, itu tak bisa. Sean tahu, dia berada di sekitar Sean, karena Sean memiliki jiwa dewa ular milik Medusa yang dia ambil kala itu.
“Pangeran. Kau baik-baik saja bukan?” tegur Driyad membuyarkan lamunan Sean.
“Aku baik-baik saja. Jangan di pikirkan!” balas Sean.
__ADS_1
Sean kembali melanjutkan perjalanan. Hingga mereka berada di sebuah lorong bebatuan. Membentuk sebuah jalan setapak, batu es yang amat licin ada di sepanjang celah bebatuan itu.
“Apakah jalan ini yang kau maksud mudah runtuh?" tanya Sean, melirik Driyad.
“Benar pangeran. Jalan ini di sebut jurang Kematian. Karena selalu meminta korban. Bebatuan, di sini, tak bisa terduga ketika runtuh. Itulah kenapa, jarang ada yang selamat saat menghindari gempuran batu yang jatuh dari atas.” balas Driyad merinci.
Sean mengangguk paham. Mencoba menerka mengenai tempat ini, matanya menelisik sekitar bebatuan.
“Ayo. Kita lanjutkan perjalanan ini!”
Berdiri di depan pintu masuk dua tebing yang menjulang, Sean kembali menjadi yang pertama. Tak takut akan adanya bahaya serta resiko yang tak terduga, Sean menolak untuk meninggalkan jalan yang nyaris dia capai.
“Pangeran tidak pernah takut melalui rintangan yang berbahaya. Apakah pangeran memiliki sebuah naluri hebat dalam mendeteksi ancaman?”
“Tutup mulut mu Driyad. Jangan bicara sesumbar!” balas Crypto sinis.
Melihat kedua temannya saling berbisik, Amuria hanya bisa membuang napas panjang. Menggeleng, seakan dia belum begitu memahami dua pria itu.
“Kalian selalu saja berdebat mengenai sesuatu yang masih terbilang rumor. Kapan kalian berhenti membisik!”
“Kau lelah mendengarnya?” lirih Crypto menginterupsi.
“Lebih dari itu!”
Tak tahu, apakah dia akan kalah berdebat. Amuria benar-benar di buat pusing oleh Crypto yang dingin, dan Driyad yang polos.
††††
“Zumirh!”
Zurry mengedarkan pandangannya. Baru saja kembali dari perburuannya, membawa rusa besar. Dia tak menemukan siapapun di istana dasar buminya ini.
“Zumirh. Kau dimana?” teriak Zurry kembali.
Memasuki tempat Sean di tahan, Zurry tak menemukan siapapun di sana. Kecuali, tempat kosong dan sepi.
“Kemana Zumirh. Juga pangeran Lausius itu. Kenapa mereka tidak ada di tempat?”
“Rantainya terbuka. Apakah Zumirh yang melepaskannya. Di tambah ada darah di belati, apakah Zumirh melakukan sesuatu yang ceroboh. Atau, dia sudah melakukan ritual persembahan ini?”
Zurry mengambil setetes darah yang masih segar di atas tempat tidur batu. Menghisapnya dalam-dalam, Zurry mengenali darah itu.
“Ini milik Lausius. Apakah Zumirh sudah membunuhnya?”
Tanpa pikir panjang, Zurry bergegas menuju ke penjara. Di sana adalah tempat persembahan Lausius untuk iblis. Setibanya di penjara yang sekaligus mengurung hewan peliharaan iblis neraka. Zurry tersengal kaget.
“Zumirh!” teriaknya histeris—ketika melihat adiknya dan hewan iblis sudah berlumuran darah segar.
Berlari menuju ke arah saudarinya yang terluka nyaris mati. Zurry memangku kepala adiknya dalam pelukan.
“Katakan Zumirh. Katakan, apa yang terjadi?” tanyanya memburu.
Darah segar membasahi lantai. Juga darah dari makhluk neraka, dia yakin ada yang sudah mengusik istananya.
“Apakah ini perbuatan Xavier dan Elius. Katakan! Apakah mereka yang melakukan!”
Zurry mengguncangkan tubuh Zumirh. Dia tak mampu berkata apapun, kecuali menyentuh wajah Zurry. Sambil terbata-bata, Zumirh mencoba menjelaskan keadaannya.
“Lau ..., Sius ....”
“Ada apa dengan Lausius! Katakan!”
“Dia ....”
“Zumirh. Zumirh. Katakan, ada apa?”
Zurry mengguncang tubuh Zumirh, berharap dia bisa melanjutkan kata-katanya. Tapi sayangnya, wanita itu lebih dahulu mati. Dia di beri kesempatan untuk bernapas tadi, namun itu tak bertahan lama. Dia tak bisa merinci kronologi kejadian ini pada Zurry.
“Lausius itu. Pasti Elius yang melakukan semua ini. Hanya dia yang memiliki kekuatan tinggi diantara kami semua!”
__ADS_1
Zurry mengepal keras tangannya. Dia sangat frustasi melihat kematian saudarinya. Zurry, tiba-tiba dia mengepakkan sayapnya.
“Elius harus membayar semua ini. Dia harus mati atas nama Zumirh!”
Tanpa pikir panjang, Zurry langsung meninggalkan istananya. Terbang secepat kilat, dia ingin menuju ke suatu tempat. Mungkin, istana Elius.
••••
“Haha ..., apakah ini akan menjadi akhir dari iblis neraka?”
Suara tertawa terbahak-bahak Elius, sebenarnya malas di dengar oleh Xavier. Namun, berhubung dia sudah datang ke istana para Tuan Gort ini, tak ada pilihan lain baginya—kecuali mendengarkan ocehan tak ada faedahnya.
Baiklah, Xavier mengakui, kalau dia harus bersikap baik pada Elius. Sebab, hanya pria ini yang masih bisa bertahan dari serangan Sean. Xavier lebih memilih ke istana Elius, daripada kembali ke istana dewa iblis neraka.
Pasalnya, Tuan yang dia agungkan, sudah mati. Begitu saja di tangan Sean, seakan takdirnya sependek ini.
Nekabudzer berdiri di dekat Elius. Dengan setianya, dia masih mengabdi pada Elius meskipun dia tahu, Elius itu licik. Duduk di singgasana mewahnya, Elius masih terlihat angkuh di mata Xavier.
Pria itu, dia sungguh-sungguh ingin menelan Elius bulat-bulat. Mengingat dia selalu berotak picik, tak bisa diragukan lagi, kalau Elius makhluk yang cukup berbahaya.
“Katakan Xavier. Apakah Lausius itu sudah menjadi daging cincang hewan peliharaan dewa iblis di istana neraka Zumirh?”
“Aku tidak bisa memprediksinya. Tapi aku yakin, ini tak akan lama. Pangeran itu pasti akan menjadi persembahan wanita iblis itu.”
“Apakah kau se-yakin itu pada kemampuan Zumirh?”
Xavier mengangguk. “Saat pertempuran di Padang pasir itu, pangeran Lausius bahkan tak berkutik ketika Zumirh membawanya pergi.”
“Bisa saja itu hanyalah triknya. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, kalau Lausius yang satu ini terkenal cerdik.”
“Aku tak bisa memastikannya. Namun, hanya satu kesimpulannya. Kemungkinan dia saat ini sudah menjadi persembahan dua iblis itu. Apakah sebaiknya, kita ke istananya sekarang!”
“Tidak perlu!”
Saat Xavier menggagas idenya. Sialnya sahutan Zurry lebih dahulu mengheningkan suasana.
Tiba-tiba secepat angin dia (Zurry)—sudah berada di altar berkarpet merah. Istana, yang di ketahui oleh semua orang—tempat sakral Elius. Tempat yang tidak boleh di injak oleh iblis rendahan termasuk Zurry dan Xavier.
Namun, saat itu menjadi pengecualian. Dia tak segan-segan memberikan sebuah jamuan atas kedatangan Zurry kali ini.
“Oh, Zurry. Dia sudah datang. Bagaimana? Apakah kekuatanmu perlu di uji. Apakah kekuatan Lausius itu sudah terserap sempurna kedalam tubuhmu?”
“Jangan bersikap sok seperti seseorang yang tidak mengerti keadaan!” tunjuk Zurry berang. “Kau pasti sudah merencanakan sesuatu!”
Mengacungkan pedangnya, Zurry benar-benar ingin memenggal kepala Elius saat itu juga. Dia tak bisa menahan emosinya, sedangkan Elius, semua orang tahu. Dia adalah makhluk yang paling tenang.
“Apa maksud mu Zurry. Aku tak begitu mengerti!” ujar Elius dengan senyum miring melicik. Pria ini terlatih dalam hal ini. Dalam hal berotak cemerlang, memahami keadaan.
“Apakah begini caramu dalam mengambil alih mangsaku. Kau diam-diam menyusup kedalam istana ku. Lalu kau membunuh hewan neraka. Juga membunuh Zumirh. Atas tindakanmu ini, aku akan membayarnya tunai untuk adikku!”
“Kau ...!”
Tanpa pikir panjang, sebelum Elius berkata lebih lanjut, Zurry lebih dahulu menyerangnya.
“Iblis kecil ini, dia mencoba bertindak di luar batas wajar. Aku yang akan menghalaunya!”
“Hentikan!” ucap Elius pada Nekabudzer yang ingin memulai pertarungan. “Dia memprovokasi ku. Maka, aku yang harus melayaninya!”
Nekabudzer mengurungkan niatnya untuk menggantikan Elius dalam bertarung. Sedangkan Elius, dia tersenyum miring saat pedang Zurry hampir mencapai keningnya.
Namun, sebelum pedang itu sampai, Elius lebih dahulu menghilang dari pandangan Zurry. Yang tersisa, hanya singgasananya.
“Sial, pecundang ini menghilang. Keluar kau!”
Zurry meluaskan pandangannya, mencari dimana pria itu berada, tapi ....
“Kau perlu belajar bagaimana caranya menjadi petarung sejati!” bisik Elius pelan. Hawa-hawa kengerian, memang menjadi citra Elius.
Pedang tajam di tangannya, kini sudah menepi di leher Zurry. Tanpa sepengetahuan Zurry, Elius sudah menyanderanya.
__ADS_1
Zurry terdiam, pedang itu telah menciptakan sebuah goresan berarti di lehernya. Membuat darah Zurry menetes. Zurry terdiam, suara Elius sangat lembut di telinganya.
“Aku akan membuatmu menyusul kematian adikmu yang malang itu!”