
Hujan kembali melanda perbukitan yang di lalui oleh Sean, Jessica dan Driyad. Hal ini memaksa ketiganya mencari tempat berteduh.
Beruntung, tak jauh dari lereng bukit terdapat sebuah kuil kuno yang berdiri di atas bukit yang lebih tinggi dari bukit lainnya.
Tanah yang bergelombang, membuat bukit itu nampak berada di atas ketinggian. Sean dan kedua teman yang mengikutinya, memilih berteduh dalam kuil itu ketimbang menerima terpaan hujan.
"Apa ini kuil?" Jessica bertanya memastikan dugaannya. Matanya melirik seluruh bangunan ini.
"Ya, ini kuil," jawab Driyad. "Kuil heksodus, kuil yang di bangun beribu-ribu tahun yang lalu," Driyad mencoba mengenang kisah masa lalu.
"Ehm..... Bangunan unik," ucap Sean menyahut. Tangannya menyentuh dinding-dinding kuil yang terbuat dari batu yang di bentuk menyerupai bata bangunan pada umumnya. "Tidakkah batu ini terlalu kuat sebagai pondasi bangunan?"
"Kuat?" Jessica mengulanginya. "Kuat seperti apa, Sean?"
"Kuat seperti bangunan pada umumnya. Namun konstruksi bangunan yang di buat dari batu ini terbilang sangat kuat dari pada bangunan yang di buat oleh manusia," Sean menebak. Matanya terpaku seraya tangannya tak bisa diam meneliti pahatan batu yang membentuk sebuah dinding kuil itu.
"Apa kau berusaha menjadi seorang ahli konstruksi bangunan?" Jessica menyindir.
"Tidak terlalu buruk," jawab Sean. "Tapi, apa kau tahu," Sean menatap Jessica, dia melihatnya dengan tatapan serius.
"Bangunan kuat seperti ini lumayan cukup menahan gempuran badai, gempa bumi dan semacamnya. Itulah mengapa aku menyukai bangunan ini."
Jessica ber-oh kecil. Dia tidak bisa menghentikan imajinasi Sean yang berada di luar batas wajarnya.
"Kau lihat, hujan di luar semakin deras. Cuaca terlalu buruk untuk anak-anak," Jessica memberitahu. "Jatuh sakit, tak ada obatnya di hutan ini."
Sean menyunggingkan bibirnya. "Aku terlalu kuat menghadapi air hujan," Sean berkata apatis. "Bahkan lautan akan aku arungi dan ku taklukan dengan tenaga ku."
Jessica hanya bisa pasrah melihat tingkah narsis Sean. "Kau begitu menyombongkan diri mu bung," Jessica berkata ketus.
Siapa peduli, selagi dia bisa memuji diri sendiri, tak ada salahnya. "Sebelum di denda karena memuji diri sendiri, ada baiknya berkata menyombongkan diri. Sombong itu wajar, asal jangan terlalu kurang ajar," Sean melanjutkan sikap narsisme-nya.
Hujan memang sedang turun deras. Kuil yang tidak terlalu besar, dengan bagian depan tidak terlalu menjorok kedalam, membuat air hujan bisa sedikit masuk kedalam teras karena gempuran angin yang menyeruak.
Sean menengadah-kan tangannya keluar, dia menampung air hujan seakan itu pertama kali baginya menyentuh air yang jatuh dari atap kuil.
"Kita masuk saja," ucap Driyad. "Lebih baik kita kembali bermalam di kuil ini, hingga hujan mereda," saran Driyad. "Setidaknya, itulah kegunaan tempat ini. Sebagai tempat teduh," Driyad sedikit berkata pelan untuk ucapannya yang terakhir.
"Aku setuju pada Driyad," Jessica sependapat. "Tinggal di dalam untuk sementara waktu lebih baik dari pada menunggu di luar."
"Tak ada alasan lain untuk ku menolak," Sean menyahut sederhana. Dia sedikit semangat menyetujui saran keduanya.
Jessica dan Driyad mengangguk girang, sebab Sean sependapat dan mau mengikut saran mereka.
Sean menjadi yang pertama dalam memegang gagang pintu kuil. Besar, pintunya menjulang tinggi, dua kali lebih tinggi dari tinggi Sean.
__ADS_1
"Ukiran yang indah," Sean memuji. Dia sedikit memandang pahatan pintu kuil yang berwarna kuning kecoklatan.
Pintu tidak terkunci, dan suara umum saat membuka pintu terdengar sedikit menyeramkan ini sering terjadi. Suara pintu yang terbuka khas suara pintu tua dalam film-film horor. Tak bisa di bayangkan seperti apa jadinya bagi Sean jika kuil ini benar-benar mencekam seperti kebanyakan fi film horor.
Sean membuka lebar daun pintu sebelah kanan. Sementara pintu sebelah kiri masih pada posisi semula, masih tertutup.
Dari dalam Sean nampak kaget, sebab ratusan kelelawar bergerombol keluar secara tiba-tiba saat Sean membuka pintu.
Sean mengibaskan tangannya di kepala, karena hewan malam itu terbang rendah di kepalanya. Menyentuh rambutnya dan sedikit membuat mahkota hitam Sean acak-acakan.
"Itu hal wajar terjadi, karena hewan-hewan itu melihat cahaya," Jessica berkata tenang. "Dan sangat terang."
"Info yang bagus," Sean bergumam kecil.
Lalu Sean melangkahkan kakinya masuk kedalam kuil heksodus. Pengap, sedikit gelap hanya ada beberapa penerangan dan sedikit di sayangkan, kuil ini ternyata agak usang.
"Tak terawat sempurna," Jessica berkata jengkel. "Mungkin tak ada penjaga di kuil ini, jadi, ya, terlihat lusuh tempat yang cantik ini," Jessica amat menyayangkan apa yang dia lihat. "Bagaimana Sean? Tidakkah tempat ini terlalu jorok," Jessica meminta pendapat.
"Oleh kelelawar," timpal Sean.
Jessica mengangguk, dia membenarkan ucapan Sean. "Mirip kandang sapi Tn. Roberto," timpal Jessica.
Sean sudah masuk makin kedalam. Dia berjalan pelan sambil mengamati sekeliling ruangan kuil yang agak gelap dengan remang-remang lampu kurang menjangkau sudut-sudut kuil.
Ada beberapa api sebagai penerangan yang tertancap di tangan tengkorak manusia. Di tengkorak yang Sean lihat, nampak jelas bahwa itu tengkorak manusia asli.
Di dalam kuil, berbeda dengan yang Sean lihat di luar. Di tempat ini jauh lebih luas dari dugaannya.
Lantai terbuat dari susunan batu-batu yang terukir oleh ornamen khas.
"Sedikit menyeramkan kuil ini," Jessica berkata. "Lebih cocok menjadi latar tempat film horor."
"Aku juga berpikir begitu," Sean menyahut senada.
Jessica mengikuti Sean, dia melihat sekeliling ruangan kuil. Dinding-dinding kuil terbuat dari susunan batu yang di buat sedemikian rupa. Sean mengetuk dinding batu itu, sedikit Pasih, ala-ala ahli bangunan sungguhan.
"Apa yang kau lakukan Sean?" tanya Jessica. "Apa kau sedang meneliti sesuatu?" Jessica berusaha menebaknya, Sean sedang sibuk pada kelakuannya yang tak bisa diam memecahkan misteri.
"Aku hanya memastikan kalau dinding ini terbuat dari batu" jawab Sean sambil mengetuk-ngetuk dinding. Sesekali dia menempelkan daun telinganya di dinding, seakan dia ingin menguping suara di balik dinding itu.
"Sudah jelas jika itu terbuat dari batu," Driyad menyeringai. "Kuil ini adalah kuil yang di gunakan sebagai persinggahan para pejalan jauh dan juga pedagang dari luar kota ini. Oleh karena itu di buatlah kuil dari batu, agar kuat dan awet. Bisa tahan dari serangan alam," Driyad menjelaskan.
"Itu artinya kita adalah pejalan jauh?" Jessica membual.
"Bisa jadi begitu," jawab Sean. "Tetapi, tidak terlalu buruk jika menjadi pejalan jauh yang numpang singgah di sini, lebih baik dari pada berteduh di bawah pohon pisang."
__ADS_1
Sean ikut membual, dia terlihat semangat saat berada di dalam kuil usang.
Namun, saat Sean, Jessica dan Driyad sedang melihat seluruh tempat di dalam kuil ini, dari balik ruangan lain di dalam kuil ada bayangan hitam yang berjalan mengarah menuju ketiganya.
Sean menyipitkan mata, melihat bayangan besar yang perlahan mendekat. Dia mulai siaga dengan pedangnya yang siap menghunus.
Pikir Sean bayangan itu adalah makhluk buas yang siap menerkam.
Jessica berdiri menempel di tubuh Sean bagai gurita. Dia memanjangkan lehernya, ikut melihat dengan seksama bayangan itu dari balik tubuh Sean.
"Apa itu makhluk buas, Sean?" tanya Jessica membisik. Dia mulai merasakan kengerian tersendiri.
"Entahlah," jawab Sean. "Aku kurang yakin."
Driyad sedari tadi berdiri di belakang kedua anak itu, kini, dia mendekat, menyamai keduanya. Driyad ikut ber-antisipasi. "Hati-hati, mungkin saja itu gort," Driyad memperingati. Dia sudah siap dengan cakar tajamnya, menerkam dan menikam musuh yang mendekat.
Perlahan bayangan hitam makin mendekat. Sean dengan pedangnya yang siap di ayunkan menunggu kedatangan musuh mereka.
Sean tak sabaran ingin memenggal kepala bayangan hitam yang berjalan sedikit lambat mirip siput.
Dan siap! Sean sudah melayangkan pedangnya saat bayangan memunculkan kepalanya.
Tubuh yang empuk sebagai sasaran kebrutalan pedang tajam Sean, dia ingin melancarkan serangannya. Di ikuti oleh Driyad yang bertindak seolah dia adalah yang paling gigih.
Namun, sebelum itu terjadi, bayangan hitam lebih dahulu menegurnya.
"Hei, hentikan," teriak bayangan yang mendekati mereka. Dia berjubah hitam menutupi kepala dengan tongkat dan berjalan membungkuk.
"Dia adalah penyihir buta itu Sean," pekik Jessica. Jelas saja dia nampak seperti penyihir muli, melihat gelagatnya sama persis apalagi di tutupi dengan jubah hitam. Jessica semakin curiga pada wanita tua renta itu.
Namun wanita tua itu berkilah. "Hentikan anak-anak." Dia membuka jubah penutup kepalanya, melihat ketiga makhluk yang berdiri di depannya.
Untuk sesaat Sean mendengarkan kata-kata wanita tua itu. Sean menurunkan senjatanya.
"Siapa kau?" tanya Sean sedikit ragu bercampur takut.
BERSAMBUNG.
*Jangan lupa tinggalkan like, komentar, vote, rating bintang 🌟 lima kalian yah.
Serta author minta kesan dan pesannya dong saat membaca novel ini? apakah kalian menyukainya atau tidak.
Menurut kalian seperti apa petualangan anak bernama Sean ini. Apakah dia sudah mengaduk fantasi kalian atau belum. Mohon di jawab ya kesan pertama kalian saat membaca novel ini.
Author mengucapkan Terima Kasih.
__ADS_1
Sean and the gang*.