
Nimfa Part tiga
"Peri menangis di balik kendi... Kucing menghilang di telan lubang.... Siapapun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas."
Suara ini terus saja menggema di seluruh bangunan manor.
Terangnya cahaya dari tubuh para peri hutan ini mengalahkan terangnya lampu yang menempel di dinding manor tua ini.
Sean, Jessica dan Yudhar menyisiri bagian bangun manor hingga lantai bagian dua bangunan usang dan tua ini.
Di bagian atas tangga, Sean berhenti sejenak menangkap salah seorang cupid yang melintas di kepalanya.
Bahkan air mata para nimfa mengalir deras nan cantik bagai kristal. Sean menaruh dengan hati-hati nimfa yang berhasil hinggap di jemarinya. Dia memperlakukan makhluk itu dengan lembut.
"*Peri menangis di balik kendi... Kucing menghilang di telan lubang.... Siapapun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas."
D*i atas tangan Sean, makhluk ini masih tidak berhenti mendengung kan nada ini. Air mata keluar menemani irama yang ber-melodi haru.
Nimfa kecil yang kini duduk di telapak tangan Sean seperti tidak merasa lelah untuk mengucapkan kata-kata yang terus berulang-ulang.
"Sean? Walau mereka menyebalkan dan berisik, tetapi aku akui bahwa mereka sangat cantik." Jessica terpesona melihat nimfa yang bersyair menangis di telapak tangan Sean itu.
Jessica tidak bisa menampik bahwa keindahan nimfa yang nampak seperti boneka Barbie yang ada di kamarnya itu amat mempesona.
"Aku juga menyukainya. Dia terlihat sangat lucu." Sean memuji sambil menyentuh lembut kepala nimfa cantik ini.
"Omong-omong, hei nimfa kecil. Siapa nama mu? Apakah kau selalu tampak cantik seperti ini walau sedang menangis?" Jessica bertanya di barengi dengan tatapan penuh daya pikat pada nimfa.
Jessica mengamati bentuk nimfa amat dekat bahkan hanya beberapa inci saja jarak diantara keduanya.
Namun, tetap saja Makhluk itu tidak menjawabnya. Justru: "Peri menangis di balik kendi... Kucing menghilang di telan lubang.... Siapapun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas."
Kata-kata ini sajalah yang keluar dari mulutnya dan tak ubahnya dia berkata seperti itu.
Hingga lelah bagi Jessica mendengar ucapan nimfa-nimfa yang mengiang di gendang telinganya.
Jessica menarik nafas selega-leganya. Lalu melepaskannya dengan sekali dengusan.
"Hah..... Seperti bertanya pada boneka, dia tidak menggubris pertanyaan ku. Makhluk yang menjengkelkan." Ujar Jessica menyerah bermain dengan peri kecil itu.
__ADS_1
Sean melepaskan dan menerbangkan kembali nimfa yang ada di tangannya. Bahkan air mata makhluk itu membasahi telapak tangan Sean. "Dia tidak mengatakan hal-hal lain selain kata-kata pengulangan. Aku berpikir bahwa mungkin saja mereka sedang berduka karena salah satu nimfa meninggalkan mereka. Aku menebaknya karena ada kata: peri menangis di balik kendi. Setidaknya mereka sedang dalam masa berkabung."
Sean mencoba mendeskripsikan setiap ucapan para nimfa. Sean belum menemukan apapun dari penelusuran terkait tempat itu.
"Sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa mereka sedang berduka. Bukankah peri termasuk makhluk yang bahkan kematiannya pun sulit di prediksi? Tidakkah kalian merasa janggal." Yudhar kali ini sedikit berbicara sok pintar menengahi perkataan Sean.
Entah dari mana anak itu mendapatkan kata-kata yang sedikit terucap rapi ini, bagi Sean enak di telaah dan mudah di pahami.
"Benar yang kau katakan. Mereka makhluk misteri yang kematiannya belum pernah di dengar oleh manusia baik dalam cerita turun temurun maupun dongeng. Ada benar jika sebenarnya mereka bersyair bukan sedang bersedih, tetapi ingin menunjukkan sesuatu? Tetapi apa? Aku juga kurang yakin." Sean masih penasaran dan ingin menebak semua rahasia di balik syair itu.
"Kalian sama saja. Larut dalam dunia fantasi." Jessica menyambut ucapan Sean yang terus mencecarnya bagai pihak protagonis.
Usai bicara dia langsung beranjak meninggalkan keduanya di atas anak tangga. Kedua lelaki itu harus bersabar dalam menghadapi sikap Jessica ini.
Di lantai bagian dua manor ini, semua nampak sama seperti bagian lantai satu. Tidak nampak sedikit pun hal yang aneh. Kecuali vas bunga berwarna biru yang ada di sudut ruangan.
Hanya itu yang mereka lihat. Sedikit di selingi dengan lantai papan yang juga sudah berlubang. Mereka berpijak hati-hati saat melintas bagian yang sekiranya menurut mereka berbahaya.
Dan tak lupa, sebuah pintu kayu yang terlihat masih utuh mengambang di dekat anak-anak. Pintu itu berdiri tepat tidak jauh dari mereka dengan lubang kunci besar terdapat sebuah kepala hewan yang menjadi simbol di atas gagang pintu itu.
"Singa!" Itulah yang mereka lihat dari pintu berwarna cokelat ini. Mula-mula mereka menganggap bahwa pintu ini tidak berguna.
Tak tahu entah dari mana sisi pintu itu akan terbuka. Sebuah benda yang nampak seperti cincin menggelayut di daun pintu itu.
"Keras? Seperti ada yang mengganjal pintu ini." Kata Sean pada kedua temannya. Memang sulit bagi Sean saat itu membuka pintu itu.
"Mungkin ada kode rahasia sebagai media pembuka pintu itu Sean!" Timpal Yudhar memberitahu.
"Tapi apa kodenya? Tidakkah ini terlalu sulit!" Kata Sean lagi sambil bertanya pada keduanya.
Jessica mengangkat bahunya, anak itu mengatakan tidak tahu apapun. "Entahlah. Jangan tanyakan aku," ucap Jessica tidak ingin berpikir keras.
Kedua bocah pria itu tahu, Jessica pasti hanya Inging menikmati hasilnya saja tanpa bersusah payah.
"Apakah kodenya adalah mantera yang di ucapkan oleh peri-peri ini? Bisa jadi begitu kode pembuka pintu ini?" Yudhar berinisiatif menebaknya setelah otaknya yang beku mulai mencair mendapatkan ide.
"Kemungkinan begitu!" Tukas Sean sepemikiran dengan Yudhar.
"Tetapi, apa yang kita ingin ketahui dari pintu ini! Apakah tidak aneh?" Lanjut Sean sembari kembali bertanya.
__ADS_1
"Kemungkinan saja ada rahasia tersembunyi dari balik pintu itu. Kau tahu! Pintu ini terlihat mistis."
Perbincangan Yudhar makin membuat Jessica pusing. Dia tidak pernah memahami sebuah teka teki sesulit ini. Bahkan bermain sudoku saja dia sudah pening memecahkan kebuntuan.
"Dari pada buang-buang waktu, lebih baik cepat katakan saja kode itu. Dengan begitu kita akan tahu apa rahasia di balik pintu itu. Kalian terlalu lamban," Jessica mengomeli Yudhar dan Sean. Dia sudah tidak sabaran ingin melihat ada apa di balik pintu itu.
Sean memikirkan ide. Dia setuju pada kedua anak itu. Dia ingin menyanyikan syair itu di depan pintu dan berharap pintu kayu berwarna cokelat itu terbuka.
Sean mengambil nafas terlebih dahulu sebelum dirinya memulai bernyanyi.
"Peri menangis di balik kendi... Kucing menghilang di telan lubang.... Siapapun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas." Sean mencoba menyanyikan nada-nada itu semampunya.
Dia mengeluarkan nada terbaik dari suaranya itu.
Sean mengulanginya lagi, sambil memejamkan mata dia khidmat menyanyikan nada-nada itu.
Tapi hasilnya? Nihil. Tidak ada pergerakan maupun perubahan signifikan dari pintu itu.
"Aku rasa sepertinya, ini bukanlah mantera pembuka pintu ini. Aku merasa bahwa pembuka pintu ini sesungguhnya adalah kunci, tetapi di mana kunci itu." Sean tidak menyerah. Dia mencari alternatif ide lain.
"Jika bukan ini mantera pembuka pintu, lalu bagaimana cara membuka pintu ini. Aku harus memikirkan ide lain." Yudhar sadar bahwa Sean telah melakukan semua ini seorang diri.
Jadi dia berusaha melakukan apa yang ia bisa. Yudhar mulai berpikir sembari menatap dan melirik seluruh bangunan manor berharap dia bisa mendapatkan ide.
Sebenarnya sulit mendapatkan ide brilian untuk menyiasati tempat ini. Mungkin jika Sean pemuda yang mudah menyerah, maka dia dengan segera mungkin akan mengakhiri investigasi tidak bermutu ini.
Tetapi Sean tidak mau melakukannya. Sean sangat menyukai tebak-tebakan seperti ini. Sama halnya seperti uang di lakukan oleh Yudhar, Sean menyapu sekeliling ruangan manor berharap menemukan sesuatu.
Tanaman rambat liar menutupi sebagian ruangan. Sehingga sulit bagi mereka mendapatkan lebih banyak informasi.
Jessica yang melihat kebodohan yang keduanya perbuat hanya bisa mengatakan hal-hal yang tidak penting. Dia mencemooh anak-anak itu.
Tidak seberapa hebatnya Jessica mengatakan hal-hal buruk, Sean tidak memperhatikan ucapan itu.
Dan pada akhirnya Sean menemukan apa yang ia cari. Kini ide brilian itu mulai mengambang di tengah otaknya dan melintas begitu saja bagai mesin waktu.
"Yah.... Itu dia yang aku cari." Lirih Sean sembari menatap benda kuno yang menakjubkan di hadapannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1