Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 25


__ADS_3

KILAUAN EMAS VOL.9



Jessica melangkah kan kakinya lebih dahulu masuk kedalam pintu yang telah terbuka lebar.


Sedangkan Sean masih berdiri termenung meratapi rasa aneh dalam dirinya.


Ciuman hangat Jessica membuatnya malu-malu.


Wajahnya memerah dan panas dingin karena gejolak yang meronta-ronta.


Ingin rasanya ia terbang ke awan yang jauh demi membuang rasa bersalahnya karena telah di cium oleh gadis bergaya kontemporer ini.


"Sean? berapa lama lagi kau akan berdiri di sana!" tanya Jessica dengan nada kasual.


Seakan pintu itu akan tertutup dengan segera, Jessica meminta pria di hadapannya itu bergegas masuk.


Keduanya berdiri seolah sedang berada dalam lift kantor, saling berhadap-hadapan menatap wajah satu sama lainnya dari jarak tiga meter.


"Ah...ehm....ya aku...aku sedikit merasa sedang takjub pada tempat ini, dan ya begitu luar biasa," dengan bahasa yang gagap Sean bicara sedikit gugup mengalihkan pikirannya.


Ia memberikan senyum palsu yang dipaksakan sok manis pada Jessica untuk menutupi rasa gugupnya.


Mereka melangkahkan kaki bersamaan.


Keduanya berjalan seiringan dengan rasa canggung dan hening dilorong yang sama gelapnya dengan lorong sebelumnya.


"Aku ingin bicara," keduanya bicara di waktu yang tak tepat secara bersamaan.


Dengan ekspresi malu-malu Sean menggaruk tengkuk belakang lehernya mengalihkan perhatian Jessica, dan Jessica pun merasakan malu dan canggung yang sama kala menatap Sean. Sama halnya dengan Sean, Jessica menggerus daun telinga bagian belakang dengan dalih ingin membuang rasa malu dan canggungnya.


"Kau bicaralah lebih dulu!" keduanya kembali secara bersamaan mengucapkan kata-kata yang sama.


Seperti ucapan sebelumnya, lagi-lagi mereka merasa malu-malu sendiri.


Bahkan sama-sama membuang muka kearah yang berlawanan. Berharap tak lagi memperhatikan sepasang mata dan wajah itu.


Sambil berjalan keduanya merasa sangat tak enak hati dan menyalahkan diri masing-masing. Bahkan tak jarang keduanya menunjukan ekspresi konyol yang sedang gugup secara nyata.


"Kau bicara dahulu! aku akan bicara setelah kau bicara!" Sean mengalah karena dia tahu kata ladies first memang harus ia terapkan pada Jessica.


"Ah iya baiklah! aku.. A.. Sebenarnya ingin meminta maaf karena telah mencium wajah mu tanpa izin. Dan ya aku rasa aku sungguh bodoh melakukan hal gila itu secara primitif.


Aku pikir tindakan ku terlalu berlebihan menanggapi rasa senang ku. Reaksi semacam itu mungkin membuat mu merasa canggung. Dan harus aku akui itu sebuah kesalahan yang ku sengaja jadi..... Bisakah kau tak menganggap itu sebuah prilaku berlebihan. Maksud ku anggaplah saja itu angin lalu atau semacam kecelakaan!" Jessica mulai mengakui kesalahannya dan sungguh-sungguh baginya itu adalah sebuah penyesalan.


"Ehm.. Yap....Aku A...hanya berpikir kau sedang merasakan senang yang luar biasa dan ya aku ...aku ..menganggapnya hanya sebuah respon saja!" Sean membalas rasa penyesalan itu dengan kata yang setidaknya sedikit bijak dan dewasa.


Sambil berjalan keduanya saling memahami perkataan dan perbuatan satu sama lainnya.


"Sean! terima kasih!" Jessica menambahkan ucapannya.


"Terima kasih untuk?" tanya Sean bingung.


"Terima kasih telah mengerti apa yang aku lakukan!"


"Ehm... Ya... Aku mengerti itu. Dan aku pikir itu hanya sebuah lelucon."


Keduanya melepaskan rasa lega karena saling memahami karakter satu sama lainnya.


****


Namun sekonyong-konyong mereka berjalan, kejelian mata Jessica begitu amat tajam.


Dengan sekali lirik ia melihat sebuah sinar yang bergerak-gerak di ujung lorong yang mereka lalui.


"Lihat Sean! Sepertinya itu sinar api?" teriak Jessica degan suara mengimbangi gema lorong. Seraya jari tangannya menunjuk arah terangnya cahaya di ujung lorong.


"Api? cahaya? apakah ada orang lain disini?" jawab Sean menduga-duga.


"Mungkinkah seseorang yang menjaga tempat ini? atau jangan-jangan api ini adalah pemilik tempat ini?" lanjut Sean menebak dengan keraguan.

__ADS_1


Matanya ia sipitkan dengan fokus ke arah bayangan cahaya api yang bergoyang mengikuti alunan angin menerpa dan mengusik batu-batu goa.


"Menurut mu apakah itu benar-benar pemilik tempat ini yang menyalakan api? atau ini hanya seorang pengembala yang sedang istirahat disini. Aku juga merasakan bahwa udara sekitar sini mulai dingin, tidak sepeti lorong sebelumnya," Jessica menambahkan sedikit kata-kata pertanyaan pada praduga Sean.


Kini gadis itu mulai merasakan udara dingin makin pekat. Ia mencoba menahan dingin itu dengan mendekapkan kedua tangannya di dada hingga kedua tangan itu mencengkeram erat kedua lengannya sendiri.


"Kemungkinan besar ya!" jawab Sean singkat.


Lalu ia memakaikan Jessica jaket yang ia kenakan, setelah melihat wanita itu memeluk erat tubuhnya sendiri. Karena ia merasa Jessica sedang dalam keadaan dingin, maka hati kecil Sean tergerak untuk melakukan sesuatu.


Kekebalan tubuh wanita itu jauh lebih buruk darinya.


"Pakai ini! pasti kau merasa sangat kedinginan!" Sean memakaikan jaketnya dengan lembut dan tenang ke bahu jessica.


Jessica menuruti ucapan pria tersebut.


"Mari kita berjalan perlahan-lahan," tambah Sean sedikit pada kata-katanya dengan suara yang amat kecil bahkan mungkin hanya semut yang bisa mendengar ucapan remaja itu.


Jessica menganggukan kepalanya tanda bahwa dirinya mengerti ucapan Sean.


mereka berjalan mengendap-endap tak bersuara.


Berjalan bak cicak, mengesot-ngesot di dinding.


CLETAK , TEK ..


"Ssstttt," Sean menutup mulutnya sendiri menggunakan jari telunjuknya sebagai respon kaget akibat ulah Jessica yang tak sengaja menginjak ranting kering di tengah gelapnya haluan mereka.


"Jangan berisik," bisik Sean pelan pada Jessica yang membuntutinya dari belakang.


Jessica hanya paham-paham saja menganggukkan kepalanya.


Hingga sampai di ujung lorong yang bersinar terang, Sean mengeluarkan kepalanya lebih dahulu mengintip kejadian di area api.


Matanya melirik sekeliling tempat yang tersinari oleh api kuning itu.


Kosong, Sepi dan tak berpenghuni!.


"Bagaimana Sean?" tanya Jessica pelan.


Rupanya Jessica mulai tak sabar menghampiri nyala api karena tubuhnya sudah merasa sangat dingin.


"Tak ada apapun!" Sean menjawab dalam arti aman.


Mereka dengan berani keluar dari persembunyian. Menampakan diri bak seorang ksatria yang sedang di tantang keluar dari gubuk reyot menghadapi musuh abadi.


"Hello! adakah orang di sini!" teriak Jessica di ruangan yang menggema ini.


Suaranya memantul kemana-mana dan amat renyah.


Jessica mengulangi ucapannya hingga berkali-kali.


Namun tak ada satu sahutan pun yang menjawab teriakan itu. Benar-benar sangat membosankan menurut Jessica jika tak ada yang menyahut ucapannya


"Sepertinya tak ada orang!" Jessica mulai menyerah bersuara.


"Duduklah di dekat api itu! kau pasti sangat kedinginan!" Sean mengambil alih ucapan.


Dirinya sangat perhatian dan amat memperhatikan tubuh Jessica yang mulai membeku akibat udara yang dingin.


Jessica hanya menuruti ucapan Sean tanpa ada satu kata bantahan sedikit pun.


Ia mengulurkan tangannya mendekat api yang menyala besar.


Kayu pembakaran, batu sebesar gumpalan tangan orang dewasa dan tempat duduk kayu semuanya tertata rapi seperti telah di sediakan oleh seseorang dengan sengaja.


"Apakah kau sudah merasa hangat!" tanya Sean kembali memberikan perhatian penuh pada gadis yang duduk di sebelahnya.


"Ya jauh lebih baik dari sebelumnya!" jawab jessica oke.


Tangannya ia ia bolak balikan pada nyala api agar bisa merasakan kehangatannya.

__ADS_1


"Kau tunggu disini, dan jangan pergi kemana-mana. Aku ingin mencari apakah di sekitar ini ada seseorang yang sedang bermalam atau tidak!" pinta Sean pada Jessica.


"Tapi kau jangan terlalu lama! aku merasa sangat kesepian! jika di tinggal sendirian," balas Jessica juga meminta pada sean agar tak terlalu lama meninggalkannya.


Jessica menuruti perkataan Sean.


Sean meninggalkan Jessica duduk sendiri menghangatkan tubuhnya.


Ia memeriksa ruangan sekeliling mencari siapa sebenarnya yang menyalakan api lalu meniggalkan Jessica begitu saja.


Mata Sean kali ini harus bekerja ekstra mencari siapa pemilik api unggun itu.


Terdapat banyak lorong di dalam ruangan goa, jika dilihat sekilas lebih mirip dengan lubang semut raksasa.


Lorong-lorong yang begitu gelap dan dingin.


Ia amati secara perinci dan mendetail.


"Sean apakah ada orang di sekitar sini?" tanya Jessica menarik simpati Sean.


"Tak ada seorang pun disini. Mungkin mereka telah pergi setengah jam yang lalu. Atau mungkin mereka sedang memburu hewan sebagai makan malam!"


Sean menghentikan pencariannya yang sia-sia itu.


Udara dingin amat pekat di rasakan oleh Sean.


Sehingga memaksa dirinya bergabung bersama Jessica menghangatkan tubuh dari dinginnya udara malam.


"Sean! Kau pasti sedang kedinginan. Maafkan aku selalu menyusahkan mu Sean!"


Jessica dengan wajah bersalah menunduk malu.


Baginya dirinya adalah beban yang selalu menyusahkan Sean dalam berbagai hal-hal sulit.


"Kau terlalu berlebihan. Kau pikir aku pria yang lemah? yang tak bisa melindungi wanita?" jawab Sean pada ucapan Jessica dengan nada ketus.


Dirinya tak suka jika di sebut egois.


****


Dalam keadaan yang begitu sedang hangat-hangatnya.


Sean, telinganya amat jeli mendengar suara beroktan rendah.


Dag Dig Dug.


Suara langkah kaki makhluk hidup menuju arah mereka.


Suaranya makin dekat.


Dengan kejelian pendengaran yang amat tajam, Sean merenungi dan meresapi langkah kaki yang sedang melangkah dengan lamban berjalan menuju kearah mereka.


Kearah sumber cahaya yang menyinari seisi goa.


Suara langkah kaki yang amat berat dan kaku.


Seperti bukan langkah kaki manusia. Tetapi lebih ke langkah kaki hewan.


Itulah dugaan Sean.


BERSAMBUNG.


**


**


**


**


SARANJANA EPISODE 25

__ADS_1


__ADS_2