
“Sekarang kau kena!” teriak Sean, sambil menancapkan pedangnya.
Tepat, ujung pedang yang tumpul mengenai dada pria itu. Membuatnya terpental mundur, hingga tak bisa bersembunyi lagi dari mata Sean.
“Kau bisa menemukanku. Sungguh, kekuatan pangeran Lausius tak bisa di pungkiri. Kau benar-benar tangguh!”
Di sela-sela bibirnya keluar darah, namun itu tak menyakitkan bagi pria bermantel itu. Justru, dia terlihat santai. Tak ada keraguan dalam dirinya untuk menyerah. Dia tidak gontai, justru makin kokoh pada puncaknya.
“Kalau begitu, kau seharusnya tidak mengusik perjalanan kami!” sahut Driyad berang. “Kau seharusnya tahu, pangeran pasti akan membunuhmu cepat atau lambat!”
“Kau tersulut emosi?” lirih pria bermantel rubah itu.
“Kau ....”
“Driyad!” sambar Sean menghentikannya. Pria itu, lagi-lagi tak bisa menahan dirinya untuk tidak bergerak. “Biarkan dia berkata semaunya. Jangan di hiraukan.”
“Tapi dia terus menerus memprovokasi kita pangeran!” komentar Driyad protes.
“Jangan di pikirkan. Dia hanya sesumbar, kau tak perlu menanggapinya serius!”
Kata-kata Sean adalah sebuah perintah yang harus di pahami oleh Driyad. Tak ada pilihan lain bagi pria itu, selain dia patuh dan tunduk pada perintah Tuannya.
“Baiklah. Aku akan berhenti sekarang!”
Pria bermantel itu, dia merasa terkekeh geli ketika melihat para pengawal Lausius, yang di lindungi—bukan melindungi Lausius. Tak ayal, dia merasa kalau dirinya bisa mendapati Lausius kali ini. Cukup baginya, hanya dengan satu kali serangan, bisa melumpuhkan Lausius.
“Pangeran Lausius. Kau akan menjadi milikku seutuhnya, haha ....”
“Kita lihat, bagaimana kau bisa melakukannya!”
Sean kembali menyerang, pria itu mengerdikkan matanya. Tersenyum miring, dia membalas serangan Sean dengan kekuatannya.
Adu senjata antara kipas dan pedang berdenging. Memercikkan sihir, keduanya tidak terlihat seimbang.
“Apakah pangeran bisa mengatasi pria bermantel itu?” bisik Driyad pada keduanya.
“Kita lihat saja nanti. Semoga pangeran bisa menumpasnya!” balas Amuria.
Crypto memperhatikan, dia mencoba mengetahui dengan baik teknik apa yang digunakan oleh pria itu. Agak sukar di hadapi, Crypto tahu, dia bukanlah orang yang sembarang untuk di kalahkan.
Sean terus menahan serangan pria bermantel itu. Sialnya, dia cukup tangguh dan cepat, membuat Sean agak kewalahan. Di tambah dia sering hilang, makin membuat Sean kurang memahami caranya bertarung.
“Kenapa dia sulit sekali di kalahkan. Jika begini terus menerus, aku pasti akan kehilangan energi dan tenaga ku!”
Memang sulit bagi Sean menaklukkan pria itu hanya dalam beberapa kali serangan. Tak ayal, Sean harus memutar ide lainnya.
“Jalan satu-satunya adalah, aku harus membuatnya keluar dari persembunyiannya!”
Suara pria itu terus menggema, membuat Sean kesal karena terus di permainkan oleh pria itu. Tak tahu siap, Sean tak begitu mengenalinya.
__ADS_1
“Haha ..., mencari ku pangeran? Apakah kau sudah bosan mencari ku?”
Sean menoleh, dia merasa suara itu ada di belakangnya. Namun, tak ada. Dia tak menampakkan dirinya.
“Kau ..., Akh ....”
Sean, tiba-tiba di serang. Bayangan pria itu tak nampak, membuat Sean benar-benar tak bisa menghindar dari serangannya.
“Haha ..., keluarkan semua kekuatan mu pangeran. Bahkan kekuatan penembus jiwamu tak mampu mengetahui keberadaanku.”
Sean makin berang, lagi-lagi dia di remehkan.
“Jika kau mampu melawan ku dengan irama nada dari angin lembut yang kau buat. Maka, jangan salahkan aku jika kau harus mati di tanganku!”
Sean, dia kembali mengangkat pedangnya. Kini, pedang merah itu makin bersinar, pertanda bahwa Sean mulai membara.
“Hiya ....”
Sean tahu kali ini keberadaannya, secepat angin Sean menyerangnya dengan kekuatan penuh.
Suara pedang besar Sean tertahan oleh kipas tajam pria bermantel itu. Namun, itu tak cukup membuat pria kemayu tapi gagah itu tetap tangguh. Lagi-lagi, dia terdorong mundur, darah juga ikut keluar dari sela bibirnya.
“Baru kali ini, aku meminum darahku sendiri. Sungguh, aku tak akan melupakan pertarungan malam ini.”
Menatap Sean dengan tatapan tajam, pria itu menyeringai. Sean tetap tenang, walau beberapa kali dia terkena serangan pria ini.
“Sudah aku katakan, kau harus aku singkirkan. Kau telah mengganggu perjalanan kami.”
Begitu tak bisa lagi menahan amarahnya, pria itu mengeluarkan kekuatannya. Kekuatan panah berapi.
Sean, dia mengernyitkan dahinya. Baru kali ini dia melihat kekuatan se-dahsyat itu. Dia tidak tahu, apakah pria ini sedang mengerahkan semua tenaganya atau tidak.
“Terimalah kematian mu pangeran Lausius!” teriak pria itu. “Kau akan menjadi milikku seutuhnya, haha ....”
“Ratusan anak panah, apa yang sedang dia lakukan.”
Walau Sean tak paham apa rencana pria itu, namun Sean berusaha tenang menghadapinya. Kemudian Sean teringat pada ucapan Lord Shutanhamun.
“Mengalahkan musuh, bukan dari kekuatan fisiknya saja. Tapi, dengan sikap tenang dan berpikiran jernih kau akan mampu mengatasi kesulitan yang kau hadapi.”
Benar! Sean bisa saja lepas dari berbagai masalah, semua ini karena dia selalu tenang dalam menghadapinya.
“Pangeran! Apakah dia mampu mengatasi panah dahsyat itu?”
Crypto terlalu khawatir, namun dua rekannya justru terlihat santai. Mungkin hanya Crypto saja yang bisa seperti ini, begitu cemas akan keselamatan Sean.
“Ada dua jiwa dalam hidupku. Aku berhasil membangkitkan banyak nyawa ketika aku sudah mati. Jika aku berhasil menumpasnya, maka kesempatanku untuk menjadi Lausius benar-benar sudah di takdirkan oleh kitab Avrida.”
Ribuan anak panah itu, sudah mengarah pada Sean. Menghujamnya dengan kejam.
__ADS_1
Sean berusaha sebisa mungkin tak akan kesulitan menghadapinya. Ekor mata Sean sudah melihat dengan konsentrasi. Ratusan anak panah berapi itu sudah mengarah padanya, dan Sean harus bisa menampik serangan ini.
“Dewa Opis. Jika aku adalah putra cahaya mu. Putra yang di ciptakan demi sebuah keadilan dan kebenaran. Maka, bersihkan aku dari kotornya tanganku dalam membunuh para tirani. Biarkan ilmu kebajikan berdiri kokoh, bagai pilar yang tak mampu di robohkan oleh badai angin dan terjangan ombak laut. Keberuntunganku, ada di takdirmu dewa Opis.”
Mengepakkan sayapnya, Sean terbang menghindar dari ribuan anak panah yang siap menyangsang jantungnya.
Satu persatu panah api itu Sean tangkis. Pedangnya, membuat sebuah dentingan dengan membalas setiap anak panah yang tajam. Sean berbalik, kini dia yang menyerang pria itu.
Pria bermantel itu membesarkan matanya, saat tiba-tiba Sean sudah di hadapannya.
“Kecepatan bagai angin ini. Bagaimana dia bisa memilikinya. Bukankah ..., akh!”
Sean telah menepikan pedangnya di dada pria itu. Tanpa sadar, dia terkena sabetan pedang Sean. Membuatnya terpental hingga terjatuh ke bawah, sayap pria ini tak mampu menopang dirinya di udara dalam waktu yang lama.
Kembali, dia terpental dalam tumpukan balok batu yang di selimuti oleh es. Hingga menciptakan keretakan yang cukup besar di sana.
Sean menapakkan kakinya, mendekati pria itu. Dengan sihirnya, Sean membantu pria itu keluar dari bebatuan yang menimpanya.
“Walau aku tak tahu siapa kau. Namun aku tak sepatutnya membunuhmu. Meskipun aku tahu, kau pasti ingin membunuhku karena ingin mendapatkan jiwaku. Sebagai putra cahaya, aku harus berhati bersih!”
Pria itu menyeringai, mengusap lembut bibirnya yang berdarah. Alih-alih berterima kasih pada Sean, justru dia terlihat makin melicik. Bukan ucapan sok bijak Sean yang ingin dia dengar, tapi jiwa Sean yang ingin dia dapatkan.
“Kau terlalu berbaik hati dengan menolongku pangeran. Apakah kau tak takut, jika aku kembali membunuhmu!”
“Aku tak berpikir kalau aku akan berakhir pada kematian. Namun membantu orang yang terlihat lemah, aku tidak butuh balasan apapun!”
“Haha ..., kau terlalu polos. Hingga tanpa sadar, kau tak tahu mana musuh dan mana kawan. Kalau begitu, terimalah saja kematian mu Lausius!”
Dia masih belum menyerah, membuat Sean harus tetap waspada dalam sikap tenangnya. Sean mulai terlatih dalam hal ini.
“Jika itu yang kau harapkan, maka aku akan mewujudkan keinginanmu. Kau akan mendapatkan keuntungan dari pertarungan ini?”
Menyadari dia melakukan sebuah serangan lagi, Sean harus bertindak cepat. Suara dentingan kembali terjadi, saat pria bermantel itu mencoba mengusik Sean dengan senjatanya.
Berulangkali Sean menangkis kipas tajam pria itu. Dia masih tangguh, Sean tak bisa meremehkan tenaga dan kekuatannya.
“Aku yakin, pangeran pasti bisa mengalahkan iblis itu,” bisik Driyad pada Crypto. Sejak tadi dia melihat Crypto gusar. Terlalu mengkhawatirkan keadaan Sean.
“Diam kau. Tutup mulut, atau kita tak fokus melihat pangeran bertarung,” sahut Amuria kesal. Driyad selalu mengganggu suasana tegang keduanya.
“Oke-oke, aku ..., kalian lihat. Pangeran. Dia berhasil mengalahkan lagi pria itu. Apakah kalian melihatnya! Haha. Aku yakin, pangeran pasti bisa mengalahkan pria bermantel dari pegunungan Utara itu!”
Driyad menunjukkan kehebatan Sean pada keduanya. Tapi sayang, bukannya di respon baik. Justru keduanya berlari ke arah Sean. Lagi-lagi, Driyad id tinggalkan seorang diri oleh keduanya.
Hei. Kenapa kalian selalu begini padaku!” protes Driyad sebal. Melihat keduanya tak peduli pada Driyad, membuat pria ini terus kesal berada dalam lingkar pertemanan dengan dua iblis terkutuk itu. Kemudian Driyad ikut berlari, menuju ke arah Sean yang berhasil menumpas pria itu.
“Pangeran. Kau tak kenapa-kenapa bukan?” tanya Crypto dengan peluh cemasnya.
Sean memandangi tubuh pria yang lagi-lagi terpental di batu es. Kembali menciptakan kerusakan, Sean tak mau lagi menolongnya walau dia terluka.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja! Jangan khawatirkan aku!”