Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 70


__ADS_3

Wajah Medika kembali ke bentuk semula. Kembali dalam bentuk yang cantik dan dengan identitas Uli.


Medika menyentuh wajahnya beserta kulitnya yang telah kembali menjadi putih seperti semual saat dia masih menjadi kau manun.


Melihat tubuhnya mengalami perubahan ke bentuk semula, Medika tertawa terbahak-bahak. "Aha-ha-ha-ha... Kau! Ingatlah Dewi Handita. Jika hari ini aku tak bisa membunuh mu, maka suatu hari nanti aku akan membunuh kalian, ketiga peri kecantikan." Medika mengancam Dewi Handita. Dia berkata penuh dendam. "Aku akan menantikan kematian kalian dalam genggaman ku nanti." Dia terbahak-bahak, dia merasa puas akhirnya rahasia yang telah ia sembunyikan dengan baik terendus begitu cepat.


"Dan.... Aku tidak bisa mati begitu saja. Aku akan merasa puas jika kita bertemu di pertempuran Troya nanti. Kau harus menantikan kematian mu sendiri Handita!" Seketika Medika dengan kata-kata terakhirnya, memilih lari. Melalui pintu yang terbuka, dia memanfaatkan kelengahan semua mata.


Driyad ingin menangkap Medika. Namun Dewi Handita menghentikannya. "Biarkan dia pergi!"


Sia-sia saja Driyad ingin menangkap kaum manun itu. Dan di saat itu, Volinia datang dengan nafas tersengal-sengal sembari memegang dadanya.


Sakit, mungkin dia menahan sakit di dada.


Tepat di hadapan Dewi Handita, Volinia terjatuh memuntahkan darah segar.


"Kau telah terkena racun tumbuhan pulau Hurian." Dewi Handita memeriksa denyut nadi Volinia. "Untung saja kau tidak meminum seluruh racun itu. Atau akibatnya akan fatal!" Kata Dewi Handita. Dia ahli dalam mengetahui sebuah tebakan.


"Aku akan mengobati mu. Kau akan baik-baik saja setelah ini," Dewi Handita menyalurkan kekuatannya ke tubuh Volinia. Dia mencoba mengeluarkan racun dari tubuh gadis malang itu.


Volinia terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar. Kemungkinan Dewi Handita berhasil membantu dia terbebas dari racun mematikan milik Medika.


"Bawa dia ke kamarnya!" Dewi Handita memerintah beberapa pasukan. "Dia hanya perlu istirahat sejenak agar tubuhnya membaik." Katanya memberitahu keadaan Volinia.


"Siap kami laksanakan!" Prajurit berpakaian besi yang menutupi seluruh tubuh dan membawa tombak, segera mematuhi perintah petinggi Osirus itu.


"Dan satu lagi. Pastikan dua pelayan yang pernah menjadi pelayan Medika di masukan kedalam penjara thripon." Dewi Handita memberikan perintah tanpa ampun-nya. "Jangan biarkan mereka kabur dan pastikan juga jika mereka mati dalam perut belut-belut menjijikan itu!" Dewi Handita berlaku amat kejam. Siapa yang akan berani membantah dirinya.


Para prajurit terbaik di sadon mematuhinya. Sementara dua pelayan Medika terkatung-katung memohon ampun pada Dewi Handita. Tetapi usaha mereka gagal. Dewi Handita tidak menyukai adanya pengkhianatan.


Kuil helian kembali di serahkan pada Volinia. Di ruangan helian ini Dewi Handita mendekati Sean sambil memegang bahunya. "Terima kasih Sean. Kau telah melakukan yang terbaik untuk ku," Dewi Handita bicara lembut.


Sean menghargainya, dia tersenyum senang. "Bukan masalah Dewi. Itu sudah menjadi tanggung jawab ku membantu kalian."


Dewi Handita melihat Sean dalam keadaan telanjang dada. Wanita itu menyeringai tersenyum kecil. "Baju lama yang di berikan oleh danau Osirus nampaknya tak cocok lagi untuk mu," dia menegurnya. "Aku akan memberikan kau baju yang pantas sebagai seorang ksatria tanah kemakmuran ini," Dewi Handita mengeluarkan sihirnya.

__ADS_1


Kekuatan Dewi Handita menyelimuti tubuh Sean. Tidak lama tubuh Sean yang tanpa baju, kini berubah mengenakan sebuah pakaian yang amat berat, terbuat dari lempengan besi tanpa lengan. Tubuh Sean nampak dua kali lebih besar dari sebelumnya.


"Oh... Aku rasa baju ini terlalu berlebihan," Sean menyinggung. Mungkin baju yang ia kenakan beratnya hingga belasan kilo. "Aku nampak seperti robot Terminator jika mengenakan ini." Sean bergurau, sambil menahan berat baju besi yang ia kenakan.


Dewi Handita tahu bahwa baju besi yang menutupi seluruh tubuh Sean berat. Namun dia bersikap santai, seakan sedang memberikan pakaian sutra pada Sean. "Kau biasakan diri mu dengan pakaian itu. Karena, perjalan kalian masih panjang."


"Tunggu!" Sean menyela. "Bukankah Medika mengatakan bahwa dia akan mempertemukan aku dan Eed? Seharusnya dia menepati janjinya itu!" Sean teringat kada kata-kata bujuk rayu Medika.


Dewi Handita mendengus, Sean rupanya tak mengerti bahwa wanita itu telah menipunya. "Setiap ucapan yang di janjikan oleh Medika tak ada ubahnya seperti angin." Dewi Handita mengepal tangannya. "Enak di dengar, bisa dirasakan namun sulit di lihat. Seperti itulah janji-janjinya." Dewi Handita kembali memegang bahu kanan Sean sambil mengingatkan anak itu. "Jangan pernah mempercayai setiap perkataan yang terucap oleh wanita bermulut manis itu. Perkataannya seperti fatamorgana. Hanya bualan fana tak bermakna."


"Lalu? Bagaimana aku bisa bertemu dengan teman ku itu?" Sean bertanya. "Apakah kau tahu di mana sahabat ku itu?"


"Jangan terlalu khawatir. Teman mu baik-baik saja, dia aman sekarang." Dewi Handita berjanji. "Jadi, jangan pikirkan masalah seperti ini terlalu berlebihan."


"Baiklah!" Sean berkata sayu.


Sean mengerti, itulah mengapa sejak awal dia amat mencurigai wanita itu apalagi setelah mendengar perkataan Dewi Handita. Ternyata Medika hanya menginginkan Sean sebagai jalan menuju puncak misinya.


Dewi Handita hampir saja melupakan Jessica. Untung gadis itu berdiri di belakang Sean, atau mungkin dia tidak akan melihatnya sana sekali.


"Ya. Aku baik-baik saja," Jessica merespon cepat. "Kurasa Dewi hampir saja melupakan aku!" Jessica menyinggung.


"Tidak akan aku melupakan diri mu, walau kau tak begitu mencolok." Dewi Handita membual. "Lalu? Dimana bocah lelaki yang bersama kalian itu!" Dewi Handita mulai sadar bahwa Yudhar tidak bersama mereka. Dia melihat sekeliling, biasanya anak itu ada di dekat mereka, tetapi sekarang menghilang. "Kemana dia sekarang!"


"Dia.... Dia sudah pergi!" Jessica menjawab dengan wajah murung.


"Pergi?"


"Ya. Dia sudah pergi meninggalkan kami," Jawab Jessica. "Dia tidak akan kembali."


Dewi Handita paham. Dia tahu maksud Jessica. "Jangan terlalu bersedih, kalian akan bertemu dengannya suatu saat nanti." Dewi Handita berusaha berkata menghibur. Dia mulai bersimpati.


"Dari pada kalian terus berdiri seperti ini, sebaiknya kalian istirahat saja lebih dulu. Kalian pasti lelah!" Dewi Handita menyarankan, dia mengalihkan bicara yang agak hening ini. "Driyad, antarkan mereka menuju ke tempat mereka masing-masing."


"Aku laksanakan!" Driyad menuruti perintah Handita. Dia membawa kedua anak itu pergi meninggalkan helian.

__ADS_1


Helian sepenuhnya kini kembali tertutup, dan akan terbuka kembali saat Volinia sudah membaik.


Di tempat tidur Sean, dia berada di dalam kamar yang sama dengan Jessica. Amat susah baginya berjalan saat itu karena baju yang ia kenakan agak berat dan pengap.


"Kau kesulitan dengan baju itu?" Jessica bertanya pada kesatria Dewi Handita.


"Ya... Sedikit,"


"HM... Setidaknya kau sudah gagah dengan pakaian besi mu itu," Jessica bergurau.


"Tidak juga!" Sean membantah. "Justru aku sedikit kewalahan mengenakan baju aneh ini."


"Lalu! Kenapa kau tidak menolaknya saat wanita itu memberikan kau baju besi ini?" Jessica berkata sedikit jutek. "Apakah kau menyukainya?" Jessica berkata mengada-ada.


"Tidak juga." Sean berkata sekenanya.


Omongan Jessica tak benar.


"Setidaknya kau nampak seperti seorang ksatria di tanah ini! Seperti itu yang dikatakan oleh Handita."


Sean sambil melepaskan bagian dari baju besinya, bicara pada Jessica sedikit agak serius. "Kemungkinan begitu. Dia terlalu cantik untuk di lupakan." Dia menggoda dengan gaya bicaranya yang terdengar genit.


"Ini kali pertamanya bagi ku mendengar kau memuji seseorang? Apa kau mulai tertarik dengan kecantikannya?" Jessica berpikir sedikit aneh menanggapinya.


Sean menumpuk seluruh baju besinya di atas kasur putih. Dia sibuk pada pakaiannya yang ribet itu. "Tidak juga. Hanya memang kebetulan saja dia cantik."


Jessica mulai jengkel, Sean berkata itu-itu saja dari tadi. "Kau menyebalkan!" Jessica sedikit sebal. "Dari tadi ucapan mu berputar di tempat. Tidak juga, tidak juga. Apanya yang tidak juga!" Jessica mengomel kesal.


Sean merasa aneh, dia menatap anak itu sambil menghentikan kesibukan nya pada baju yang rumit ini. "Tidak juga. Mungkin aku sedang tidak ada kata-kata lain yang bisa di ucapakan."


Jessica mulai kesal, dia menggertak giginya. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur yang berjarak beberapa meter dari kasur Sean. "Kau aneh!" Katanya ketus. "Sangat aneh."


Sean membesarkan matanya, dia heran kenapa anak itu marah padanya. Dia mengangkat kedua bahunya, dia tak paham maksud gadis itu. "Dia sedang marah? Mungkin begitu!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2