
MELUNCUR PART 4
"Sean!! tolonglah aku. Bantu tubuh ku naik keatas!" ucap jessica memelas dan tak berdaya.
Tubuh wanita itu terlihat amat menyedihkan.
Rupanya wanita ini terpeleset sehingga membuatnya terjatuh di lorong es yang begitu licin. Lebih mirip perosotan di wahana taman bermain karena kecuramannya dan tepat di bawah lorong itu, terdapat endapan es yang membeku, dingin dan super licin bak berlendir.
Tangan Jessica berpegangan erat pada bebatuan yang kerikilnya tajam bergerigi.
Sean melihat teman wanitanya itu sudah lemah berpegangan pada batu yang menyulitkan dirinya.
"Peganglah tangan ku jessica. Aku akan menarik mu keatas!" seru Sean seraya mengulurkan tangannya pada Jessica yang masih tertahan di bibir lorong es yang licin dan curam.
Rupanya bahwa boot yang di pakai oleh Jessica tak bisa menahan licinnya pijakan.
"Cepat bantu aku meraihnya." Tukas Sean pada Yudhar yang berdiri di belakangnya.
"Aku! aku harus membantu apa untuk menolongnya." Yudhar membalas perintah Sean dengan ekspresi polos dan lugu.
"Kau bantu saja pegang tangan ku. Aku akan menariknya ke atas." Teriak Sean.
"Oh! oke! baiklah!"
Yudhar menarik tangan kiri Sean, sementara tangan kanan Sean mencoba meraih tangan Jessica.
Mereka melakukannya dengan hati-hati, meskipun Sean merasa agak gemetaran untuk beberapa saat.
Hingga tangan Sean dan tangan Jessica bertemu, Sean dengan cekatan menarik gadis berambut blonde ini ke atas.
Mula-mula tubuh Jessica yang berpegangan pada batu itu mulai menunjukkan kondisinya untuk bangkit.
Pijakan kaki Jessica ia ayunkan perlahan agar tak mengulangi kesalahan yang sama.
Hingga mendekati bibir terowongan licin ini Jessica siap untuk terbebas dari cengkraman dinginnya es.
"Sedikit lagi Jessica. Aku akan meraih mu."
Ucap Sean penuh semangat.
Dengan leluasa Sean menarik wanita itu menuju ke puncak dimana tempat mereka berdiri dengan monoton.
****
Namun, sayang sekali.
Kali ini hal yang sama terjadi.
Sepatu boots Jessica kembali melakukan kesalahan kala langkah kaki itu hampir sampai menuju puncak kejayaan.
Boot itu terlalu bermanja-manjaan dan menginginkan Jessica bermain dalam lorong curam itu.
"Aaaaaaaaaaaaa!!"
Teriak Jessica terpeleset untuk kedua kalinya.
Pegangan tangan Jessica pada Sean terlepas begitu saja sebab situasinya berubah secara mendadak.
Jessica yang sudah hampir sampai di atas lorong curam itu, hanya bisa berpegangan pada kaki Sean saat itu.
Malangnya kaki itu tak memasang kuda-kuda yang amat kuat dan gagah, sehingga tangan Jessica yang ingin meraih kaki itu sebagai pegangan malah ikut membawanya turun kebawah menyusuri lorong itu bersama Jessica.
Yudhar pun tak ketinggalan.
Pegangan tangannya pada Sean juga ikut melemah sehingga memaksa tubuhnya sempoyongan dan ikut terperosok dalam terowongan es.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!"
Teriak ketiganya meluncur bebas di dalam terowongan yang mirip perosotan anak-anak di taman bermain.
Jalannya sangat mulus bahkan tak ada bagian yang kasar sedikit pun, membuat tubuh ketiga remaja itu sukses dengan sempurna meluncur.
Seolah mereka sedang berada di taman bermain, terowongan ini memberikan sensasi luar biasa.
Bentuknya yang alami ditambah lintasannya yang panjang menurun amat curam dan berkelok-kelok di sertai kelap-kelipnya cahaya es berwarna biru laut, membuat mereka merasa sedang dalam wahana seluncur air action park di Vernon, new Jersey.
Namanya juga meluncur di atas es, sudah pasti bokong ketiga anak itu sudah membeku akibat gesekan dari es yang dingin itu. Rasanya bokong mereka sudah mati rasa di ikuti ngilu yang menusuk di bokong walau tertutup oleh beberapa lapis kain.
__ADS_1
"Wohooooo!"
Yudhar berteriak dengan ekspresi luar biasa senang.
Sementara Sean dan Jessica malah memasang ekspresi wajah berlawanan.
"Aaaaaaaaaaaaa!!"
Kedua remaja berkulit putih itu kembali berteriak di sepanjang jalur perosotan yang mereka lalui.
Rambut mereka berkibar-kibar, acak-acakan dan tak karuan karena di terpa angin yang mereka hampiri.
Bokong dan punggung mereka rasanya mulai membeku akibat gesekan es yang dingin.
Entah apa yang akan terjadi nanti di bawah mereka tak tahu pasti
Tubuh mereka berputar-putar mengikuti irama dan alunan lika liku terowongan yang seakan mempermainkan mereka.
Bentuknya yang spiral dan berputar tiga ratus enam puluh derajat, membuat siapa pun yang melintasi bagian ini akan merasa pusing dan mual bahkan akan muntah karena tak kuat menyaksikan efek berputar ala flying fox.
Sepanjang terowongan sama saja, tak ada ubahnya. Seakan mereka meluncur di tempat yang sama. Terowongan yang panjang, bahkan lebih panjang dari perosotan air di action park.
****
Kini.
Tubuh yang meluncur dengan deras itu menukik tajam tepat di ujung terowongan yang berbentuk liter U tumpul.
Tubuh mereka melayang di udara, mulut menganga-nga terbuka lebar, ekspresi wajah datar bahkan kosong pandangan mereka entah berantah kemana perginya.
Tukikan tajam dari efek seluncuran yang amat deras ini membawa tubuh kecil itu melayang di udara dan menjatuhkannya di tumpukan salju yang lembut dan dingin.
"Brukkk!"
Ketiga kepala itu menancap tepat di tumpukan salju putih seputih susu.
Beruntungnya kepala-kepala itu menyosor tempat yang empuk.
Hingga tumpukan salju itu hancur berubah menjadi kecil dan bahkan berkeping-keping seperti semula karena tak tahan menampung beratnya beban.
Hingga ujung pohon Cemara memberikan sedikit kenang-kenangan pada wajah Yudhar.
Yaitu sebuah tamparan keras hingga membuat wajah anak itu memerah dan membekas. Yudhar terjatuh memingsankan diri di atas dinginnya salju saat mendapatkan tamparan keras dari ujung dahan pohon Cemara. Sungguh sikap yang unik dari seorang Yudhar.
Mungkin menurut Cemara itu, tamparan yang di berikan oleh ujung dahannya adalah hal setimpal karena salah Yudhar sendiri mengapa ia berdiri tepat di ujung daunnya.
Sedangkan Sean dan Jessica hanya mengangkat kedua bahunya. Seolah ingin mengatakan tak tahu apa-apa.
Sungguh konyol perjalanan ini, pikir Sean.
Yudhar yang terkapar, memaksakan dirinya membangunkan diri dari rebahan manjanya di salju yang berpendar.
Seraya memegang wajahnya yang memerah akibat tamparan dahan Cemara yang membekas.
Jessica yang melihat Yudhar tersiksa, tertawa kecil atas kelucuan remaja yang bersikap sok tahu itu.
Ia tak menyangka Manusia hutan itu bisa merasakan sakit apalagi melihat wajahnya memerah. Sungguh balas dendam telah terbayarkan gumam Jessica dalam hati. Mungkin saja ia berpikir seperti itu.
Sean melirik Jessica atas tawaan ledekannya, namun Jessica berhasil membuang muka berpaling dari wajah Yudhar yang amat memilukan
Namun yudhar sudah menyaksikan tingkah tawa Jessica. Ia sangat tak menyukai tawa penuh ledekan itu.
"Apa yang kau tertawakan? apakah kau senang melihat diriku menderita akibat pohon sialan itu. Bukankah ini yang kau harapkan." Ujar Yudhar kembali memancing perdebatan.
Seketika emosi Jessica meledak kala ia di tegur dengan ucapan itu.
Jessica tak menyangkalnya lagi, namun ia membalasnya dengan tindakan.
Ia melempar wajah merah Yudhar dengan sebongkah salju yang telah ia kepal.
"Brukkk!"
Bongkahan salju itu tepat mengenai kepala Yudhar dan berakhir pada kehancuran tak berbekas.
"Kau pikir aku ingin mentertawakan mu begitu? Dasar manusia hutan kolot." Timpal Jessica seraya melemparkan salju-salju hasil kepalannya dengan bertubi-tubi.
Yudhar tak tinggal diam.
__ADS_1
Ia melakukan hal yang sama. Ia membalas Jessica dengan lemparan salju.
Dan akhirnya terjadilah perang salju yang begitu dahsyat.
Mereka tak mau mengalah satu sama lainnya.
Seperti anak kecil yang memperebutkan mainan.
"Rasakan ini. Pukulan hutan ku wanita sombong."
Yudhar melayangkan gulungan salju besar ke arah Jessica. Dan tepat mengenai rambut wanita itu hingga rambut indah itu berantakan.
Jessica meniup rambutnya dengan ekspresi garang sebab mahkotanya itu telah awut-awutan oleh gumpalan salju Yudhar.
Ia menatap wajah Yudhar dengan tatapan penuh dendam.
"Kau belum merasakan pukulan penyihir Perancis rupanya. Jika kau belum merasakannya, maka terimalah ini." Balas Jessica melemparnya dengan tumpukan salju yang tak kalah besar.
Lemparan itu juga berhasil mengenai sasarannya.
Ha ha ha ha ha ha
Dengan bangga Jessica tertawa riang karena berhasil menumpas kan dendamnya pada Yudhar.
Pada akhirnya pun perang salju ini berkecamuk bahkan lebih hebat lagi pertengkaran salju keduanya.
Mereka saling lempar melempar salju dihadapan Sean.
Sean hanya menjadi pemirsa tontonan renyah komedi keduanya.
Bak tokoh kartun Tom & Jerry keduanya selalu saja ada hal yang di ributkan.
Dan kali ini Sean harus kembali melerai kedua makhluk yang tak pernah akur.
" Hei! hentikan tingkah konyol kalian itu."
Ucap Sean dengan nada meninggi kala melihat keduanya adu lempar salju.
Yudhar dan Jessica yang asik saling serang salju, menatap wajah Sean dengan tatapan serius.
Seakan ingin berkata, "Ini bukan urusan mu, jangan ikut campur pada urusan kami." Mungkin begitu kata yang akan keluar dari mulut keduanya. Tapi mereka mewakilinya dengan ekspresi wajah tak senang karena di lerai oleh Sean.
Lalu keduanya melemparkan kepalan salju ke wajah Sean.
Sean? Tentu saja ia tak akan terima di perlakukan seperti itu. Ia hanya melerai saja namun ia juga yang terkena sasaran kedua makhluk tengil itu.
Sean juga ikut-ikutan melemparkan keduanya dengan salju sebagai balas dendam atas perlakuan keduanya.
Dengan penuh gairah Sean membalaskan lemparan salju pada Jessica dan Yudhar.
Melihat Sean berulah, keduanya tertawa kecil dan kali ini lebih bersemangat berperang salju.
Mereka tak percaya itu.
Sean yang biasanya terdiam, kini menjadi pemarah.
Sungguh pemandangan yang jarang dilihat pikir Jessica.
Mereka bertiga saling lempar salju di ikuti dengan kata-kata umpatan yang renyah. Mereka melampiaskan semua lelah dan letih di malam yang panjang itu dengan sepenuh hati melemparkan lawan-lawannya melalui salju ini.
Dinginnya salju tak mereka hiraukan.
Mereka tak peduli jika tangan halus itu berubah menjadi keriput demi menahan dinginnya salju.
Mereka melewati malam yang panjang dengan ekspresi bahagia.
Meskipun suara Senda gurau mereka berperang amat berisik, namun mereka tak peduli di sekitar mereka.
BERSAMBUNG..
Hai..
Terima kasih untuk kalian yang telah setia membaca SARANJANA. Dan jangan lupa tinggalkan sedikit dukungannya ya pada penulis sebagai bentuk antusias kalian dalam membaca novel ini.
Penulis mencintai kalian.
SARANJANA 29
__ADS_1