
Suara burung hantu berbunyi di tengah gelapnya kesunyian malam. Burung malam itu bertengger di atas pohon tepat di atas Sean, Jessica dan Gordon berada. Mereka duduk di sebuah bangku kayu yang memanjang.
Di depan mereka ada gubuk reyot yang kesemuanya terbuat dari kayu. Gubuk itu seperti bekas sebuah kedai yang sudah lama di tinggali pemiliknya.
Di tempat Sean duduk, juga ada meja yang sama panjangnya seperti bangku yang Sean tumpangi. Lalu ada api yang menerangi malam mereka. Jessica duduk termangu di pinggir api, sambil membakar jagung.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa masuk di tempat ini?" kata Gordon bertanya. Dia penasaran, pikirnya kedua anak itu adalah hantu di perkampungan ini.
"Kami sebenarnya tersesat," jawab Sean.
"Tersesat?"
"Itu karena penyihir jahat yang membuat kami seperti ini?" Jessica menyahut.
"Penyihir buta?" Gordon mengurut dagunya. Tidak, dia memiliki jenggot putih beruban, jadi Gordon mengurut jenggotnya. Mendengar kata penyihir buta, Gordon bisa mengambil perspektif tersendiri dalam benaknya. "Jangan bilang kalau dia menginginkan kau, anak muda?" ujarnya pada Sean.
Dia menatap Sean penuh intrik. Wajah anak itu lagi-lagi menjadi perhatian siapa saja yang melihatnya. "Apakah benar yang aku katakan?"
"Aku tidak tahu kenapa mereka menginginkan aku. Mereka hanya ingin aku menikah dengan mereka. Dan, ya, kau lihat sendiri. Kami berakhir seperti ini," kata Sean mengadu.
"Hm," mendengar pengakuan ini, Gordon tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Kalian pasti ingin menuju ke kota saranjana, bukan?"
"Benar. Kami ingin kesana," sambar Jessica. Dia berkata seperti itu, Jessica makin semangat mendengarnya. "Itulah kenapa kami tersesat di perkampungan penuh roh ini."
"Mendengar cerita kalian. Seharusnya benar, kau adalah Lausius itu."
Sean lagi-lagi harus sebal mendengar kata-kata Lausius. Dia bukan seperti yang mereka katakan. Apalah daya bagi Sean, semua orang di tempat ini mengatakan dia Lausius. Sean merasa terbebani saat orang-orang berkata seperti itu.
"Dia Sean," Jessica memberitahu. "Dia bukan Lausius. Dia sahabat ku yang paling jenius. Jadi aku katakan sekali lagi, dia Sean, bukan Lausius!" ujar Jessica menegaskan.
"Tidak peduli dia Sean atau siapa. Semua penyihir buta melihatnya sebagai Lausius." Gordon bersikukuh. Dia mempercayai apa yang harus dia percayai. "Jadi terimalah nasib kalau si bocah tampan ini selalu jadi incaran semua makhluk di tempat ini. Si Lausius," ucapnya menakut-nakuti.
"Huh, seharusnya aku tidak masuk ke tempat ini. Semua orang berkata Lausius, Lausius, Lausius. Ah, aku bosan mendengarnya," kata Sean sebal. Dia mengomel, siapapun yang melihatnya, selalu mengatakan perkataan yang sama.
Sean benar-benar bingung, siapa Lausius? Kenapa dia selalu di kaitkan dengan Lausius. Sean sudah muak pada dirinya sendiri yang di sebut sebagai Lausius. Sean benar-benar tidak mengenal Lausius itu sebelumnya, dan juga, aura seperti yang di sebutkan para makhluk yang pernah ia temui sebelumnya. Tentu membuat Sean makin kesal jika di ingat kembali.
Gordon melihat Sean dengan seksama. Seharusnya dugaan Gordon benar, bahwa Sean adalah Lausius. Pria gemuk ini sangat unik, dia duduk sambil membersihkan gigi-giginya.
Salah satu giginya terlihat seperti batu. Dia mencabut gigi itu, karena sesuatu menyangkut di sela-sela giginya. Mungkin jagung yang menyusut di gigi berlubang itu. Hingga membuat giginya terasa ngilu, dan dia memulai aksi joroknya. Mencongkel sisa-sisa jagung yang masuk ke giginya yang berlubang. Dia mengekploitasi giginya yang sudah berlubang besar itu.
"Ih," Sean agak merinding melihat tingkahnya. "Apakah gigi mu itu berasal dari batu?" tanya Sean. Walau Sean bergidik ngeri melihatnya, tapi dia penasaran.
Gordon mencabut kembali batu hitam nan kasar yang tertancap di giginya itu, lalu menunjukannya pada Sean. "Aku mendapatkan-nya di hutan selatan tahun lalu," katanya memberitahu. "Kau ingin melihat?" tawarnya pada Sean.
Sean mau tak mau mengambil batu itu, walau sebenarnya dia merasa agak jijik. Ukuran batu krikil itu kira-kira sebesar jempolnya. Sean mengamati batu itu dengan jelas, warnanya hitam legam. Permukaannya kasar, dan keras. Sean mengetuk-ngetuk batu itu di atas meja kayu di depannya, dan benar saja. Itu batu, sangat keras. Begitu besarnya gigi-gigi si Gordon, hingga batu itu muat di rongga gusinya di antara celah-celah gigi. Pikir Sean, Gordon sangat kreatif, sampai-sampai batu krikil kecil itu bisa menjadi pengganti giginya.
"Sebesar ini gigi mu?" Sean membandingkan batu itu dengan gigi-gigi Gordon. Dia men-decak keheranan, baru kali ini dia bertemu dengan makhluk yang menjadikan batu sebagai gigi.
Pria gemuk itu tiba-tiba termangu saat Sean meledeknya begitu. Ini kali pertama bagi Gordon ada yang berkata giginya sebesar batu itu. "Hei nak," ucapnya. "Kau pikir aku raksasa yang memiliki gigi sebesar itu?" gerutunya agak sewot.
"Aku hanya menebak. Sungguh," kata Sean polos. "Aku tidak mengatakan kalau kau adalah raksasa!"
__ADS_1
Pria gemuk ini menarik caruk leher Sean, lalu mendekatkan wajah Sean di wajahnya yang bulat. Membuka mulutnya selebar mungkin. "Kau lihat!" suruhnya. "Dua buah gigi ku hilang saat aku bertarung dengan para arwah-arwah dan juga para Gort. Aku sering merasa ngilu setiap malam karena gigi ku mulai berlubang. Itu semua karena aku tak sengaja menghantam pohon di ujung sana," katanya memberitahu.
Sean mengedipkan matanya berulang kali. Sungguh pengakuan yang menarik. Terlebih, bau mulutnya yang tak tertahankan untuk di hirup. "Bagaimana bisa itu terjadi? Apakah kau kurang berhati-hati?" Sean mengkhawatirkan.
Pria gemuk ini mengambil batu krikil milikinya di tangan Sean, lalu memasang kembali di rongga giginya yang berlubang seperti kuburan itu. "Sebenarnya aku yang ceroboh. Karena asik bertarung, aku sampai tidak melihat pohon-pohon mencium mulutku yang indah ini!" katanya menjelaskan seraya mengenang. "Tapi itu kekonyolan masa lalu. Saat ini gigi ku sudah di perbaiki oleh batu yang sudah menjadi bagian dari hidup ku," di akhir kalimat, pria gemuk ini tertawa lebar. Dia menunjukkan giginya yang terselip batu itu melalui senyum terbaiknya.
"Bisakah kau tidak tersenyum," kata Sean yang sudah merasa geli melihat senyumnya lebar tapi ada yang menggangu di antara gigi-gigi putih itu. "Saat kau tersenyum. Batu itu nampak seperti berlian hitam diantara gigi mu. Dan.... Mulut mu sangat bau. Aku benci saat dia masuk kedalam hidung ku, mirip bangkai!"
Sean menahan nafasnya untuk beberapa saat. Bau mulutnya luar biasa semerbak, mirip bangkai tikus. Oh, hidung Sean terasa mual menghirup aroma itu.
Kata-kata Sean ini sungguh menusuk hati. Ini kali pertamanya bagi si gemuk Gordon di hina oleh anak itu. Seketika, senyum lebar itu berubah menjadi sebuah kemurungan. "Ya, kau benar. Aku tidak pernah merawat gigi ku sejak setahun belakangan ini!" pungkasnya lesu.
Sebenarnya Gordon tahun lalu bertarung di tempat ini melawan arwah-arwah dan Gort. Karena ada badai angin yang tiba-tiba muncul, Gordon yang tengah bertarung itu tidak melihat batang pohon. Maka terjadilah tabrakan ini. Badai itu mengganggu konsentrasinya dalam bertempur. Sehingga mengakibatkan dua giginya patah bahkan ompong hingga kisahnya menggunakan batu sebagai pengganti giginya yang hilang itu membuat ceritanya makin konyol.
"Jika kau kehilangan gigi mu setahun yang lalu, itu artinya kau di sini sudah bertahun-tahun?" Jessica menyela. Dia penasaran, gadis itu mengambil kesimpulan yang menurutnya paling baik. "Apakah dugaan ku ini benar?"
Gordon menggelengkan kepalanya. Bukan karena dia menampik tebakan kesimpulan Jessica itu, tapi anak itu berhasil menyimpulkan dengan benar akan kisahnya ini.
Sean juga senada dengan tebakan Jessica. Sean menebak kalau pria ini sudah lama ada di perkampungan sunyi ini. "Jika kau kehilangan gigi mu setahun yang lalu karena pertempuran melawan para roh. Itu artinya, kau sangat mengenal tempat ini dengan baik?" kata Sean menambahkan kesimpulan.
"Tidak," bantah Gordon.
"Tidak?" Jessica menyahut. "Maksud mu tidak..... Adalah, kau tidak di sini dalam waktu yang lama?"
Gordon menggeleng. "Yang aku maksud. Aku tidak begitu memahami tempat ini!" jelasnya. "Maksudku adalah, aku hanya tahu perkampungan ini hingga di ujung gundukan bukit kecil di tengah hutan itu. Selebihnya, aku tidak tahu menahu apapun mengenai tempat ini."
"Hum," Sean kembali berkeyakinan. "Jika kau tidak begitu memahami tempat ini. Itu artinya kau bukan berasal dari sini. Apakah benar seperti itu?"
"Apa maksud mu, kita tak bisa keluar dari sini?" Jessica berkata. Memotong pembicaraan si pria beruang bak bandit ini.
"Tepat sekali," timpal Gordon. "Aku sudah lebih dari bertahun-tahun di perkampungan mati ini. Tapi sampai saat ini belum menemukan jalan keluar. Bisa di bilang aku sudah terjebak di perkampungan para roh ini."
"Terjebak?" Sean berpikir bahwa bukan itu penyebabnya. "Sebenarnya kau tidak terjebak di sini," ucap Sean. "Tapi, kau di tahan oleh para arwah."
"Apa maksud mu Sean?" Jessica bertanya penasaran.
"Kau tentu sangat paham akan hal ini Jessica," jawab Sean. "Sebenarnya, Tuan kasur di sini ada ikatan dengan para roh. Hal ini bisa di buktikan dengan kehebatan Tuan kasur yang mampu mengalahkan para roh. Aku yakin, Tuan kasur di tahan oleh roh-roh itu karena ada ikatan."
"Hei, berhentilah kau memanggilku dengan sebutan Tuan kasur Nak," tegur Gordon risih. "Cukup panggil aku Gordon. Si benteng yang perkasa, tanpa ada Tuan kasur di setiap ucapan mu," katanya mengingatkan kembali.
"Siapa pun itu, tetap saja kau mirip kasur yang berjalan," Jessica meledek. Dia paling bisa dalam urusan merendahkan orang lain.
Gordon tidak berang, pada dasarnya dia memang si kasur yang berjalan. "Terserah kalian ingin memanggil apa?" ujarnya menyerah. Raut wajahnya sedikit terlihat seperti seseorang yang mengiba.
"Oke, kita kembali ke pokok pembicaraan," Sean Kembali memulai. "Bisakah kau menceritakan, asal mula kau bisa disini. Lalu, aku yakin, Tuan kasur pasti paham akan tempat ini. Karena aku melihat ada beberapa arwah yang menggunakan baju zirah, sama halnya seperti yang kau pakai!"
"Hm...." Gordon merapikan kumisnya. Dia menatap langit di atas, seakan mengenang sesuatu. "Aku benar-benar tidak mengenal siapa para prajurit itu. Tapi aku mencoba mengingat."
Sean kembali memulai tingkahnya. Dia menjadi pendengar setia dalam ucapan yang mengandung arti. Ah, Sean suka sejarah, dalam ucapan pria itu pasti mengandung kisah masa lalu. Dan, pria kasur itu memulai kisahnya.
****
__ADS_1
Bertahun-tahun yang lalu. Perkampungan ini adalah perkampungan yang ramai penduduk. Sebagai tempat singgah para pedagang lintas kota. Para pedagang dari Utara, selatan, timur, barat daya dan dari segala penjuru arah, mereka akan singgah di tempat ini.
Tempat ini sangat menarik, karena berada di jalur hutan yang luas. Dan satu-satunya perkampungan yang tak pernah sepi.
Perkampungan ini dahulunya sangat ramai, para penduduk bercocok tanam. Menghasilkan panganan yang di sediakan oleh alam, dan mereka mengelolanya. Hingga salah satu vandal dari pulau Hurian mengetahui kalau tempat ini mengandung biji besi sebagai bahan baku utama pembuatan senjata perang dan berbagai macam tumbuhan beracun yang tidak bisa di temukan di pulau mereka ada di sini.
Para Hurian itu bertekad mendapatkan dan menguasai tempat ini. Apapun caranya, mereka harus menjadi penguasa kampung yang makmur ini. Termasuk dengan cara ingin membuat lengah para tetua kampung dengan tawaran konyol mereka.
Karena tetua kampung tidak mau tunduk pada aturan yang di tawarkan oleh para Hurian, mereka mengajukan kesepakatan.
Bahkan isi kesepakatan itu hanya menguntungkan beberapa pihak dan merugikan pihak penduduk kampung. Tanpa ada yang tahu, kesepakatan yang di tolak oleh penduduk kampung ini justru membawa Mala petaka.
Diam-diam para vandal dari Hurian itu menyerang dan menindas para penduduk kampung secara brutal dan membabi buta. Di malam itu, para Hurian membakar, menindas, mencekal dan membunuh dengan kekejaman di atas kekejaman neraka. Mereka melakukannya tanpa ada rasa bersalah. Setelah menguasai semua apa yang mereka inginkan, akhirnya mereka meninggalkan tempat ini.
Kampung ini pada akhirnya menjadi abu dalam sekejap.
Kejadian ini sampai di kota saranjana. Mendengar berita kematian seluruh penduduk, beberapa prajurit yang menjadi bagian dari tim perang, di terjunkan di tempat ini. Dan malangnya, para prajurit perang itu tak pernah kembali setelah di tugaskan di sini.
Aku, selaku kepala prajurit tempur. Beberapa tahun terakhir ingin melibatkan diri secara langsung. Melihat sisa-sisa pertempuran ini. Namun sayang, apa yang aku lihat justru membuat aku tercengang.
Ratusan orang sudah bermandikan darah di tempat ini. Semua prajurit ku, panglima perang, dan penduduk kampung, semuanya sudah tak bernyawa. Setelah aku telusuri, para Hurian itu ternyata tidak hanya membunuh, tapi juga mengambil pedang pusaka yang telah lama mereka incar dari penjaga kampung.
Sebelum mereka menyerang dan membunuh orang-orang dengan racun mereka. Para gort dan mosarus juga menyerang tempat ini sekedar ingin mencari mangsa. Para anak-anak, wanita hamil dan semua penduduk kampung setiap saat harus waspada. Serangan akan tiba kapan saja.
Saat aku masuk kedalam kampung ini. Yang terlihat adalah bangkai-bangkai yang tergeletak. Semuanya tak ada yang selamat. Kecuali, satu prajurit ku yang mati beberapa hari yang lalu di kuil di atas bukit di dalam hutan itu.
Dia selamat setelah bersembunyi di dalam kuil. Dan aku, di sini sudah berada cukup lama. Sekian lama mencari jalan keluar, pada akhirnya aku tidak bisa menemukan jalannya.
Seperti itu kisah yang masih aku ingat, selebihnya mungkin aku melupakan setiap detail kejadian.
****
Gordon menjelaskan panjang lebar. Seperti biasa, Sean sangat menikmati cerita ngeri di masa lalu.
Sean berpikir, sesaat setelah Gordon mengatakan bahwa orang-orang di sini mati sadis karena serangan para Hurian. Itu sebelum terjadi kematian massal ini. Kemungkinan besar gambar di atas batu besar di luar kampung di ukir sebelum penduduk kampung itu mati akibat racun dari pulau Hurian. Begitu peliknya penderitaan yang di hadapi oleh para penduduk kampung ini.
Saat Sean sedang menyimpulkan cerita, tiba-tiba kampung yang gelap dan sunyi ini berubah menjadi terang benderang.
Lampu-lampu menyala di sepanjang jalan, rumah-rumah penduduk di penuhi oleh banyak orang. Orang-orang hilir mudik di jalan perkampungan sambil menuntun hewan peliharaan mereka seperti harimau besar, kuda, singa. Semuanya beriringan.
Anak-anak tertawa bahagia, bermain loncat-loncatan menggunakan tali dari rotan yang lentur. Lalu membuat sebuah permainan seperti membuat garis di tanah, lalu melemparnya dengan genting dan menendangnya memasuki kotak-kotak demi kotak yang tergambar di tanah.
Lalu, tawaan anak-anak itu sangat riang. Sean melihatnya semua itu, sedikit menyungging tersenyum. Mereka begitu bahagia dengan kehidupan khas penduduk kampung. Hingga, Jessica menepuk pundak Sean dengan keras.
"Apa yang kau pikirkan, Sean?" tanya Jessica penasaran.
Seketika Sean tersadar. Ternyata tadi hanya sebuah bayangan di masa lalu saja. "Tidak... Aku tidak memikirkan apapun!" jawab Sean singkat.
Jelas tadi Sean melihat kampung tadi sangat ramai. Walau sekilas, tempat ini sangat indah. Lampu-lampu menghiasi jalanan.
BERSAMBUNG.
__ADS_1