
“Tidak mungkin. Tidak mungkin kau....”
*******
“Hahahha.....”
Terdengar, dari atas suara menggelegar tertawa puas. Dia atas tebing yang tinggi ini, ada seseorang yang menyela pertikaian antara Elius dan Sean—yang memaksa orang-orang di bawahnya mendongakkan kepala menatap ke atas.
Mata Sean yang sudah bersinar memerah, menatap sinis pria pengganggu itu.
“Pangeran. Berhati-hatilah. Dia Xavier, Raja neraka!” Crypto berteriak, memperingati Sean agar waspada.
Sean tak bergeming, namun mata yang terus bersinar itu tidak bisa hilang seiring gairah darah Sean bergejolak.
Bahkan sinar di tubuhnya, masih terus berkilau memancarkan cahaya terang.
“Hahaha.... Elius yang malang. Menghadapi seorang Lausius seorang diri. Dasar penjahat serakah.”
Tubuh Xavier melayang di udara, perlahan turun menapakkan kakinya di pasir yang panas ini. Dengan sombongnya dia memamerkan keahliannya yang mampu melayang di udara.
“Tak ku sangka. Ternyata raja neraka Xavier juga datang kemari,” kata Elius tersenyum miring. Tangannya semula tertahan di dada akibat darah yang terus mengucur—perlahan dia lepaskan.
Seiring orang-orang itu melihat, tubuh yang sudah di tusuk bahkan tembus oleh pedang Sean—kembali tertutup sempurna. Darah-darah yang sempat menetes, kini pulih ke jiwa asalnya. Walau Elius masih terlihat menahan sakit.
“Sudah aku duga. Elius bukanlah lawan yang tidak bisa di remehkan.” Melihatnya saja, Xavier tahu kalau Elius memiliki kekuatan tersembunyi yang mampu meningkatkan kekuatan dalam keadaan terdesak.
“Hahaha..... Xavier rupanya mengenal Elius lebih dari apapun.”
Ketika dua orang itu berbincang penuh ambisi, Sean hanya menatap omong kosong orang-orang itu saja.
Panasnya gurun, tak membaut Sean merasakannya.
Xavier mendengus kala ucapan sombong si pria ambisius—Elius berkata manipulatif. Namun tidak menutup kemungkinan, luka yang di berikan oleh Sean tidak memberikan efek apapun. Pasti Elius terluka, terang Xavier memiliki kesempatan bisa mendapatkan Lausius di depan matanya. Lebih besar dari perkiraannya.
“Kali ini. Kita kembali bekerja sama seperti perang Troya tiga ribu tahun yang lalu. Aku yang akan melumpuhkan serangan Lausius muda kali ini.”
“Apakah kau sedang berinisiatif?” tanya Elius.
Xavier tersenyum miring. “Bahkan kau tidak bisa mengalahkannya.”
Oke, Elius paham. Kali ini dia gagal. Ini adalah kegagalan pertamanya menghadapi Lausius muda. Dan dia mempersilahkan raja neraka itu memulai aksinya—dengan menyombongkan kekuatannya pada Lausius muda. Dia ingin menjadi penonton kekalahan ini saja. Pada akhirnya, Elius yang akan menikmati permainan ini.
“Baiklah. Buktikan bahwa kau benar-benar raja neraka sejati.” Elius bersua, dengan niat terselubung. “Jika kau gagal. Maka aku harap, kau tidak menyesali perbuatan mu.”
“Tidak perlu kau memancing emosi ku. Aku tahu apa yang akan aku lakukan.”
Senyum miring itu perlahan menatap sinis Sean yang di punggungi oleh Xavier. Dari jarak beberapa meter, mereka saling adu pandangan.
“Lausius muda. Sebelum daun mu makin sempurna, jangan harap kau bisa mendapatkan kekuatan itu. Aku tidak akan membiarkannya!”
Sean tidak mengerti ucapannya apa. Lagi pula Sean baru pertama kali ini melihatnya, bahkan tidak ada dendam pun antara kedua orang itu. Namun sayang, Sean paham. Mereka adalah musuh-musuh yang di katakan oleh para Dewi-Dewi di sini. Musuh yang akan di hadapinya dalam setiap perjalanan. Mereka adalah rintangan yang nyata bagi Sean.
“Sean. Berhati-hatilah,” teriak Jessica dari belakang. “Kau jangan sampai terluka.”
Sean meliriknya sebentar, sedetik kemudian melihat Xavier dan dua orang yang ada di belakang raja neraka itu. Crypto dan Gordon. Mereka tengah menderita telak akibat pukulan dan serangan dari Elius.
“Hei siluman iblis,” Sean berkata. “Kau seharusnya lari sebelum aku memenggal kepala mu.”
Sean mengacungkan pedangnya. Besarnya senjata itu, bukan berarti akan membuat nyali raja neraka yang di penuhi oleh api itu menciut. Dia memang menyeramkan, namun Sean tak begitu takut padanya.
“Itu artinya kau harus menerima kekalahan mu!”
Xavier memulai lebih dahulu serangan. Kekuatan dan kecepatan bak anginnya, tiba-tiba sudah ada di depan mata Sean. Entah sejak kapan tangannya tiba, tidak tahu bahwa Sean sudah terangkat dan tercekik oleh tangan yang keras bak besi ini.
“Akh....” Sean mengerang. Mencoba melepaskan cekikan yang membuat dia tak bisa bernapas. Sementara Xavier mencekiknya, hingga tubuhnya melayang tinggi di udara.
“Hahahaha..... Kau pikir kau mampu mengalahkan aku. Jangan harap kau akan selamat dari cengkraman Xavier, wahai Lausius lemah!”
“Sean.” Dari sudut tebing, Jessica memanggil namanya. Anak itu pasti khawatir pada dirinya. “Sean kau harus bisa. Kau tidak boleh kalah sean.”
“Hahaha..... Hei bocah manis. Bicara apa kau. Aku tidak mengerti!” ledek Xavier.
Menjengkelkan. Jessica kesal pada makhluk itu. Jessica melemparnya dengan batu lumayan besar—seukuran telapak tangan. Tetapi, batu itu berhasil di tangkis oleh Xavier dengan kekuatannya hingga menjadi pasir, lalu hancur tak bersisa.
“Ah.” Jessica bergidik ngeri. Horor sekali melihat Xavier amat hebat. “Ligong. Apakah dia makhluk paling kuat?” Jessica bertanya pada makhluk hitam di belakangnya.
Ligong mengangguk, menggigit baju Jessica. Dia mempertandakan kalau Xavier amat kuat.
__ADS_1
“Di antara kalian semua. Jangan harap bisa menyelematkan pangeran kalian ini. Sebaiknya kalian pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran untuk membunuh kalian.”
Xavier menatap semua orang di sana. Puluhan prajurit berbaju perang pun sudah bergetar menggigil. Mereka tahu siapa itu Xavier. Dengan kekuatannya saja, sekali jentik mereka bisa hancur bagai debu.
“Hem.... Nampaknya benar. Raja neraka di takdirkan akan memiliki Lausius terakhir. Raja yang bijaksana.”
Xavier menoleh, satu tangannya tak melepaskan Sean. Satu tangannya lagi memegang pedang besar yang dia bawa dari neraka.
“Sudah aku katakan. Raja neraka bukanlah tandingan siapapun. Jadi jangan macam-macam dengan ku.”
Senyum miring dari Elius, tak bisa mengubah keadaan bahwa dia gagal. Kali ini si Xavier yang berhasil mendapatkan mangsanya. Tetapi—
“Kalian jangan senang-senang dahulu wahai para iblis.”
Kedua orang itu, Xavier dan Elius terperangah. Sialnya, mereka mengira kalau Sean akan berakhir cepat atau lambat atas cekikan maut Xavier. Namun, nyatanya itu salah. Sean—
Zrash!! Zrash!!
“Akh.....” pekikan penuh kesakitan dari Xavier mengguncang seisi tanah tandus ini. “Tangan ku. Kau...... Kurang ajar!”
Ya, Sean memotong tangan Xavier, hingga terputus. Tangan api itu, tergeletak di tanah. Sementara Xavier tertunduk kesakitan.
“Berkah dari langit jika kalian bisa mendapatkan putik bunga dari Lausius muda. Kalian akan membayarnya dengan nyawa saat ini juga!”
Sean menanggalkan pedangnya di leher Xavier yang tertunduk menahan sakit akibat terputus tangannya. Suara Sean membulat—yang membuat Jessica dan yang lainnya yakin kalau itu bukan Sean. Apalagi biji matanya yang bercahaya, serta tubuhnya. Mereka percaya, itu adalah roh para pendahulunya yang mengendalikan diri anak itu.
“Hahaha.... Sungguh beraninya kau pangeran muda.”
Sean tidak terkejut kala Xavier yang tadi mengerang tiba-tiba terbahak-bahak. Tangan yang terputus itu, kembali menyatu. Dia mampu membelah diri layaknya air lalu menyatu kembali. Kemudian berdiri gagah di depannya, menenteng pedang besar yang dia bawa dari neraka. Tempat asalnya berada.
“Aku tidak butuh pujian mu. Aku akan membuat kau membayar semua perbuatan yang kau lakukan.”
“Jangan harap itu terjadi!”
Xavier berlari secepat kilat, seperti sebelumnya. Xavier sudah ada di depan Sean. Dia sudah mengayunkan pedangnya, menyerang Sean dengan kekuatan penuh.
Namun Sean bisa mengetahui serangan itu. Dengan santainya, Sean mampu menangkis pedang Xavier.
TING!!
“Aku akan mengubahnya menjadi terjadi!”
Rahasia apa yang ada pada anak ini. Kenapa dia sangat kuat. Kenapa dia bisa menangkis pedang ku yang terkenal mematikan. Apakah cahaya itu yang membuatnya semakin merajalela merajam diri ku.
Setahu ku. Belum ada Lausius yang di takdirkan kuat seperti ini sebelumnya. Apakah ini sebuah pertanda bahwa aku memang sedang tidak dalam kekuatan besar. Ataukah aku memang benar-benar kalah menghadapi anak ini.
Xavier memicingkan matanya, dia meneliti dengan jelas setiap inci tubuh anak yang telanjang dada itu. Benar saja, mungkin cahaya itu yang membuatnya lebih kuat. Seingat Xavier, semua Lausius memang memiliki cahaya. Bedanya, mereka tak sekuat anak ini. Namun—
“Apa rahasia dari diri mu. Kenapa kau bisa menangkis pedang ku.”
Sean tak menggubrisnya. Alih-alih menjawab rasa penasaran Xavier, justru Sean bertindak cepat. Menyeret pedang besarnya, menuju ke arah Xavier dan menghujam makhluk ini dengan pedang merah menyalanya itu.
CTANG TING.
Suara adu pedang itu menggema. Orang-orang di sana tercengang. Mereka menyaksikan pertarungan terhebat yang pernah di saksikan.
Xavier terkenal dengan kekuatan hebatnya. Sangat sulit baginya di kalahkan. Namun pada hari ini, Sean mampu membuat mereka terpukau. Bahkan baru kali ini mereka bertemu, namun sudah memulai pertarungan dahsyat.
Senyum miring sudah pasti menghiasi wajah Elius. Dia adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan dari pertarungan ini.
“Bertarunglah kalian. Aku hanya menjadi penikmat pertarungan ini. Saat Lausius kelelahan, maka aku akan menyerangnya.”
TANG TING.
“Argh.....” Sean mengerang, melompat ke udara, berputar sempurna, lalu menghunus dan menghujam mata pedangnya. “Matilah kau!”
Xavier berusaha. Sedari tadi dia hanya menangkis, tidak berani menyerang. Sebab Sean lebih kuat darinya saat ini. Setiap langkah serangan Xavier, berubah menjadi pertahanan. Sean selalu mematikan setiap serangan demi serangan dari Xavier —yang memaksa raja neraka ini menyiasati pertarungan. Kali ini pun dia tetap menangkis.
TING!!!
Suara adu pedang itu, membuat pedang yang memayungi kepala Xavier sebagai tameng, terpental hingga beberapa meter. Dan Sean menendang dada Xavier, sampai dia juga menyusul pedangnya terpental menjungkal.
“Celaka. Ada apa dengan ku. Kenapa kekuatan ku seakan tidak ada artinya di hadapan anak itu!” dalam benak Xavier di penuhi tanda tanya.
Sementara di depannya, Sean siap menghabisi dirinya dengan sekali tebasan.
“Maka hari ini aku akan menghabisi kekacauan yang kau buat wahai iblis neraka,” pekik Sean.
__ADS_1
Lagi dan lagi, dia melompat ke udara, menghujam pedangnya di kepala Xavier. Tetapi—itu gagal.
Ambisi Sean terhenti kala Xavier bisa menghindar dari serangannya.
Celakanya, Xavier di bantu oleh wanita cantik. Jika tidak, Sean pasti sudah membunuh makhluk itu.
“Hem....” berhasil menghindar dari serangan Sean, wanita penyelamat Xavier tersenyum puas. Lekukan bibirnya, menggores sempurna. Seakan menunjukan dia adalah wanita cantik yang perkasa. “Jadi ini Lausius muda yang sudah mengguncang tanah surgawi,” kata wanita ini dengan senyum miring.
Sean lagi-lagi memicingkan matanya. Begitu banyak musuhnya hari ini, membuat Sean beringsut kesal. Malangnya hidup yang dia jalani.
“Zumirh. Kau....”
Xavier memandang Zumirh, yang di balas oleh wanita ini dengan senyum miring khas dirinya.
“Sudah aku katakan. Jika tidak memiliki nyali, jangan mencoba menyerangnya seorang diri.”
“Kau.....”
“Jika aku tidak datang, apakah kau yakin Elius akan menyelamatkan mu?” singgung Zumirh si iblis wanita yang cantik nan berwibawa di sukunya.
Elius terkekeh kala wanita terhormat seperti Zumirh menyinggungnya.
“Hasil dari menyinggung ku. Maka dia berhak menerima kenyataan bahwa dia bukan apa-apa di hadapan Lausius muda itu.”
Kembali, wanita yang memapah Xavier berdiri ini—menyudutkan bibirnya tersenyum miring. Bibir merah meronanya, seakan mampu membuat siapapun terpukau bersiul menginginkannya.
“Hou. Kalau begitu, biarkan aku mencoba—sejauh mana kekuatan anak itu.”
Zumirh menanggalkan Xavier, dia ingin mencoba kekuatan Lausius yang sudah mengalahkan dua pejuang kejahatan di tanah ini. Elius, bukan penjahat namanya jika tidak memprovokasi sekutu-sekutunya.
Melihat Zumirh yang ingin menjajal kekuatan Sean, merupakan keuntungan tersendiri bagi Elius. Sebab, siapa yang tidak tahu wanita iblis dari dasar bumi ini. Wanita yang terkenal dengan kekuatannya, bahkan belum pernah dia gagal dalam bertarung.
“Aku tidak yakin kau bisa menang melawan Lausius muda itu. Namun, aku harap kau bisa menang, walau hasilnya nihil.” Kata-kata yang terucap dari mulut Elius, adalah bentuk semangat di balik penghinaan ini bagi Zumirh.
“Dengan senang hati aku akan menyerangnya!”
Zumirh sama seperti kedua orang itu. Dia memiliki kekuatan kecepatan tinggi. Sekali lirik, dia sudah bisa di pastikan ada di depan Sean.
Namun, berkat mata yang bersinar bak darah ini. Sean mampu melihatnya dengan kecepatan lambat.
Dari jarak beberapa meter, wanita secantik bidadari namun berhati iblis ini, mengeluarkan sebuah kipas yang di setiap sisi lekukannya amat tajam bak belati.
Kipas dengan lima mata pisau nan tajam ini, mengibas di wajah Sean yang membuat Sean hampir tak bisa menghindar dari serangan ini.
ZRAT!
Sedikit kulit wajah remaja ini robek, mengalirkan darah segar. Sean mundur beberapa langkah dengan posisi kuda-kuda yang baik. Sementara Zumirh mendapatkan satu poin.
Darah di ujung kipas tajam itu, dia jilat penuh makna. Lidah yang bersih, mulai mengecap rasa dari manisnya cairan penghidupan para Lausius.
“Hem.... Sangat nikmat,” katanya yang mulai menikmati sensasi darah Sean. “Bisakah kita mencobanya sekali lagi.”
Sedetik kemudian, belum sampai Sean membalas ucapannya. Zumirh sudah ada depan mata Sean.
TANG, TING!!!!
Beruntung, Sean bisa menangkis serangan Zumirh. Tapi sialnya bagi Sean, wanita ini amat kuat. Sean kembali terpukul mundur.
“Pangeran. Hati-hati,” teriak Crypto. Namun tak ubahnya, anak itu sudah terpental.
Dan sayangnya, Zumirh lagi-lagi menyerang Sean. Bertubi-tubi.
TANG TING!!
Adu pedang itu tak terhindarkan. Sean tidak bisa menyerang, Zumirh selalu mematahkan setiap langkah Sean. Sean hanya bisa menghindar, tak ubahnya itu yang Sean lakukan. Sama seperti yang di lakukan oleh Xavier tadi.
Hingga dua kali Sean terpental akibat tendangan Zumirh. Hal ini membuat Sean harus putar otak menghadapi wanita ini.
“Dia jauh lebih kuat dari perkiraan ku. Kenapa dia sangat kuat, di balik tubuhnya yang gemulainya. Apakah dia yang di sebut sebagai pahlawan di jalan iblis.”
Sean ingat, ketika di ruangan manuskrip orang-orang Helian, dia membaca salah manuskrip yang memuat nama pejuang wanita di jalan iblis. Tidak jelas spesifikasinya, yang pasti—hal ini berkaitan dengan wanita di hadapannya ini.
“Apakah kau menyerah sayang,” kata Zumirh dengan ucapan sombongnya. Lagi, wanita iblis cantik ini menjilati semua mata kipas yang tajam. Lirikan matanya menggoda, dengan riasan tipis sempurna. Menambahkan kesan kalau dia patut di juluki 'Si iblis wanita berdarah dingin."
“Jangan harap itu terjadi!”
BERSAMBUNG
__ADS_1
Akhirnya aku bisa up setelah beberapa hari nggak up. Jangan lupa tinggalkan like dan KOMENTARNYA ya mengenai kisah Sean. Dari 417 akun. Mohon berikan semua like kalian, jangan di favorit kan saja tapi tidak mau like serta komen. Kan nggak enak rasanya.
Jangan lupa tinggalkan bintang lima yah. Naiki rating novel ini, jika kalian menyukai kisah Sean. TERIMA KASIH.