Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 36


__ADS_3

PEDESAAN PART 2


Para asgart melanjutkan perjalanan yang lebih jauh lagi menuju pemukiman penduduk.


Di sana Sean dan teman-teman nya di sambut dengan ramah dan bersahabat oleh penduduk yang kesana kemari.


Penduduk di desa itu terlihat mengenakan pakaian tradisional seperti di zaman abad kejayaan turki.


Terlihat bahwa mereka amat santai di pagi hari dengan cangkul dan peralatan kerja lainya. "Petani," gumam Sean.


Para penduduk di desa ini begitu memperhatikan penampilan anak-anak. Seakan mereka belum pernah melihat manusia macam Sean.


Bahkan mereka tak bisa melepaskan pandangan mereka dari Sean dan sahabatnya. Seolah ada sesuatu di tubuhnya, Sean bingung pada sikap ramah mereka namun perhatian tajam tak berubah.


"Apakah ada yang terjadi sesuatu pada ku?" Sean bertanya pada asgart.


"Tidak! mereka hanya melihat mu baru kali ini masuk kota ini. Jadi hal itu wajar bagi penduduk Kota ini!" driyad bicara jujur.


"Benarkah?" sahut Sean ingin memastikan ucapan driyad.


"Tentu saja. Kau aneh di mata mereka, oleh karena itu mereka menatap mu heran!"


Sean mulai menurunkan kakinya. Tubuh itu tak lagi menempel pada punggung asgart yang hangat.


Ia benar-benar takjub pada orang-orang yang ia lihat. Seakan dirinya sedang memasuki lorong waktu yang membawanya di era dinasti Syailendra, yaitu dinasti yang di percayai membangun candi Borobudur beratus-ratus tahun yang lalu. Jelas dirinya masih ingat pada cerita yang ia dapatkan dari buku berjudul, "HISTORICAL OF BOROBUDUR TEMPLE IN JAVA ISLAND." Dimana buku itu mengatakan bahwa para penduduknya berpakaian pramodern terbuat dari kulit domba dan sepatu boot terbuat dari kulit kayu atau kulit ikan gerisi.


Pikir Sean buku yang ia baca tak sepenuhnya benar, sebab orang yang ia temui tidak seperti apa yang ada dalam tulisan buku itu.


"Cuaca disini hangat, mana mungkin mereka mengenakan sesuatu yang terbuat dari kulit. Bukankah yang berkaitan dengan kulit adalah cuaca dingin bersalju?!" Sean berpikir sejenak melihat apa yang ada di matanya.


"Pembodohan!" tukasnya menyebut buku yang ia baca. Buku fiktif yang menipu pembacanya dengan bualan tak berguna.


Sean sangat mencintai sejarah, oleh karena itu ia tak begitu percaya pada teori-teori yang di ciptakan oleh orang-orang barat sebelum dirinya sendiri yang merasakannya.


Diantara teori-teori yang tak ia percayai ialah, teori Darwin, teori flat earth dan teori lukisan Leonardo Davinci serta konspirasi J. W. Bush.


Semua teori itu paling sulit di terima akal sehat Sean apalagi jika teori itu di buat berdasarkan sudut pandang dan imajinasi belaka tanpa melihat dan menyurvei tempat itu secara langsung. Sulit baginya menerima apa yang di sebutkan dalam sejarah tetapi berbeda dengan apa yang ia lihat.


Sean amat kritis akan hal ini.


Hingga seorang wanita tua datang menghampiri dirinya. Wanita paruh baya dengan tubuh amat besar seperti seseorang yang terkena obesity, dan begitu antusias kala melihat dirinya.


Tubuhnya seperti ulat yang sedang berjalan apalagi saat melihat tingkah centil wanita tua itu.


"Oh lord! kau amat tampan nak!" tangannya menyentuh wajah putih Sean, wajah yang kontras dengan warna porselen, pucat pasi namun masih segar dan sedap di pandang.

__ADS_1


"Apakah kau datang dengan para asgart ini!" ia mulai penasaran. Jelas jika Sean datang bersama kawanan asgart, bahkan asgart itu nyata tubuhnya yang besar berdiri di depannya.


Sean mengangguk saja, bahwa dirinya benar bagian dari kawanan asgart itu.


"Sudah kuduga. Amat beruntungnya para asgart bisa bertemu kalian!" wanita itu dengan ekspresi menyesal amat menyayangi jika Sean lebih dahulu bertemu asgart.


Mata wanita itu kemudian dengan jelinya, melihat Yudhar dan Jessica.


"Oh tidak! ternyata kau datang bersama dengan teman rupanya!" wanita itu berkilah seraya tangannya memegang pipi Jessica dengan manja.


"Aku tahu! aku telah mendapati seorang wanita cantik disini!"


Lalu wanita itu juga mengunjugi Yudhar. Ia menyentuh kulit Yudhar yang amat gelap khas orang-orang di tempatnya.


"Kalian adalah teman-teman yang serasi. Aku sangat menyukai kalian anak-anak!" wanita itu dengan ekspresi senang, tak bisa menyembunyikan sikap rancu itu.


"Maaf nyonya, apakah kau baru pertama kali melihat seseorang seperti kami disini?" Sean menyela tingkah antusias wanita berambut Cepol itu.


"Oh tentu saja nak, kau amat tampan. Kulit mu sehat, kau sangat harum dan segar. Aku menebak bahwa kau berasal dari ras Mongoloid dan Melanesia? bahkan belum ada penduduk kota seperti dirimu yang tampan!" wanita itu mulai memuji Sean dan tangan gemuk itu mulai berulah lagi menyentuh kulit wajah Sean.


Sementara yang lainnya hanya terbelalak heran melihat tingkah wanita itu yang amat girang menggoda Sean.


"Benarkah? tetapi Anda lebih cantik dengan pakaian anda nyonya!" goda sean. Sean mulai memujinya dengan kata-kata manis.


"Kau amat baik dengan mengatakan aku wanita cantik." wanita itu tersenyum dengan ekspresi senangnya tak bisa di bantahkan oleh wajahnya.


Dari dalam keranjang itu, ia membagi seluruh apelnya pada ketiga manusia yang ia temui.


Anak-anak hanya menerima apel pemberian nyonya itu dengan tangan tengadah.


Wanita itu amat anggun dalam bicara dan bersikap. Amat sopan bahkan Sean tak tahu harus mengatakan apa sebagai ucapan terimakasih atas apel merahnya.


"Apakah ini apel? aku rasa buah ini lebih mirip dengan buah plum!" gumam Sean dalam hati seraya biji matanya menyipit menyaksikan buah di tangannya.


"Anak-anak, kalau begitu aku pergi dulu, jangan lupa mampir kerumah ku jika kalian senggang!" wanita itu berpamitan pergi.


Namun dirinya menyempatkan diri menitip pesan manis pada asgart.


"Oh para asgart, Jaga mereka baik-baik. Aku sangat menyukai mereka!" ucap nyonya tua itu seraya meninggalkan anak-anak dan asgart.


"Hati-hati di jalan!" balas driyad menyahut.


"Wanita itu selalu saja berulah manja. Untung aku telah menandainya (menjilat sean, sehingga siapa pun dalam kota itu saat mendekatkan dirinya ke tubuh Sean maka aroma driyad yang amat pekat cukup untuk membuat mereka paham bahwa Sean adalah milik driyad!). Jika tidak pasti dia akan memaksa agar anak itu ada disisinya," ucap driyad dalam hati.


"Apa maksud dari ucapannya. Apakah mereka bukan manusia?" tanya Sean pada driyad yang masih hapal atas ucapan wanita gemuk itu.

__ADS_1


"Jangan pikirkan ucapan nyonya gendut. Dia hanya kepala suku yang tak terbiasa melihat wajah menawan. Sebaiknya kita melanjutkan langkah kita!"


Bahkan pemukiman penduduk di penuhi oleh hewan buas amat bersahabat dengan baik dengan lingkungan sekitar. Aman dan cukup kontras berbanding terbalik dengan kehidupan manusia yang begitu memusuhi para makhluk buas.


Bahkan kawanan singa di pelihara bagai domba dan di tambang di tiang lurus berbentuk stick seakan takut hewan itu lari dari pandangan.


Tak hanya itu, kucing besar itu juga terlihat memainkan sebuah bola besar yang terbuat dari rotan bundar dan keras penuh kelincahan. Seakan Sean sedang melihat kucing rumahan berukuran raksasa.


Sean menyukai tempat ini. Tempat ajaib yang belum pernah ia temu sebelumnya.


Dari pemukiman penduduk, Sean dan kawanan asgart beranjak dari tempat semula.


Mereka menuju pasar tradisional yang terlihat kuno. Barang berharga dan antik di jual di pasar yang jauh dari kesan modern.



Di pasar ini lebih kompleks lagi pemandangan yang di dapat oleh Sean. Dimana hewan-hewan bertubuh besar berlalu lalang bahkan tuannya tak takut jika makhluknya mengganggu kedamaian pasar.


Semua hewan ukurannya luar biasa besar, menandingi tubuh manusia.


Suara para pedagang amat berisik, menjajakan dagangan mereka.


Kasturi, bunga tulip, wewangian Barus, kayu Cendana bahkan semuanya mereka jajakan.


Sungguh berbeda dari apa yang Sean rasakan saat ada di kota modern new York.


Semerbak harum menghiasi hidung mancung Sean. Belum pernah ia mencium bau yang amat wangi seperti ini.


Kawanan asgart melintasi pasar itupun seakan tak membuat mereka takut. Benar-benar Sean di buat takjub serta heran pada apa yang ia lihat. Dirinya belum pernah mendapati manusia menghormati hewan saat berpapasan di tengah jalan.


Seolah para asgart memilliki aura khusus yang tidak di miliki oleh makhluk lain.


Selain itu pasar tradisional yang mereka lihat sungguh mampu menghipnotis mata. Hewan seperti gajah dengan semangat mengangkat kayu-kayu besar menuju pabrik tradisional.


Sedangkan para warganya sibuk tukar menukar.


Namun satu hal yang Sean rasakan sangat janggal. Yakni wajah mereka yang aneh.


Mereka seperti manusia pada umumnya, namun di atas bibir dan di bawah hidung lebih tepatnya garis di antara bibir dan hidung mereka tak nampak seperti manusia umumnya.


Kulit mereka bersih, tubuh mereka wangi dan suara mereka amat indah untuk di di dengar.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan kritik saran kalian ya.

__ADS_1


Penulis mengharapkan partisipasi kalian dalam menanggapi novel ini. Semoga novel ini bisa menghibur para pembaca.


Salam manis; Penulis.


__ADS_2