
“Sebelum kalian mendapatkan Lausius muda ini. Sebaiknya kalian hadapi aku dahulu.”
“Kau jangan memaksa kami menyerang,” kata salah satu pengawal Medusa. “Kami tidak ingin membuat kau mendapatkan luka yang tak berarti.”
Zumirh memiringkan sudut bibirnya tersenyum. “Hemph.... Kalau begitu, aku memaksa kali ini. Hiya......”
Seperti biasanya, Zumirh terbilang tangguh. Secepat angin, dia sudah ada di hadapan dua pengawal kekar itu. Dua terjangan keras dia tapakkan sampai membuat kedua anak buah Medusa terpental. Tepat. Pukulan itu membuat keduanya terpental tepat di hadapan Medusa. Mata ratu ular itu memicing, yang harus membuatnya tersinggung harus segera menghabisi Zumirh.
Medusa kembali mengode. Dia menggeser lehernya ke belakang, tanda bahwa prajurit yang lainnya harus menghadapi Zumirh.
Beberapa pengawal gagah itu menangkap dengan baik sinyal kode dari Medusa. Mereka bertindak cepat, membantu kedua temannya yang terpental.
Jalan mereka menggeol, maklum saja. Ekor ular mereka besar, jadi agak sulit bagi mereka berjalan cepat.
“Hiya.....”
Tombak-tombak tajam itu memulai aksinya. Menakut-nakuti Zumirh.
Mereka salah orang, wanita sekuat Zumirh bukanlah lawan yang pantas untuk ular-ular berbadan manusia ini. Zumirh memutar keempat tombak pengawal Medusa yang berhasil dia tangkap, mendorong dengan kekuatan penuh—lalu menghempas ke empat makhluk itu tepat di hadapan Medusa.
Lagi, semua pengawal Medusa kalah dalam sekali serangan. Hal ini memancing Medusa seharusnya bertindak cepat. Begitu lebih baik.
BRAK
“Jika bukan pengawal Medusa, aku bisa saja memotong ekor kalian. Lalu mengumpannya menjadi santapan para penghuni dasar neraka.”
“Sombong sekali kau!” Medusa berkata menyeru.
“Hemph.... Nyatanya, memang begitu.”
“Omong kosong apa yang sedang kau katakan?”
Zumirh mendengus, mengedutkan beberapa kali alisnya. “Maaf, kali ini aku tidak bisa melayani pertarungan ini. Aku harus pergi.”
Zumirh tahu, memasuki kekuasaan makhluk lain fatal baginya. Apalagi dia adalah penguasa tanah surgawi—
Tentunya memasuki tanah Medusa ada konsekuensi yang harus dia bayar. Entah itu dengan darah, atau nyawanya sendiri.
Zumirh mengepakan sayap cahayanya, membuka lebar. Satu tangannya meraih Sean yang mematung, kemudian membawanya terbang. Sebelum dia pergi, Zumirh memiringkan senyum. Tanda perpisahan terakhir dengan makhluk itu.
Medusa mendengus, senyum licik dia tunjukan.
“Kau kira bisa menghindar dari ku!”
Medusa, wanita itu tahu yang terbaik. Dia ikut mengepakkan sayapnya, terbang ke atas, mengejar Zumirh.
Kalian tidak salah, Medusa si ular bisa terbang. Dia memiliki sayap cahaya, sama seperti yang ada di punggung Sean dan Zumirh. Oh, lebih tepatnya semua makhluk berkekuatan tinggi memiliki sayap itu.
Lausius? Itu adalah impiannya bisa mendapatkan pangeran yang melegenda. Medusa ikut berambisi mendapatkan satu Lausius, yang ternyata pernah berkaitan dengan masa lalunya.
Zumirh menoleh kebelakang, berita buruk bagi Zumirh. Wanita ular itu sudah ada di belakangnya. Bahkan membidik anak panah yang terbuat dari kekuatan dahsyatnya.
“Sial. Dia mengeluarkan panah gurunnya!”
Medusa tersenyum kecut penuh kemenangan, bidikan panahnya dia lepaskan, hingga tepat mengenai sayap Zumirh. Dan seketika Zumirh tak bisa bergerak. Dia membeku, seakan semua syarafnya menembang. Sedangkan Sean, dia terjatuh. Terlepas dari genggaman Zumirh.
“Itulah balasan karena berani mengambil sesuatu yang menjadi milik ratu ular,” kata Medusa sumringah.
Sean yang sudah terjatuh ke bawah, di tangkap dengan cepat oleh Medusa. Kekuatan juga amat tinggi, ternyata tak kalah jauh dengan kekuatan Zumirh dan yang lainnya.
“Semula aku mentolerir keberadaan mu makhluk ular. Tetapi, kali ini. Aku pastikan keadaannya berubah. Hiya.....”
Zumirh membalas serangan Medusa. Sementara Medusa, dia memilih menapak ke bawah.
TANG TING
Suara serangan dan tangkisan itu bertempur. Dua wanita berkekuatan tinggi itu adu kekuatan.
“Jika aku tidak bisa mendapatkan Lausius ku hari ini. Maka kau juga tidak boleh mendapatkannya.”
Wajah santai di sertai senyum puas nampak nyata di wajah Medusa. Ancaman Zumirh tak berarti baginya.
“Kau coba saja. Siapa yang berhak mendapatkan Lausius kali ini!”
“Akan aku lakukan itu.”
Zumirh mengeluarkan kekuatan dahsyatnya. Satu tangannya di gunakan untuk menyerang Medusa melalui kekuatannya. Sementara satu tangannya lagi, dia gunakan untuk menyerang Medusa melalui senjata jarumnya.
Medusa melirik tangan yang sudah siap menusuknya dengan jarum. Dengan sigap, Medusa menghindar dari tancapan jarum kecil itu.
Dia memutar keadaan, tangan Medusa memegang belati kecil nan berkilau tajam. Menusuk Zumirh dari belakang. Zumirh berhasil mengelak, sedetik saja dia tidak menghindar, maka dapat di pastikan kulit wajahnya robek ketika membalikan badannya.
Suara adu pedang menggema. Pengawal Medusa serta yang lainnya memasang mata fokus. Dua wanita hebat sedang bertarung keras.
__ADS_1
Karena mereka sama-sama kuat. Terlebih Medusa terlihat selalu menghindar dari kekuatan Zumirh walau di serang berkali-kali. Hal ini memaksa Zumirh mengeluarkan kekuatan penuh, agar cepat melumpuhkan lawannya.
“Aku tidak yakin apakah kau bisa menghindar dari kekuatan api ku. Kau hanya perlu berdoa pada leluhur mu—semoga kau bisa di kenang oleh semua kaum ular mu yang menjijikkan.”
Medusa menyeringai. “Bahkan raja ular pun tak bisa menahan ku untuk hidup abadi.”
Terpaksa, Medusa juga mengeluarkan kekuatan dahsyatnya. Hal ini pembuktian—bahwa kaum ularnya tidak selemah yang di pikirkan oleh makhluk-makhluk lainnya.
Mereka sama-sama mengeluarkan cahaya besar yang menyilaukan mata. Kemudian dua cahaya merah dan biru itu saling bertemu.
“Hiya....”
Dari danau Osirus, Dewi Handita dan Dewi Pharos menyaksikan pertarungan di gurun tandus. Melalui bola kaca, mereka yang tengah berada di kuil Douglass—memantau setiap apa yang terjadi pada Sean juga di sana.
“Mereka tidak ada henti-hentinya ingin mendapatkan pangeran itu,” kata Pharos yang lelah melihat pertikaian antar penguasa. “Kapan mereka akan berhenti untuk tidak memperburuk keadaan.”
Dewi Handita tersenyum tipis yang menandakan bahwa memang benar apa yang di katakan oleh Pharos.
“Bahkan jika ada seribu Lausius di dunia fana ini. Tidak bisa menutup kemungkinan menjadi perburuan mereka.”
Pharos menopang kepalanya di tangan. Sikunya menyandar di kursi kerang. “Menurut mu, apakah orang-orang itu benar-benar akan berhasil mendapatkan Lausius kali ini.”
“Kau sedang bertaruh pada ku?”
Dewi Pharos mengangkat kedua bahunya. “Jika kau berkenan, biarkan beberapa Marmaida membantu pangeran.”
“Ide gila.” Handita berkata kontra, “Mengirim pasukan duyung ke tanah gersang itu. Alih-alih membantu, justru menambah korban saja. Medusa bukan ratu ular biasa. Kalian tahu, ada raja ular di belakangnya. Terlebih leluhurnya, dia adalah pimpinan ular tak tertandingi.”
“Bagaimana dengan Zumirh?” tanya Pharos.
“Wanita iblis itu sama saja. Mereka sama-sama kuat walau beda kaum.”
“Hemph...... Seharusnya begitu!” Pharos menyeringai.
****
Zumirh terhuyung mundur ketika kekuatannya hancur oleh Medusa.
Sama halnya seperti Medusa, dia juga terkecok oleh serangan itu. Namun setidaknya, dia sudah menjajal kekuatan Zumirh.
“Hemp..... Nyatanya kita seimbang,” kata Zumirh tersenyum miring.
Zumirh menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sedangkan Medusa tersenyum kecut. Wanita ular itu tidak terluka berarti, karena pada dasarnya tenaga Medusa belum terkuras. Sementara Zumirh, dia sudah bertarung beberapa kali dengan Sean.
Medusa mengeluarkan kembali senjatanya. Panah Padang pasir yang efektif melumpuhkan mangsa, kini dia kembangkan lagi. Siap bertempur demi mendapatkan Lausius.
Zumirh ternganga, dia hanya tahu sekilas tentang senjata itu. Tidak lebih. Untuk kekuatannya, belum pernah Zumirh menjajalnya selama ribuan tahun.
SIT!!
Satu anak panah di lepaskan oleh Medusa. Mata Zumirh memicing, melihat dengan jelas kilatan cahaya berwarna biru yang menghampiri dirinya.
“Kali ini kau akan berakhir iblis wanita!” kata Medusa pelan. Diam-diam dia ingin menikmati kematian makhluk itu dari senjatanya.
Tetapi, hal itu tidak terjadi. Panah Medusa melesat, menabrak tebing bebatuan hingga meninggalkan jejak. Tabrakan benda keras itu, membuat cekungan yang memuntahkan debu halus. Sampai-sampai, tebing bebatuan itu tak sempurna lagi bentuknya. Peyot.
“Apa yang terjadi? Kemana dia?”
Medusa menelisik ke sekeliling. Parahnya. Wanita iblis itu tidak dia temukan. Wanita ular ini men-decak, lagi-lagi wanita itu mampu mengecohnya.
“Hahaha......” sialnya, Zumirh berhasil menghindar dari serangan Medusa lantaran di bantu oleh Zurry. Saudara lelaki wanita itu. Pria yang mempesona, memiliki keunggulan tersendiri. Kekuatannya juga tidak bisa di ukur.
“Hemph...... Zurry rupanya.”
“Hahaha....” Zurry dan Zumirh berdiri di atas tebing yang paling tinggi di antara semua tebing. Senyum kesombongan itu membuat Medusa tak tertantang, sedikitpun. “Jika kali ini kau berhasil menang itu karena sebuah keberuntungan. Maka lain kali aku pastikan seluruh kaum ular akan binasa. Aku bekum berniat meluluhkan lantakkan kaum Medina saat ini. Karena bukan itu tujuan ku.”
“Apakah kau sedang melecehkan kaum ku!”
Medusa mendongak kepalanya, demi menatap pria menawan di atasnya itu. Walau kenyataannya dia adalah iblis.
“Hahahah..... Selamanya kaum Medina tidak akan mendapatkan tempat di tanah kemakmuran ini”
“Ingin aku robekkan mulutnya,” sambar salah satu pengawal Medusa. Dia maju, ingin menyerang dengan tombak. Tetapi Medusa mengangkat tangannya lebih dahulu, kejam jika anak buahnya yang bertindak.
“Dia bukan lawan kalian. Biarkan dia berkata-kata. Kita lihat siapa yang lebih unggul nanti.”
“Baik ratu.” Pengawal Medusa patuh. Mereka tahu, ratu ular ini sangat bijak sana.
Zurry memapah Zumirh, di atas dia mencoba menyombongkan diri sebelum pergi.
“Kita akan bertemu lagi nanti ratu ular. Tetapi dalam perang besar.”
Setelah dia berkata, Zurry pergi meninggalkan gurun tandus ini. Sayap-sayap cahaya itu menghilang di balik awan gurun.
__ADS_1
“Pengecut selamanya tidak akan pernah berani menghadapi ku,” gumam Medusa pelan.
Elius pun begitu, dia memilih beranjak. Medusa kali ini pemilik Lausius dari semua orang yang memperebutkannya. Dia tidak berani mengusik, justru Elius ikut mengepakkan sayapnya. Dia lebih memilih meninggalkan gurun Medusa ini.
“Jika kekuatan ku membaik. Akan aku rebut kembali Lausius itu dari tangan mu ratu ular. Untuk sekarang, aku mengalah.”
Medusa hanya melihatnya saja. Terbang dengan sayap lalu kabur adalah cara pecundang mengalihkan perhatian kalau mereka lemah. Selalu begitu pemikiran ratu ular ini tentang orang-orang payah itu.
Medusa melirik Xavier. Ternyata raja neraka yang terkenal sakti itu, juga telah mengepakkan sayap cahayanya. Sayap api itu, siap ikut meninggalkan tanah kekuasaan Medusa.
“Aku harap, kali ini kau beruntung. Jika ada kesempatan, aku adalah bebuyutan mu yang akan merebut Lausius.”
“Ratu mereka.....”
Medusa mengangkat tangannya.
“Jangan katakan. Biarkan para pengecut itu lari.”
“Oh. Baiklah ratu.” Lagi-lagi kepatuhan para pengawal itu membuat mereka tunduk pada Medusa.
Semua sudah berakhir? Tidak.
Ketika semua pergi, maka kesempatan itu sudah datang. Ini adalah awal dari permulaan. Sejatinya, Lausius itulah yang dia inginkan. Beruntung bagi Medusa, pangeran yang dia tunggu akhirnya datang dengan sendirinya di tanah kebesarannya—tanpa harus bersusah payah mencarinya.
“Pengawal!” teriak Medusa. Ke enam pengawal yang ada di belakang Medusa mendekat. Dengan hormat siap menerima perintah ratu mereka. “Bawa pangeran ke istana Medusa. Sementara, yang lainnya masukkan ke pintu perbatasan. Kita tidak butuh mereka. Biarkan mereka kembali ke kota Saranjana.”
“Baik ratu. Tetapi, bagaimana dengan Crypto dan Gordon?” tanya salah satu pengawal.
“Biarkan mereka pergi. Aku tidak butuh mereka.”
“Baik ratu. Kami akan menjalankan tugas.”
Para pengawal itu membawa Crypto dan yang lainnya pergi tanpa pemberontakan berarti. Juga menggiring puluhan prajurit Crypto menuju ke pintu perbatasan menuju ke kota kemakmuran itu.
“Hei, ini tidak adil!” teriak Jessica menyela ketika kedua tangannya di seret paksa. “Kau tidak bisa membawa Sean begitu saja.”
Jessica berang. Dia tidak bisa menutup rasa amarahnya saat satu pengawal berbadan kekar membopong Sean.
“Ratu bagaimana dengan gadis itu?”
“Biarkan dia ikut Crypto. Buang mereka ke perbatasan tanpa terkecuali. Aku tidak mau ada yang mengganggu ku nanti.”
Tidak peduli Jessica meronta. Medusa hanya menyinggungnya dengan senyum girang.
Kelima pengawal membawa pergi di jalan yang berbeda. Mereka berpisah di persimpangan bukit batu di tengah gurun gersang ini. Sementara, Medusa dan satu pengawalnya membawa Sean menuju ke istana.
“Hei. Kau tidak bisa membawa ku sembarangan!” ucap Sean kikuk meronta. “Turunkan aku. Aku bukanlah tawanan mu!”
Tubuhnya masih tersegel oleh jarum Zumirh. Jadilah Sean tak bisa leluasa memberontak. Medusa terkekeh geli, anak itu benar-benar telah memikat siapa saja yang melihatnya.
“Diamlah!” sentak pengawal. “Jangan buat ratu murka. Atau kau akan berakhir menjadi batu.”
Sean tidak peduli. Dia tetap meronta, menggeliat di punggung pengawal ular ini. Agar dia melepaskannya.
Mereka membawa Sean menuju ke istana Medusa melalui jalur yang terbilang aneh. Sepanjang jalan, ada banyak tebing. Seolah membantuk jalan setapak dengan dinding tebing sebagai penyempit jalur.
Jalan yang di lalui kedua ular ini, di penuhi kaum Medina yang sedang hilir mudik. Ketika Medusa sedang lewat, Sean melihat semua kaum ular menunduk, merendahkan diri di depan pimpinan mereka. Dengan hormat, mungkin karena melihat pimpinan mereka berkeliaran.
Baik pria atau wanita, semua kaum ular tak berpakaian menutup diri dari panasnya matahari di gurun tandus. Hanya untuk wanita, mereka menggunakan bra mini saja. Menutupi gundukan di dada. Sementara perut-perut langsing mereka di biarkan terbuka. Kaum wanita terlihat menggoda, dan tentu Sean akan bernafsu melihatnya. Walau dia di bawah umur.
Namun ada beberapa dari kaum ular menggunakan syal. Sekedar menutupi diri dari panasnya matahari. Suasana menuju ke istana Medusa amat ramai, seakan pusat di sini adalah pasar.
Mereka tiba di istana Medusa. Sean menghitung berapa lama perjalanan mereka.
“Di sini tidak mengenal waktu. Namun aku perhatikan, di setiap tebing memiliki garis pembatas. Jarak pembatas ini ukurannya hampir tiga meter. Yang sama dengan waktu enam puluh detik. Jika aku akumulasikan, aku sudah melewati sebanyak tiga ratus garis pembatas. Yang itu artinya adalah. Kami sudah berjalan selama lebih dari tiga puluh menit. Hemph..... Aku harus mengingat jalan masuk ke sini.”
Ya, sepanjang tebing yang Sean lalui, ada semacam garis pembatas berwarna merah berlambangkan ular. Sean menduga, pipa-pipa kecil itu adalah pembatas setiap jarak tebing. Sebagai penghiasnya, mereka memasang lambang Medusa sebagai daerah kekuasaan mereka.
Walau Sean di bopong di pundak pengawal ular ini, bukan berarti otaknya miring tak bekerja. Justru dia tetap memperhatikan setiap langkah mereka.
“Masukkan pangeran itu di ruangan ku.” perintah Medusa.
Pengawalnya dengan berbaik hati menuruti permintaan Medusa. Sean di tinggalkan di ruangan yang cukup besar, layaknya kamar.
Setelah pengawal itu pergi, Medusa menutup rapat pintu ruangannya. Sungguh megah, pikir Sean tempat ini. Dia tidak menyangka saja—kalau makhluk ular di sini bisa membangun peradaban tingkat tinggi.
Medusa tersenyum, mendekati Sean. Jari-jarinya yang lentik nan lembut, mencabut jarum kecil yang menusuk di lengannya.
“Efek dari jarum ini akan segera berakhir. Dan kau bisa dengan mudah bebas bergerak,” bisik Medusa mendesah di telinga Sean.
Dia duduk di ranjang tidur Medusa, dan Sean rasanya ingin cepat pergi dari tempat ini.
“Apakah tidak ada niat buruk kau membawa ku kesini?”
__ADS_1
BERSAMBUNG