Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 158


__ADS_3

“Ini saatnya kita bergerak!” kata Zurry memburu.


Namun, Zumirh secepatnya menarik pundak pria yang sudah siap terbang itu.


“Kau jangan gila,” gerutunya kesal. “Kau tidak lihat, dewa iblis belum sepenuhnya lengah. Dia masih waspada. Jika dia tahu kau mencoba mengambil alih keadaan, bisa jadi kau adalah korban selanjutnya.”


“Lalu? Kapan kita akan membasminya? Kau lihat, Lausius itu sudah mati di tangan dewa iblis. Tak ada lagi waktu untuk kita menunggu. Kita harus mendapatkannya.”


“Tunggu sebentar lagi, Zurry!”


Zumirh mengangkat satu tangannya, matanya terus memperhatikan wajah-wajah yang—terlihat sesak dan wajah sumringah. Mencoba meresapi, kematian Lausius.


“Kau lihat Lausius itu!”


Zurry mengalihkan perhatiannya, lalu dia mengangguk. “Ada apa dengannya?”


“Dia ....”


Sean, anak itu menggantung tak bernyawa. Tetapi, ada yang sesuatu yang aneh.


Tiba-tiba, pasir berpendar. Membentuk sebuah tornado dahsyat. Berputar tepat di bawah kaki Sean. Tubuh anak itu bercahaya, yang membuat semua perhatian kini beralih padanya.


“Dia belum mati,” ucap Zumirh memberitahu.


“Apa maksud mu?” tanya Zurry bingung.


“Dia belum mati. Lihat cahaya di tubuhnya, dia sedang berusaha membangkitkan jiwanya yang lain.”


Zurry memperhatikan, sesuai ucapan Zumirh. Sean, anak itu menunjukan sesuatu yang aneh. Zurry mulai mengakui, dia akan diam menunggu, sampai perintah selanjutnya terucap dari mulut Zumirh. Melihat apa yang terjadi pada tubuh Sean, ini kesempatan langka bagi Zurry. Ajaib, Sean memang terlihat kuat di mata pria itu.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Zurry lagi. Dia tak sabaran menantikan hal ini.


“Sebentar lagi. Kita lihat perubahannya!”


Zurry mengangguk, yang kini beralihnya perhatian. Menuju ke arah Sean, yang sedang ber-kultivasi dengan jiwanya.


Semua orang, akan di buat tak berdaya. Termasuk ketiga pria yang terluka itu, beserta Medusa yang kini ikut bersuara.


“Pangeran?”


Crypto dan dua rekannya menoleh kearah Sean, ketika Medusa menyebutnya.


“Pangeran. Apa yang terjadi padanya?” 


Medusa bingung, tapi yang lainnya jauh lebih bingung. Aneh, tubuh bercahaya anak itu makin menyala. Ini sesuatu yang ajaib, membuat dewa iblis ikut keheranan.


“Yang mulia, Lausius itu,” teriak Xavier dari bawah.


Mendengar suara Xavier, dewa iblis melepaskan cekikan-nya. Sean terjatuh, namun tak sampai menyentuh di pasir. Dia melayang di udara. Dengan posisi telentang, bisa jadi dia ber-kultivasi, meningkatkan ulang jiwanya.


“Lausius itu! Dia tidak mati?”


Mungkin, dewa iblis terkejut, terperangah tak percaya atas apa yang dia lihat. Tetapi, itulah kenyataannya. Sean, dia masih bernapas. Sebelumnya, dewa iblis mengira dia sudah mati tadi.


Dia bangga atas prestasi yang telah dia lakukan. Sebab, melumpuhkan Lausius muda ini, butuh kecerdikan yang luar biasa. Anak itu, jauh dari luar dugaan dewa iblis. Dia membuat sebuah konspirasi keraguan di mata dewa iblis.


“Bagaimana bisa dia hidup. Sihir apa yang telah di berkati para petinggi langit padannya. Rahasia apa lagi ini.”


Cahaya dan badai pasir, kini telah membangkitkan Sean dari kematian. Matanya terbuka, kini Sean bersikap normal, seakan dia baru terbangun dari mimpi yang panjang.


“Lausius. Bagaimana kau bisa hidup!” tanya dewa iblis dengan suara lantang.


“Ini bukan saatnya untuk menjawab pertanyaan mu iblis neraka. Kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan!”


Sean menarik kembali pedangnya yang sempat jatuh dari tangannya. Dengan kekuatan sihir ditangan, pedang itu kembali pada pemiliknya. Sayap mengembang sempurna, secepat kilat Sean langsung menyerang.


“Yang mulia. Berhati-hatilah!” teriak Xavier memperingati.


Dewa iblis sedang mencoba memperhatikan, tetapi kecepatan bak angin itu, kini sudah berada didepannya. Jauh lebih cepat, dari peringatan Xavier.


“Yang mulai dewa iblis!” teriak Xavier lagi. “Lausius itu ....”


“Hiya ..., kau akan berakhir. Tamatlah kau sekarang iblis pengacau!”


Teriakan Sean penuh amarah, anak itu membabi buta.


Belum sempat dewa iblis menoleh, pedang besar Sean sudah menghantam leher dewa iblis. Memenggal kepala itu, hingga terbelah menjadi dua.


Seketika tubuh dewa iblis terbagi menjadi dua. Terjatuh di pasir, sedangkan kepalanya melayang di udara. Akibat serangan berantai Sean. Tak lama, tubuh itu hancur, menyatu dengan pasir yang gersang.


“Yang mulia!” teriak Xavier histeris.


“Dia sudah mati. Untuk apa kau merasa kehilangan!” ucap Sean dengan napas terengah-engah. Yang sebenarnya, Sean tidak sadar atas apa yang dia lakukan.


“Tubuh dewa iblis hilang di pasir, dia mati. Lausius itu telah memisahkan jiwa dan raganya. Yang mulia, dia kalah telak. Bagaimana ini bisa terjadi?”


Xavier keheranan. Dia memandangi tubuh dewa iblis yang kini sudah hilang di hamparan Padang pasir. Xavier, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia bingung.


Crypto dan yang lainnya juga ikut terheran, sama halnya seperti yang di rasakan Xavier. Ada banyak pertanyaan dari kejadian yang baru saja mereka lihat. Namun ...,


“Pangeran masih hidup. Bagaimana itu bisa terjadi?” gumam Crypto pelan.


Medusa mendengarnya, dan wanita ular itu pun menjawabnya. “Kemungkinan dua jiwa didalam tubuhnya yang memaksa pangeran hidup kembali. Itulah kenapa pangeran bisa menghidupkan nyawanya yang hilang.”

__ADS_1


“Apakah itu berarti, pangeran memiliki banyak nyawa?”


Medusa menggeleng. “Asumsi ku tak sampai sejauh sana. Tetapi ..., Uhuk.”


Medusa memuntahkan darah lumayan banyak. Ceceran darah mengenai dadanya, dia terjatuh mendadak, nyaris tak sadarkan diri. Beruntung, Crypto berhasil menangkap tubuhnya.


“Kau kenapa? Apa yang terjadi pada mu?” tanya Crypto khawatir.


“Aku ..., terluka serius. Dan, biasanya aku di sembuhkan oleh jiwa dewa ular. Berhubung jiwa itu tidak bersama ku, maka aku ....”


“Meduasa. Kau kenapa?”


Crypto mengguncang tubuh Medusa. Namun wanita itu sudah tak berdaya. Dia makin lemah, tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Samar-samar, mata wanita itu sudah menutup perlahan. Mungkin, rasanya berat untuk wanita itu membuka lebar kelopak matanya.


Malangnya, tubuh Medusa berubah menjadi sebuah cahaya yang membentuk tubuh ular naga bermahkotakan kristal. Crypto menyadari hal ini, dia semakin terkejut.


“Medusa. Apa yang terjadi pada mu!”


Sayangnya, tubuh itu telah lenyap menjadi sebuah roh jiwa ular. Terbang rendah, berputar di atas tubuh Crypto. Pria itu ingin meraihnya, namun itu tak mungkin terjadi. Roh jiwa ular Medusa tak bisa digapai.


Terbangnya roh itu makin mendekati Sean. Pelan-pelan dia berputar di sekitar Sean. Wujudnya yang besar, kini makin mengecil, mengelilingi tubuh Sean. Sean mengikuti roh itu, berputar di sekitar tubuhnya.


Dan ..., Pada akhirnya dia menghilang dari pandangan orang-orang yang melihatnya. Dia berubah menjadi sebuah cincin, yang melekat di jari manis Sean. Sean tak menyadarinya, kecuali ....


“Lausius. Kau harus mati di tangan ku. Akh ...,”


Xavier mencoba menyerang Sean dengan kekuatan penuhnya. Tahu akan hal itu, Sean membalasnya dengan kekuatan di tangannya. Membuat pria itu terpontang, terjungkal dan terpental.


Sihir Sean membuat Xavier terdesak lemah. Kekuatan besar, belum pernah di terima oleh Xavier sebelumnya. Setelah Sean membalas ulah Xavier, tiba-tiba Sean tak sadarkan diri.


“Pangeran!” teriak Crypto.


Dari tebing tempat Zumirh dan Zurry berdiri. Keduanya saling lempar pandang, mengisyaratkan ide mereka sebelumnya.


“Ini saatnya Zurry,” ucap Zumirh picik.


Pria itu mengangguk. “Sebelum yang lainnya datang mendapatkan Lausius itu. Jangan buang-buang kesempatan ini!”


Keduanya mengepaknya sayap masing-masing. Dengan kekuatan tinggi, sekejap mata mereka berhasil membawa kabur tubuh Sean.


Belum sempat Crypto memejamkan matanya, Sean kini menghilang. Kekuatan super cepat itu, persekian detik, hilang di balik awan.


“Pangeran!” teriak Crypto lagi.


“Celaka, Zumirh dan Zurry berhasil membawa pangeran pergi!”


Driyad berjalan tertatih-tatih mendekati Crypto. Walau tubuhnya masih lemah, dia berusaha menahannya. Di belakang Driyad, Amuria sudah berjalan tegak.


Amuria membuka sayapnya lebar-lebar. Siap ingin mengejar Zumirh dan Zurry —walau dia tahu dirinya sedang terluka.


Crypto menghentikan. “Jika kita memaksa untuk mengejar pangeran. Yang ada, kekuatan kita makin melemah.”


“Saat ini pangeran jauh lebih penting dari apapun. Aku tidak memikirkan apapun selain pangeran.”


Amuria membantah, tetapi Crypto tetap dengan wawasannya. “Kita tunggu sampai tenaga kita benar-benar pulih. Kita tidak bisa memaksakan diri seperti ini.”


“Benar apa yang di katakan oleh Crypto. Kita pulihkan dahulu tenaga kita sebelum mengejar kedua Ibis itu,” kata Driyad yang senada dengan pemikiran Crypto.


Tak ada pilihan lain bagi Amuria, selain menuruti kata-kata dari dua rekannya.


“Baiklah. Aku ikut apa yang kalian katakan!”


††††


Zumirh duduk, tepat di dekat Sean. Sambil mengawasi anak itu, Zumirh memainkan jarum-jarum beracunnya.


Zurry entah kemana, usai membawa Sean ke istana neraka mereka—dia mengatakan ada hal lain yang harus dia kerjakan.


Kedua kaki dan tangan Sean di belenggu dengan rantai neraka. Sean terbaring di atas tempat tidur batu, membentuk segi empat sempurna.


Perlahan Sean membuka matanya, setelah cukup lama dia tak sadarkan diri. Zumirh pun tersenyum bahagia ketika melihat mata indah anak itu terbuka.


“Kau sudah tersadar pangeran?”


Dia mendekat, duduk di sebelah Sean. Anak itu entah sejak kapan dia tak memakai pakaiannya. Terlihat, dada gagah Sean di sentuh manja oleh Zumirh. Mungkin wanita itu yang melakukannya, melucuti baju zirah Sean.


“Kau yang membawa ku kesini?” tanya Sean.


Zumirh tersenyum. “Pangeran tidak terkejut?”


“Mengenai?”


“Keberadaan pangeran di sini!”


Sean mengedarkan pandangannya. Sean tidak terkejut, dia tahu kalau dia berada di istana dasar bumi milik Zumirh.


Walau Sean sempat merasa asing, tetapi Sean mulai memahami situasi saat ini.


“Aku rasa, aku mulai tertarik dengan tempat ini. Setelah aku telusuri!”


“Benarkah?” sahut Zumirh sumringah.


Sean mengangguk. “Kau terlihat sangat cantik. Sangat cocok dengan bangunan yang di baluti api. Karakter mu kuat. Aku menyukainya.”

__ADS_1


Mula-mula Zumirh tersipu-sipu, pujian Sean membuatnya mendebar.


“Pangeran. Kau sungguh melakukannya!” kata Zumirh bahagia.


Sean tersenyum. “Aku menyukai mu. Lebih dari apapun ”


Ucapan Sean kali ini, sungguh membuat Zumirh makin terpesona. Dia, tanpa malu-malu langsung tidur di dada Sean.


Sean rasanya ingin muntah melakukan semua ini, tetapi Sean mencoba menahannya.


Tangan-tangan kasar Zumirh meraba dada Sean, kulit-kulit lembut Sean tak lupa dia belai. Awalnya hanya berada di dada, namun makin ke atas dia menjamah. Hingga ke rahang keras anak itu.


Telinga Zumirh mulai peka, menikmati setiap detak jantung Sean.


“Pangeran. Aku sangat jatuh cinta pada mu. Kau harusnya mempertimbangkan aku. Aku tak kalah cantik dengan Medusa, tapi kau jahat. Kau tak pernah memperhatikan aku.”


Sean geli mendengar suara manja Zumirh, sungguh.


Sean, anak itu bisa berbuat apa? Tangannya terbelenggu, membuat Sean harus menguasai keadaan.


“Bukan aku tidak memperhatikan mu. Tapi aku tidak memiliki waktu!” balas Sean sok peduli.


Mendengar suara lembut Sean, seketika wajah yang bermanja-manja di tubuh Sean mendongak. Memperhatikan wajah Sean penuh keyakinan.


“Benarkah itu?”


Sean mengangguk. “Apakah kau perlu bukti atas ucapan ku?”


“Iya. Aku butuh bukti, bahwa pangeran benar-benar menyukai ku.”


Pandangan Sean kini beralih, menatap meja. Kemudian dia memerintah.


“Kau bisa menyayat kulit ku. Kau bisa menikmati semua rasa yang aku miliki saat ini, dari darah ku. Kau bisa merasakannya.”


“Sungguh?”


Sean lagi-lagi mengangguk.


Zumirh kegirangan, dengan segera dia beranjak menuju ke meja. Mengambil belati, kemudian duduk lagi di pinggir ranjang tempat Sean berada.


“Apakah pangeran rela jika aku membuktikannya?”


Sean mengangguk, lagi dan lagi. “Kau tak perlu ragu. Ini sebuah bukti, bahwa aku benar-benar mulai tertarik pada wajah Zumirh yang anggun.”


“Kalau begitu, aku akan mencobanya. Pangeran!”


Tanpa pikir panjang, Zumirh melakukannya. Menyayat kulit leher Sean, hingga keluar darah segar di sana. Tugas Sean adalah, hanya bisa menahan atas goresan itu.


“Sudah pangeran. Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Zumirh ingin tahu kelanjutan.


“Minumlah. Dan nikmati sensasi dari perasaan ini. Kau sudah lama menantikan aku bukan?”


Zumirh mengangguk. “Aku akan melakukannya.”


Lagi-lagi Zumirh menuruti kata-kata Sean. Wanita itu menghisap habis darah yang keluar dari kulit leher Sean. Sean agak geli sebenarnya, tetapi apa boleh buat. Dia yang meminta sebagai bentuk pembuktian. Lidahnya membuat Sean, menahan napas untuk sesaat.


“Oh. Darah yang segar. Aku merasa, tubuh ku sangat ringan saat ini,” ungkap Zumirh bahagia. Dia melihat tubuhnya, terjadi perubahan disana.


“Bagaimana? Apakah pembuktian ku sudah membuat mu percaya?”


Sean memperhatikan raut wajah bahagia itu. Dan wanita di hadapannya ini, mengangguk senang.


“Pangeran. Aku tak menyangka, ternyata kau juga menyukai ku. Kau membuktikannya dengan mengizinkan aku meminum darah mu. Aku ..., Sangat bahagia. Aku tersentuh.”


“Jika kau bahagia, kenapa kau tak melepaskan aku? Bukankah aku sekarang milik mu!”


Sean, mungkin ini siasat baginya. Tetapi, di mata Zumirh, ini semua adalah pembuktian cinta. Dia mengakui, bahwa ini adalah sebuah perasaan pertamanya untuk Lausius. Sebelumnya, semua perasaannya di tolak oleh para Lausius, pendahulu Sean.


Wanita mana di tempat ini yang tak akan jatuh cinta pada pesona menawan Lausius. Siapa yang berani menolak pesonanya.


“Pangeran benar. Pangeran adalah milik ku sekarang. Lagi pula, untuk apa aku mengikat pangeran. Hanya membuat pangeran kesal saja jika aku terus melakukannya.”


Zumirh tanpa berpikir dua kali, dia melepaskan belenggu yang mengikat di kaki dan tangan Sean.


Sean terbebas, wanita itu membiarkannya tanpa ikatan sedikit pun.


Sean berdiri tegak. Melihat postur tubuh yang indah Sean, Zumirh makin tak berdaya. Dia kemudian mendekati Sean, memeluk tubuh indah itu.


“Kau sungguh putra langit yang menawan. Betapa bahagianya aku, bisa menjadi milik pangeran.”


Sean memaksa tersenyum. Membalas sikap manja wanita berbahaya itu dengan lembut.


“Tapi, ngomong-ngomong. Kemana saudara mu? Kenapa aku tidak melihatnya sama sekali di sini?”


“Akh, Zurry. Dia saat ini sedang menikmati waktunya sendiri. Mungkin, dia akan berpesta dengan wanita surga. Dia penjahat yang budiman.”


“Kau tak menyukainya?” tanya Sean ingin tahu.


Wanita itu menggeleng. “Dia saudara ku. Kenapa aku tidak menyukainya. Tetapi ..., sudahlah. Jangan bahas dia lagi, aku sedang ingin bersenang-senang dengan pangeran.”


“Kau ingin melakukannya?”


Dia (Zumirh) mengangguk. “Aku ingin mengajak pangeran, mengelilingi istana ku. Aku yakin, pangeran akan menyukainya.”

__ADS_1


__ADS_2