Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 162


__ADS_3

“Akh ....”


Zurry mengerang kesakitan, memegang dadanya—pia itu memasuki hutan bersalju. Duduk dan menyandarkan punggungnya di pohon, dia mencoba meningkatkan lagi kekuatannya yang semakin menurun.


“Elius. Kau akan mati di tanganku lain kali. Kau harus membayar semuanya!”


Zurry mengepal keras tangannya. Dia makin berang kala mengingat-ingat kejadian tadi. Darah masih keluar, membuat pria itu nampak pucat pasi.


“Jika bukan karena Nekabudzer, mungkin aku sudah membalaskan kematian Zumirh. Kedua pecundang itu, aku akan membuat kalian menemui iblis neraka. Aku pastikan, aku akan membalas semua ini.”


Tangan Zurry, mencengkram keras kulit pohon. Hingga kulit pohon yang keras itu mengelupas dari tempatnya.


††††


Sean terus menyusuri jalan itu, makin masuk ke dalam. Sambil terus memperhatikan pijakan, yang mereka lalui.


“Seberapa lama lagi kita bisa keluar dari tempat ini?” tanya Sean.


“Aku belum begitu memahaminya pangeran. Tetapi aku akan mengira-ngira, kalau kita tidak akan lama lagi kelaut dari tempat ini.” Amuria menjadi yang pertama menjawab.


Tepat di depan jalan Sean, jalan itu buntu. Sean, tentu saja dia berhenti. “Jalannya terputus. Apakah kalian tidak salah membawaku ke jalan ini?”


Di depan Sean, jalan tertutup oleh reruntuhan batu, sehingga nampak seperti jalan buntu. Batu hitam yang di tutupi es ini, membuat Sean tak begitu ingin menerkanya.


“Aku rasa, sepertinya—tempat ini memang tidak bisa di lalui,” kata Amuria berargumen. Tetapi, hal ini di bantah oleh Crypto.


“Bukan tak bisa di lalui, tapi memang sengaja dibuat tertutup, agar pangeran tak bisa melalui tempat ini!”


“Apa maksudmu?” tanya Driyad menyahut.


“Bisa saja ada yang mencoba menghalangi jalan kita. Kalian tahu, pangeran memiliki banyak musuh yang ingin mendapatkannya. Itulah kenapa, aku rasa bahwa jalan ini memang sengaja di blokade,” jelas Crypto.


“Tapi itu bersebrangan dengan pemikiran ku!” Driyad membantah.


“Apa yang bisa kau ketahui dari tempat ini?” ucap Amuria sedikit ingin ikut berkata. “Bahkan kau sendiri belum pernah melalui tempat ini sekalipun.”


“Tapi, aku lebih tahu segala hal dari kalian semua!”


Masih belum menyerah untuk berargumen, Driyad makin menunjukan etensinya pada kedua rekannya yang bebal itu. Sean, anak itu mulai memahami keadaan.


“Kemungkinan, memang benar ada yang sengaja menjagal jalan kita!” ungkap Sean menyambar. “Di lihat dari susunan batu ini. Dia melakukannya dalam hitungan detik!”


Sean menerka, merasakan perbedaan yang signifikan dari apa yang dia lihat.


“Benar juga apa yang di katakan pangeran!” Amuria ikut berargumen.


Memutar mata jengah, ketiga pria itu mencari dan menelisik sekeliling. Memperhatikan tebing-tebing, mencari sesuatu yang mungkin di curigai.


Sean, dia mengurut dagunya. Mulai berpikir, Sean menarik kesimpulan—kalau tempat ini sebenarnya ada yang tak beres.


“Aku rasa, tempat ini ada sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan secara mendadak!”


“Semisal?” tanya Crypto bingung.


“Aku perlu mencari kebenarannya!” balas Sean gusar.


Mendengar ucapan Sean, ketiga pria di belakangnya berhenti mencari-cari entah apa—yang mereka lakukan. Bingung, ketiganya mencoba memahami ucapan anak itu.


“Apakah pangeran ...!”


Sean mengangkat tangannya saat Crypto mencoba menebak. Mata Sean kembali bersinar, kini menatap ke atas.


“Haha ....”


Sean tiba-tiba mengeluarkan kekuatannya, ketika suara terbahak-bahak itu berada tepat di atas mereka. Di ikuti dengan tebing yang runtuh.


Melalui kekuatannya, Sean mencoba menahan bebatuan besar yang turun menghantam mereka.


Sihir Sean sangat kuat, membentuk tabir pelindung. Banyaknya batu yang berguguran menimpa kekuatan sihir Sean, seakan seperti hujan yang mengguyur.


Semua yang terkena sihir Sean, hancur menjadi debu. Sean mengeraskan rahangnya, ketika ada yang mencoba mengusik perjalanan Sean.


Bebatuan yang meluruh itu, perlahan mulai berhenti merajam mereka. Sean juga menghilangkan tabir pelindung untuk dirinya dan ketiga pria itu.


Pria yang berada di atas Sean, pria dengan suara lengkingan itu. Kini perlahan menapakkan kakinya. Dia tersenyum miring saat melihat Sean.

__ADS_1


“Oh. Pria bermantel, dari pegunungan Utara!” Driyad begitu kaget, ketika melihat pria yang selalu di ceritakan oleh mulut ke mulut, kini berada persis di wajahnya.


Pria itu tersenyum. “Rupanya ada yang mengenaliku di sini,” katanya dengan senyum sumringah namun picik. Surai rambutnya terlihat begitu lembut, sampai-sampai, Sean terus memperhatikan tingkahnya.


“Bibirnya merah merona. Dia lebih mirip wanita daripada seorang pria. Menggunakan kipas, aku rasa dia benar-benar aneh. Di tempat sedingin ini, dia mengipas dirinya. Apakah dia benar-benar kepanasan?”


Sean bergumam pelan. Dia tidak tertarik memperhatikan pria itu, tapi Sean mengakui kalau pria ini termasuk orang gila yang dia temui.


“Menggunakan mantel dari bulu rubah. Serta menggunakan sarung tangan. Aku rasa, dia memiliki kekuatan yang cukup dahsyat!” tambah Sean bergumam pelan.


“Apakah pangeran mencoba menafsir berapa harga tubuhku. Juga, pangeran ingin berkomentar mengenai diriku, atau pangeran mencoba menilaiku?”


Pria bermantel ini, dia menginterupsi Sean dengan kata-kata yang memuakkan. Sean, entah sejak kapan dia akan berpikiran begitu.


Pria bermantel ini benar-benar bisa menebak Sean, hanya dari eksepsi wajahnya.


“Biarkan aku melewati tempat ini. Jangan halangi kami!” kata Sean tak ingin berlama-lama dalam masalah ini.


“Semudah itu?” balas pria ini, sambil mengangkat kedua alisnya.


“Apa maksud mu?” tanya Sean tak paham.


Pria bermantel itu, dia terbang sejengkal di atas tanah. Seakan dia memiliki dendam tersendiri, nampaknya dia enggan menapaki kakinya di es yang dingin. Dia berputar di dekat Sean, sambil tangan-tangan lentiknya menyentuh wajah, kulit, hingga leher dan dada Sean yang kekar.


“Langsung saja. Siapa yang tidak akan tertarik pada Lausius. Aku akui, bahwa aku bukan satu-satunya yang menginginkanmu pangeran. Tapi, karena kau sudah memasuki jalur ini. Maka, tak ada pilihan lain bagimu untuk tunduk padaku!”


“Hei. Siapa yang bilang kalau pangeran akan tunduk padamu!” protes Driyad kesal.


“Aku!”


Dengan santainya, pria ini berkata. Mendekati Driyad, dia berusaha bersikap seperti seorang yang bijaksana.


“Jangan mimpi kau ingin mendapatkan pangeran. Sebaiknya, kau kalahkan kami dahulu!”


Amuria mengangkat pedangnya, tanpa pikir panjang dia menebas tubuh pria bermantel ungu itu.


ZRASH!


Sayangnya, dia lebih dahulu hilang sebelum pedang itu merusak tubuhnya yang indah.


“Haha ..., apakah kau mencari ku?”


Amuria menoleh, pria itu tiba-tiba ada di belakangnya. Memegang pundak Amuria, pria aneh ini membisik pelan.


“Kau perlu belajar bagaimana caranya menjadi petarung yang hebat!” lirihnya membisik pelan.


Sean mendengar suara sekecil semut itu. Sean melirik dingin pria itu, lalu berkata agak berang padanya.


“Jika kedatangan mu hanya untuk mengganggu perjalanan kami. Maka seharusnya, kau di basmi!” kata Sean yang tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak bertindak.


Pria ini memiringkan bibirnya tersenyum. “Begitukah?”


“Jangan banyak bicara kau pria kemayu. Hadapi aku, maka kita akhiri pertemuan tak berguna ini!” tantang Driyad ketus.


“Coba saja kalau kau bisa!”


Mendengar balasan dari pria itu, seakan menantang Driyad dan sekaligus meremehkan mantan serigala ini. Tanpa menunggu lama, Driyad mengeluarkan pedangnya. Dia lebih dahulu memulai sebuah pertarungan yang berarti.


“Kalau begitu, terima serangan ini. Hiya ....”


Sama seperti sebelumnya ketika Driyad ingin menyerang, dia tiba-tiba menghilang. Dalam sekejap mata, mendadak saja Driyad terpental akibat serangan tak terduga dari pria itu.


Sean, dia langsung menangkap tubuh Driyad, sehingga tubuh pria itu tak terbentur bebatuan.


“Kau sudah bertindak semau mu. Maka, aku akan membuatmu membayar atas semua tindakan ini!”


Crypto tak ingin ketinggalan. Dia ikut menyerang pria bermantel itu. Suara adu pedang berdenging, keduanya bertarung kesana-kemari.


“Kau tak apa-apa bukan?” tanya Sean pada Driyad.


“Aku baik-baik saja pangeran. Tapi, pria itu terasa aneh. Kekuatannya, begitu dahsyat!”


“Kau jangan pikirkan, aku akan mengatasinya nanti!”


Sean tahu, pria itu memang memiliki kekuatan dahsyat, tidak salah kalau dia tidak terkalahkan. Sean, dia mencoba untuk memahami seberapa tangguhnya pria itu.

__ADS_1


“Kau dan Amuria, tetap di sini. Aku akan menghentikan pertarungan ini!”


Sean terbang, kini kepakkan sayap itu hadir di hadapan dua pria yang sedang beradu itu. Keduanya tidak seimbang, dan Sean tahu pasti Crypto akan kalah.


Sean melemparkan pedang besarnya pada kedua pedang itu. Membuat mereka terlerai.


“Haha ..., Pangeran Lausius. Begitu hebatnya kau!”


“Crypto, menyingkirlah. Dia bukan lawan mu!” teriak Sean memperingati.


“Tapi pangeran ....”


“Dengarkan apa yang aku perintahkan. Cepat kembali, jangan menghadapinya seorang diri.”


“Pangeran, kau ....”


“Aku akan baik-baik saja. Jangan pikirkan aku!”


Lagi-lagi, pikir Crypto dirinya tak akan pernah mampu bersaing dengan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat. Oleh karena itu, dia lebih memilih untuk mundur. Crypto kembali dalam kelompoknya, sedangkan Sean? Dia masih berada di udara, sedang menatap bengis pria bermantel bulu rubah itu.


“Haha ..., Pangeran Lausius benar-benar sangat memikat semua orang. Tidak salah jika aku mendapatkan keuntungan di sini!”


“Kau tak akan mendapat keuntungan apapun dariku. Jangan pernah berharap, kau bisa mendapatkan kesempatan ini!”


Sean bersikap tenang, dia tak akan terpancing oleh amarahnya sendiri. Pria di depan Sean, dia makin bahagia melihat anak itu.


“Aku bertaruh. Jika kau kalah, kau harus menjadi milikku. Tetapi, jika kau menang. Maka aku akan melepaskan mu.”


“Itukah janji mu?” tanya Sean memastikan.


“Duvad (Nama pria bermantel rubah) tidak akan pernah mengingkari ucapannya.”


“Baiklah. Jika begitu mau mu. Aku akan menuruti permintaan mu!”


Sean mengeluarkan lagi pedang merah kebanggaannya itu. Di tangannya, pedang itu sangat menambah kesan gagah.


Pria bermantel rubah itu, dia kembali tersenyum miring. “Pedang sempurna. Handita memberikannya, dan itu makin cocok dengan penampilan pangeran Lausius!”


Cukup memperhatikannya saja, pria ini bisa tahu kalau Sean benar-benar sangat berbeda dari Lausius lainnya. Dengan senang hati, dia ingin menaklukkan anak itu.


“Terimalah seranganku!”


Sean memulai serangan, pria ini masih tenang walau Sean secepat kilat menghajarnya. Dia menghilang, membuat Sean waspada.


“Pangeran. Hati-hati. Dia Pemiliki kekuatan yang tinggi!”


Dari bawah, Crypto memberitahu. Sean mengangguk paham, dia mengerti bagaimana menghadapi pria misterius ini.


“Pangeran, di belakangmu. Awas!”


Sean melirik tajam ke belakang saat Driyad memperingatinya. Nyaris pedang tajam pria itu menancap di pelipis mata Sean, namun itu tak terjadi.


Sean berhasil menangkisnya. Tapi sayang, pria itu lagi-lagi hilang dari pelupuk mata Sean. Sean geram, dia di permainkan oleh pria ini.


“Haha. Kau tak akan bisa keluar dari genggamanku Lausius. Kau akan berakhir di tanganku.”


Suara lengkingan itu, Sean kesal mendengarnya.


“Keluar kau. Aku tak ada waktu bermain-main denganmu!” teriak Sean emosional.


“Haha ..., bagaimana aku bisa keluar, jika kau sendiri tak bisa menemukanku!”


Pria bermantel itu, dia lagi-lagi memancing Sean untuk bertindak kasar padanya. Sean makin tertantang untuk melenyapkan pria yang telah mengusik perjalanan mereka.


“Baiklah. Jika kau tak mau keluar, maka aku akan memaksamu melakukannya!”


“Lakukan apa saja yang ingin kau lakukan pangeran. Aku akan menantikannya!” balas pria itu.


Ada suara, tapi tak ada rupanya. Membuat Sean, haru bekerja ekstra menemukan keberadaannya. Mungkin, dia bersembunyi di balik angin, atau awan. Semuanya, akan Sean ketahui nanti.


Sean, dia memejamkan matanya. Menggunakan kekuatan penembus jiwa, Sean mencoba menelisik keberadaannya. Membuka matanya kembali, bola mata yang bercahaya itu, meluaskan pandangannya.


Dan dapat, Sean menemukan dimana dia berada.


“Sekarang. Kau kena!”

__ADS_1


__ADS_2