Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 157


__ADS_3

“Zurry, kau lihat bukan. Inilah yang aku inginkan,” kata Zumirh pada Zurry.


Pria di sebelah Zumirh ini tengah menikmati pemandangan yang luar biasa.


“Walau aku sempat mengira kau telah gagal, tapi aku akui. Ternyata rencana mu cukup liar juga rupanya!” kata Zurry mengakui.


Zurry, dia terlalu naif bagi Zumirh. Namun tidak menutup kemungkinan bagi Zumirh, bahwa Zurry harus ikut andil dalam perburuan Lausius ini.


Pria itu berdiri di sebelah Zumirh. Di atas tebing tidak jauh dari Sean dan dewa iblis berada, mereka mengamati saja. Mereka belum bertindak, kecuali menunggu salah satu diantara keduanya kalah.


Kemudian pikiran Zurry teringat pada Moore, penyihir menjijikan yang mereka temui di hutan menuju gunung Mossarus. Wanita itu, dia mudah di bodohi. Sampai-sampai, dia pantas mendapatkan ganjaran atas kebodohannya.


“Saat itu, Moore memberitahu kalau Lausius yang telah membuatnya mematung. Tidak di sangka, kita kalah cepat. Pangeran itu sudah lebih dahulu memasuki lembah hitam, yang membuat kita hampir kehilangan kesempatan. Tapi, kini kita akan menuai hasil dari pertarungan ini.”


Zumirh menepikan tangannya di pundak Zurry, pria itu hanya menoleh sekilas.


“Jadi bagaimana? Apakah kesempatan kita sudah tak ada harapan lagi?” tanya Zumirh, memancing keingin tahuan Zurry.


“Tidak,” balasnya menggeleng. “Aku akui, kau benar-benar cerdik. Walau tak berhasil mendapatkan Lausius itu di hutan gunung Mossarus, tapi kini kita mendapatkannya di sini. Kita akan menjadi pihak yang di untungkan.”


Zurry tersenyum miring, otaknya kembali bekerja melicik.


“Kita tunggu sebentar lagi, kita lihat siapa yang akan mati setelah ini.”


Zurry mengangguk. “Kau ingin bertaruh dengan ku?”


“Dalam hal ini, siapapun yang menang, aku serahkan pada keadaan!”


Zumirh malas menerka, siapa yang akan jadi pemenang. Di situasi seperti ini, hanya ada dua kemungkinan.


Antara Lausius yang mati, atau dewa iblis. Zurry pun angkat bahu, dia ikut arus adiknya.


“Kau benar, kita serahkan pada keadaan.”


Pandangan Zurry, kini kembali beralih pada Sean dan dewa iblis. Kedua orang itu, dia sangat berharap salah satunya bisa tamat saat itu juga.


††††


“Crypto, kau jaga baik-baik Medusa. Aku akan mengatasi iblis itu,” kata Sean dengan perintahnya. Melirik sekilas, kemudian konsentrasi pada dewa iblis.


“Tapi pangeran, kau ...,”


“Aku akan baik-baik saja, turuti apa yang aku katakan.”


Mungkin Crypto khawatir akan keselamatan Sean. Tapi, bagi Sean ini bukanlah saatnya untuk takut dan menyerah. Walau Sean belum bisa mengukur seberapa kuatnya sang iblis, setidaknya Sean harus mencobanya dalam beberapa kali serangan.


Sean mengepakkan sayapnya, terbang sejajar dengan dewa iblis. Iblis neraka itu tersenyum riang, pikirnya ini kesempatan yang bagus.


Sementara, Crypto terlalu takut akan hal ini. “Bagaimana jika pangeran terluka. Tentu, aku tidak berani berkata apapun, kecuali harus berakhir menjadi pecundang yang lemah.”


Crypto kuyu, dia tidak bisa membayangkan kalau Sean akan menjadi seseorang yang di jajah. Meskipun bagi Crypto, Sean banyak rahasia—yang entah apalagi nanti akan anak itu tunjukan. Tetapi, bagi Crypto itu belum cukup meyakinkannya. Dia terlalu takut, sebab ini menyangkut nyawa sebagai taruhannya.


Sementara itu, dewa iblis terlihat sumringah ketika melihat Sean, menyerahkan dirinya pada dewa iblis. Inilah yang dia inginkan.


“Lausius. Katakan ucapan terakhir mu. Biar aku sampaikan berita kematian mu pada petinggi awan Metis.”


Dewa iblis mengacungkan pedangnya, beberapa kali dengan ucapan menantang.


“Kau harus mencobanya dahulu, sebelum kau mengatakan kesombongan mu!”


Sean ikut membalasnya dengan ucapan sarkasme, memancing dewa iblis agar terus tidak menahan amarahnya.


“Lausius. Kau!!”


“Kau akan membayar atas kesombongan mu. Hiya ....”


Sean menyerang lebih dahulu. Mencoba memprovokasi sang iblis, agar tidak membuang-buang waktu bertarung.

__ADS_1


Sean menyerang dari segala arah. Sama seperti sebelumnya, trik ini Sean terapkan melawan iblis tingkat pengawal langit ini.


Suara besetan pedang di tubuh dewa iblis, membuat Sean makin semangat dalam menuntaskannya. Dewa iblis hanya bisa menahan serangan itu, tanpa tahu dimana tubuh Lausius itu berada.


“Lausius ini, dia mencoba bermain-main dengan ku.”


Dewa iblis tidak terlalu berang, justru dia makin merasa tertantang. Sean telah mempermainkannya, tetapi ini hanya sebagian kecil dari rencana awalnya. Walau darah dewa iblis yang berupa api, mengucur di udara. Bukanlah berarti, dia akan kalah. Dia ikut memainkan trik Sean.


Sean tiba-tiba muncul didepan dewa iblis, ketika Sean sudah merasa puas akan tindakannya—menyerang dari segala arah.


“Kau, inilah akhir dari definisi mu. Kau akan tamat pada kematian yang menyakitkan!”


Sean mencoba menghunus dewa iblis dari depan. Dari sudut mata iblis neraka ini Sean nampak nyata di matanya. Membuat dewa iblis menyungging tersenyum miring.


Saat Sean hampir tiba di pelupuk matanya, menusuk dengan pedang merahnya itu. Tiba-tiba saja dewa iblis menghilang, dan Sean kebingungan mencari dimana dia berada.


Dewa iblis memainkan perannya, menggantikan posisi Sean yang terus tak memberikannya sebuah ruang gerak.


Ekor mata Sean mencari dimana iblis itu menghilang. Namun, itu tidak berhasil. Entah kekuatan apa yang dia gunakan, untuk memanipulasi keadaan ini.


“Kemana kau. Jangan sembunyi!” teriak Sean geram.


“Haha ..., Aku di belakang mu, Lausius!” balas dewa iblis.


Sean menoleh ketika suara itu amat dekat dengannya. Ketika membalikan badannya, secepat kilat tangan dewa iblis telah mencekik leher Sean.


“Haha ..., hanya seperti ini kekuatan mu ternyata.”


Sean di cekik dan di cengkram amat erat oleh dewa iblis. Melayang di udara, Sean  bahkan merasa tak mampu menarik napas.


“Cekikannya amat keras. Dia ....”


Sean, dia tak mampu lagi bertahan. Sambil menahan kuatnya cekikan dari tangan dewa iblis, yang memaksa Sean menggantung. Sean berusaha ingin lepas, tapi itu tidak berhasil.


Sialnya, Sean makin sulit menarik napasnya. Leher Sean terbelenggu, sampai terasa hampir patah tulang lehernya itu.


Ucapan Sean pelan, terbata-bata. Mencoba memahami keadaannya saat ini, berakibat pada akhir yang menyakitkan. Sean, dia tidak bisa bertahan cukup lama.


Perlahan, Sean memejamkan matanya. Mungkin, ini adalah akhir dari segalanya. Sean berakhir, benar. Itu akan terjadi, mungkin Sean tak akan pernah bisa lagi menghirup udara segar.


Samar-samar, wajah dewa iblis tak lagi jelas di lihat. Semua sudah menghilang—dari penglihatan Sean.


“Haha ..., akhirnya, pangeran Lausius menjadi milikku. Dia akan menjadi persembahan ku. Lihatlah para petinggi langit, putra cahaya kalian ini, kini akan berakhir ditangan dewa iblis. Kalian harus menerima kenyataan—bahwa akulah pemenangnya. Haha ....”


Dewa iblis tersenyum bangga, menatap langit biru. Menunjukan pada para penunggu langit, bahwa dia tak bisa diremehkan.


Mencekik tubuh kecil Sean, rasanya seperti menginjak semut kecil bagi dewa iblis.


Sean, sepenuhnya kini memejamkan matanya, pertanda bahwa ini adalah akhir dari hidupnya.


“Pangeran!” teriak Medusa dari bawah. Dia ingin meraih Sean, namun Crypto menahannya.


“Kau tetap disini, kau terluka,” kata Crypto mengingatkan Medusa.


“Bagaimana aku bisa diam, pangeran mati karena ingin melindungi aku. Aku harus membantu pangeran, dewa iblis saat ini bukan tandingan siapapun!”


Medusa memasang ekspresi cemas berlebihan, di ikuti ekor mata yang sudah menitikkan air mata.


“Biarkan aku yang menyelamatkan pangeran!” ucap Crypto memulai sebuah aksi.


“Crypto, kau ....”


Medusa ingin menghentikan tindakan Crypto, tapi gagal. Pria itu sangat cepat.


Crypto meninggalkan Medusa sendiri di Padang pasir, dia terbang menuju ke arah dewa iblis. Mencoba membantu Sean, tetapi itu salah.


Dewa iblis, melalui kekuatannya, dia melempar tubuh Crypto dengan kekuatannya. Seketika, Crypto terkulai lemas, terjatuh ke tanah, tepat dihadapan Medusa. Dewa iblis jauh lebih pintar dari Crypto. Hanya dengan lirikannya saja, dia bisa tahu kalau Crypto mencoba menyerangnya.

__ADS_1


“Akh ..., Pangeran. Dia ...,” erang Crypto menahan sakit.


“Tidak. Kau tidak boleh mati Crypto. Kau harus membantu menyelamatkan pangeran.”


Medusa mendekati Crypto, pria itu memuntahkan banyak darah.


“Aku baik-baik saja. Tapi, pangeran. Dia ..., Sepertinya ..., Pangeran, dia ..., mungkin kita kehilangannya saat ini.”


“Maksud mu pangeran mati?” tanya Medusa menebak.


“Bisa jadi. Pangeran, dia ....”


Crypto tak bisa melanjutkan kata-katanya, sebab dadanya terasa sangat sesak dan sakit.


Sedangkan, Amuria dan Driyad, keduanya masih bertarung melawan Xavier. Pria bawahan dewa iblis itu, mencoba menyerang dengan kekuatan penuh.


Tetapi, keduanya berhasil menghindar. Tanpa sepengetahuan Xavier, Amuria melempar pedangnya, dan tepat.


Pedang itu Menyayat lengan Xavier, yang seketika membuat pria itu terjatuh ke bawah. Pakaiannya robek, menampakkan lengan putih di basuhi darah segar.


Amuria tersenyum miring. Menaikkan kedua alisnya, melicik. Amuria dan Driyad, menapakkan kakinya, tepat berada di hadapan Xavier yang sedang menahan laju darah—mengucur deras. Pria itu tertunduk, dia mungkin kesakitan.


“Haha. Hanya segitu-kah kekuatan mu?” ledek Amuria. Melirik Driyad, dan rekannya itu nampak bangga atas hasil tangan Amuria. “Kau seharusnya mati, bukan begitu Driyad?”


“Aku rasa, Xavier memang harus kita tuntaskan saat ini juga!” balas Driyad berinisiatif.


“Hei, jangan terburu-buru. Kita berikan dia siksaan surga dahulu. Tidak baik membiarkan seorang penjahat menikmati kehidupan yang sengsara.”


“Amuria. Kau terlalu bertele-tele, aku benci wacana mu.”


Driyad mengangkat pedangnya, dia akan membelah tempurung kepala Xavier. Ini adalah kesempatan sekaligus sasaran yang empuk. Tapi ....


“Driyad!” teriak Crypto parau.


Driyad menoleh ke arah sumber suara, Amuria demikian. Teman mereka terluka, yang membuat fokus Amuria dan Driyad beralih kepada Crypto.


“Crypto, kau kenapa?” tanya Amuria lebih dahulu.


Melihat kelengahan kedua orang itu, Xavier pun memanfaatkan kesempatan ini. Tersenyum miring melicik, pria itu bangkit dari tundukkan kepalanya. Dengan kekuatan di tangannya, dia langsung menyerang Amuria dan Driyad.


“Awas!” teriak Crypto lagi.


Kembali menoleh ke arah Xavier, keduanya lupa jika mereka memiliki tawanan. Dan nasib buruk, mereka tidak bisa menghindar dari kekuatan dahsyat Xavier.


“Matilah kalian!” pekik Xavier murka. Melepaskan kekuatan dahsyatnya, Xavier menghantam kedua tubuh itu hingga terjungkal-jungkal.


Keduanya terkena sihir besar itu. Tubuh Amuria dan Driyad, kini terlempar, hingga membentur tebing. Menciptakan keretakan disana, keduanya seketika terkulai lemah.


“Haha ..., Itulah akibatnya jika terlalu meremehkan ku dua makhluk rendahan,” ungkap Xavier berbangga.


Kini, tak ada lagi yang bisa di andalkan. Sean, mungkin anak itu sudah mati. Kenyataan bahwa Sean berakhir, pedang merahnya pun sudah terjatuh di pasir. Menancap, hanya menampilkan kilatan cahaya merah saja.


“Xavier. Sungguh pengikut setia ku yang tangguh,” puji dewa iblis dari atas.


Pria itu merasa berbangga, dengan senang hati dia menerima pujian itu. “Ini semua bukan apa-apa di banding kekuatan yang mulia dewa iblis,” katanya balas memuji kinerja dewa iblis. “Yang mulia adalah yang terkuat saat ini.”


“Haha. Kau terlalu banyak memuji ku. Aku tak akan melupakan jasa mu.”


“Dengan senang hati aku melayani Yang mulia dewa agung.”


Xavier menunduk hormat, berbangga hati bisa menjadi kaki tangan dewa iblis.


“Dan semua ini bukan lagi halangan. Kini Lausius sudah sudah tiada, dewa iblis sangat mengapresiasi kinerja Xavier. Sebagai balasannya, aku akan mengangkat mu menjadi ksatria ku nanti.”


Dewa iblis tertawa puas, akhir dari siasatnya, mungkin adalah tujuan yang tercapai. Dia k


kemungkinan akan merayakan kemenangan ini. Dia keluar sebagai pemenang dalam perburuan Lausius kali ini.

__ADS_1


__ADS_2