
"Sean! Sean! Sean! Bangun Sean!"
Terdengar suara panggilan dari seseorang. Suara itu tiba-tiba menyadarkannya dari mimpi yang aneh. Suara itu di ikuti dengan sentuhan tangan yang lembut di wajahnya.
Perlahan Sean membuka matanya, walau berat, tapi dia memaksa.
Pandangannya sedikit membaik ketika terbuka. Tadi sempat terasa perih dan buram, tak ada yang dia lihat kecuali warna putih.
Jessica mengguncang tubuh Sean agar temannya itu sadar, syukurlah. Sean akhirnya sadar, Jessica sempat takut terjadi apa-apa pada Sean.
"Jessica? Driyad?" Di pandangi kedua wajah itu. "Kalian bukan manusia aneh itu kan?" Mendadak Sean terbangun, dia kaget. Ternyata dia sudah kembali, pria tua itu telah mengembalikan dia ke tubuh semula.
"Iya, ini aku Jessica?" Jessica agak bingung, apa yang di maksud Sean. Melihat Sean aneh, Jessica agak cemas.
Apalagi Sean seperti orang yang autis, memeriksa tubuh dengan teliti padahal tak ada perubahan sama sekali.
"Aku sudah kembali?"
"Kau pikir kau sedang dari mana? Pergi mengitari Jupiter? Atau mengeliling Saturnus?" Jessica membual. Gaya bicara dan tingkah Sean benar-benar membuat Jessica begitu terpikirkan.
"Kau baik-baik saja, Sean?" Driyad bertanya. "Tidak terjadi sesuatu-kan pada mu?"
Sean menggeleng. "Aku baik-baik saja. Hanya- mimpi buruk."
"Seperti apa?"
Sean mengingat-ingat, bola matanya ke kiri dan ke kanan. "Aku bermimpi bertemu dengan pria tua. Tidak tahu siapa? Dia aneh, seperti bukan manusia."
"Apakah mimpi itu sangat buruk?" Driyad memastikan. "Atau kau belum mengingat sepenuhnya jurang ingatan itu?"
"Tidak terlalu buruk," jawab Sean. "Hanya..... Sedikit lebih mengerikan dari pada mengingat kisah ini."
"Atau kau hanya sedang berkhayal yang tidak-tidak?" Driyad menerka.
"Aku rasa, mungkin bukan saatnya mengkhayal yang tidak-tidak," ucap Sean sederhana namun ketus.
"CK...." Jessica men-decak, Sean tak bisa di tebak. "Saat kau pingsan tadi, ada hal aneh dari tubuh mu." Gadis ini menyela pembicaraan, dia memberitahu.
"Aneh?" Sean kaget. "Aneh seperti apa?" Tandasnya. Dia penasaran, di dekatinya Jessica. "Hal aneh apa yang kau maksud?"
"Kami melihat di matamu ada seluruh sistem tata Surya. Seakan alam semesta ada di mata mu?" Jessica menjawab.
Kejadian tadi membuat Jessica dan Driyad terkejut, pasalnya aneh saja. Di mata manusia ada sistem tata Surya. Jessica tidak meragukan apa yang baru saja di lihatnya, tapi ini langka.
"Di mata ku?" ucap Sean yang makin kebingungan. Situasi ini semakin rumit, dia makin merasa runyam. Kepalanya agak berat tadi saat menyadarkan diri dari pingsan.
Sean menggaruk tengkuk kepalanya, memikirkan ada apa dengan dirinya. "Apakah begitu yang kalian lihat?"
"Ya, kami melihatnya begitu. Aneh bukan?"
Sean mengorek telinganya, kebingungan ini sulit di cerna. "Apa mungkin seluruh tata Surya ada di mata ku?"
"Sudahlah!" Jessica menengahi kebingungan yang Sean rasakan. "Mungkin itu pantulan dari langit di atas saat aku membuka mata mu. Atau bisa jadi lensa retina mata mu berkarakter tata Surya. Semua bisa saja terjadi."
__ADS_1
"Bisa saja begitu," Sean mengangguk. Walau sebenarnya dia penasaran, tapi, sudahlah. Pikirnya tak ada guna memikirkan hal-hal yang tak ia ketahui.
"Bagaimana keadaan mu? Kau baik-baik saja bukan?" Driyad mengkhawatirkan. Sean mendadak seperti ini, keduanya tadi hampir cemas.
"Aku baik-baik saja. Hanya kepalaku ku yang sedikit berat," Sean menggelengkan kepalanya agar sakit berkurang.
"Seharusnya kau istirahat sejenak. Kau butuh waktu untuk menenangkan diri seperti ini," Jessica menyarankan.
Sean mengangguk. Saran Jessica memang benar, dia harus istirahat. Jika di pikir-pikir, sebenarnya Sean masih ingin tahu lebih lanjut mengenai kejadian ini. Terutama pria tua tadi, dia misterius tapi terlihat seperti bukan orang biasa.
Selama hidupnya, dia belum pernah bertemu dengan pria tua seperti itu. Pria yang terlihat memiliki aura pragmatis.
Kini Sean sudah benar-benar sadar. Tapi, ingatan tadi membuatnya terus terpikirkan oleh si pria tua berambut putih berjubah emas.
"Ehm.... Apakah kalian tadi melihat tubuh ku bersinar?" tanya Sean pada keduanya. "Maksud ku, tubuh ku mengeluarkan sebuah cahaya?"
Driyad dan Jessica saling berpandangan....... Sedetik kemudian menggeleng. "Tidak!" balas Jessica. "Kami hanya melihat kau memegang kepala, mengerang kesakitan lalu pingsan."
"Lalu?" Sean menjulingkan bola matanya ke atas, mungkinkah dua makhluk itu tidak melihatnya? Atau mereka benar-benar memang tak melihat apa yang di keluarkan oleh tubuhnya.
"Tak ada lagi yang terjadi setelah itu. Kecuali, kau.... Hanya pingsan."
Sean tahu, Jessica hanya bisa mengatakan kebenaran tanpa melihat sesuatu dari dirinya. Akh, bahkan Sean bingung harus bertanya pada siapa lagi. Di liriknya Driyad. Ya, makhluk itu adalah satu dari dua teman yang ada di dekatnya. "Bagaimana dengan mu Driyad? Kau melihatnya?"
"Tidak!" Driyad mengakui. "Sama seperti Jessica, aku tidak melihat apapun di tubuh mu. Kecuali kau remaja yang tampan, tinggi mu bertambah dan.... Kulit mu sedikit agak gelap. Mungkin karena cuaca, sehingga kulit mu terbakar. Atau......" ujarnya mengamati seluruh bagian tubuh Sean.
"Hentikan, Driyad!" Sean mengemuka. "Bukan itu jawaban yang aku inginkan."
"Lalu?"
"Maksud mu, bersinar?" sahut Jessica.
Sean mengangguk. Itu yang di tanyakan dirinya dari tadi pada dua makhluk itu.
"Hmmm.... Aku rasa tidak?" Driyad kembali menjawab. Di tatapnya Jessica, lalu. "Mungkin Jessica melihatnya?"
"Aku tadi sudah mengatakannya. Aku tidak melihat apapun. Kecuali, yah, kita tadi sama-sama melihatnya. Alam semesta ada di mata mu."
Sean membuang nafas panjangnya, bosan pada tingkah Jessica dan Driyad yang tidak pernah mengerti apa yang dia katakan. "Sebaiknya kita lanjutkan lagi perjalanan. Masih banyak jalan yang harus kita tempuh."
Dia beralih berkata, tak ada hal lain yang bisa membuat dirinya mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Tidak kah kita menikmati dahulu Padang rumput ini?" Jessica merengek. "Tempat ini masih asik, aku tidak rela meninggalkan tempat ini."
Sean berdiri, siap melanjutkan perjalanannya. "Kau akan kehilangan kami jika berpisah di jalan masing-masing."
"Apakah ini keputusan terakhir mu?" kembali Jessica merengek.
Sean mengangkat kedua bahunya, melirik sekilas. "Jika kau tak mau kehilangan langkah kami."
Terpaksa bagi Jessica harus mendengarkan Sean. Tak ada pilihan lain, kecuali Jessica harus pandai memahami jalan, barulah dia berani menentang Sean. Bahkan menyeret Sean ikut dalam jalurnya, dia yang akan memimpin perjalanan.
"Kita berjalan kemana? Ke Utara atau ke selatan." Jessica berinisiatif, walau dia agak sewot, dia sedikit berbaik hati berkata sopan.
__ADS_1
"Ke timur," jawab Sean. "Aku rasa jalan di sana lebih mudah untuk di tempuh."
"Kenapa harus ke timur? Bukankah jalan luas?" Jessica membantah, menyamai langkahnya dengan langkah Sean. Dia berjalan mundur, demi melihat wajah Sean. "Di barat, di Utara, di selatan, barat daya, barat daya laut, tenggara. Semuanya bisa di lalui. Kenapa memilih jalur timur? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?"
"Kita memilih jalan ke arah timur, karena kita sendiri sudah di arah itu?" ungkap Sean.
Jessica menyadari, sebenarnya mereka memang sudah pergi ke arah timur sedari tadi.
Sekonyong-konyong mereka berada di Padang rumput, semak-semak menggelayut di terpa angin. Tidak tahu kenapa, burung-burung terbang berhamburan panik. Di atas langit, mereka terbang berantakan.
Seperti serangan atau sejenis gangguan. Burung-burung itu adalah jenis burung yang belum pernah di lihat oleh Sean dan Jessica. Memang pada dasarnya burung itu tidak ada di manapun mereka mencari di kebun binatang.
Warnanya cantik, mereka memiliki bulu indah penuh warna. Hampir menyatu dengan pohon pelangi yang pernah mereka lalui.
"Ada apa ini? Kenapa burung-burung itu terbang bergumul tak beraturan?"
Jalan mereka sudah seperempat langkah menuju timur. Jessica harus menghadapi apa yang tidak di lihatnya.
"Burung Ssura," jawab Driyad. "Mereka burung-burung penjaga di tebing Utara desa orang-orang Moria. Tidak jauh dari sini, hanya saja mereka terbang sehingga lebih cepat sampai di desa Moria."
"Jika aku tidak salah," Sean menyela. "Aku pernah dengar dari Yudhar, jika burung-burung terbang tak beraturan, kemunginan ada serangan di sekitarnya?"
"Itu benar!!" Driyad menyambung. "Itu pasti Amuria. Kemungkinan dia sedang bertarung?"
"Wow.. keren," Jessica bergumam takjub. "Apa mungkin kita kesana?" Dia menunjuk jarinya ke bukit yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Aku rasa itu akan berbahaya, sebaiknya kita lupakan saja!" Sean membantah. Dia tidak tahu makhluk apa yang akan di temui di sana, mengerikan atau lebih mengerikan lagi?
"Tapi Sean, aku penasaran!"
"Tidak!!! Kau hanya akan mengacau saja!" kata Sean kontra. Apapun yang di inginkan Jessica, Sean tak mau menurutinya. "Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan, jangan hiraukan yang lainnya," ajak Sean.
Memaksa, bahkan Sean tidak akan mendengarkan rengekan Jessica. Driyad menuruti, tapi Jessica? Keras kepala membawanya tetap ingin ke tebing di sisi barat mereka.
Saat Sean melangkah ke arah tujuannya ke timur, Jessica justru berlari meninggalkan mereka. "Maaf, mungkin kita akan bertemu di tempat lain."
Tanpa ada rasa takut, Jessica memilih ke tebing bebatuan yang di penuhi rumput itu.
"Jessica!! Jessica!!" Sean meneriaki anak keras kepala itu.
Tidak terlalu jauh, Jessica masih berlari di depannya. Saat Sean berteriak lantang memanggil namanya, dia melambaikan tangan "Aku akan kembali jika itu memungkinkan!!" Balas Jessica berteriak.
Sean menggeleng, kelakuan Jessica terus saja membuatnya kesal. "Ayo, kita ikuti saja dia," kata Driyad.
Melihat situasi seperti ini, seharusnya Sean yang mengalah. Driyad sudah menyiapkan punggungnya, isyarat bahwa anak itu harus menaiki punggung berbulunya itu. Mau tak mau Sean harus naik, apalagi langkah kaki Jessica sudah menjauh.
"Baiklah, kali ini dia berulah!!" gumam Sean sebal.
"Selalu berulah," tambah Driyad. Lalu mempercepat langkahnya mengejar Jessica. Gadis itu membuat Sean selalu kesusahan. Sikapnya yang pembangkang, membuat Sean bergumul ingin menghardiknya tanpa nurani. Kadang kala Jessica suka mengacaukan segala sesuatu di sengaja.
BERSAMBUNG
Jangan lupa berikan like dan komentar yah di novel ini. Semoga novel ini alurnya nggak membosankan. Salam manis, Sean dan Jessica. ^^°^^
__ADS_1