Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 159


__ADS_3

“Kemana kita akan pergi?” tanya Driyad.


“Ke istana dua iblis itu,” balas Crypto memberitahu.


“Zumirh dan Zurry maksud mu?”


Crypto mengangguk. “Siapa lagi?”


“Aku kira ...,”


“Kita memangnya akan kemana!” sambar Amuria gemas.


“Aku kira kita akan kembali ke istana awan Metis.”


Setidaknya, itu yang dipikir oleh Driyad.


Mereka melalui sebuah lembah bersalju tebal. Udaranya amat dingin, apalagi mereka harus melewati medan yang terjal dan agak licin. Angin juga berembus cukup kencang, membuat pakaian ketiga pria itu berkibar.


Sudah pulih? Tentu saja. Walau masih ada titik tertentu yang sakit, setidaknya ini jauh lebih baik dari pada merasakan tulang yang patah.


Pertanyaan klise, sebenarnya membuat Driyad berhenti ingin menyerah—untuk tidak lagi mengikuti langkah kedua rekannya.


“Sudah berjalan, sejauh ini. Badai salju menyerang, kaki ku terasa lumpuh. Di tambah pegunungan yang kita daki makin ke atas, makin tinggi. Oh, seberapa jauh lagi istana iblis itu. Aku ingin menyerah!”


“Kau ingin menyerah?” komentar Amuria mengulangi lagi atas ucapan Driyad. “Kau yakin akan menyerah?”


Pria itu (Driyad) mengangguk, mencoba menormalkan tekanan udara yang masuk kedalam paru-parunya.


“Sungguh. Aku rasanya ingin terbang jika sesulit ini Medan yang kita lalui.”


Crypto men-decak, memperhatikan tingkah Driyad yang sudah duduk di pohon. Tepat di atas sebuah bukit—membentuk gunung tinggi.


“Kalau begitu, sebaiknya kita menggunakan sayap saja. Aku rasa, energi kita sudah mulai membaik saat ini.”


“Ide yang baik. Aku setuju dengan mu!” sahut Amuria menjentikkan jarinya.


“Kalian ingin melupakan aku?” sela Driyad yang tak ingin ketinggalan.


Melihat kedua rekannya sudah melebarkan sayap masing-masing, Driyad merasa dia tidak bisa ditinggalkan seperti ini.


“Jangan buang-buang waktu. Pergi sekarang!”


Crypto memimpin penerbangan, Amuria di belakangnya. Driyad, seperti biasanya. Dia lamban, terkekeh geli kala dua rekannya menuruti kemauannya.


“Oke. Pangeran, ini saatnya aku datang!”


Memang, menurut Driyad. Terbang adalah hal yang paling menyenangkan. Tetapi, ini opsi terakhir. Faktanya, setiap kali mereka terbang, mereka harus melepaskan energi.


Sama seperti berjalan, yang sebenarnya sama saja. Bedanya, terbang lebih cepat, sedangkan berjalan? Oh, banyak resiko. Driyad selalu membandingkan, jalan rasanya kakinya mau copot.


Menembus dan membelah awan, mereka mencari dimana letak istana iblis itu. Walau salju yang turun cukup untuk menghempaskan ketiganya, tetap saja mereka kokoh.


“Apakah kau pernah kesana Crypto?” tanya Amuria ingin tahu. Disela konsentrasi pada terbang mereka.


Crypto, tentu saja dia sangat fokus pada terbangnya. Sesekali dia melirik kedua rekannya yang terbang di sebelahnya.


“Pernah sekali. Tapi hanya sekilas. Aku malas berhubungan dengan mereka.”


“Benarkah?” sahut Driyad seolah dia tak percaya. “Kapan? Dan bagaimana kau melakukannya?”


“Ribuan tahun yang lalu?” balas Crypto singkat.


“Haha ..., ribuan tahun yang lalu? Konyol. Ku kira, kau pernah kesana akhir-akhir ini.”


“Driyad!” Amuria menatap sebal si jelmaan serigala itu. Seketika Driyad berhenti terkekeh, meledek Crypto.


“Aku sudah terbiasa di ledek oleh iblis serigala. Pada dasarnya, iblis selalu tak menyukai kami yang berparas menawan.”


Crypto membalas ledekan Driyad dengan ledekan serupa. Yang dalam arti luas, hanya Crypto yang tidak di kutuk menjadi hewan. Itu artinya, pria ini yang paling mulia dibandingkan Amuria dan Driyad. Jujur, memang Amuria yang tidak berubah wujud ketika Lord Shutanhamun murka.


“Hei. Kau mencoba menyindir ku!” tuntut Driyad sebal.


“Kau kira apa.”


“Kau ..., kau belum merasakan saja bagaimana rasanya hidup dalam tubuh hewan. Jika kau merasakannya, mungkin kau tak akan berani meledek kami seperti ini!”


Driyad tak terima akan kata-kata Crypto. Apa yang dilakukan oleh Crypto, hanya bersikap bijak saja. Tetapi bagi Driyad, ini sebuah lelucon yang menyakitkan.


Sedangkan Amuria, dia acuh.  Dia tak mau menjadi penengah atas perdebatan keduanya. Kecuali ....


“Di depan. Aku rasa istana Zumirh berada!” tunjuk Amuria.


Pandangan kedua rekan di sebelahnya menuju ke sebuah lubang bercahaya terang. Di salju, istana itu berada. Tetapi, letaknya amat dalam. Berada di dasar bumi, dan di kelilingi oleh api yang amat panas. Seakan membentuk sumur kilang minyak.


“Kita harus menyusup diam-diam. Ada banyak jebakan yang kemungkinan di pasang oleh kedua iblis itu,” kata Crypto memberitahu.


Dua rekannya mengangguk. Lalu mereka mempercepat terbang, hingga hinggap di atas permukaan lubang besar.


Mencoba menelisik dan mengamati bagaimana caranya turun ke bawah. Mereka menemukan caranya.


Sangat dalam, tidak tahu seberapa jauhnya jarak ke dasar bumi. Jika di ukur, mungkin ratusan kilo meter.

__ADS_1


“Kau memiliki rencana?” tanya Amuria.


Crypto mengangguk. “Butuh beberapa saat. Kita perhatikan dahulu keadaan sekitar!”


††††


Sean memperhatikan semua jalur yang dia lalui. Istana di dasar bumi, dimana ada banyak lahar panas di setiap sisi istana.


Sungguh panas jika berada di sana lama-lama. Tapi Sean terbiasa, mana mungkin dia akan merasakan api sedingin salju ini.


“Jadi ini istana mu?”


Zumirh mengangguk. “Kau menyukainya?”


“Tentu saja. Aku sangat menyukai ornamen istana mu. Sungguh. Kau membuatnya, pasti perlu bertahun-tahun.”


“Pangeran terlalu memuji. Aku tidak membangun istana ini sendirian, tapi leluhur ku.”


“Oh. Benarkah? Sungguh aku takjub pada leluhur mu. Membuat istana semegah ini, aku yakin pasti mereka sangat memperhatikan dengan detail setiap ukiran batu-batu ini!” puji Sean. Yang sebenarnya, bersebrangan dengan apa yang Sean rasakan.


Istana ini hanya di bangun dengan tumpukan batu alakadarnya. Tidak ada yang spesial, bahkan jauh berbeda dengan istana awan Metis. Bangunan ini hanya lebih mirip seperti rumah tikus. Tak ada nilai apapun di mata Sean. Akan tetapi, bagi Zumirh. Ini adalah sebuah mahakarya yang luar biasa.


“Tentu saja. Para leluhur ku yang meninggalkan istana ini untuk ku!”


Sean ber-oh saja. Mengangguk pelan. Dia tidak mau melanjutkan lagi pujian atas bangunan kuno tak ada kaidah estetika-nya sama sekali.


Sudah banyak tempat yang Sean lalui. Mendengarkan penjelasan aneh dan tidak menarik dari mulut Zumirh.


Kini, Zumirh membawa Sean ke sebuah tempat, masih dalam lingkungan istana bawah tanah Zumirh. Dan Sean yakin, tempat itu adalah jeruji besi, sebuah penjara ....


“Makhluk apa itu?” tanya Sean terkejut. “Aku baru kali ini melihatnya!”


Anak itu mendekati batang besi yang mengurung sebuah makhluk buas. Dia terlihat lapar, meraung-raung seperti meminta makanan. Zumirh tersenyum, dengan senang hati dia menjelaskan.


“Dia peliharaan iblis neraka. Makhluk yang akan menyuling jiwa Lausius, lalu mengubahnya menjadi sebuah kekuatan.”


“Maksud mu ....”


Sean mengerutkan alisnya. Sean memahami ucapan itu, tetapi ada satu hal yang mengganjal. Itu artinya, Sean tetap menjadi persembahan Zumirh.


“Sebenarnya. Aku tidak ingin melakukan ini. Tetapi, aku harus melakukannya. Demi keabadian ku, sebagai Dewi surga.”


“Kau akan menjadikan ku santapan makhluk setengah anjing dan setengah ular ini?”


Zumirh mengangguk lemah. “Maafkan aku pangeran. Jujur, aku benar-benar mencintai mu lebih dari apapun.  Namun, butuh waktu bertahun-tahun untukku menantikan hal ini. Hanya Lausius terakhir, itu yang membuat ku tak bisa mengabaikan misi ini.”


Zumirh mendekati Sean, menepikan tangannya di pundak Sean. Memeluk anak itu, seakan berat baginya melakukan semua ini.


“Pangeran. Aku mohon maafkan aku. Ara keegoisan ku.”


“Dia ingin melakukannya. Dia tetap ingin menjadikan aku sebagai persembahan. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya,” gumam Sean pelan.


Satu tangan Sean merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah benda kecil.


Sean ingat, dia mengambil benda itu tadi. Jarum beracun milik Zumirh yang di letakkan wanita itu di sela-sela pakaiannya.


“Aku sudah meneteskan darah ku pada racun ini. Seharusnya, jarum beracun itu bekerja. Dia tidak mempan menembus kekebalan tubuh ku. Tidak tahu, apakah ini akan merusak jaringan sel-sel darah Zumirh.”


Sean berkata pelan. Sebelum menjalankan rencana ini, Sean sudah memikirkannya. Ketika Zumirh duduk di ranjang tempatnya membelenggu Sean tadi, Sean mengambil jarum itu. Disaat yang bersamaan, Zumirh merobek sedikit kulit Sean. Darahnya menetes, tepat mengenai jarum beracun milik Zumirh.


“Racun dari pulau Hurian. Bercampur dengan jiwa lotus dan racun jiwa ular. Dia pasti akan terkena dampaknya!”


Sean memperhatikan lagi wajah Zumirh. Wanita itu terus bermanja-manjaan di tubuhnya. Meraba dada Sean, seakan sebelum kematian menjemput Sean. Dia ingin melakukan hubungan yang jauh lagi. Sean tak ingin melakukan apapun lagi, berhenti bertindak konyol adalah upaya Sean saat ini.


“Zumirh,” panggil Sean. Wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap Sean.


“Ada apa pangeran?” tanyanya. “Kau butuh sesuatu.”


“Jika kau mati, apakah kau bisa bangkit lagi?” tanya Sean kasual.


“Maksud pangeran?”


Mendengar ucapan Sean, dia memutar bola matanya. Mencoba memahami perkataan Sean.


“Aku hanya ingin tahu saja. Apakah kau bisa bangkit lagi jika sudah mati!”


“Pangeran bicara apa?” balas Zumirh. “Jelas aku tidak akan hidup lagi jika aku sudah mati. Kenapa pangeran bertanya seperti itu.”


“Benarkah?”


“Tentu saja,” angguk Zumirh. “Tidak ada yang abadi di sini. Kecuali mendapatkan jiwa Lausius. Hanya itu yang bisa membuat siapapun akan abadi.”


“O ....” Sean mengangguk pelan. Diam-diam Sean mulai memahami semua ini. Jadi ....


“Seharusnya, kau mati sekarang juga!” ucap Sean serius. Zumirh melirik Sean, dia sangat terkejut mendengar ucapan Sean.


“Pangeran!”


Sean, memulai rencananya. Menancapkan jarum beracun di pundak Zumirh. Hingga jarum itu masuk ke dalam relung jaringan tubuh Zumirh. Tanpa sepengetahuannya.


Wanita itu sempoyongan, terdorong mundur. Menahan sakit, darah hitam mengalir dari pundaknya.

__ADS_1


“Pangeran. Kau! Akh ....”


Sean tersenyum miring. “Maaf, aku tidak berniat mengatakan mengagumi mu.”


“Kau ....”


Zumirh berjalan mundur lagi, dia mulai sempoyongan. Tubuhnya tertatih, menjauh dari Sean sambil menahan pundaknya agar tak mengeluarkan darah yang cukup banyak.


“Jika aku mati, maka kau juga harus mati, Lausius!”


Di belakang Zumirh ada tuas pengungkit. Dia menariknya. Tuas itu terhubung dengan jeruji besi.


Jeruji besi itu terangkat, dari sana makhluk buas itu keluar. Insting buas dan liarnya sangat alamiah, sehingga dalam hitungan detik. Makhluk itu langsung menyerang Sean.


Sean terengah saat jeruji itu terbuka. Dan, makhluk itu keluar. Menerkam Sean dari belakang. Sean, dengan cepat terbang menghindar dari serangan itu.


Melayang di udara sesaat, Sean mencabut pedangnya. Mendarat sempurna, kuda-kuda Sean siap membalas serangan makhluk buas itu.


“Kau. Aku pastikan kau ..., tidak akan bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Aku pastikan itu Lausius!”


Walau dia sudah melemah, Zumirh masih memiliki tenaga untuk memprovokasi Sean.


“Tidak aku sangka, Zumirh melakukannya!”


Sean, dia geram. Makhluk peliharaan Zumirh ini cukup kuat. Dia kembali menyerang, memaksa Sean harus cepat bertindak.


ROARK!!


Suara raungannya sangatlah mengerikan. Cakar-cakarnya amat tajam. Mengibas tepat di wajah Sean, tapi beruntung Sean bisa menghindar.


Sedikit kulit Sean tergores oleh kuku runcing iblis neraka itu. Sean berbalik, memunggungi makhluk anjing berekor ular.


Sean melompat ke udara, pedang besarnya kemudian menghantam kepala iblis neraka itu.


“Hiya ....”


Seketika sang iblis neraka, tewas terkapar tak berdaya. Zumirh, sebagai Tuannya. Tak bisa menyelamatkan peliharaan yang telah lama dia kurung itu.


“Dalam sekejap. Kau ..., berhasil membunuh iblis ku. Kau ..., uhuk.”


Zumirh memuntahkan darah. Satu tangannya memegang dadanya. Pasti sakit dan sesak rasanya.


Zumirh terduduk lemah, tak bisa berbuat apapun sekarang. Sean mendekatinya. Melihat tubuh yang mulai menghitam, akibat pembekuan darah.


“Maaf jika aku melakukan semua ini. Aku harap, kau bisa menemukan dunia mu di bawah perintah surga.”


Sean menegakkan badannya. Langkahnya mulai menjauh, meninggalkan wanita yang nyaris sekarat itu.


“Kau ..., akan mendapatkan balasannya nanti, pangeran Lausius!” teriak Zumirh dengan suara yang mulai melemah.


Sean menoleh sekilas. Tepat di pintu membentuk setengah lingkaran, ada lahar panas di depannya. Yang di batasi oleh bata sebatas lutut.


“Tak tik ini, kau tentu tahu. Aku tidak kejam, tapi butuh keberanian dalam bertindak. Selamat tinggal!”


Sean kini menatap ke atas. Sungguh dalam tempatnya berpijak dengan permukaan bumi.


Sean mengepakkan sayapnya, kemudian dia terbang. Sean lebih memilih mengudara dari pada menggunakan alat pengangkut kuno milik Zumirh.


Sementara itu, Zumirh. Dia terlihat makin lemas. Perlahan, napas yang ditarik mulai melemah. Sesaat kemudian, dia memuntahkan darah hitam lagi. Untuk terakhir kalinya, Zumirh ....


“Lauisus. Kau ..., harus membayarnya.”


Zumirh mati. Kini, dia hanya tinggal kenangan. Kematiannya, tak terduga.


††††


“Pangeran!” teriak Driyad sumringah.


Sean baru mencapai puncak, keluar dari istana Zumirh sangat cepat.


“Kalian berada di sini?"


Seakan tak percaya, Sean tahu pasti mereka akan datang. Amuria mengangguk.


“Baru saja kami akan turun ke bawah. Tetapi pangeran sudah keluar dari sana. Sungguh luar biasa,” kata Amuria senang.


“Ini semua karena sayap ini. Aku bisa cepat sampai di atas.”


“Tetapi, bagaimana caranya pangeran bisa bebas? Bukankah dua iblis itu menahan pangeran?” sambar Crypto mulai sadar akan kehadiran Sean.


“Dia sudah mati. Jangan di pikirkan lagi!" balas Sean memberitahu.


“Siapa? Keduanya?” sahut Driyad menebak.


Sean menggeleng. “Zumirh. Dia sudah tamat.”


“Pangeran membunuhnya?” tanya Amuria ingin tahu. Dia mulai penasaran, bagaimana caranya Sean melakukan hal ini.


“Itu semua karena ulahnya sendiri. Dia yang mengakhiri hidupnya.”


“Semudah itu?” sela Driyad.

__ADS_1


Sean mengangguk. “Lupakan masalah ini. Seharusnya kita pergi sekarang. Masih banyak misi yang harus kita selesaikan!”


††††


__ADS_2