Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 61


__ADS_3

"Kita berhenti sejenak di pohon besar itu saja wahai tuan Driyad dan Yudhar." Jessica memberikan saran. Dia mulai kelelahan setelah berhasil lolos dari si buta dan memapah Sean sejauh ini.


Nafas Jessica tersengal-sengal tak karuan. Kakinya mulai berat untuk berjalan.


Driyad setuju. Dia dan ketiga temannya duduk mengambil nafas di pohon besar.


Di tengah hutan ini, setidaknya sudah menjauh dari si buta adalah rasa lega yang lebih baik. Mereka memutuskan untuk duduk, sementara Jessica, dia menyandarkan tubuh Sean yang masih sedikit terasa pusing.


"Kau..." Jessica menunjuk Driyad. "Bisakah kau katakan siapa sebenarnya si buta itu. Katakan siapa dia.... Dan mengapa dia mengatakan lausius. Siapa lausius itu." Jessica penasaran.


Sepanjang ocehan si buta, tidak ada yang di katakan olehnya selain kata menikah dengan lausius. Dan apa hubungannya dengan Sean, itulah yang menjadi hal mengganjal bagi Jessica.


Driyad mengerang kesakitan. "Akh... Aku rasa, luka ku mulai memberikan efek." Dia mengalihkan pembicaraan. Driyad ingin menghindar dari pertanyaan itu.


Jessica mengerti, seharusnya dia tidak membahas masalah lausius dan lebih sedikit perhatian pada luka Driyad tadi. "Oh, maafkan aku Tuan Driyad. Hampir saja aku melupakan luka mu."


"Tak masalah! Hanya luka cakar. Besok akan membaik." Driyad membalasnya santai.


Jessica melirik Yudhar yang sedari tadi tak bicara apapun. "Kau!" Jessica meneriaki Yudhar. "Bukankah manusia hutan seperti mu sudah paham bagaimana mengatasi luka seperti itu!" Dia menunjuk luka yang di alami Driyad. "Tidak bisakah kau berinisiatif mencari obat untuk menutupi luka Driyad?" Jessica memerintah Yudhar semaunya.


"Oh! Maafkan aku! Ku pikir aku hampir melupakannya." Kata Yudhar seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Aku akan mencari daun lagundi hitam itu untuknya. Kalian jangan pergi kemana-mana, oke!" Yudhar beranjak meninggalkan mereka bertiga.


Jessica melihat bayangan punggung Yudhar yang mulai menghilang di balik semak-semak hutan. "Anak itu terlalu lamban. Aku sangat kesal padanya." Kata Jessica menggerutu sebal.


"Namanya juga remaja. Pasti kalian akan selalu berselisih paham setiap saat." Driyad berkata sok mendewasakan Jessica. "Lagi pula, berbeda pendapat adalah hal wajar, bukan?" Dia berkata persis seperti yang pernah di katakan oleh Sean pada Jessica sebelumnya.


Jessica mendengus nafasnya. Dia menatap serigala berbahasa manusia itu sedikit sinis. "Tetapi, dia yang selalu memulai semua perdebatan ini." Jessica melemparkan semua kesalahannya pada Yudhar. "Dia tak pernah mengalah kepadaku. Dia selalu memancing kemarahan orang lain," Jessica berkata sedikit sebal. Apalagi mengingat kelakuan Yudhar.


"Lalu? Seharusnya bagaimana agar kalian tidak selalu bertengkar setiap saat." Driyad ingin tahu pendapat Jessica. "Haruskah dia mengalah setiap kali kau menyalahkan nya?" Driyad menebak.


Jessica membenarkan tebakan Driyad. Dia beranggapan bahwa wanita selau benar. "Ya. Seharusnya dia mengalah. Tetapi, nampaknya sulit bagi anak itu melakukannya."


Driyad acuh tak acuh. Dia sangat mengerti kisah remaja ini. "Ku rasa, solusi terbaiknya adalah, kalian berdamai. Mungkin dengan begitu kalian tidak akan bertengkar." Driyad berusaha menengahinya. "Atau, mungkin saja kalian berdua menjadi sepasang kekasih saja. Dengan begitu, kalian bisa memahami perasaan masing-masing." Driyad dengan ide bodohnya berkata gamblang.

__ADS_1


"Itu bukan solusi. Tetapi sebuah perintah," Jessica membantah ketus. "Dan, ide mu terlalu vulgar." Dia mengingatkan Driyad, bahwa dirinya seorang gadis kecil. "Aku tidak tertarik padanya, walau dia mulai tampak sedikit lebih baik dari wajah gembelnya seperti saat aku bertemu dengannya pertama kali di tengah hutan. Aku membencinya, jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam."


"Tunggu!" Driyad berkata menyela. "Apakah kau sedang curhat pada ku?" Dia bertanya melucu.


""Aku tidak mencurahkan isi hati ku, tetapi aku memberi tahu kau. Memberitahu bahwa betapa kolotnya kau!" Jessica menimpalinya dengan ucapan sedikit terdengar kasar.


"Ya... Itulah remaja. Tidak bisa menurunkan egonya sedikit pun." Driyad bicara pelan. Hanya dia yang tahu apa yang ia ucapkan.


Sean mulai menyadarkan dirinya. Sihir si buta itu membuat kepala Sean hampir saja pecah. Dia memegang kepalanya sekencang mungkin, karena rasanya akan copot kepala itu.


"Ini dimana?" Dia bertanya kebingungan.


"Tenanglah Sean! Kau aman sekarang." Jessica amat perhatian pada Sean. Dia memegang bahu anak itu, menenangkan dirinya.


"Sean. Kau sudah sadar," Driyad juga memberikan perhatian pada anak itu. "Kau butuh sesuatu? Misalnya minum, makan atau... Kau butuh buang air kecil." Driyad menawarkan sebuah layanan.


Jessica menyambar ucapan itu. Driyad terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan Sean. "Dia baru saja bangun. Lagi pula, Sean tidak membutuhkan apa-apa saat ini." Jessica seakan paham apa yang Sean rasakan.


Di hutan. Ya, Sean menyapu sekelilingnya. Dia melihat bahwa kini dirinya sudah ada di hutan. "Omong-omong. Bagaimana dengan penyihir buta itu? Apakah dia mati?" Sean bicara mengigau di tengah terik matahari.


Jessica menggelengkan kepalanya, meminta Sean sadar dari mimpi siang bolongnya. "Apakah sihir si buta itu telah mencuri otak jenius mu itu Sean?" Gadis ini meragukan ingatan Sean. "Apa kau ingat? Kau hampir saja di jadikan suaminya dan hampir saja menikahi nya tadi." Jessica menyinggung kembali kisah di goa.


Sean tidak percaya. Seakan dia melupakan semua kejadian tadi. "Benarkah begitu!" Sambil berkata memastikan, Sean melirik Driyad. "Benarkah uang dikatakannya?"


Driyad paham. Dia pasti ingin meminta penjelasan dari dirinya. Dia menganggukkan kepala serigalanya itu, dia membenarkan lirikan itu. "Iya!"


"Sudahlah Sean. Lupakan penyihir jahat itu. Berhasil keluar dari goa itu, bukankan ini yang kita harapkan." Jessica mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau membebani anak itu dengan memikirkan kejadian tadi.


"Tunggu!"


"Ada apa Sean," suara Sean membuat Jessica terkejut. Dia menjawabnya cepat sebagai refleksi kagetnya.


Sean teringat pada kata-kata yang di ucapkan oleh si penyihir buta tadi mengenai lausius. Dia bertanya pada Driyad mengenai hal ini. "Sebelumnya, aku sudah mendengar berkali-kali mengenai lausius di sebut oleh si buta buruk rupa itu. Ada hubungan apa antara aku dengan lausius yang selalu di singgungnya itu." Sean bertanya mengulangi pertanyaan yang di lontarkan oleh Jessica sebelumnya.

__ADS_1


Driyad sudah menduganya. Mulut licin si penyihir buta itu membuat Driyad bergidik ingin menelannya bulat-bulat.


Driyad ingin menjelaskan hal ini, tetapi tadi dia sudah menghindar dari pertanyaan yang sama yang di lontarkan oleh Jessica.


Driyad bingung. Antara menceritakan kisah ini pada Sean atau tetap merahasiakannya. "Ehm.... Sebenarnya.... Lausius itu..." Driyad berkata sedikit terbata-bata. Dirinya masih ragu untuk mengatakan kisah ini.


"Lausius itu apa? Kawanan serigala? Atau kawanan domba," Sean menebaknya.


"Bukan keduanya!" Driyad menimpali ucapan Sean sedikit kontra. "Jadi, sebenarnya lausius itu adalah...." Belum usai dia berbicara, manusia bernama Yudhar tiba-tiba saja datang dari balik semak-semak.


"Aku datang!" Dengan wajah girang dia dia berteriak sumringah.


"Ya.. dia datang dengan membawa kebodohannya." Jessica mengumpat pria itu.


Di tangan Yudhar terdapat setangkai penuh rerumputan berwarna hitam pekat. Dia mendekapnya di dada, takut jatuh berantakan.


"Aku telah mendapatkan daun lagundi hitam ini. Bagaimana? Apakah aku terlalu cepat menemukan daun ini?" Yudhar menghampiri sambil bicara bahagia.


"Kau memang yang terbaik manusia hutan. Kau yang terhebat." Sahut Jessica memuji sambil berkata berbohong. Dia hanya sekedar menghargai jerih payah anak itu. "Kau layak mendapatkan sebuah penghargaan sebagai manusia yang paling di andalkan." Jessica tersenyum palsu, dia pura-pura memujinya.


"Harusnya begitu!" Yudhar membenarkan pujian Jessica. "Seharusnya sudah tepat memberikan aku sebuah penghargaan atas apa yang aku berikan. Aku adalah ahli dalam meraih sebuah penghargaan," Yudhar membanggakan dirinya sendiri.


"Dasar manusia bodoh." Jessica terkekeh. "Seharusnya dia di tempatkan dalam sebuah museum, di jadikan sebuah pajangan sebagai manusia hutan tertua di dunia." Jessica membisik pelan, dia bicara pada dirinya sendiri. "Ku pikir itu cocok padanya."


Yudhar melupakan pujiannya, dia hanya fokus pada racikan daun lagundi nya.


"Lain kali aku akan menyambung cerita ku ini. Aku harus di obati. Bakteri di mana-mana." Driyad berkata seperti hewan paling anti kuman. Setidaknya Yudhar menyelamatkannya dari cecaran pertanyaan Sean.


Terpaksa bagi Sean harus menunggu serigala itu bicara lain kali. Tetapi dia akan bertanya kembali jika mengingat pertanyaan ini di kepalanya. "Tak masalah. Setidaknya kau suka sesuatu yang bersifat rahasia." Sindir Sean.


Driyad cukup mendengar ocehan Sean itu. Tidak perlu membahas hal ini, yang ada pikir serigala itu malah membuat jalan cerita makin runyam.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2