
“Aku dengar Lausius itu mati. Nekabudzer dan Elius sedang mencari kebenaran itu,” kata Xavier pada dewa iblis.
Dewa iblis tengah duduk santai di singgasana besarnya. Sambil menikmati minuman anggur. Tidak tahu, bagaimana mungkin seorang iblis meminum minuman memabukkan itu.
Tetapi menurut orang-orang di tanah surgawi, minuman anggur adalah yang terbaik. Minuman khas, yang membuat siapa saja merasa akan ada di ambang kenikmatan.
“Apakah kau yakin jika dia mati! Kapan itu terjadi?”
Dewa iblis meletakkan anggurnya di atas meja kecil di sebelah singgasananya. Sementara dirinya hampir saja kaget. Berita ini tiba-tiba saja terjadi.
“Aku dengar, ketika Zurry dan Zumirh mengejarnya. Pangeran itu memasuki lubang di tebing ujung gurun. Kemungkinan ada dua hal yang terjadi di sana, antara Lausius itu mati menjadi santapan si raksasa. Atau dia mati jatuh dari ketinggian.”
“Ehm....”
Dewa iblis mengurut dagunya. Pikirannya kini terfokus pada Sean. Matanya jengah, konsentrasinya tak berubah.
“Dia yang kita inginkan. Kini harus mati di dalam lubang itu. Bagaimana itu bisa terjadi.”
“Ini semua karena Zumirh dan Zurry. Jika saja mereka tak mengepungnya hingga ke ujung gurun, mungkin pangeran Lausius itu tak akan seperti ini. Mereka penyebab kematian pangeran Lausius itu.”
“Tidak, tidak, tidak.” secepatnya dewa iblis membantah. Dia benci argumentasi tak berdasar Xavier walau itu langsung dia dengar dari sumber yang melihat kematian Lausius. “Kita perlu mencari kebenarannya. Aku tidak yakin pada apa yang kau sampaikan.”
“Maksud Tuan agung....”
“Zumirh dan Zurry sepenuhnya tak bisa di percaya. Aku tak akan mempercayai sedikit pun berita yang mereka katakan.”
“Apakah Tuan bermaksud ingin ke lubang itu?” tanya Xavier memastikan.
“Tak ada pilihan lain, kita akan ke tempat raksasa itu. Aku ingin tahu yang terjadi sebenarnya bagaimana,” balas dewa iblis.
Dewa iblis berdiri, tubuh besar itu rasanya tak sanggup jika kehilangan Lausius yang menjadi incarannya selama ribuan tahun. Tangannya mengepal keras, geram rasanya jika kehilangan Lausius yang sudah lama dia nantikan.
“Tuan, kau.....”
“Lausius itu adalah ambisi ku selama ribuan tahun ini. Dan, dia adalah Lausius terakhir. Jika sampai aku tak bisa mendapatkannya, maka aku tidak bisa menjadi penguasa tanah surgawi ini. Jangankan tanah surgawi, menjadi pengawal surga atau pengawal langit pun aku tak akan bisa tanpa Lausius itu.”
Xavier tahu maksud dari Tuannya ini. Jika dia menyerap jiwa Lausius, maka tubuh api jeleknya itu berubah menjadi seperti pengawal langit. Pengawal terkuat, lalu dia dengan mudah meningkatkan kekuatannya. Kemudian dia mengambil alih pimpinan langit.
Ini adalah tujuan terbesarnya. Tujuan yang tak akan buyar selama ribuan tahun sejak Xavier mengabdi pada dewa iblis ini. Di dasar neraka yang panas, sudah menjadi makanan sehari-hari Xavier. Mendengar setiap ambisi yang menyergah jiwa dewa iblis.
Lagi-lagi, Xavier mengerti maksud dewa iblis. Xavier tersenyum, rasanya bangga memiliki Tuan yang tangguh dan selangkah lebih maju darinya.
“Baiklah Tuan ku. Jika engkau menginginkan itu. Apakah sebaiknya pergi kesana sekarang?”
“Jauh lebih baik. Aku ingin tahu jawaban yang benar dari si raksasa rakus itu.”
Dewa iblis tertawa puas. Seisi istana berasa terguncang saat suara membulat itu mengusik telinga.
†††††
Diam-diam Uli menyelinap masuk, ke lubang tempat Sean terjatuh. Di sana, dia mengendap-endap di dalam goa milik raksasa rakus.
Dari balik dinding goa, Uli mengintip sebagian besar kegiatan di sana. Badan-badan besar hilir mudik di depan pimpinan terkuat mereka, Gondola.
Beberapa di antaranya terlihat mengangkut hewan besar, yang nampaknya akan di makan oleh si Gondola.
Namanya sesuai, karena gondola adalah senjata besar yang kuat dan tangguh. Sebenarnya si raksasa memiliki nama lain. Nama yang sejak dahulu dia miliki, akan tetapi. Karena dia dinilai sebagai raksasa buas nan rakus dan tak tertandingi. Jadilah kenapa namanya di ubah menjadi gondola.
Gelar itu tidak berubah sampai saat ini. Selain itu, belum pernah juga ada yang berani memasuki tempat ini, kecuali mereka yang memiliki kekuatan cukup besar.
“Hohoho...... Malam ini, aku akan makan makanan yang sangat lezat,” ucap si raksasa.
Suaranya memekik, menggaung di seisi goa. Sakit bagi telinga siapa saja mendengarkan suara itu.
“Dia selalu makan enak, apa mungkin pangeran Lausius itu benar-benar sudah menjadi santapannya?”
Mata Uli mengedar ke seluruh tempat, di mana tulang belulang semuanya berserakan. Sedangkan si raksasa besar, dia asik menjilati daging yang baru saja dia nikmati.
Perut besar itu, Uli menebaknya jika di timbang mungkin satu ton lebih. Sudah cukup banyak makhluk yang masuk dalam perutnya, lalu bagaimana dengan Sean. Uli benar-benar di buat penasaran pada hal ini.
“Makanan ini tidak cukup lezat dari daging Lausius itu. Jika ada banyak Lausius, maka aku akan bahagia menyantapnya.”
Uli mendengarkan percakapan itu, jelasnya Uli merasa kaget. Degup jantungnya terasa makin berdebar, apalagi mendengar Lausius sudah menjadi santapannya. Seketika Uli terbelalak terkejut, dia mendapatkan jawabannya.
__ADS_1
“Apakah benar jika Lausius itu di makan olehnya?” gumam Uli pelan.
Apakah benar yang dikatakan oleh raksasa itu. Apakah pangeran sudah menjadi santapannya? Tidak, sebaiknya aku pergi dari sini sekarang. Aku tidak mau berakhir sama seperti pangeran itu. Dia buas, aku bukanlah lawannya. Aku hanya semut baginya.
Uli makin takut. Dia memilih untuk pergi setelah mengetahui kabar kematian Lausius itu. Sayapnya mulai terkepak, siap meninggalkan goa ini.
Akan tetapi, baru beberapa meter dia terbang, Uli tak sengaja di cegat oleh dua raksasa besar yang entah sejak kapan ada di belakangnya.
“Hoho.... Pengikut Elius rupanya!”
“Sial. Mereka mengetahui keberadaan ku,” gumam Uli kesal. Amat di sayangkan, dia telah ketahuan memasuki goa para raksasa.
Aku tidak bisa pergi sekarang. Mereka sudah tahu keberadaan ku.
“Kau mencoba kabur rupanya?” kata salah seorang raksasa. Mereka terlihat senang ketika mendapati santapan baru.
“Apakah kalian sedang mencari masalah dengan ku?”
“Hahaha...... Kau yang memasuki tempat raja raksasa. Kau dahulu yabg mencari masalah,” sambar salah satunya lagi.
Kemudian kedua makhluk besar itu saling berpandangan, mengisyaratkan satu dan yang lainnya.
“Dari pada banyak berkata seperti ini. Sebaiknya, kita tangkap saja dia. Kita jadikan santapan Tuan raksasa. Hahaha....”
Salah satu menyarankan—membuat Uli makin takut di balik ekspresi tenangnya itu. Degup jantungnya makin kencang, keringat dingin sudah mulai menguasai dirinya.
Uli benar-benar tahu, dia pasti tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Lebih-lebih, kini dia akan menjadi tawanan para raksasa itu.
“Jika kalian berusaha ingin menjadikan aku santapan. Maka, jangan salahkan aku, jika aku menjadikan kepala kalian berdua sebagai pajangan istana Elius.”
“Sombong,” sahut salah seorang raksasa.
Ngeri, perut mereka saja hampir sama seperti drum-drum minyak. Amat besar dan kembung. Uli sebenarnya mengakui kalau mereka menakutkan. Namun, tidak. Uli tidak bisa menyerah begitu saja pada mereka.
Uli mencabut pedangnya, dan dia siap bertarung melawan dua raksasa itu.
“Kalau begitu, aku harus membunuh kalian berdua.”
Uli lebih dahulu menyerang. Sementara kedua raksasa besar itu, ikut membalas serangan Uli. Dua tangan sekeras batu itu menghantam, mengayun dan menghalau Uli.
Pemiliki tempat ini menyadari keberadaan Uli, dan kini dia mendapatkan satu makanan lezat pengganti Lausius.
“Ehm..... Makhluk baru rupanya tertarik memasuki tempat ini.”
Raja raksasa itu mendengus ringan nan bahagia. Dia hanya menyaksikan pertarungan di depan pintu goa.
Sementara Uli, dia terpaksa mundur hingga memasuki goa berisi singgasana si raja raksasa.
“Sial!” pekik Uli. Dia melirik ke belakang, ternyata kini dia terjebak di dalam tempat yang berisi tulang belulang.
Uli melirik ke belakang, dan sayangnya si raja raksasa makin sumringah melihat keberadaannya.
“Katakan. Apa tujuan mu kemari pengikut Elius?” tanya sang raja raksasa.
“Itu bukan urusan mu. Sebaiknya, kalian jangan menghalangi ku untuk keluar dari sini.”
“Hoho....” Raja raksasa menyahut dengan lengkingan suara khasnya. Suara bulat itu tertarik untuk terus membuat Uli tertahan di tempatnya. “Jika itu bukan urusan ku. Maka, kau seharusnya menjadi santapan ku malam ini.”
Tidak tahu apakah di dalam goa ini siang atau malam, Uli tahunya hanya siang. Sebab, yang dia lihat terang benderang, tak ada gelap pun di goa bawah tanah ini.
“Jangan harap itu terjadi.” Uli membalas berang ucapan si raksasa yang akan menjadikannya makanan.
Uli, dia lebih dahulu bertindak. Kembali menyerang si raksasa besar. Sementara kedua raksasa yang menyerangnya tadi, kini berbalik hanya sebagai penonton pertarungan itu.
“Ehm.... Mencoba bermain-main dengan ku rupanya.”
Raja raksasa menanggapi serangan itu. Sama seperti ketika melawan Sean sebelumnya, raja raksasa melancarkan serangan dari tangannya.
Suara dentuman tabrakan antara tangan sekeras batu dan dinding goa, membuat tempat makin mahsyur dalam bertikai. Uli terbang kesana kemari, dia amat kuat, sehingga Uli di buat kewalahan.
“Haha.... Menyerahlah kau pengikut Elius. Kau harus mati di tangan ku. Kau harus menjadi santapan ku.”
“Tidak akan itu terjadi,” balas Uli tak menyerah. “Tak akan aku menjadi santapan mu.”
__ADS_1
Tajamnya pedang Uli yang terus menyerang si badan besar, tak membuat badan besar lengah.
“Kalau kau tak mau menyerah, maka kau dengan paksaan ku harus mati.”
††††
“Wow..... Apakah ini tempat mu kawan?”
Sean makin ternganga. Dia tak bisa berhenti untuk kagum pada sosok bangunan kuno di depannya.
Sean berada di atas sebuah puncak bangunan, ada jalan menurun ke bawah. Dan Sean sedang berada di atas kumpulan kabut awan yang menutupi tempat—utamanya mirip kastil. Sean tahu, kastil itu hampir menyerupai kastil yang pernah ia lihat di Disneyland.
“Ehm..... Ngomong-ngomong, bagaimana bisa di tempat seperti ini bangunannya mengapung. Tidakkah ini aneh bung?”
Sean berkata pada Ligong, dan hewan itu malah asik menggigit jubah Sean. Sesekali dia menjilati lagi wajah Sean, tidak tahu kenapa. Macan hitam itu nampak makin girang.
“Hei kawan. Hentikan. Kau membuat aku geli,” ujar Sean—menghindar dari lidah berlendir si Ligong.
Makhluk besar itu beberapa kali menjulurkan lidahnya keluar bak anak anjing, dia kadang duduk seperti hewan peliharaan yang meminta makanan. Sean makin menyukai tingkahnya, hewan garang berhati lembut.
”Oke, oke. Kau Sepertinya meminta belaian.”
Sean mengelus rambut lembut di kepala Ligong. Hewan itu keasikan, seakan dia sedang mengikuti kelas terapi.
Sean memahami, Ligong pasti makin nyaman bersama dirinya. Teman barunya bahkan lebih manja dari Driyad.
Tapi ngomong-ngomong, Sean sebenarnya merindukan makhluk itu. Serigala yang selalu membuatnya kesal tetapi setiap saat memperhatikannya melindunginya, juga menjaganya dari segala ancaman.
Sean terhanyuk sebentar, pikiran Sean teringat pada Driyad. Serigala besar itu entah bagaimana nasibnya sekarang. Sean benar-benar merindukannya. Bulu-bulu halusnya, Sean tahu, itu adalah sebuah kerinduan.
Terlebih, Driyad juga sering menjilati kulit wajahnya. Sean selalu sebal padanya, tapi tak urung Sean menerima jilatan yang membasahi wajahnya itu.
“Hei kawan. Kau mau kemana lagi?”
Lagi dan lagi, ketika Sean sedang asik melamun memikirkan Driyad, Ligong kembali berulah. Dia menggigit pelan lengan Sean, mengajaknya menuruni ratusan anak tangga, menuju ke kastil yang ada di bawah Sean.
Jalan anak tangga itu menurun, melengkung ke kiri, seolah membentuk sebuah lingkaran.
Kabut awan menutupi sebagian bangunan kuno di depan Sean. Jadi, Sean tak melihat banyaknya bangunan kecuali kastil tua.
Sean yakin, di setiap jalan yang dia lalui di depan. Semua terhubung, menyatu satu dan yang lainnya.
Benar saja, setelah mendekati kastil yang sungguh besar, di seberang kastil ada bangunan lainnya.
“Oh, megah sekali,” gumam Sean makin takjub. Si Ligong makin memamerkan keindahan di tempat ini. Dan Sean tahu, pasti di sinilah makhluk itu tinggal. Sean menyusuri setiap jalan menuju ke kastil.
“Hei. Tunggu. Sepertinya ada yang datang kemari.”
Saat akan menyusuri setiap tempat yang ada di dalam kastil berlantai keramik mengkilap. Ada segerombolan pasukan yang melintas. Mereka cukup lengkap dengan pakaian perang dan tombak.
Sean dengan segera mengajak Ligong bersembunyi, memasuki sebuah ruangan tepat di sisi kanan Sean.
“Diam. Mereka sepertinya prajurit di sini,” kata Sean plan pada Ligong. Sean menutupi mulutnya dengan jari, mengisyaratkan pada Ligong kalau hewan itu harus berhenti berulah.
Di luar, Sean mendengar beberapa ucapan pria-pria bersuara parau nan berat. Suara khas.... orang-orang Bohemia.
“Aku rasa, tidak ada siapapun yang memasuki istana awan ini. Aku tidak melihat siapapun di sini Bahkan tak ada jejak sama sekali.”
Dari balik pintu yang terbuat dari emas murni, Sean menguping. Suara parau dari gerombolan prajurit itu nampaknya berhenti di depan pintu tempat Sean berada.
“Oh. Jadi ini istana. Aku pikir ini sebuah kastil.”
Memang pada dasarnya Sean berpikir begitu. Aneh saja, ada kastil yang amat besar. Di luar, walau bangunan di tutupi bangunan merambat dan terlihat usang—hampir roboh. Namun di dalam istana ini, siapa sangka. Sean pun tak berpikiran kalau tempat yang hampir lapuk, akan semegah ini. Emas melapisi bangunan.
“Tetapi aku tadi jelas melihat seorang masuk ke sini. Dia bercahaya. Aku melihatnya di atas, lalu turun memasuki istana awan ini.”
Lagi, Sean mendengar suara itu membahas dirinya. Sean yakin, tadi Sean pasti dilihat oleh salah seorang prajurit saat memasuki tempat ini.
“Apakah mereka melihat kita tadi?” tanyanya pada Ligong.
Makhluk itu matanya berkaca-kaca. Sean paham, dia pasti tak tahu.
__ADS_1
“Oke. Kau tak akan tahu apapun di sini.”
TBC