Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 94


__ADS_3

"Ha-ha-ha," terdengar suara tawa terbahak-bahak itu melengking keras. Menggema di dalam goa yang gelap ini.


Sean mencari di mana sumber suara itu. Di telusurinya sumber suara, asalnya dari... Balik lorong gelap. Sesaat kemudian, keluar bayangan hitam mengenakan jubah.


"Penyihir buta!" Jessica terkejut. Oh, mereka sudah di jebak oleh penyihir hingga masuk di dalam goa—nya. "Dia datang Sean, apa yang harus kita lakukan?"


"Aku akan menyerangnya!" balas Sean menggebu. Di angkatnya pedang, dia siap menghunus penyihir itu.


Tapi— Sean tak berdaya. Penyihir buta memiliki sihir yang kuat. Pedang di tangannya tiba-tiba saja lepas dari genggaman, lalu terpental di dinding goa.


TRANG!! Pedang itu menjauh. Penyihir buta sengaja melakukannya agar Sean tak menyerangnya.


"Pangeran lausius," ucapnya kegirangan. "Akhirnya kau datang juga pada ku."


Wanita itu berjalan berlenggak lenggok menggeol-geolkan pinggangnya. Gaya jalan amat genit dan menggelikan untuk di lihat. Dari lorong yang gelap, pakaian serba hitamnya. Kuku-kuku hitam legam nan panjang itu sering dia raba-raba di bibir. Seakan dia mengisyaratkan bahwa bibirnya ranum dan seksi. Perlahan dia mendekati Sean dan Jessica yang terpaku oleh sihirnya.


"Oh, Lord. Mahakarya yang kau buat begitu indah di mata ku. Wajahnya sungguh membuat aku tergoda. Aromanya yang memikat, pantas saja membuat semua kaum penyihir menyukai seluruh lausius?"


Dia berputar-putar mengelilingi Sean dan Jessica. Kadang meraba wajah anak itu, kadang juga menggoda. Sean terpaku, dia tak bisa berbuat apa-apa.


Tak hanya itu, sesekali dia menghisap aroma tubuh Sean. "Hum..... Sangat harum dan segar. Pangeran lausius yang terakhir ini, sungguh memikat," katanya tergoda akan paras Sean.


"Apa yang kau mau!" Sean berang, si buta terus menggodanya.


"Huh, mudah saja," jawabnya. "Aku hanya mau kau menikah dengan ku. Maka, aku merasa sangat senang." Wajahnya terlihat amat kegirangan. Seperti seseorang yang baru saja mendapatkan hadiah istimewa.


Dia penyihir buta yang telah berubah menjadi wanita cantik. Gaun hitam itu membuatnya anggun, seakan dia wanita yang tak tertandingi dalam hal kecantikan. Dia sengaja merubah penampilannya agar lawan jenisnya menyukai wajahnya yang cantik bak wanita surga.


Biji matanya yang kering nak kurma, raib seiring berubah penampilannya itu.


Penyihir buta meraba-raba dada bidang Sean, remaja itu benar-benar telah memikat sepasang matanya. "Kau lausius ku. Aku akan membuat mu makin perkasa dengan kelembutan yang aku miliki."


Sean tidak tergoda, walau dia berusaha membuatnya jatuh hati. Justru Sean muak pada tingkahnya. "Jangan pernah menyentuh ku!" ucap Sean berang. "Kau makhluk menjijikan yang pernah aku temui!"


"Oh.... Begitu rupanya." Alih-alih marah, penyihir buta justru makin terpesona dengan suara lembut Sean. "Ho, lausius kali ini memang berbeda dengan lausius sebelum-sebelumnya. HM, menarik sekali. Sungguh tipe ku!"


"Apa yang kau inginkan!" Jessica memekik berang. "Kau jangan macam-macam pada Sean!"


"Ha-ha-ha," penyihir buta kembali tertawa terbahak-bahak. "Gadis manis. Siapa kau? Beraninya berkata pada ku tanpa izin."


"Tidak perlu tahu siapa aku. Kau hanya makhluk menjijikan yang pantas mati!" kemarahan Jessica membuatnya membidik anak panahnya pada si buta.


SIT! Secepat kilat, anak panah itu mengarah ke tubuh penyihir. Tapi, itu kalah cepat dengan kekuatannya. Panah itu berhasil di tangkapnya dengan tangan kosong. "Ho..... Ternyata panah beracun milik para Marmaida rupanya."


"Cih," Jessica mendesis jijik. "Ku akui kau hebat, tapi jangan harap kau bisa selamat dari serangan ku!" Jessica kembali membidik anak panahnya.


Tapi— si buta sangat gesit. Ah, dia tiba-tiba saja ada di depan Jessica. Bahkan gadis itu tidak tahu jika si buta sudah ada di dekatnya.


"Jangan harap bisa mengalahkan aku bocah kecil." Dia mengambil busur panah Jessica, lalu membuangnya. Setelah itu...... Dia mengangkat tubuh Jessica bak kain jemuran. Dia mengangkatnya setinggi mungkin ke udara, lalu.... Membanting tubuh Jessica hingga anak itu terjatuh lemah. Jessica terpental kasar.


"Jangan pernah melawan ku bocah kecil." Si buta duduk berjongkok di depan Jessica yang merasa kesakitan itu. Dia mengangkat dagu Jessica, lalu menatap mata anak itu.

__ADS_1


Dia mengalirkan sebuah sihir pada mata Jessica sehingga Jessica tak berkutik. Sihir itu membuat Jessica tak menyadarkan diri.


"Menaklukan gadis kecil itu sangat mudah. Tinggal menaklukan lausius ku. Setelah itu, aku benar-benar akan menikmati keperkasaannya," dia menyeringai tersenyum licik. Otaknya sudah di penuhi kecintaan akan paras setiap lausius.


Si buta mengelilingi tubuh Sean lagi. Tangan nakalnya tak bisa berhenti untuk menyentuh kulit mulus Sean. "Kau begitu perkasa. Amat sayang jika aku melewatkan tubuh indah mu pangeran."


"Jangan sentuh aku!" teriak Sean berang. "Aku tidak Sudi di sentuh oleh mu."


Mendengar kata-kata Sean, si penyihir tidak bisa lagi mentolerir sikap Sean yang terus menolak. Di dongak-nya dagu Sean, di tatapnya mata anak itu. Oh, mata yang berbinar-binar itu makin membuatnya terpikat.


"Jangan salahkan aku pangeran lausius ku," ucapnya dengan suara lembut. "Salahkan saja para moyang mu. Kenapa mereka melahirkan keturunan yang begitu rupawan. Aku hanya sebatas pengagum mu saja. Jadi wajar, jika ambisi ku untuk menikahi salah satu lausius adalah sebuah keharusan. Karena paras para lausius yang tak bisa di bantah oleh siapa saja wanita yang melihatnya."


"Jangan mimpi aku akan menikahi mu! Kau tak lebih dari pengerat yang menjijikan di mata ku."


Sean memang tangguh. Dia berani menghina kecantikan si penyihir buta.


Puncak amarah si penyihir buta sudah sampai di tingkat tak bisa di tahan. Geramnya sudah menguasai tubuhnya. Karena begitu kesalnya pada Sean, tangan-tangan berkuku hitam legam itu menampar wajah Sean hingga meninggalkan jejak cakaran.


PLAK!! Suara itu terdengar menyakitkan. "Oh, maafkan aku pangeran ku. Kau yang membuat ku menggila seperti ini."


Mungkin karena menampar Sean sekuat tenaga, penyihir buta mengibaskan tangannya. Dia merasa sakit juga karena tamparan itu mengenai tulang pipi Sean.


Sean tak bisa bergerak karena sihir itu memperlambat pergerakannya. Sean hanya bisa terpaku dan pasrah atas apa yang dia lakukan padanya.


"Cuih," Sean menghinanya kembali. "Kau gila karena perbuatan kalian sendiri. Jangan harap aku akan menikah dengan mu. Itu hanya mimpi kaum penyihir buta saja!"


"Kau!" si penyihir buta kembali geram. Pikirnya tamparan tadi membuat Sean tak berdaya, namun dia semakin berani menghinanya. "Beraninya kau berkata sok mengajari ku. Memangnya siapa yang butuh kau bicara."


"Itu adalah balasan atas penghinaan mu."


Kemarahan Sean atas perilaku si buta, membuat Sean amat memuncak. Sihir yang membuat Sean tak berkutik itu akhirnya terlepas. "Argh!" suara erangan itu membuat sihir itu patah. Seolah tak ada sihir yang mengenai Sean. "Kau!"


Penyihir buta itu kaget. Sean berhasil menaklukkan sihir pamungkasnya. "Bagaimana ini bisa terjadi!" serunya kaget. "Tidak mungkin jika kau bisa mematahkan sihir ku."


"Kau pikir, karena kau lebih kuat dari ku. Kau bisa memperlakukan aku semau mu!"


Sean mengangkat pedangnya yang terjatuh. Mendekati penyihir buta, dia ingin menyerangnya brutal. Mata Sean tiba-tiba bersinar, seakan itu bukan dirinya.


Si penyihir buta tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Baru kali ini ada yang bisa mematahkan sihirnya itu. "Tidak mungkin dia bisa melakukannya."


Penyihir buta berjalan mundur saat Sean terus mendekati dirinya sambil membawa pedang yang tergores di tanah.


"Kau harus di musnahkan. Kau harus di musnahkan. Kau harus di musnahkan. Kau harus di musnahkan!"


Sean terus mengulangi ucapannya itu. Sambil menyerang penyihir buta, Sean amat garang.


ZRASH! ZRASH! Sean menyabet pedangnya ke tubuh penyihir. Hingga darah itu bersimbah.


"Kau!!"


Si buta sudah terpojok di ujung dinding goa. Dia tak berkutik, Sean secara tiba-tiba berubah menjadi orang lain seperti ini. Dan...... Pedang besar itu,— menancap di perut si buta hingga membuat si buta tak berdaya.

__ADS_1


Pedang besar itu menancap hingga menembus tulang belakangnya. Oh, mungkin menembus dinding batu itu.


Darah segar keluar dari mulut penyihir buta. Dia sudah lemah, darahnya hampir habis karena tersayat pedang itu. "Kau...... Telah.... Menghancurkan... Tubuhku....!"


Suaranya agak terbata-bata. Setelah berkata hampir tak terdengar itu, penyihir buta tiba-tiba saja menundukkan kepalanya, ah — dia mati. Dia sudah meregangkan nyawanya, malang. Nasibnya berakhir tragis.


Sesaat setelah itu, Sean mendadak tersadar. "Oh!" Sean kaget. Di depannya penyihir buta sudah mati. Tubuhnya kembali menjadi wanita tua. Mayatnya belum lama mati, tapi sudah berubah menjadi kering — seperti ranting yang sering Sean gunakan untuk menyalakan api. "Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang melakukannya?"


Sean menatap kedua telapak tangannya. Dia yakin, bukan dia yang melakukannya. Sean seakan tak percaya, dia tak tahu menahu atas kejadian ini. "Pasti bukan aku. —Aku Tidak mungkin membunuhnya."


Tubuh penyihir buta kembali ke asalnya. Menjadi tua, itu bukanlah pilihannya. Dia yang membutuhkan Sean. Bahkan pedang merah Sean masih menancap. Sean berjalan mundur menjauh dari tubuh itu. Dia merasa lemas, baru kali ini dia membunuh seseorang. Kaki-kakinya terasa amat berat, dia tak bisa menanggung dosa atas pembunuhan ini.


Saat Sean menoleh ke kiri, terlihat Jessica sudah terkulai lemas di tanah. "Jessica!" dia menghampiri gadis itu. Mengangkat kepalanya, lalu meletakkannya di atas paha Sean. Sean memeriksa nafas dan denyut nadi Jessica. Dan.... "Syukurlah. Kau hanya pingsan."


Sean sempat berpikir kalau gadis itu sekarat. Perbuatan si buta memang menjengkelkan. "Aku harus membawa dia keluar dari sini," ucap Sean bertekad.


Tak lupa, sebelum dia pergi, pedang andalannya di cabut dari tubuh yang tak bernyawa itu. "Jika aku yang membunuh mu. Maafkan aku. Di akhirat, aku berjanji akan bertanggung jawab. Untuk saat ini, kau tanggung dulu sendiri dosa-dosa mu. Kita akan membahasnya lain kali."


Ucapan Sean amat filosofis nan bermakna.


Pedang itu menancap sangat dalam. Sampai-sampai Sean tak mampu menariknya. "Akh, mengapa pedang ini tak bisa di cabut," keluh Sean sebal.


Sekuat tenaga Sean menariknya, dan dia berhasil mengambil kembali pedangnya itu. Karena usahanya yang sudah payah, Sean terpelanting hingga tersungkur karena menarik benda miliknya itu. "Huh. Kau begitu menyusahkan!" gerutunya sewot.


Sean mengangkat tubuh Jessica, membopongnya keluar dari goa gelap ini. Baru beberapa langkah. Goa ini mendadak terguncang. Seperti.... —gempa bumi yang dahsyat.


Batu-batu stalaktit yang menempel di langit-langit gua, banyak yang berguguran. Berjatuhan, kacau, kemana-mana. Awan debu menutupi penglihatan Sean.


Uhuk-uhuk. Sean terbatuk-batuk saat debu-debu sialan itu menjangkau paru-parunya. Dia mengibaskan tangannya, agar debu berengsek itu bertebaran menghilang jauh dari hidungnya.


Guncangan semakin kuat. Batu-batu yang berguguran itu juga semakin banyak jumlah runtuhannya. Kerap kali Sean menghindar dari ancaman itu. Tubuh Jessica pun ikut membuat Sean kesusahan.


Saat akan keluar, Sean bingung. Jalan mana yang akan dia lalui? Lorong-lorong itu amat banyak. Ah, Sean makin sebal, dia di landa kebingungan. "Jalan mana yang akan aku tempuh? Mengapa begitu banyaknya jalan yang harus aku lalui?"


Karena goa yang mengguncang begitu dahsyat. Sean secara acak memilih sembarangan lorong. Jalan gelap itu tak tahu membawa Sean kemana. Dia hanya ikut dalam instingnya saja.


Ada batu besar yang mengejar dari belakang. Sean menoleh sekilas, dia tetap mengikuti Sean. Mungkin karena lorong yang dia lalui jalannya curam, sehingga dia meluncur ke bawah tanpa kendala.


Semampunya, Sean berlari secepat mungkin. Di ujung lorong ada cahaya terang. "Sudah pagi?" Sean memicingkan matanya. Benar, di sana terlihat sudah ada matahari. Pikir Sean mereka sudah melewati malam yang panjang.


"Bertahanlah, kita akan segera keluar dari tempat terkutuk ini," ucap Sean pada Jessica yang di gendongnya itu.


Geladak! Geluduk! Suara batu besar berbentuk bola itu masih mengejar di belakang. Jalan satu-satunya adalah cepat keluar dari lorong satu arah ini.


Tepat di ujung lorong, cahaya yang di lihat Sean ternyata hanya fatamorgana. "Sial!" Sean ternyata telah di kelabui oleh cahaya itu.


Sehingga, tanpa sadar, Sean tak tahu kalau ujung lorong adalah jurang yang dalam. Pada akhirnya, perjalanan terakhir itu membawa Sean menuju ke jurang itu.


BERSAMBUNG


Tetap setia dengan novel ini yah. Semoga ada banyak kejutan di setiap part-nya.Terima kasih atas waktunya telah membaca novel ini. Salam manis, Sean dan teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2