
Sean Jessica dan Driyad, kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Padang pasir tanpa akhir. Yah, rumor yang beredar mengatakan bahwa siapapun yang melalui Padang pasir yang luas nan gersang itu, pasti tidak akan kembali.
Bukan karena tidak tahu arah, memang pada dasarnya selama mengarungi Padang pasir itu tidak akan menemukan ujung. Jalan ini bukanlah satu-satunya jalan yang bisa di tempuh menuju ke desa orang-orang Moria.
Melalui sungai? Mungkin ide konyol. Tidak ada alat yang bisa mengapung di air. Bahkan tak ada peralatan perlengkapan apapun yang mereka bawa sebagai bekal perjalanan. Ketika anak-anak berpikir bahwa mereka akan berenang mengarungi anak sungai, rasa-rasanya mereka akan menemui ajal. Ide liar, mungkin hanya wacana saja.
Sungai itu panjang, butuh hingga sepuluh hari baru bisa sampai di desa Mouli. Walau menurut Jessica dan Sean, bukan desa, tapi kota. Lebih besar dan megah dari New York, bahkan lebih ramai dari kota-kota lainnya. Walau sebenarnya kota mirip di abad pertengahan, sekilas keduanya berspekulasi mengenai kota ini.
"Sudah berapa jauh kita berjalan?" tanya Jessica.
"Hampir seharian," jawab Sean. Dia melihat pohon-pohon yang mereka lalui. Lebih tepatnya, mereka masih melewati hutan bunga raksasa. "Setidaknya masih lama perjalanan melewati hutan bunga ini."
"Seharusnya kita bisa lebih cepat sampai jika memiliki kekuatan super."
"Atau bisa terbang memiliki sayap," sahut Sean. Jessica suka membual, Sean sering sekali mendengar imajinasi liar Jessica. "Mengitari seluruh bumi, melihat betapa indahnya surga?" Sean menambahkan.
Jessica menggeleng. "Bukan ide yang konyol."
Driyad hanya terdiam. Keduanya mengabaikan dirinya yang berjalan seirama dengan langkah mereka.
"Mereka suka melupakan aku," katanya pelan.
Tidak ada yang lebih asik ketika berjalan bersama teman di selingi dengan candaan. Tapi mereka tidak melakukannya, mereka hanya fokus pada percakapan mereka masing.
Sudah berjalan sejauh ini, melewati jalan setapak di hutan bunga raksasa. Jauh dari pelupuk mata, Sean melihat ada cahaya terang di ujung jalan. Dia memicingkan matanya, melihat dengan benar cahaya putih itu.
"Cahaya apa itu?" tanya Sean pada keduanya.
"Kita sudah hampir keluar dari hutan bunga ini," jawab Driyad. Karena hutan bunga raksasa ini gelap, walau tidak terlalu gelap, tapi cahaya di depan. Mungkin membuat siapa saja menjadi keheranan. Seakan berada di midle-east jarak antara bumi dan nirwana, kemungkinan Sean berpikir bahwa itu adalah cahaya menuju surga.
"Itu artinya kita sudah sampai di Padang pasir itu?" Jessica menebak.
"Tidak?" Balas Driyad. "Di depan adalah hamparan bukit bunga, walau tidak sebesar bunga di sini, akan lumayan membuat kalian terpana."
"Kau yakin jika di depan bukan Padang pasir?" Sean meliriknya sekilas. "Mungkin saja kau tak sadar bahwa itu adalah tempat yang kita tuju."
"Aku bukan makhluk pelupa?" Bantah Driyad cepat. "Di depan memang hamparan Padang rumput dan bunga yang sangat luas. Di ujung Padang rumput, kita akan melewati hutan lagi, walau agak gelap."
__ADS_1
"Hutan? Gelap?" Mendengar kata-kata ini, Jessica terpikirkan sesuatu. Kengerian, seperti yang ada di bayangannya, gelap sama dengan berbahaya.
"Hanya hutan gelap, tidak ada yang perlu di takutkan." Sean tahu, pasti Jessica sedang berimajinasi aneh lagi.
"Karena itu berkaitan dengan phobia. Aku suka berimajinasi pada phobia kegelapan!" ucap Jessica ketus. Sean selalu mematahkan idenya yang sedang mengalir. Sambil berjalan, Jessica melipatkan tangannya di dada. Gadis ini sewot, ide-idenya hilang saat Sean berusaha menebak, apalagi jika itu benar. "Aku tidak pernah takut kegelapan, aku bisa membuktikannya. Membuktikan bahwa aku bukan wanita pecundang," Jessica menambahkan. Di ujung kalimatnya, dia menantang Sean. Bahwa hanya dia gadis pemberani, tak ada yang lain.
Sean mendengus, melirik sekilas wajah Jessica. Dia suka sebal saat Sean tak pernah sependapat dengannya. "Ngomong-ngomong, apakah tempat itu berbahaya?" Sean mencegat langkah Driyad. Berhenti tepat di depan wajah makhluk itu.
Driyad benar-benar di buat menggeleng kepala. Lelucon macam apa yang ingin di buat Sean. Namun, mau tak mau Driyad harus menjawab, Sean terlalu banyak menuntutnya. "Berbahaya tidak berbahaya!" Ucap Driyad.
Mendengar kata-katanya, Jessica dan Sean saling melempar pandangan. "Seperti apa?" Sean lebih dahulu mencecarnya.
Karena bergosip di jalan lebih menarik, Driyad mencoba berhenti sejenak. Mirip gosip antara Ibu-ibu yang baru saja pulang dari arisan, Jessica berpikir demikian saat Driyad berhenti melangkah.
"Jadi, sebenarnya," Driyad ingin memberitahu. "Hutan gelap itu bisa saja ada para gort. Sewaktu-waktu mereka bisa datang menyerang, jika tidak hati-hati."
"Itu artinya kita harus meningkatkan kewaspadaan?" Jessica menebak.
"Bisa di bilang begitu."
"Berjalan sekitar seharian lagi. Setelah itu kita sampai!"
"Jangan bilang kalau kau sekarang mulai berani melawan makhluk tak jelas rupanya itu, Sean?" kata Jessica yang hanya menerka asal-asalan.
"Tidak tahu kenapa? Saat mendengar para makhluk itu, dada ku menggebu ingin bertarung?"
"Karena kau spesial, Sean!" Driyad menyisir perkataan Sean. "Kau ingat, Heksodus pernah mengatakan bahwa kau adalah anak spesial yang memiliki aura."
Sean tentu saja ingat pada ucapan wanita yang bisa berubah bentuk itu. Hanya saja, Sean tak mengerti aura apa yang di maksud. Pusing dan bingung Sean memikirkan perkataan orang-orang yang mengatakannya spesial.
Hanya remaja biasa, tidak ada yang bisa di banggakan dari dirinya, kecuali kedua orang tuanya yang selalu memuji dirinya cerdas. "Omong-omong, kita hampir keluar dari taman bunga ini," Sean beralih berkata.
Benar, mereka berhenti tepat di perbatasan antara dua sisi alam. Terang dan gelap, bagai berada di sisi gerbang. Jessica tahu itu, dia sadar kalau mereka hampir keluar dari hutan bunga ini.
Mereka melanjutkan kembali langkah mereka. Sean memang peka, bahkan Driyad tidak sadar jika mereka sudah hampir keluar dari hutan ini.
"Ketika memasuki Padang bunga ini, kita harus hati-hati," Driyad memperingatkan. "Walau di alam terbuka, banyak serangan yang bisa datang kapan saja."
__ADS_1
"Hanya serangan, aku bisa menaklukkannya dengan tangan ku sendiri." Jessica berkata sombong, seakan dia sudah mampu menaklukkan petarung alam bebas. Jari-jari manis itu di lipat-lipat hingga mengeluarkan bunyi, seperti sesuatu yang patah.
"Di sini berbeda," lirih Driyad pada Jessica. "Amuria siap mencengkram siapa saja yang berani memasuki wilayahnya."
"Amuria?" Sean membelalak. Tidak terkejut, hanya namanya saja yang aneh. Baru kali ini dia mendengar nama itu. "Apa itu Amuria? Siapa dia?"
"Dia adalah harimau besar bertaring panjang. Dia penguasa alam liar, dia suka menyantap apa saja, termasuk gort," jelas Driyad.
"Entah makhluk apa yang selalu kita temui. Begitu banyaknya makhluk-makhluk aneh di sini," keluh Jessica yang mulai bosan. Sepanjang perjalanan, sudah puluhan kali dia bertemu dengan makhluk tak jelas rupanya.
Sean tak berkata apapun. Tapi di dalam pikirannya sudah tertanam ide konyol. Mungkin, merasa tertarik jika bertemu dengan makhluk itu.
"Apakah kami termasuk salah satu makanan lezatnya?" celetuk Sean.
Jessica yang mendengar ucapan itu, seketika menyikut lengan Sean. "Apa kau sudah tidak waras!" tandas Jessica. "Mengapa kau bertanya seakan-akan kita ingin mati di tangan makhluk itu!"
"Aku hanya bertanya, lagi pula asik rasanya jika bertemu makhluk itu."
Jessica melipatkan tangannya di dada, menatap Sean penuh kebencian. "Kau pikir aku mau menjadi mangsanya. Kau terlalu naif, Sean, huh." Jessica mendengkus sebal, Sean selalu membual hal-hal konyol setiap saat.
"Hei, tenangkan diri kalian!" Driyad menengahi. "Manusia pengecualian."
"Kau dengar," sahut Sean. "Manusia adalah pengecualian!!"
"Apapun itu, dia tetap makhluk buas yang tidak bisa di jinakkan!" sentak Jessica. Wajahnya tadi memaling ke kiri, kini di berbalik, lalu menatap Sean kembali dengan sorot mata sangar.
Driyad menghela nafas lelah. Jika dia bisa mengeluh, atau kembali ke masa sebelumnya. Lebih tepatnya saat bertemu kedua anak itu, dia rasanya tidak mau menjadi bagian dari mereka. Melihat pertengkaran kecil keduanya, Driyad diam-diam ingin mengeluh.
Sean meregangkan segala otot-ototnya seakan kaku. Mirip pemanasan sebelum senam, dia acuh atas sikap Jessica. "Sebaiknya kita kembali berjalan. Tempat tujuan kita masih jauh, jangan membuang waktu."
BERSAMBUNG
Author sedang membuat naskah novel lain. Oleh karena itu up-nya sesuka author saja. Tapi, bukan berarti egois tidak melanjutkan novel ini. Kalian yang nunggu novel ini up, pasti penasaran. Sama, aku juga Hehe.
Tetap setia terus yah dengan kisah petualangan si jenius Sean dan si pemberani Jessica. Btw, kalian jahat. Masa novel ini di kasih rating bintang satu, auto turun ratingnya.
Ayo, yang belum kasih rating, plis kasih jari kalian buat novel ini. Sedih melihat novel ku turun rating.
__ADS_1