
SONG. : ALAN WALKER — SKY
LATAR. : GURUN (PADANG PASIR)
GENRE : ACTION/MISTERI
____________________________________________
“Hiya....”
Teriakan mengganas, membuat Elius makin semangat dalam menyerang. Medusa demikian, memaksanya harus mengeluarkan kekuatan dahsyat. Mereka adu kekuatan.
Nekabudzer tertawa puas. Rekannya itu memang tak bisa di remehkan dalam bertarung.
“Medusa akan berakhir.”
Akan tetapi, sekonyong-konyong mereka menyaksikan pertarungan adu kekuatan besar. Mendadak, adu kekuatan Medusa dan Elius hancur. Ada yang menyela. Mengakibatkan keduanya terpental, namun tak sampai terluka.
“Hahahahah....... Kalian bertarung tanpa diri ku!”
Dewa iblis. Siapa yang tak mengenal iblis satu ini. Makhluk api dari dasar neraka.
Kabar buruknya, Medusa amat mengenal suara itu. Dewa iblis. Medusa dan Elius menghentikan pertarungan mereka. Menatap kebawah secara bersamaan.
Dari gurun tandus itu, angin berputar dahsyat membentuk tornado. Tidak lama berputar, tornado itu berhenti. Dari sana keluar dewa iblis berserta pasukannya.
Oh, dia ternyata hanya membawa Xavier. Nampaknya dewa iblis mengurungkan niatnya membawa pasukan yang banyak. Karena dewa iblis beranggapan kalau yang dia hadapi adalah serangga kecil. Tidak lebih dari seekor semut.
“Dewa iblis. Xavier.”
Tidak tahu apakah Medusa harus senang atau takut melihat kedatangan mereka. Medusa tahu, yang datang kali ini adalah dewa iblis, pemilik kekuatan tinggi.
“Hahaha... Rupanya kita sudah di dahului oleh Nekabudzer dan Elius,” kata dewa iblis pada Xavier.
“Hush......” Elius yang terbang di atas agak apatis melihat kedatangan makhluk itu. Dia mengepakkan sayapnya, turun menemui makhluk tinggi dan besar ini. “Dewa iblis. Seharusnya kau tak datang ke sini. Hanya buang-buang waktu saja menanggapi mu.”
“Hahaha..... Kau masih meremehkan aku elius.”
Ingatan sang iblis masih terpaku pada kejadian ribuan tahun yang lalu. Dimana Elius bukan tandingannya saat itu. Namun kali ini, dewa iblis datang dengan kekuatan penuh. Tak ada keraguan dalam dirinya untuk menyerang Elius saat ini.
“Jika begitu. Biarkan aku menghabisi kau lebih dahulu wahai iblis murahan!”
Elius tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia langsung memulai pertarungan. Hidup dan mati, dia tidak peduli. Cukup menyenangkan bagi dewa iblis jika melayani dahulu serangan Elius sebagai hidangan pembuka.
“Hiya!”
“Maka aku siap melayani kemauan mu Elius.”
Dewa iblis tidak akan terkungkung kembali pada kekuatan besar Elius. Dewa iblis sudah belajar dari pengalaman, dan kali ini dia tidak akan kendur walau Elius masih sama kuatnya dengan Elius ribuan tahun yang lalu.
Dewa sudah siap bertempur apalagi di depannya, pedang besar Elius sudah siap menangkalnya. Bukan Maslaah jika harus sedikit bermain-main.
TING
Dewa iblis berhasil menangkis serangan Elius. Dan keduanya saling pandang memandang di balik pedang yang sedang beradu ini.
“Kau kira, dewa iblis kembali kalah seperti dulu kah. Kau salah Elius! Aku tidak akan kalah lagi kali ini melawan mu!”
Setelah mengatakan ucapan remehnya pada Elius, Dewa iblis mendorong Elius dengan kekuatan besar, membuat Elius terdorong kalah. Hampir membentur dinding kuil, beruntung Nekabudzer cepat menangkap Elius. Sebelum tulang punggungnya patah, menerima serangan itu.
“Kau terlalu gegabah Elius,” kata Nekabudzer pada Elius. “Dia bukan tandingan mu saat ini. Sebaiknya serahkan pada ku saja. Kau serang Medusa, lalu bawa Lausius itu pergi.”
Elius mengangguk, dia paham. Walau tangannya memegang erat sesak di dada, tetapi tak masalah. Lausius di depan matanya saat ini. Prioritas mereka adalah Sean, membawanya pergi lalu menyempurnakan keabadian.
“Hahaha.... Nekabudzer ingin mencoba melawan ku rupanya!”
Dewa iblis mendengar ucapan Nekabudzer pada Elius. Bukan masalah, dia mampu mengatasi perlawanan makhluk itu!
Nekabudzer tersenyum kecut, menatap dewa iblis dengan tatapan tantangan. Mereka berdua saling lempar pandangan penuh kebencian.
“Jika kau tidak mau kaum iblis malu memiliki pemimpin yang payah. Sebaiknya menyerah, lalu kembali ke asal mu. Dasar neraka!”
“Cih!” mendengar ucapan Nekabudzer, justru makin menambah semangat dewa iblis untuk bertarung. “Kita buktikan saja dulu siapa yang lebih kuat!”
Dewa iblis memulai, melalui kekuatan di tangannya. Dia menyerang Nekabudzer dengan api—yang amat besar. Cukup untuk membakar hutan dalam sekejap.
Akan tetapi, itu tidak cukup membuat Nekabudzer lumpuh. Dia melompat ke udara, menghindar dari serangan itu. Mengeluarkan senjata tombaknya itu, balik menyerang dewa iblis.
“Hiya.....”
Suara teriakan dari udara itu, berhasil di longos oleh dewa iblis. Dia menghindar, melompat ke udara.
“Kau kira bisa mengelabui aku!”
Dewa iblis mengeluarkan pedang dari dasar nerakanya. Pedang itu cukup besar—berbentuk kapak. Dia membalikkan keadaan, kini dewa iblis yang membalas serangan Nekabudzer.
TANG TING
__ADS_1
Kapak besar milik dewa iblis menghantam Nekabudzer. Akan tetapi itu berhasil di tangkis Nekabudzer dengan tombaknya. Mereka saling mengadu pedang masing-masing, sampai-sampai dua pedang itu mengeluarkan percikan api.
Dewa iblis tersenyum girang, bahkan pikirnya, Nekabudzer tak akan mampu melawannya.
“Terimalah kekalahan mu wahai Nekabudzer. Akuilah kekalahan mu, kalau kalian tak akan mampu menandingi dewa iblis. Hahaha.....”
“Sombong,” balas Nekabudzer. “Kau belum menerima kekuatan ku sepenuhnya. Jadi kau bisa tertawa saat ini!”
Nekabudzer tersenyum miring. Dengan kekuatan dalamnya, dia mendorong dewa iblis hingga terpental.
Kemunduran dewa iblis akibat serangan itu, memaksa kaki dewa iblis sebagai penahan beban tubuhnya, bertumpu pada pasir. Akan tetapi itu tidak cukup membuat pasir menahan gerusan itu. Justru, meninggalkan jejak kalau Sebenarnya dorongan kuat dari Nekabudzer tak mampu dia bendung.
“Dewa!” teriak Xavier. Dia mencoba membantu Tuannya, akan tetapi dewa iblis lebih dahulu mengangkat tangannya.
“Aku baik-baik saja,” katanya santai. “Aku terlalu meremehkan Nekabudzer nampaknya.”
Sebelumnya dewa iblis memicingkan matanya, memperhatikan kekuatan apa yang di pakai oleh Nekabudzer. Namun tak urung, tombak Nekabudzer sudah di depan mata—memaksa dewa iblis menghindar cepat.
“Hiya....”
Sialnya, kecepatan Nekabudzer lebih dari apapun. Kini makhluk itu sudah ada di depannya. Dewa iblis tak bisa menghindar, justru kali ini dia terkena terjangan keras dari kedua kaki Nekabudzer.
BRUK!! PRAK!!
Nekabudzer tersenyum miring ketika dewa iblis tak bisa menahan terjangan mautnya. Membuat dewa iblis terpental, hingga punggungnya menepi di tiang kuil istana Medusa.
“Itulah pembalasan karena meremehkan aku!” seru Nekabudzer berbangga hati.
Dewa iblis tersengal-sengal. Dari sudut bibirnya dia memuntahkan darah segar. Tangannya memegang dadanya, sementara dia berusaha berdiri. Namun itu gagal, pukulan telak dari Nekabudzer membuat badan besar penuh api dewa iblis terseok.
Sisa-sisa dari kekalahannya adalah, tiang istana Medusa yang hampir runtuh oleh punggung besi dewa iblis.
“Kau!!”
Nekabudzer tersenyum licik. Dia mendekati dewa iblis, dengan angkuhnya, kaki Nekabudzer menginjak kepala makhluk tak berdaya di hadapannya itu.
“Kau kira kau lebih kuat dari ku kah?”
Tidak menyangkal. Dewa iblis mengira dia jauh lebih kuat dari Nekabudzer. Apalagi sebelumnya dia juga pernah imbang kala bertarung tiga ribu tahun yang lalu. Demi memperebutkan Lausius. Akan tetapi, kali ini masih saja tak bisa membendung kekuatan Nekabudzer.
“Tidak ku sangka...... Ternyata. Aku tetap kalah dalam pertarungan mendapatkan Lausius kali ini. Kau......”
“Hemp..... Terlalu sombong tidak baik untuk mu!”
Nekabudzer makin menginjak keras kepala dewa iblis, hingga mencium pasir sungutnya. Nekabudzer paling benci di remehkan.
“Kau kira kau bisa mengatasi aku semudah itu kah!” kata dewa iblis dengan ucapan berwibawa.
Dewa iblis bangkit, memaksa Nekabudzer yang angkuh mundur kalah.
Dewa iblis sesekali mengguncang tubuhnya, agar pasir-pasir yang menempel di tubuhnya berguguran.
“Nekabudzer, kau.....”
Nekabudzer segera mengangkat tangannya ketika Elius mendekatinya. Dia tahu, Elius pasti mengkhawatirkan dirinya.
“Dia akan segera berakhir. Kau jangan khawatir pada ku!” katanya pada Elius. Nekabudzer tahu, bagaimana cara mengatasi makhluk satu ini.
Sean ternganga. Dia merasa kedua makhluk itu sama kuatnya. Sean memperhatikan dengan benar kalau mereka tak bisa terkalahkan satu dan yang lainnya.
“Aku perkirakan. Kecepatan mereka lebih dari angin. Jika aku mengukur seberapa cepat mereka saling lempar serangan. Mungkin jawabannya lebih dari kekuatan tornado,” gumam Sean pelan. Tak ubahnya, Sean takjub pada serangan kedua makhluk itu. Mereka sama-sama tangguh.
“Hemp.....” Medusa memperhatikan Sean. Karena jarak mereka tidak terlalu jauh, Medusa melirihnya. “Nekabudzer dan dewa iblis adalah musuh para Lausius. Kau harus hati-hati pangeran,” kata Medusa memberitahu.
“Ya. Aku tahu itu,” balas Sean. Sebenarnya dia pura-pura saja tahu, apalagi mengenai Lausius. Mana dia mengerti mengenai kisah para sosok rupawan itu.
Jika dia mengatakan tidak tahu menahu, maka Medusa akan mendetailkan penjelasan. Yang memaksa Sean harus mendengar celotehnya.
Medusa terkekeh, sikap Sean benar-benar membuat Medusa makin terpesona pada wajah menawannya.
“Kalau begitu, pangeran harus berhati-hati menghadapi Elius.”
Sean mengangguk, dia paham. Elius belum menyerangnya, karena Nekabudzer belum mengalahkan dewa iblis.
Dari atas, Zumirh tersenyum puas. Pertarungan di istana Medusa membuatnya memiliki peluang. Keberuntungan akan membawanya menguasai Lausius.
“Kita tunggu sebentar lagi. Tidak lama lagi, akan ada yang kalah dari pertempuran ini. Lalu salah satu dari mereka akan memulai mendapatkan Lausius. Dan itu kesempatan kita.”
Zumirh bicara pada Zurry. Pria ini mengangguk setuju. Tidak akan lama lagi Lausius itu menjadi perebutan mereka.
Zurry mendengkus girang, memiringkan sedikit sudut bibirnya. “Kita akan beruntung kali ini.”
»»»«»
Serangan bertubi-tubi dari Nekabudzer, membuat dewa iblis mengeluarkan angin besar bak tornado. Pusaran itu membentuk awan debu.
Mengibarkan setiap pakaian, hembusannya seakan bisa menyikat benda apa saja di sekitarnya agar masuk kedalam pusaran.
__ADS_1
“Kali ini kau akan berakhir Nekabudzer!” teriak dewa iblis di seberang pusaran angin.
Nekabudzer mengendus napasnya. Bahkan angin saja tidak akan membuatnya gentar.
“Maka kau harus menerima serangan dari ku!” balas Nekabudzer.
Dengan tombak tajamnya, dia memutar senjata itu. Di tambah dengan masa kekuatan yang tak kalah garang, Nekabudzer merajam, menembus pusaran angin yang kuat.
Menuju ke pusat suara yang meledeknya dengan kekalahan. Tombak tajam itu berhasil menembus dimensi angin. Tanpa di sadari oleh dewa iblis, tombak itu sudah mengenainya.
ZRAT!!!
Tombak itu tepat menusuk pusat jantungnya. Hingga mendorong tubuh api itu mundur menuju ke bebatuan di belakangnya. Tombak menembus tubuh dewa iblis, bahkan menembus batu sangking begitu kuatnya kekuatan tombak itu.
“Dewa!” teriak Xavier. Dia menghampiri dewa iblis. Namun belum sampai di sana, tubuh dewa iblis lenyap. Sialnya Xavier terlambat menyadari kekalahan Tuannya. “Tidak!”
Pusaran besar nan dahsyat itu menghilang, seiring hilangnya dewa iblis dari pandangan semua orang.
“Hahahah..... Begitu sombongnya, sampai-sampai dia sendiri tidak bisa memprediksi kematiannya sendiri!” seru Nekabudzer meledek.
Xavier berang. Wajahnya mulai geram. Raja iblis ini tak bisa membuang waktunya lagi. Bukan menyerang Sean, tetapi dia harus menjalankan rencana mereka yang sudah di buat sebelum tiba di istana Medusa tadi. Yaitu...... Menangkap Sean.
“Lausius. Dia harus kembali bersama ku ke dasar neraka,” gumam Xavier pelan.
Dengan kekuatan secepat angin. Dia menghilang, menuju Sean. Tujuannya adalah anak itu, dia harus kembali bersama anak itu.
Medusa menyadari bahwa Xavier bertindak. Berkat mata sihirnya, Medusa bisa melihat pergerakan lambat Xavier. Dengan cepat Medusa memposisikan dirinya, menarik Sean dari kungkungan Xavier.
“Dia mencoba menangkap mu pangeran!” kata Medusa ketika berhasil membawa Sean terbang di udara.
“Hah. Dia?”
Medusa mengangguk. “Xavier harus membawa mu ke dasar neraka. Itulah kenapa dia tidak mau membuang-buang Waktunya di istana medusa.”
Mata Elius melirik ke atas. Medusa satu langkah lebih cepat darinya. Karena kesal Sean sudah di tangan Medusa, Elius menyerangnya dengan kekuatan.
“Hei. Dia menyerang!” kata Sean memperingati.
Medusa tahu, setidaknya dia juga cukup cepat. Jadi Medusa bisa menghindar dari serangan kekuatan Elius.
“Dia benar-benar tangguh,” puji Zumirh ketika melihat Medusa berhasil menghindar dari serangan Elius.
“Benar. Sulit menemukan kelemahan wanita ular itu,” balas Zurry membisik.
Medusa menapakkan ekornya di tanah. Sialnya, belum sempat dia berbenah diri, tombak lancip Nekabudzer sudah ada di depan mata.
Medusa membesarkan matanya, dia belum sempat menghindar. Tetapi—
TING!!
Medusa berhasil terhindar dari tombak tajam itu. Medusa mundur beberapa langkah, kali ini yang membantunya adalah Sean. Ya, Medusa tidak salah melihat. Sean. Anak itu terlihat garang, seiring sinar di tubuhnya terus bersinar terang.
Anak itu menangkis tombak Nekabudzer hingga terpental. Pedang merah itu yang melakukannya.
“Sebelum kau melakukannya. Lebih baik kau hadapi aku dahulu!” seru Sean menantang.
Nekabudzer terkekeh. Walau tak sampai membunuh Medusa, namun dia bisa melihat dengan jelas siapa Sean.
“Hahaha..... Lausius satu ini benar-benar tangguh!”
“Jangan banyak bicara kau. Sebaiknya kalian pergi dari sini!” perintah Sean tak tahan melihat wajah mereka.
“Kau berani mengusir kami. Jangan harap itu terjadi!” Elius menyahut.
Elius memulai serangannya pada Sean. Medusa yang melihatnya, dengan cepat mengeluarkan panah esnya. Anak panah biru, yang dinginnya lebih dari es dan tajamnya seperti mata pedang.
“Maka hindari dahulu anak panah ku!” kata Medusa dengan bidikkan anak panah.
Elius yang mencoba menyerang Sean dengan serangannya, di paksa terhalau oleh puluhan anak panah Medusa. Terbang di udara, di serang bertubi-tubi rasanya membuat Elius canggung. Namun bukan berarti dia akan kalah, itu bukan termasuk dalam hitungan.
TANG!! TING!!
Elius memutarkan pedangnya dengan sempurna, menyapu anak panah itu sampai berhamburan dan patah. Dia berhasil lepas dari panah penghalau itu.
Elius tiba di hadapan Sean, pedangnya siap menghujam Sean. Namun Sean sigap, matanya yang bercahaya itu, mampu menebak arah pedang. Beruntung Sean berhasil menahan Hujaman senjata Elius.
“Akh......” erang Sean mendera. “Kau memaksa ku bertindak!”
Medusa yang ada di belakang Sean, melepaskan lagi anak panahnya. Dia membidik tepat tubuh Elius.
“Berakhirlah kau Elius!” teriak Medusa.
Anak panah itu sudah menghadap Elius. Pria itu tidak sadar, namun—dia datang. Nekabudzer. Dia lebih cepat dari serangan anak panah Medusa. Memaksa Elius mengakhiri serangannya pada Sean.
“Kau hampir saja mati!”
TBC
__ADS_1