Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 73


__ADS_3

"Sean? Bagaimana kau bisa melakukannya?" Jessica bertanya. Dia tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat.


"Entahlah. Aku pun tak mengerti mengapa ini bisa terjadi," jawab Sean netral. "Mungkin, itu adalah bakat terpendam ku?" Sean berkata melucu.


"Tidak mungkin jika itu salah satu bakat mu!" Jessica membantah, dia mendongak menatap ke atas. "Setahu ku, kau tidak memiliki tenaga kuat seperti ini. Kau ingat, terakhir kali kau ikut turnamen taekwondo di korea?" Jessica mengingatkan Sean. "Bahkan kau sendiri hanya menjadi pemenang kedua. Jadi bagaimana bisa kau punya tenaga yang kuat seperti ini. Bahkan kau bisa mengalahkan empat perompak sekaligus, kau keren Sean," Jessica berkata takjub. Dia memuji Sean.


Sean menatap Jessica serius. "Kau pikir, aku selemah itu kah?" Jawab Sean. "Pemenang kedua bukan berarti aku lemah dan tidak bisa mengalahkan lawan ku. Tapi, kurang teknik dan persiapan yang pas." Sean membual. "Jadi, jangan salahkan aku, jika aku tidak bisa membanggakan nama Amerika di Korea." Sean menggerutu, dia menampik kata-kata Jessica.


"Ya, setidaknya kau keren sekarang," Jessica memukul lengan Sean pelan. Dia memuji anak itu.


Semua orang di pasar memperhatikan Sean. Sang ksatria baru bagi desa manun. Mungkin mereka akan berkata seperti itu, Sean cukup tangguh. Dengan pakaiannya, wajar saja anak-anak yang sempat ia temui mengatakan dirinya jenderal. Dia cukup kuat melawan empat vandal dalam satu serangan.


"Ehm... Omong-omong, hei kau Volinia," Jessica menyikut gadis yang jongkok di dekatnya. "Kau tahu kenapa luka itu bisa sembuh begitu saja. Tidakkah kau mengetahui sesuatu?" Jessica berulah.


"Tak tahu." Volinia menggeleng. "Bahkan baru kali ini aku melihat secara langsung, seseorang yang terkena racun pulau Hurian bisa sembuh dengan sendirinya. Mungkin saja kekebalan tubuh Sean berbeda dengan manusia pada umumnya." Volinia menebak. "Bisa jadi begitu."


Jessica menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembusnya panjang. "Sia-sia bertanya pada kau. Ku pikir kau akan tahu sesuatu. Mungkin rahasia atau semacamnya, ternyata kau sama bodohnya seperti Yudhar," Jessica mengolok Volinia.


"Yudhar? Dia kekasih mu kah?" Alih-alih marah di sebut bodoh, Volinia malah berkata lelucon. "Dimana dia? Bisakah aku mengenalnya?" Volinia berkata polos.


"Bukan kekasih ku, tapi kekasih Sean," Jessica menyunggingkan bibirnya, menunjuk Sean.


Sean menggeleng. "Pembodohan," lalu dia beranjak.


"Hei mau kemana kau?" Tanya Jessica. "Jangan tinggalkan kami sendirian di sini."


Bayangan punggung Sean sudah sedikit menjauh, dia menoleh ke belakang menengok wajah Jessica. "Kembali ke sadon," jawabnya singkat.


Jessica memelototi Volinia, dan yang Volinia lakukan hanya mengangkat kedua bahunya. Volinia tak tahu.


Keduanya mengekori Sean menuju sadon, lelah seharian mengelilingi pasar manun.


Di istana sadon, di tengah aula yang mungkin besarnya hampir sama seperti ruang tunggu bandara, Driyad berdiri. Dia menunggu kedatangan anak-anak.


Jessica menghampirinya lebih dahulu, dia ingin bergosip.


"Kau tahu?" Jessica membisik di telinga Driyad. "Apa yang terjadi di pasar tadi?" Jessica ingin bercerita dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Apa?" Jawab Driyad singkat. "Sesuatu yang mendesak kah?" Dia menebak.


Jessica menggeleng. "Bukan, tapi ini jauh lebih mencekam."


"Mencekam?" Driyad bingung apa maksud perkataan Jessica. "Seperti apa?"


Jessica menjentikkan jarinya, dia membentuk tangan seperti sebuah pistol. Dia menodongkannya pada Driyad. "Tepat sekali," kata Jessica bicara semangat.


Driyad mendengus kan nafasnya. "Tepat sekali, apa maksudnya?" Driyad menuntut. "Perkataan mu membuat ku bingung."


Jessica menarik telinga Driyad, dia menoleh kanan kiri. "Dengarkan aku," Jessica membisik. "Tadi, di pasar manun, Sean mengalahkan empat orang perompak dalam sekali serangan." Jessica memberitahu. "Bahkan dia juga seperti memiliki kekuatan yang tak tertandingi. Dia hebat sekarang, kau harus berhati-hati padanya. Bisa saja dia lebih hebat dari Dewi Handita dan akan melenyapkan mu." Jessica menakutinya.


"Kau yakin itu?"


"Ya, aku sendiri yang melihatnya." Jessica mulai menyombongkan diri dengan ceritanya. "Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada Volinia," Jessica menunjuk gadis itu. "Dan yang paling membuat kau pasti kaget adalah, Sean sempat terkena racun perompak dari pulau...."


"Pulau Hurian!" Driyad menyambar.


"Ya. Kau benar sekali."


Driyad kemudian berkata tak percaya pada perkataan Jessica. "Sudahlah! Hanya lelucon." Jawab Driyad apatis. "Mungkin saja hanya kebetulan."


"Selamanya tidak akan pernah percaya pada mu. Kau selalu saja berkata kontra." Driyad menutup pembicaraan, dia meninggalkan anak itu.


"Hei," Jessica berteriak. "Aku belum selesai bicara," Jessica menggerutu sebal. "Dasar serigala terkutuk!"


Driyad tak peduli pada Jessica yang meneriaki dirinya. Dia menghampiri Sean dan menanyakan keadaannya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Driyad. "Kau tak terluka bukan?" Driyad mengelilingi tubuh Sean, memeriksa bagian tubuh anak itu. Bersih, bahkan tak terluka sedikit pun.


"Aku baik-baik saja, kau tak perlu mencemaskan aku!" Jawab Sean. Dia berkata amat santai tanpa beban.


"Tidak!" Driyad membantah. "Aku tidak yakin kau baik-baik saja. Kau pasti ada yang terluka kan," Driyad bersikap protektif, seakan dia adalah ibu Sean. Driyad ingin memastikan bahwa Sean baik-baik saja, dia menjilati wajah Sean dan kedua lengannya yang telanjang tanpa kain.


Sean mengenakan baju besi berwarna perak tanpa lengan, jadi kulit putihnya menjadi sasaran empuk lidah serigala itu. Sean tertawa geli saat lidah berlendir itu berulang kali menjilat wajahnya seperti anak kucing.


"Ayolah kawan, aku baik-baik saja," sambil tertawa geli Sean berusaha menghindari lidah Driyad. "Aha-ha-ha..... Aku merasa geli pada jilatan mu kawan. Ayolah, hentikan semua ini."

__ADS_1


"Tidak, kau tidak boleh terluka. Aku harus memastikannya," Driyad tak berhenti, justru makin liar.


Dewi Handita datang, dia menghampiri Sean. "Ada apa ini?" Dewi Handita bertanya. "Apakah ada kabar baik yang terjadi pada kalian?" Dewi Handita mulai penasaran.


Melihat kedatangan Dewi Handita, Driyad bersikap normal. "Ah.. Tidak. Kami hanya sedang bersenang-senang saja," jawab Driyad. "Dengan waktu," suara terakhirnya berbunyi sedikit merendah.


"Sean," Handita memanggilnya. "Bisakah kau ikut dengan ku."


Sean bertanya-tanya, ada apa Dewi Handita memanggilnya. Sedikit mencurigakan. "Tentu saja, aku akan ikut dengan anda," Dia menurutinya.


Dewi Handita jalan lebih dahulu, Sean mengekori-nya. Sementara Jessica, Volinia dan Driyad di tinggalkan, mereka tak di hiraukan. Mereka terpaku menatap langkah kaki Sean dan Dewi Handita.


"Apa yang hendak mereka diskusikan?" Jessica bertanya, dia menyikut Driyad. "Sesuatu yang penting kah?"


"Entahlah," Jawab Driyad. Mungkin mereka membicarakan hal bersifat rahasia."


"Apa kau berusaha menebak?"


"Mengenai apa?" Driyad bertanya, dia bingung pada perkataan Jessica.


"Mengenai rahasia!" Balas Jessica. "Kau pasti tahu sesuatu."


Jessica terlalu banyak bertanya, Driyad mulai kesal pada anak itu. "Tidak, aku hanya berkata menjawab pertanyaan mu," Driyad ingin berlalu meninggalkan Jessica. "Kalau tidak ada kerjaan, lebih baik bantu para pelayan bersihkan istana sadon. Nanti kau dapat hadiah dari Dewi Handita." Driyad menyarankan.


"Kau pikir aku pembantu!" Jessica mulai murka. "Jangan seenaknya kau memerintahkan aku. Atau kau akan dapat kesialan setiap saat," Jessica memekik marah. Dia sebal pada Driyad.


Volinia terkekeh melihat Jessica marah. Dia berdiri tepat di sebelah Jessica. Volinia menjadi saksi pertengkaran keduanya, dia berpikir lucu.


Jessica meliriknya, dia tidak suka pada tatapan Volinia yang meledeknya melalui kekeh tak berarti. "Apa yang kau tertawakan?" Jessica bertanya, dia masih larut dalam ke-sebal-an. "Apakah lucu saat melihat orang lain bertengkar!"


"Tidak," jawab Volinia mengelak. "Kau hanya gadis tangguh yang lucu."


Jessica menaikkan kedua alisnya, dia membesarkan mata, menatap Volinia dengan ekspresi tak biasa. "Jika aku lucu, nanti setelah aku kembali ke Amerika, aku akan mendaftar di acara America got talent. Dan kau bisa menyaksikan tingkah lucu dan konyol ku di saluran televisi," Jessica berkata ketus.


Dia ingin beranjak meninggalkan Volinia, tapi dia lupa pada satu kata terakhirnya. "Jangan lupa! Nanti, jika kau muncul di televisi, kau harus menyaksikan aku di saluran parabola. Jangkauannya lebih luas lagi, jika kau menggunakan televisi berbayar." Jessica menutup bicaranya dengan berakhir meninggalkan anak itu. Dia ahli dalam berkata ketus.


"Televisi?" Volinia tak paham maksud perkataan Jessica, dia baru pertama kali ini mendengar kata televisi.

__ADS_1


Sementara Dewi Handita yang membawa Sean, kini memasuki ruangan helian. Dia ingin berkata pada anak itu, suatu hal yang mungkin sangat penting.


BERSAMBUNG


__ADS_2