Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 100


__ADS_3

Acara pernikahan Naina dan Alfin berjalan lancar tanpa hambatan, meski hanya sederhana dan akad nikah saja, itu sudah membuat hati mereka merasa lega. Dilanjutkan acara makan-makan yang dipesan Adrian dari restoran langganannya. Diantar tepat waktu, selepas akad nikah selesai.


Tak henti Habsoh mengusap air matanya, meski hanya sesaat mengenal Naina ia sudah merasa bahagia. Merasa dianggap ketika memasangkan kerudung putih di atas kepala mereka saat akad tadi.


"Mah, udah jangan nangis. Kita ini lagi bahagia," ucap Adrian sembari mengusap punggung Habsoh yang berguncang.


"Mamah bahagia, Pah. Mamah sangat bahagia, makasih Papah udah bawa Naina ke dalam kehidupan kita," sahut wanita itu sambil terus mengusap kedua mata yang tak henti menjatuhkan airnya.


Adrian tersenyum, ia pun merasa sangat bahagia karena gadis itu bisa menerima mereka sebagai orang tua.


"Ini semua juga berkat keikhlasan hati Mamah yang bisa menerima Naina dengan tangan terbuka. Seandainya waktu itu Mamah nggak ngizinin Papah buat bawa Naina, mungkin kita nggak akan pernah menyaksikan hari bahagia ini," tutur Adrian memuji ketabahan hati istrinya.


Bisa saja waktu itu Habsoh menolak Naina karena teringat pada Lita yang telah menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Menyebabkan semua kemalangan, sehingga ia tak bisa memiliki keturunan.


Namun, keikhlasan hati istri Adrian serta kesabarannya, membuahkan hasil yang sempurna. Naina adalah pengganti yang hilang, pelengkap kebahagiaan untuk sisa umurnya.


"Coba Mamah lihat anak-anak itu. Mereka anak-anak asuh Naina, sama saja mereka juga anak kita. Kayaknya kita harus sering-sering ke sini kumpul sama mereka, atau undang mereka ke rumah. Biar rumah kita ramai," ujar Adrian dengan senyum penuh ketulusan.


Habsoh menyudahi tangisnya, mengangkat kepala dan menatap semua anak-anak yang makan dengan lahap. Hatinya menghangat, mereka semua masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua terlebih si kecil Halwa.


"Papah bener. Pasti rumah kita jadi ramai," sahutnya tersenyum.


Adrian merangkul bahu sang istri, mengecup pelipisnya penuh kasih. Keduanya tidak akan pernah kesepian lagi, dan mungkin akan segera menimang cucu. Seorang bayi mungil yang diidamkan Habsoh sudah sejak lama.


Sementara di tempat lain, Alfin dan Naina duduk di teras masjid menghadap jalan raya. Keduanya masih saling merasa canggung, bahkan untuk bersentuhan saja mereka masih merasa malu.


"Tangan sama jidat kamu kenapa? Kok, sampe diperban kayak gitu?" tanya Naina melirik sekilas pemuda yang telah menjadi suaminya itu.


Secepat kilat Naina melengos ketika Alfin menoleh padanya.

__ADS_1


Kenapa jadi canggung gini, sih. Padahal udah nikah.


Jantung Naina berdegup ketika pandang sekilas bertemu. Alfin tersenyum, bersyukur Naina telah menjadi miliknya meski belum utuh.


"Aku juga nggak tahu kenapa. Nggak sadar, tahu-tahu udah kayak gini," ucap Alfin mengusap tangannya yang dibalut perban.


Ia menghela napas, benar-benar tidak menyadari apa yang dilakukan saat di rumah sakit tadi siang.


"Sakit?" Naina melirik dengan ekor matanya khawatir Alfin akan menoleh kembali.


Alfin kembali tersenyum, benar-benar menoleh pada istrinya.


"Nggak sesakit saat melihat kamu menggantikan aku di penjara, apalagi kalo kamu pergi ninggalin aku. Aku bisa apa?" tutur Alfin membuat Naina semakin memalingkan wajah yang tersipu dengan sendirinya.


Alfin meneguk saliva, ingin sekali merengkuh tubuh itu, tapi nyali masih dikalahkan oleh rasa malu.


"Naina! Ke depannya berbahagialah denganku, jangan melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri." Alfin bergetar, tak ingin lagi ada drama sebuah lilin yang rela terbakar demi menerangi orang lain.


"Aku nggak tahu. Aku cuma berharap semoga apa yang kita bina akan berada dalam ridho-Nya." Naina tersenyum tipis, untuk pertama kalinya setelah mereka menikah.


Alfin bergeser sedikit, bahkan duduk saja mereka berjauhan. Pengantin yang canggung. Hanya sedikit, tidak menjadikan mereka lebih dekat. Naina berpaling, hatinya menghangat mendapat tatapan penuh kasih dari kedua mata laki-laki itu.


"Aamiin. Kelak kita akan tinggal di sini, aku sedang membangun rumah sederhana di belakang asrama anak-anak. Apa kamu nggak keberatan?" ungkap Alfin semakin dalam menelisik wajah yang tertunduk itu.


Naina menghela napas, menengadah menatap rembulan yang menyembul dari balik awan hitam. Bukan tempat tinggal yang ia cemaskan, tapi restu dari Aminah yang harus Alfin dapatkan.


"Aku nggak masalah mau tinggal di mana juga. Yang penting kamu nggak lupa sama yang kita bicarakan tadi," ucap Naina seraya menoleh kembali pada suaminya.


Alfin tersenyum, sungguh ia tak akan lupa akan hal tersebut.

__ADS_1


"Aku nggak akan lupa karena itu udah jadi kesepakatan kita sebelum menikah dan aku menerimanya. Sekarang, apa aku boleh menggenggam tangan kamu?" Pertanyaan yang lebih terdengar seperti permintaan itu cukup membuat Naina gugup.


Ia menunduk malu, wajahnya memanas seketika. Ingin menjerit, tapi tak mampu. Naina menggigit bibir, bagaimana dia harus menjawab? Sementara tanpa permisi pun Alfin sudah berhak menyentuhnya.


"Aku nggak akan minta lebih, cuma pegang tangan kamu aja. Aku janji, tapi aku juga pengen meluk kamu, Naina. Itu ... kalo boleh sama kamu," ungkap Alfin sembari menahan getaran di dalam dadanya.


Naina tersenyum, semakin tersipu malu. Alfin masih diam menunggu jawabannya. Ia meneguk saliva kuat-kuat yang terasa sebesar biji salak. Gugup dan terlalu malu sebenarnya, tapi dia ingin.


"Aku harus jawab apa? Aku sendiri bingung gimana mau jawabnya," lirih Naina bergetar malu.


Alfin membasahi tenggorokannya lagi, rasa gugup itu semakin membuatnya dahaga. Seperti seseorang yang sedang dilanda rasa haus, dia butuh air untuk menyegarkan tenggorokan.


"Apa boleh?" ulang Alfin meremas jemarinya tak sabar.


Naina mengangguk malu-malu, tangannya mengepal, mencengkeram ujung kemeja yang ia kenakan. Kedua mata Alfin berbinar, tubuhnya secara otomatis bergeser semakin mendekat.


Laki-laki itu mengangkat tangannya yang bergetar, peluh sebesar-besar biji jagung bermunculan di permukaan kulit wajah. Mengalir hingga ke leher terus ke punggung. Napas Alfin berhenti beberapa saat ketika tangannya berhasil menggenggam tangan Naina.


Alfin menengadah, memburu udara dengan cepat. Ia meremas tangan Naina dengan kuat, sekuat tangan lainnya yang meremas dada. Wanita di samping itu berpaling sambil menggigit bibir disaat Alfin membawa tangan mereka dan menempatkannya di dada.


Detak jantung laki-laki itu memukul-mukul tangan Naina, menyengat ke dalam hatinya. Terlebih ketika Alfin bahkan mencium punggung tangannya, degup jantung Naina semakin tak terkendali.


"Ayah! Ibu!"


Secepat kilat tangan mereka terlepas, Naina menariknya disaat panggilan dari beberapa anak menyentak keduanya.


Alfin mendesah, memejamkan mata sebelum membukanya untuk merengkuh tubuh kecil itu. Halwa dan dua anak lainnya, mengambil tempat di tengah-tengah mereka. Dengan terpaksa Alfin bergeser memberi ruang.


Naina tersenyum melihat wajah sendu sang suami, untuk kemudian berbincang bersama mereka.

__ADS_1


Baru juga seneng ... begini kalo punya banyak anak. Duh ....


__ADS_2