Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 150


__ADS_3

"Ayah, kami mau menginap juga di sini," rengek anak-anak Alfin tak mau pulang. Ia melirik Halwa, gadis kecil yang terus menempel pada Naina ketika mereka berdekatan.


Gimana kalo Halwa mau tidur sama Naina lagi? Berabe urusan.


Hatinya bergumam memikirkan tentang malam yang akan dilewatinya bersama Naina dan Halwa. Terasa hambar, dan dia pasti akan tidur sendirian.


"Halwa mau tidur sama Kakak-kakak, kok, Yah. Nggak sama ibu," ucap Halwa yang seolah-olah mengerti tentang isi hati Alfin.


Laki-laki itu tersenyum senang, meminta maaf dalam hati karena sudah berprasangka buruk terhadap si kecil. Ia mengusap kepala Halwa mengangguk mengizinkan mereka untuk menginap.


Karpet kasur digelar mereka di depan televisi. Semua tamu telah kembali ke rumah masing-masing, kecuali keluarga Seira yang memutuskan menginap. Alfin orang yang paling terakhir pergi ke kamar, ia duduk sebentar di teras rumah memandang rembulan yang sesekali akan tertutup awan.


Merenungi perjalanan hidupnya yang luar biasa. Proses berhijrah yang tak mudah, juga rintangan dan segala cemoohan yang harus dia dapatkan. Semua itu tidak menyurutkan langkah Alfin untuk tetap maju mencari pelabuhan terakhir imannya.


"Apa Naina udah tidur?" Ia bergumam, kemudian beranjak meninggalkan teras dan menemui istrinya di kamar.


Terdengar suara gumaman sang istri dari luar kamar, Alfin tersenyum. Wanita itu sesekali akan memekik, kemudian tertawa cekikikan. Aneh. Ia membuka pintu kamar, mengintip sejenak apa yang tengah dilakukan istrinya.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin segera menjatuhkan punggung pada dinding sambil memegangi dadanya yang berdegup. Ia melihat Naina sedang berhadapan dengan cermin besar dan memasang pakaian laknat yang membuatnya terus tergoda.


Bibirnya kembali tersenyum, ingin melihat sekali lagi. Akan tetapi, Naina telah kembali duduk membuka hadiah yang lain.


"Ke mana pakaian kurang bahan itu? Kenapa aku mau Naina memakainya?" Alfin malu terhadap pemikirannya sendiri. Ia menutup pintu dan pergi ke dapur untuk membasahi tenggorokan.


Alfin kembali menaiki anak tangga, masuk ke kamarnya. Namun, tak ia dapati sang istri di sana, dan percikan air di kamar mandi menandakan keberadaannya. Ia tersenyum melihat tumpukan hadiah yang sebagian telah terbuka. Alfin membaringkan tubuh di ranjang, mengingat-ingat pakaian yang tadi dipegang istrinya.


Kembali tersenyum, berandai-andai jika saja Naina keluar dengan mengenakan pakaian laknat itu. "Siapa yang memberinya hadiah itu? Apa Naina tahu fungsinya?"


Dia menertawakan pemikirannya sendiri. Terlalu mesum bila sudah berkaitan dengan Naina. Alfin menolehkan kepala ketika pintu kamar mandi terbuka. Sosok bergaun malam warna merah itu muncul dengan malu-malu.

__ADS_1


Alfin terhentak, meneguk ludah gugup. Sesuai harapannya, Naina mengenakan pakaian dinas itu.


Ya Allah! Jantungku. Kenapa aku suka dia pake itu. Duh, Gusti! Ampuni pemikiran kotor hamba.


Alfin mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak menarik tangan Naina yang melangkah sambil menghimpit kedua kaki.


"Humairah! Si-siapa yang kasih hadiah itu?" tanya Alfin terbata tanpa mengedipkan mata.


Naina menyelipkan rambut yang tergerai ke belakang telinga, untuk seumur hidupnya dia tidak pernah berpakaian seperti itu.


Supaya Mas Alfin senang, katanya laki-laki senang kalo istri berpakaian seksi di depannya.


Begitu niat Naina saat mengenakan pakaian tersebut.


"Aku nggak tahu, Mas. Nggak ada namanya. Kalo Mas nggak suka, aku ganti lagi." Naina buru-buru berbalik karena ia sendiri malu sebenarnya mengenakan pakaian terbuka seperti itu.


Namun, tangan Alfin lebih cepat bergerak, mencekal lengannya dan menarik tubuh itu ke atas ranjang.


Tangannya dengan nakal menelusup ke belakang pakaian sang istri, melepaskan apa-apa yang menutupi dua benda kesukaannya.


"Lain kalo jangan ditutup. Biarin aja kayak gini," bisik Alfin di telinga Naina.


Berdesir darah wanita itu hingga menyentuh ubun-ubunnya. Bergejolak segala rasa, membuncah hingga ke permukaan. Permainan panas pun tak dapat ditolak. Alfin sangat liar dan ganas malam itu, tapi Naina menyukainya.


****


Pagi-pagi buta, Biya sudah terbangun dari tidurnya. Melangkah keluar dari kamar dan melihat sekelompok anak tertidur di depan televisi. Ia mengernyit karena memang tidak mengetahui siapa mereka.


Langkahnya terhenti ketika sebuah buku sketsa tergeletak di atas meja bersama pensil juga penghapus. Terlihat seperti alat-alat sekolah anak. Ia duduk dan mengambil buku tersebut. Membukanya, melihat dan membaca setiap coretan yang dituangkan oleh seseorang bernama Salma.

__ADS_1


"Salma? Mungkin itu nama si pemilik buku ini," gumam Biya melanjutkan halaman demi halaman yang berisi gambar-gambar juga coretan tangannya.


Kebanyakan ungkapan perasaan terhadap kedua orang tua yang telah berjasa mendidiknya. Mata Biya terbelalak saat lembaran mulai memasuki pola design. Model pakaian, berbagai jenis. Termasuk yang dikenakan Naina siang tadi juga bentuk pelaminannya.


"Maa syaa Allah! Siapa yang merancang ini semua? Aku suka hasil rancangannya, sangat unik dan berbeda. Kalo kami bekerjasama aku yakin pasti si perancang ini akan berhasil menguasai dunia fashion. Ya Allah! Kenapa benda berharga ini digeletakkan begitu saja?"


Biya membalik buku tersebut, tak ada petunjuk lain selain nama Salma itu. Tak ada foto juga keterangan lainnya.


"Tante? Kenapa bukuku bisa ada sama Tante?" tanya suara seorang gadis remaja yang mengusik telinganya.


Biya menoleh dan melihat satu sosok anak seusia Fathya, mungkin.


"Ini buku kamu?" tanya Biya sambil mengangkat buku tersebut.


"Iya," jawab Salma tak ada ekspresi. Dia tidak terlalu suka orang asing menyentuh miliknya apalagi berani membukanya.


Hal yang tak ia duga, Biya justru menarik tangannya dan mengajaknya untuk duduk.


"Kamu sangat berbakat, sayang. Kamu tahu, Tante seorang designer juga, Tante juga punya butik sendiri. Tante sering mengadakan fashion show setiap ada kesempatan. Tante pikir kalo hasil rancangan kamu ini kita hadirkan dalam fashion show nanti, pasti akan sangat disukai banyak kalangan. Gimana?" Tawaran yang menggiurkan, di dalam acara tersebut sudah pasti dia akan tampil sebagai designer muda.


Salma tersenyum, itulah cita-citanya. Hanya saja, tak akan mungkin dia ikut bersama Biya ke Jakarta dan meninggalkan sekolahnya. Dia tidak ingin membuat Alfin dan Naina kecewa.


"Maaf, Tante. Aku nggak mau ayah dan ibu kecewa karena aku meninggalkan sekolah. Aku sebenarnya mau, tapi nanti setelah aku lulus dari sekolah," jawab Salma tersenyum.


"Kamu bisa pindah sekolah ke Jakarta, biar Tante yang menanggung semua biayanya. Kamu bisa sekolah fashion di sana," ujar Biya lagi sangat menggiurkan.


Namun, Salma tetap menggeleng, bayangan wajah kecewa juga sedih Alfin muncul di pelupuk. Dia ingin tetap di sana, hidup bersama Alfin sampai benar-benar mandiri.


"Aku nggak bisa ninggalin ayah. Aku mau tetap sekolah di sini," jawab Salma sambil mengambil kembali buku itu dan berbalik meninggalkan Biya.

__ADS_1


Gadis itu berdecak sangat menyayangkan keputusan Salma yang menolak.


__ADS_2