
Perjalanan sedikit terasa panjang karena Naina tidak tahu akan dibawa ke mana oleh kakak Alfin itu. Ia melirik jendela, deretan pertokoan berbaris rapi di sepanjang jalan bagian kiri. Bangunan-bangunan tinggi menjulang, berjajar di bagian kanan.
Mereka berada di pusat kota, di mana pergulatan ekonomi terlihat secara nyata. Mobil mereka berhenti di parkiran sebuah gedung bernuansa islami. Sebuah butik yang menyediakan pakaian muslim dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki juga perempuan.
"Kak, kita mau apa ke sini?" tanya Naina sebelum mereka turun dari mobil.
"Di dalam sana, ada banyak muslimah yang sama kayak kamu. Mereka baru meniti perjalanan menuju kesempurnaan diri. Ayo! Kamu pasti suka," ajaknya seraya membuka pintu diikuti Naina yang terlihat canggung.
Khadijah mengulurkan tangan meminta Naina menggenggam jemarinya. Dengan ragu Naina meraih uluran tangan tersebut, bergandengan mereka memasuki gedung.
"Assalamu'alaikum. Selamat datang, Mbak Dijah! Silahkan!" sambut dua orang penjaga pintu dengan ramah.
"Wa'alaikumussalaam. Terima kasih, banyak." Khadijah tersenyum, kemudian melanjutkan langkah bersama Naina setelah menyalami keduanya.
Hati Naina semakin menghangat, di dalam gedung itu semua orang bersikap ramah. Mereka memasuki lift menuju lantai tiga gedung. Di mana sedang berlangsung sebuah kajian islami yang mengupas tuntas tentang hijab.
"Ayo! Kayaknya belum terlambat," ajak Khadijah menggandeng Naina memasuki sebuah pintu di lantai tiga.
Ada banyak perempuan di dalam sana, kebanyakan dari mereka seperti dirinya, bahkan ada yang belum memakai kerudung duduk di antara mereka dengan tenang. Semua orang diterima di gedung tersebut.
Khadijah mengajak Naina duduk di bangku kosong, memperhatikan seorang tutor yang menjelaskan bagaimana tutorial berhijab ala Al-Qur'an.
"Di sini, kita belajar sama-sama," bisik Khadijah sambil menepuk tangan Naina yang ia genggam.
Gadis itu melirik tautan tangan mereka, ia seperti menemukan sebuah keluarga setelah kehilangan. Diam-diam Naina mengusap sudut mata. Rasa haru yang membuncah di dalam hati membuatnya tak dapat menahan air mata.
"Yaa ayyuhan-nabiyyu qul li`azwaajika wa banaatika wa nisaa`il-mu`miniina yudniina 'alaihinna min jalaabiibihinn, dzaalika adnaa ay yu'rafna fa laa yu`dzain, wa kaanallaahu gafụrar raḥiimaa.
Artinya: "Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(Q.S Al-Ahzab:59).
Sebuah ayat dibacakan oleh pembawa kajian di atas podium lengkap dengan artinya. Naina melirik kerudungnya sendiri, membandingkan dengan yang dikenakan kakak Alfin. Sungguh jauh berbeda, ia menghela napas. Dalam hati bersyukur dipertemukan dengan perempuan baik seperti Khadijah.
Naina kembali menatap podium, memperhatikan dengan saksama apa yang disampaikan ustadzah di atas sana. Dia tampak tenang dan senang menyampaikan apa yang diketahuinya. Bibirnya terus tersenyum sepanjang memberikan ilmu pengetahuan kepada semua yang hadir.
__ADS_1
Suaranya mengalun lembut, tak satu katapun yang keluar dari lisannya merendahkan orang lain.
"Yang perlu kita perhatikan di zaman modern ini, di mana fashion selalu berkembang dan menarik perhatian sebagian muslimah untuk mengikuti tren. Nah, coba kita dengarkan hadits Rasulullah Saw. Begini bunyinya:
"Terdapat dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi tel*nj*ng, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala wanita itu seperti punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali).”
(HR. Muslim)
Dia tersenyum sambil melirik kepada para jamaah yang hadir. Hampir semua orang memeriksa kepala mereka termasuk Naina. Inilah yang dimaksud kakaknya Alfin tadi. Mengapa ia menyentuh sanggul Naina.
Hati Naina mencelos, sungguh dia seorang fakir ilmu yang tidak tahu apapun soal syariat Islam. Naina berniat belajar lebih banyak mengenai hukum Islam, utamanya bagi wanita.
Ia melirik tangan Khadijah yang menepuk-nepuk punggung tangannya. Lembut dan keibuan, Naina bisa merasakan kedamaian di hati lewat sentuhan itu.
Kajian ditutup dengan melafalkan bacaan kafaaratul majlis.
"Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu anlaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik."
Kajian bubar sebelum waktu sholat Jum'at dimulai. Khadijah membawa Naina keluar, keduanya mendapat bingkisan berupa hijab dan inner hijab dari butik tersebut.
"Alhamdulillah, aku seneng banget, Kak. Makasih, ya. Berkat Kakak aku jadi tahu sedikitnya tentang aturan berhijab. Aku benar-benar masih belum tahu apa-apa," ungkap Naina seraya menundukkan kepala karena malu.
Khadijah mengangkat wajah gadis itu, tersenyum menatapnya.
"Kita itu diibaratkan bayi yang baru lahir. Seperti halnya seorang bayi, dia harus belajar demi dapat merangkak, sampai berjalan dengan benar. Kita sama-sama belajar, Kakak juga bukan orang alim. Masih banyak kekurangan yang harus Kakak perbaiki. Makanya, Kakak sering pergi mengikuti kajian buat menambah ilmu," tutur Khadijah dengan segala kerendahan hatinya.
Naina tersenyum, mengangguk kemudian. Ia memeluk tubuh Khadijah, menangis haru karena sikap dan perilaku baik dari wanita itu.
"Makasih. Makasih karena Kakak udah terima aku. Aku nggak tahu harus bilang apa, aku cuma bisa ngucapin banyak terima kasih sama Kakak," ungkap Naina sambil terisak lirih.
Khadijah menganggukkan kepala, mengusap-usap punggung Naina dengan lembut. Hatinya merasa bahagia setiap kali bertemu dengan saudara sesama muslim yang ingin bersama-sama belajar agama.
Ia melepaskan pelukan, mengusap air mata di pipi Naina dengan penuh perhatian.
"Kita pulang, ya. Kakak antar sampai rumah bibi kamu," katanya diangguki Naina penuh syukur.
__ADS_1
Mereka melanjutkan langkah memasuki lift turun ke lantai satu gedung. Khadijah kembali menghentikan langkah ketika matanya menangkap sebuah gamis yang menurutnya cocok dikenakan Naina.
Naina mengernyit melihat kakak Alfin menghampiri salah satu gamis. Ia hanya berdiri di tempatnya semula, menunggu tanpa berniat membeli sesuatu.
Khadijah membawa gamis yang disukainya ke meja kasir, membayar tanpa bertanya berapa yang harus dibayarnya. Ia tersenyum senang, kembali ke tempat Naina menunggu.
"Yuk!"
Naina mengangguk, mengekor di belakang Khadijah tanpa ingin bertanya apapun. Keduanya masuk kembali ke dalam mobil, duduk di jok belakang berdampingan.
"Kamu suka pakai gamis?" tanya Khadijah pada Naina.
Gadis itu menghendikan bahu tak tahu.
"Aku nggak tahu, soalnya nggak punya gamis," jawab Naina dengan malu.
"Nggak apa-apa, pakaian nggak harus gamis yang penting nggak kayak yang disebutin ustazah tadi. Berpakaian, tapi tel*nj*ng," ujar Khadijah diangguki Naina.
Beberapa saat berkendara, mobil mereka tiba di gang yang mengarah ke rumah bibi Naina.
"Sampai sini aja, Kak. Kakak di sini aja takutnya capek," ucap Naina.
"Ya udah. Ini buat kamu, hadiah perkenalan kita. Dipakai, ya?" Khadijah menahan tangan Naina untuk turun.
Gadis itu tertegun, melirik Khadijah dengan mata membesar tak menduga bila gamis tersebut dibeli untuknya.
"Ambil. Nggak boleh nolak," ucapnya memaksa.
"Tapi aku nggak punya hadiah apa-apa buat aku kasih sama Kakak," ucap Naina lirih.
"Nggak perlu. Kamu cukup jaga diri kamu sebelum halal bersama Alfin, itu hadiah yang nggak ada bandingannya. Ya udah, Kakak pulang, ya. Assalamu'alaikum!"
Naina tersenyum, menganggukkan kepala pelan, seraya menyahut, "Wa'alaikumussalaam!"
Keduanya berpisah setelah melalui hari yang penuh berkah.
__ADS_1