Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 168


__ADS_3

"Kenapa kamu ngelakuin itu? Kamu mengadu domba Kakak dan Alfin ... kenapa?" tanya laki-laki teman Alfin pada adiknya.


Wanita itu melengos, menghindari tatapan sang kakak. Kepalanya terus tertunduk, masih tak ingin bicara. Apalagi jika bukan karena dia mencintai Alfin? Atau ada faktor lain?


"Kamu tahu, 'kan, Alfin itu orang yang baik dan salah aku juga percaya sama kamu. Kenapa? Kenapa kamu sampai kayak gitu? Siapa yang udah bikin kamu hamil?" lanjut sang kakak masih menahan diri dengan segala kesabarannya.


"Aku suka sama Alfin, Kak. Aku udah bilang sama dia kalo aku suka, tapi Alfin selalu nolak dan bilang kalo dia nggak mau main perempuan," adu gadis itu sambil terisak-isak menangis.


Sang Kakak menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan cara licik adiknya sendiri.


"Kamu lihat istrinya? Jauh ... jauh banget sama kamu. Dia nggak cuma cantik secara fisik, tapi secara sikap dan perilaku juga. Denger suaminya difitnah kayak gitu, dia cuma diem dan tenang. Percaya suaminya nggak kayak gitu. Berhenti ngarepin Alfin, dia udah bahagia. Sekarang, siapa yang udah bikin kamu hamil?" Pertanyaan itu diulanginya lagi karena sang adik belum juga memberikan jawaban.


Dia tetap menggelengkan kepala, isak tangisnya semakin menjadi. Geram, laki-laki itu membalik tubuh sang adik dengan paksa dan kasar.


"Bilang siapa?" bentaknya berapi-api.


"Aku nggak tahu, Kak. Aku nggak tahu. Waktu itu ... waktu itu aku mabuk, aku nggak tahu siapa yang ngelakuinnya. Aku kira itu Alfin, tapi aku udah salah. Mereka-"


"Mereka?" sentak sang kakak saat mendengar kata mereka. "Mereka siapa? Kenapa mereka?" Dia meradang, mengingat kata mereka hanya akan diucapkan untuk dua orang atau lebih.


"Aku cuma lihat samar-samar tiga orang, terus nggak tahu apa-apa lagi. Bangun-bangun, aku ... aku udah nggak pake apa-apa, Kak." Dia menutupi wajahnya, semakin tersedu-sedan mengingat peristiwa beberapa tahun lalu.


"Astaga!" Laki-laki itu melepas cengkeramannya pada bahu sang adik, menjatuhkan punggung pada pilar, mengusap wajah gusar.


Semuanya semakin jelas, bukan Alfin pelakunya karena dia tahu betul siapa dan bagaimana Alfin saat masih berada di dalam kelompok mereka. Hanya dia seorang yang tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan.


"Kamu harus minta maaf sama mereka kalo nggak mau nanggung dosa seumur hidup kamu," tandas sang kakak seraya pergi meninggalkannya sendiri. Tangis gadis itu semakin menjadi, terdengar pilu dan menyayat hati.


****

__ADS_1


Kebahagiaan tengah menyelimuti hati mereka, wajah-wajah yang terpasang senyuman. Terutama sikap Alfin terhadap Naina yang terlihat berbeda.


"Jangan lupa pergi ke dokter," ingat Aminah saat mereka berada di meja makan.


Naina tersenyum dan mengangguk, membuat semua anak-anak mereka bingung.


"Iya, Mi. Paling nanti abis nganter anak-anak ke sekolah," sahut Alfin sambil mengunyah sarapannya.


"Ke rumah sakit? Emang siapa yang sakit?" tanya salah satu anak Alfin menatap penasaran dan cemas.


"Nggak ada yang sakit, sayang. Cuma mau periksa." Naina mengusap kepalanya karena kebetulan anak itu duduk di sampingnya.


Salma tersenyum penuh arti, dia tahu apa yang akan diperiksa meski mereka tidak mengatakannya.


"Nah, ayo, anak-anak! Udah selesai belum sarapannya? Nanti terlambat," ajak Alfin seraya berdiri dari duduknya.


"Biar Halwa Nenek yang nungguin sekolahnya, ya." Aminah mengusap kepala gadis kecil itu, ia mengangguk setuju. Halwa senang karena semua orang menyayanginya juga Kakak-kakak.


"Kamu tahu?" tanya Alfin sedikit bingung.


"Iya, Ayah. Salma yang beli alat tesnya. Salma seneng banget akhirnya akan punya adik." Gadis remaja itu tersenyum, terlihat bahagia tidak dibuat-buat.


"Makasih, sayang. Doain aja mudah-mudahan Ibu dan bayi yang di kandungan Ibu sehat selalu," ucap Naina bersyukur.


Salma tersenyum, dia tidak ingin ketinggalan momen menyambut kehadiran adik kecilnya.


"Aamiin."


"Hati-hati! Belajar yang baik." Naina dan Alfin melepas anak sulung mereka di sekolah. Lalu, melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit yang besar meski jarak cukup jauh.

__ADS_1


"Mas, banyakan banget yang antri. Lihat, ada yang udah besar perutnya juga," ucap Naina setelah menerima nomor antrian yang ke sekian, padahal mereka datang pagi.


"Nggak apa-apa, menguji kesabaran." Alfin mengusap kepalanya, duduk berdampingan menunggu panggilan.


Di antara mereka ada yang datang sendiri tanpa pasangan, ada pula yang datang bersama ibunya.Tanpa sadar Naina mengusap perutnya, membayangkan sudah membesar dan bergerak-gerak.


"Sabar, mungkin usianya baru beberapa Minggu. Ada waktu sembilan bulan sampai kamu melahirkan nanti." Alfin mengecup pelipis sang istri, membayangkan betapa susahnya ia berjalan saat perut sudah membesar.


Tidur gelisah tak tenang, ke mana pun menghadap selalu tak nyaman. Belum lagi, pergerakan bayi yang membuatnya selalu ingin buang air kecil. Sungguh perjuangan yang tak mudah dan tidak sebentar yang harus dilewati seorang istri untuk menjadi seorang ibu.


"Nanti aku juga pasti kayak gitu, ya, Mas. Mau jalan aja susah. Kayaknya berat banget." Naina membayangkan dirinya berada di posisi wanita hamil besar.


"Yah, nikmati aja prosesnya. Jangan mengeluh, ada Mas yang selalu siap siaga memenuhi kebutuhan kamu. Jangan memendam apapun sendirian, biasanya orang hamil itu sensitif," ucap Alfin sembari menggenggam tangan Naina.


Yang dilakukan laki-laki itu sedikitnya membuat iri para wanita di sana. Perlakuannya terhadap sang istri, menunjukkan betapa besar cinta yang dia miliki untuknya.


"Mereka kayaknya pasangan baru, mesra banget. Yang laki-laki kelihatan banget cinta sama istrinya," celetuk salah satu ibu hamil sambil memperhatikan pasangan yang duduk di bangku paling belakang itu.


"Udah, jangan dilihatin aja. Nanti kamu minta yang macem-macem sama Mas lagi." Suami di sampingnya membalik wajah sang istri agar tidak melulu memperhatikan mereka.


Namun, wanita itu ingin terus menatap seperti menonton serial drama romantis, tapi versi real. Di mana para CEO bucin selalu menunjukkan cintanya di manapun dia berada.


Nama demi nama dipanggil masuk ke ruangan, ada yang datang. Ada juga yang pergi, antrian semakin mendekat, hanya menunggu beberapa orang lagi saja untuk tiba pada gilirannya.


"Kamu haus? Mas belikan minum dulu, ya," tanya Alfin yang diangguki Naina. Kebetulan tenggorokannya kering karena menunggu antrian yang tidak sedikit.


"Beli jus, Mas. Aku mau jus yang segar," ucap Naina membayangkan sesuatu yang asam manis menyentuh tenggorokannya.


"Iya, siap. Kamu duduk di sini aja, ya. Masih ada enam orang lagi. Masih lama, Mas keluar sebentar." Alfin beranjak dan berlari menuju kantin rumah sakit. Tak ingin meninggalkan Naina terlalu lama sendirian.

__ADS_1


Sementara wanita itu, memainkan ponsel untuk mengusir jenuh.


"Naina!" Seseorang menegurnya.


__ADS_2