
Pagi hari di rumah Sumiyati.
Kedua paruh baya itu telah sibuk di pagi buta menyiapkan segala macam yang akan mereka bawa ke rumah sakit. Semua yang diperlukan, disimpannya dalam satu tas besar. Ia tetap akan pergi ke rumah sakit meski keadaannya masih lemah.
"Bu, muka Ibu itu masih pucat banget. Ibu beneran mau ke rumah sakit? Biar Bapak aja, ya. Ibu istirahat aja di rumah." Asep memandang Sumiyati, matanya sayu dan berat. Ada kesedihan memancar dari kedua maniknya yang berkabut, ia merasa iba pada wanita itu.
"Nggak apa-apa, Pak. Ibu nggak apa-apa, kok. Beneran. Ibu pengen nungguin Naina di rumah sakit, pengen nyiapin dia makan juga. Kasihan anak itu udah nggak punya siapa-siapa lagi selain kita," sahut Sumiyati, tangannya sibuk merapikan rantang berisi makanan yang akan dibawanya ke rumah sakit, makanan kesukaan Naina.
Asep menghela napas, membiarkan istrinya itu untuk pergi. Ia duduk di kursi memandangi Sumiyati yang nampak tersenyum menyiapkan makanan itu. Sejak kedatangan Naina, kehidupan mereka terasa lebih hangat. Gadis itu mengisi kekosongan di hati mereka, hati yang selama ini merindukan sosok seorang anak.
"Emangnya kamu bawa apa aja itu, kok, banyak banget?" Asep tersenyum simpul menatap sang istri.
"Yah, apa aja yang kita butuhin di rumah sakit, Pak. Emangnya apa?" jawab Sumiyati, tangannya tetap sibuk melakukan finishing pada apa yang dibawanya.
"Permisi!"
Sebuah suara asing menyita keduanya dari kesibukan mempersiapkan semua keperluan. Keduanya saling pandang, saling bertanya, dan secara bersamaan kedua bahu mereka terangkat.
"Permisi!" Suara itu terdengar lagi.
"Siapa, Pak? Bapak lagi nggak nunggu tamu?" tanya Sumiyati karena biasanya teman kerja Asep atau mandor sering datang ke rumah mereka.
"Nggak, Bu. Bapak juga nggak tahu. Ayo, Bu. Kita lihat," ucap Asep sembari mengajak Sumiyati untuk menemui tamu mereka.
Keduanya beranjak dari dapur, melangkah penasaran dengan siapa yang datang di pagi hari itu.
"Permisi!" Untuk ketiga kalinya dia bersuara.
"Ya! Tunggu sebentar!" sahur Sumiyati sambil berjalan keluar.
Timbul pertanyaan di sepanjang jalan menuju teras. Jantungnya berdegup tak terkira, rasa cemas seketika hadir mengingat kondisi Naina di rumah sakit. Langkahnya dipercepat, tak ingin terkurung terlalu lama dalam rasa penasaran yang membuatnya tidak merasa nyaman.
__ADS_1
"Ya, siapa?" tanya Sumiyati, tercenung saat pandang mata terjatuh pada seorang laki-laki yang usianya lebih muda dari mereka. Berdiri dengan setelan jas lengkap berikut dasinya. Dia terlihat seperti orang kaya.
"Maaf, apa saya mengganggu?" tanya laki-laki itu dengan sopan, senyum di bibirnya terukir ramah.
Namun, bukan itu yang membuat wanita paruh tersebut kehilangan napasnya beberapa saat. Wajah laki-laki di depannya terasa tidak asing, Sumiyati menerka-nerka siapa pemilik wajah seperti laki-laki di depannya itu.
"Kenapa dia mirip Naina, Bu?"
Bisikan itu membuat tubuh Sumiyati menegang. Benar, wajah laki-laki yang berdiri di depan rumah itu mirip dengan keponakannya.
"Maaf-"
"Ah, nggak apa-apa. Cari siapa, Pak, maaf?" tanya Sumiyati menelisik lebih dalam wajah yang serupa dengan Naina itu.
"Saya sedang mencari orang, apa betul di sini rumahnya Sumiyati?" tanya laki-laki itu tak lekang senyum di bibirnya, dia ramah dan sopan, tahu tata krama.
Menganga bibir bibi Naina itu, semakin menggebu jantungnya ingin secepatnya tahu siapa sosok gagah yang berdiri di hadapan. Begitu pula dengan Asep, kerutan di dahinya membentuk wajah yang tak sabar.
Semakin lebar senyum di bibir laki-laki itu. Kedua maniknya yang cokelat kehitaman, memancarkan kebahagiaan yang nyata.
"Saya Adrian, mungkin kalian pernah mendengar nama itu," ucap laki-laki tersebut, matanya bergulir ke kanan dan kiri menilik kedua paruh baya di depannya.
Sumiyati dan Asep membelalak seketika, saat mengingat nama tersebut pernah disebutkan Lita.
"Lita?" Tanpa sadar lisan Sumiyati bergumam, perlahan mengangkat wajah memandangi laki-laki di depannya. "Kamu laki-laki yang pernah diceritakan Lita. Kenapa datang ke sini? Gara-gara kamu Lita pergi dari rumah dan nggak pernah pulang lagi," ketus Sumiyati secara tiba-tiba.
Hati tuanya sungguh terluka, mengingat Naina adalah keturunan dari laki-laki yang pernah menyakiti adiknya itu. Sampai Lita memutuskan pergi dan tak pernah kembali. Kemudian datang kabar tentang kematiannya.
Senyum di bibir laki-laki itu surut, berganti kesedihan mendalam. Ketika kenangannya bersama Lita melintas, terbersit rasa sesal yang mendalam. Rasa bersalah yang membuatnya tak tenang menjalani kehidupan, terus bergentayangan bagai hantu yang mengganggu.
"Maafkan saya. Sungguh waktu itu saya nggak bermaksud menyakiti Lita. Saya menyesali semua yang terjadi, dan biarkan saat bertanggungjawab untuk masa lalu itu," ungkap laki-laki tersebut bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Awan mendung mulai terbentuk di wajahnya yang tampan, kulit putih bersih itu memerah akibat luapan emosi dalam dada. Kerinduan terpancar di kedua matanya, rindu pada dia yang telah ia sakiti di masa lalu.
"Tanggung jawab yang seperti apa yang akan Anda lakukan, Tuan? Kami tahu, kami ini orang nggak punya, tapi nggak semestinya Anda menyakiti adik saya." Jatuh air mata Sumiyati ketika bayangan Lita yang murung melintas dalam benak.
Laki-laki itu menghela napas, tak mudah baginya membalikkan semua keadaan. Terutama saat masa lalu telah terluka.
"Saya mau ketemu anak Lita, anak kami. Saya tahu, anak itu sudah besar dan tinggal di sini sekarang. Percaya sama saya, Pak, Bu. Selama ini saya mencari Lita, sampai-sampai harus pergi ke berbagai kota untuk menemukannya, tapi sampai sekarang saya nggak bisa nemuin dia. Sampai saya melihat foto gadis itu, gadis yang bernama Naina. Bukannya dia anaknya Lita?" papar laki-laki itu dengan segenap kesungguhan hatinya.
Sumiyati menilik kedua manik di depannya, mencari-cari kebohongan. Dia mengatakan hal yang benar, yang sejujurnya.
"Tapi kalian melakukannya di luar pernikahan. Meski Naina adalah benar anak biologis kamu ... kamu nggak berhak untuk memilikinya. Dia hak Lita sepenuhnya, tapi saya nggak akan melarang kalian untuk bertemu. Naina berhak tahu siapa ayah biologisnya," tutur Sumiyati dengan tegas dan pasti.
Laki-laki itu menunduk, semua yang diucapkan perempuan sepuh di depannya adalah benar. Mereka melakukan itu diluar pernikahan, sesuatu yang diawali dengan niatan yang tidak baik, ternyata selalu berakhir dengan tidak baik pula.
"Kalo diizinkan saya ingin bertangungjawab memenuhi semua kebutuhannya. Bukan apa-apa, anggap itu sebagai penebusan dosa saya di masa lalu. Saya nggak akan mengambilnya dari Lita, cuma sekedar ingin bertemu dan mengenalnya. Tolong, Bu, Pak, izinkan saya ketemu mereka," pinta Adrian dengan hati yang bergetar.
Sumiyati menghela napas, menurunkan egonya juga menghilangkan kebencian terhadap laki-laki itu. Mungkin sudah saatnya Naina mengenal siapa ayahnya? Agar hatinya sedikit terhibur.
"Mereka siapa yang kamu maksud?" Sumiyati menatap tajam kedua mata laki-laki itu.
"Naina sama Lita, terutama Lita. Saya ingin meminta ampunan darinya. Saya ingin meminta maaf padanya. Tolong, izinkan saya ketemu sama dia," pinta laki-laki itu memelas kepada Sumiyati.
Melihat wajah mengiba di depannya, hati tua Sumiyati sungguh tidak tega.
"Kamu bisa ketemu Naina, tapi nggak bisa ketemu sama Lita," ucap Sumiyati sembari menahan perih mengingat kenyataan pahit, Lita telah lebih dulu meninggalkannya.
"Kenapa?" Adrian bertanya bingung.
"Lita udah meninggal beberapa bulan lalu di Jakarta. Dia dimakamkan di sana, bukan di sini," jawab Sumiyati bergetar.
"A-apa?"
__ADS_1